APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SUAMI PENGGANTIKU (BUKAN) PRIA PAYAH

SUAMI PENGGANTIKU (BUKAN) PRIA PAYAH

Setelah mendapati tunangannya, Bastian, berselingkuh dengan saudara tirinya hingga hamil, Mentari menolak melanjutkan pernikahan. Namun, demi menjaga perjanjian keluarga, ia harus menerima mempelai pengganti. Sosok itu adalah Samudra, paman Bastian yang diasingkan dan dicap sebagai pria payah yang tidak terurus. Di balik rumor miring bahwa Samudra tidak menyukai wanita, keputusan pria misterius ini untuk menikahi Mentari menyimpan teka-teki besar yang siap mengubah hidup mereka.
Bab
Bagikan

Bab 5

“Arghhhh ….” Aku mengacak rambut dengan frustrasi. Lalu meremas kertas di atas meja, membuangnya ke tempat sampah yang bahkan sudah penuh dengan benda serupa. Entah sudah berapa banyak kertas-kertas tak bersalah itu kuremas kasar dan dilempar begitu saja. Rasanya sangat sulit menyusun kalimat untuk poin-poin perjanjian pernikahan itu.

Ya, aku kini tengah menyusun surat perjanjian kontrak dengan laki-laki bernama Samudra Hanggara yang tiba-tiba saja menjadi calon suamiku.

Apa harus hidup selawak ini?

Kemarin calon suamiku masih Bastian pemuda tampan yang dipuja banyak wanita, hari ini tiba-tiba semua berubah. Tiba-tiba saja mempelaiku berganti menjadi laki-laki tua yang menurut ibu dan saudara tiriku makhluk jadi-jadian dari planet lain.

Aku mengusap wajah dengan kasar. Entah kalimat apa lagi yang harus kutulis dalam surat perjanjian itu. Bayangan wujud Samudra yang ‘ajaib’ membuatku tidak bisa fokus, padahal biasanya aku pandai merangkai kata. Dan anehnya aku harus menyusun surat itu sendirian. Bukankah seharusnya kami membuatnya berdua?

“Terserah poin apa pun yang ingin kau masukkan. Aku hanya minta satu syarat tadi karena itu permintaan ibuku.” Itu jawaban makhluk jadi-jadian itu saat aku meminta pendapatnya perihal surat itu.

Saat itu tentu saja aku mencebik. Dia ingin anak dariku katanya. Aku langsung menyetujui syarat itu.

Kenapa?

Tentu saja karena aku yakin laki-laki itu tidak akan bisa melakukannya. Bastian sudah bilang ia tidak menyukai perempuan. Jadi, aku sangat yakin jika ia tidak akan mampu melakukannya. Ia tidak akan pernah menyentuhku selama pernikahan kami.

**

Aku berjalan menyusuri koridor rumah besar milik keluarga Hanggara dengan tangan memeluk berkas di dada. Aku ingin kami, maksdunya aku dan Samudra menandatangani surat perjanjian ini sekarang juga sebelum aku pulang. Hari pernikahan kami hanya tinggal menghitung jam, dan mungkin kami tidak akan bertemu lagi sampai hari itu. Jadi, aku ingin semua clear sebelum hari itu agar tidak ada ganjalan di hati.

Aku berjalan agak mengendap untuk kembali menemui Samudra. Jangan sampai Nenek Widya atau siapa pun tahu jika kami membuat sebuah perjanjian.

Aku hampir mencapai ruangan yang tadi dipakai pertemuan antara aku dan calon suami jadi-jadian itu saat sebuah tepukan mampir di pundak. Lalu disusul tarikan di pergelangan tangan. Aku memekik dan hampir berteriak kaget saat tubuh ini disudutkan di dinding dengan seseorang kini mengungkung tubuh ini. Namun, suaraku tak keluar karena mulut ini sudah dibekap lebih dulu.

Kedua bola mataku membola saat mendapati jika yang melakukan semua ini adalah mantan calon suami yang di mataku sekarang sangat memuakkan. Aku meronta ingin terlepas.

“Jangan berteriak, Mentari. Ini aku,” bisiknya yang perlahan membuka bekapan tangannya saat melihatku tak lagi meronta.

“Mau apa lagi kamu?” desisku dengan napas tersengal. Kulirik salah satu tangannyanya yang memenjarakan tubuh ini di dinding. Sungguh, aku tidak nyaman dengan posisi ini. Tubuhnya berada sangat dekat hingga hampir menempel.

Meski pernah merencanakan pernikahan, aku belum pernah sedekat ini dengan Bastian sebelumnya. Aku sangat menjaga jarak dan tidak mau disentuh sebelum pernikahan, dan ia menghargai itu. Ia belum pernah bersikap tidak sopan seperti saat ini. Itu yang membuat aku begitu respect padanya dulu.

Walaupun kenyataannya ….

“Aku mau kamu memikirkan lagi pernikahan dengan Om Sam, Tari. Kamu tidak benar-benar menerima keputusan Nenek, kan?”

“Apa maksudmu?” Aku mendesis lagi. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan Bastian.

“Tari, sudah kukatakan jika Om Sam itu laki-laki payah, dia tidak akan mampu menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami. Nanti kamu menderita nikah sama dia. Kamu tidak akan mengenal sama sekali kebahagiaan.”

Mataku memicing. “Jangan sok tahu. Apa kamu yang menentukan kebahagiaanku?” Aku kembali mendesis. Kali ini seraya mendorong dadanya agar tidak terlalu dekat. Untunglah sejak tadi tanganku memeluk map di dada.

“Tentu saja aku tahu. Aku sangat mengenal Om Sam. Dia adik ayahku. Dia tidak akan membuatmu bahagia.”

“Lalu, siapa yang bisa membuatku bahagia? Kamu?” Aku menantang matanya.

“Ya. Hanya aku yang bisa membuatmu bahagia, Tari. Aku tahu kamu sangat mencintaiku. Batalkan pernikahan dengan Om Sam dan menikahlah denganku. Aku berjanji akan membahagiakanmu.”

Aku tersenyum miring. Entah apa yang laki-laki ini pikirkan. Kenapa ia begitu ngotot ingin pernikahan kami tetap berjalan. Aku yakin bukan karena ia mencintaiku. Karena aku tidak menemukan setitik pun binar cinta di matanya untukku. Bahkan mungkin sejak dulu. Aku saja yang bodoh baru menyadarinya sekarang.

“Ayo, Tari. Batalkan pernikahanmu dengan Om Sam dan kita lanjutkan pernikahan kita. Jika kamu yang minta pada Nenek, maka wanita tua itu akan mengabulkannya.”

Mataku melebar mendengar ucapan Bastian. Satu hal yang aku tangkap, jika Bastian tidak sesopan yang aku kira selama ini. Mungkin selama ini mataku dibutakan cinta hingga tidak bisa melihat jelas siapa laki-laki ini. Atau karena ia yang sangat pintar bersandiwara?

“Wanita tua?” gumamku dengan mata memicing. Lalu kembali mendorong dadanya yang mendekat lagi.

“Kau menyebut nenekmu dengan sebutan itu? Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan?”

Bastian terhenyak, tetapi hanya sekejap.

“Ah, sudahlah. Kau ini terlalu banyak bicara, Mentari.” Wajah tampan itu tiba-tiba merengut. Kini bukan hanya sebelah tangannya, tetapi tangan yang satunya juga ikut mendorong dinding hingga tubuh ini benar-benar terpenjara di antara kedua tangannya.

Aku semakin tidak nyaman dan bahkan mulai ketakutan. Posisi kami saat ini akan membuat siapa pun yang melihat berpikiran buruk. Aku berusaha melepaskan diri dengan mendorong lagi dadanya yang rasanya terlalu kuat. Tapi aku harus melakukannya sebelum siapa pun melihat kami.

Kudorong kuat tubuhnya agar menjauh. Kali ini tangan yang memegang map ikut melakukannya, hingga isi map jatuh dan berhamburan di lantai.

Mataku membola karenanya. Surat perjanjian kontrak itu jatuh. Dan entah apa yang akan dipikirkan Bastian jika sampai ia membacanya. Ia pasti akan mentertawakanku dan merasa semakin di atas angin.

Bastian sendiri terlihat heran melihat kertas berjatuhan dari dalam map yang kupegang. Perhatian laki-laki itu teralih. Kedua tangannya terlepas dari dinding. Dan selanjutnya laki-laki itu membungkukkan badan guna meraih salah satu kertas yang paling dekat dengan kakinya.

Jantungku terasa berhenti berdetak.

SIAPA DIA?

6

“Apa yang kamu lakukan, Bas?”

Pertanyaan dari suara bariton membuat aku dan Bastian menoleh hampir bersamaan. Bastian yang hampir membungkuk, mengurungkan niatnya. Dan kesempatan itu kugunakan cepat untuk mengambil semua kertas yang terserak. Memasukkan kembali ke dalam map dengan asal. Setelahnya aku langsung berlari dan mengambil tempat di belakang pria yang barusan bertanya. Samudra.

Walaupun masih takut melihat wujud Samudra, tapi aku lebih takut dengan laki-laki seperti Bastian. Aku takut ia nekat menyentuhku secara ia sudah terbiasa melakukannya tanpa merasa berdosa.

Bastian mendengkus melihatku berlindung di belakang tubuh Om-nya. Kemudian pergi tanpa berkata-kata.

Aku memejam sembari melepaskan napas lega. Kemudian mengekori Samudra yang membuka pintu ruangan di belakang tubuh kami.

Untunglah Bastian tidak sempat mengambil dan membaca surat perjanjian kontrak pernikahan ini. Kalau sempat, mau ditaruh di mana wajah kami? Ia pasti akan mengolok kami sepanjang waktu. Menyebarkan berita kepada seluruh keluarga, dan lebih parahnya punya kunci untuk menekanku agar membatalkan pernikahan dengan Samudra dan memaksa menikah dengannya.

Aku langsung menutup pintu begitu kami berada di dalam ruangan. Lagi-lagi kuhela napas lega. Bersyukur Samudra datang tepat waktu di saat aku terdesak. Semoga saja dia tidak melihat posisi kami tadi.

“Masih berniat melanjutkan pernikahan dengan Bastian?” tanya Samudra yang kini duduk di sofa. Wajahnya datar seperti biasa.

Keningku mengernyit. “Kenapa Om bertanya begitu?”

Jangan-jangan ia melihat perbuatan Bastian tadi dan berpikiran buruk tentang kami.

Pria itu terlihat menarik napas panjang. “Aku pikir kamu sangat mencintainya,” ujarnya masih dengan datar juga.

Aku memejam dengan kuat.

Cinta?

‘Ya, aku sangat mencintainya. Tapi itu dulu. Sebelum tahu jika ia sudah berselingkuh di belakangku.’

Ingin kukatakan itu, tetapi nyatanya hanya dalam hati aku mampu mengatakannya. Sudah tidak penting membahas Bastian. Yang terpenting sekarang membahas hubungan kami. Pernikahan dan perjanjian ini.

“Aku sudah membuat surat perjanjiannya, Om.” Kuputuskan mengalihkan pembicaraan. Lalu meletakkan map di meja. “Aku buat rangkap dua agar kita masing-masing bisa menyimpannya.”

Samudra tidak menjawab. Ia hanya melirikku sebentar dan langsung meraih map yang aku taruh, lalu mengeluarkan pena setelah mencari lembaran halaman paling akhir di mana kami harus membubuhkan tanda tangan.

Ya, aku lupa tadi kertas-kertas itu berserakan di lantai, dan aku memasukkan dengan asal tanpa disusun kembali. Pantas jika Samudra harus mencari halaman terakhirnya dulu. Aku menahan pria itu saat merasa ada kejanggalan.

“Tunggu, Om!” Aku menahannya saat ia ingin langsung menandatangani surat itu.

Samudra menghentikan gerakan tangannya, kemudian menengadah menatapku. Aku bahkan masih berdiri karena masih canggung harus duduk berhadapan dengannya.

“Kenapa? Tidak jadi membuat surat perjanjian?” Kedua alisnya terangkat.

“Bu-bukan itu.” Aku menggoyangkan tangan. “Apa Om tidak mau membaca dulu semuanya? Siapa tahu ada poin yang Om tidak setuju.”

Samudra diam sesaat, tetapi tak lama kembali menggerakkan penanya. “Aku setuju semua, asal satu syarat itu sudah kamu masukkan,” ujarnya tenang.

“Bagaimana kalau belum aku masukkan? Makanya Om baca dulu semua.”

“Kamu masukkan di poin terakhir, kan? Bahkan dengan memejam pun aku bisa membacanya.” Ia langsung membubuhkan tandatangannya bahkan di dua berkas sekaligus dengan ringannya. Dan itu semakin meyakinkanku, jika pernikahan ini baginya tidak penting sama sekali.

**

Aku memilin jari-jemari dengan resah. Telapak tangan sejak tadi sudah basah oleh keringat dingin. Berkali-kali kutarik napas dalam dan membuangnya kasar. Berharap berbagai gemuruh di dada ternetralisir.

Berkali-kali MUA yang tengah mendandaniku membetulkan posisi kepala ini yang selalu menunduk. Rasa gugup tak dapat kututupi. Bahkan sejak semalam aku tidak dapat memejamkan mata.

Ini hari pernikahanku. Aku begitu stress memikirkannya. Membayangkan jika setelah ini aku tidak akan lagi tidur sendiri di kamarku, dada terasa sesak. Setelah hari ini, aku harus tinggal dan hidup bersama pria yang baru kutemui dua kali. Itu pun dalam durasi yang tidak lama. Hanya berkenalan dan menandatangani surat perjanjian.

Walaupun terlihat tidak seberbahaya yang aku pikirkan, bisa saja itu hanya citra yang ia tampilkan di awal. Bisa saja setelah menikah nanti baru keluar aslinya.

Aku menelan ludah dengan susah payah. Olokan ibu dan saudara tiriku selama menunggu hari ini membuatku benar-benar tersiksa. Aku terus membayangkan semua kemungkinan buruk yang akan terjadi setelah benar-benar menikah dengan pria itu.

Belum lagi jika memikirkan pandangan dan gunjingan tamu undangan yang akhirnya tahu jika pengantin prianya sudah diganti.

Aku kembali memejam. Entah apa yang akan mereka pikirkan melihatku bersanding dengan makhluk jadi-jadian? Terlebih teman-teman yang sudah kuundang dan tahu jika aku akan menikah dengan Bastian Hanggara. Pemuda tampan yang menjadi pujaaan banyak wanita. Mereka bahkan iri karena aku yang hanya gadis biasa-biasa ini bisa bersanding dengan pemuda seperti Bastian.

Tapi kini? Aku sudah tidak sanggup duluan membayangkan apa yang akan mereka pikirkan.

“Nona Mentari,” panggilan suara wanita yang lumayan dekat telinga membuat mata ini terbuka.

“Sudah selesai, Nona,” ujar wanita tiga puluhan yang entah sudah berapa lama mendandaniku.

Aku menatap bayangan di cermin. Di mana terdapat pengantin wanita cantik yang bahkan tidak kukenali. Begitu mahir para perias itu menyulap diri ini menjadi sangat asing bahkan untuk diriku sendiri.

“Nona Tari suka?” Salah seorang di antara mereka bertanya seraya membetulkan letak sigger yang sebenarnya sudah bertengger cantik di kepalaku.

Aku tersenyum puas. Aku sangat suka hasil kerja mereka yang sempurna hingga aku terlihat seperti ratu betulan. Hanya saja senyumku memudar saat menyadari dengan siapa aku menikah. Aku bahkan yakin jika kami nantinya hanya akan menjadi tontotan konyol.

Bagaimana tidak? Mempelaiku seorang pria tua dengan rambut panjang dan keriting seperti seorang rocker. Belum lagi bulu-bulu di wajahnya yang tidak pernah bersentuhan dengan pisau cukur.

Ya Tuhan … apa aku tidak berhak mendapat laki-laki yang lebih baik?

“Nona, sudah ditunggu untuk acara akad nikah.” Salah satu panitia masuk ke ruangan ini dan mengabarkan agar aku segera keluar.

Kembali aku memejamkan mata. Kali ini hanya sebentar. Lalu menarik napas panjang sebelum benar-benar keluar.

Aku mulai berjalan anggun dan pelan di atas hamparan karpet merah, karena kain kebaya yang kupakai lumayan sempit. Dua orang panitia wanita dari WO mengiringiku di sisi kiri dan kanan. Dan dua lainnya membantu mengangkat ujung kebaya yang panjang menyapu lantai.

Aku bukan tidak tahu jika semua tetamu undangan yang duduk di kanan dan kiri jalanan berkarpet merah, tengah menatapku saat ini. Ya, aku tengah menjadi pusat perhatian dengan kemunculan diri ini untuk melaksanakan acara inti pernikahan. Kukepalkan kedua tangan untuk menyemangati diri. Aku harus kuat menghadapi apa pun yang akan terjadi setelah ini. Termasuk mendengar olokan semua tamu undangan yang akan mentertawakan pernikahan ini.

Kedua panitia yang membersamaiku mengisyaratkan agar aku menghentikan langkah di sebuah persimpangan aula ini. Salah satunya menunjuk ke depan. Memintaku agar menunggu dan menatap ke sana. Ke arah berlawanan, di mana di atas karpet merah juga, sedang berjalan sesosok pria tinggi tegap dengan kostum pengantin. Ia berjalan gagah menuju tempatku berdiri.

Aku mematung di sini dengan mata yang tetiba membola sempurna, bahkan ingin loncat dari rongganya. Bukan hanya itu, mulutku tak sadar terbuka lebar. Jantung terasa berhenti berdetak.

Bagaimana tidak? Sosok pria berkostum pengantin yang berjalan ke arahku itu, bukan makhluk jadi-jadian yang selalu aku takutkan siang dan malam. Melainkan pria tampan dan matang yang terlihat sangat sempurna.

Tidak ada rambut gondrong keriting yang tak terurus. Tidak ada bulu-bulu liar yang bahkan menutupi hampir sebagian wajahnya. Yang ada di hadapanku dan baru saja sampai itu hanya sosok pria berusia tiga puluh tujuh tahun yang sangat gagah dalam balutan kostum pengantin serupa denganku.

Ya Tuhan ….

Tubuhku nyaris limbung jika saja empat orang panitia yang sejak tadi membersamaiku tidak menahan tubuh ini.

TIDAK PERCAYA

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Gengsi dan Hati Yang Tersakiti
8.1
Desainer ambisius Nayara Elvard harus menjalani pernikahan kontrak dengan miliarder dingin yang perfeksionis, Arshen Daveraux. Walau sang suami selalu menjauh dan bersikap kaku, kepribadian Nayara yang ceria justru membuatnya tertantang untuk mendekat. Di tengah benturan ego dan gengsi yang kuat, ia bertekad membongkar ketulusan di balik sikap dingin Arshen. Akankah cinta sejati akhirnya mekar melampaui kesepakatan tertulis yang mengikat mereka?
Sampul Novel Berselingkuh dengan calon suami adik ipar
9.0
Amel, wanita 24 tahun, menderita lahir batin dalam pernikahan hambar bersama Andre yang kasar. Di tengah keputusasaan tersebut, ia nekat menjalin hubungan terlarang dengan Arman, calon suami Bella yang merupakan adik iparnya sendiri. Arman menjadi penyelamat finansial sekaligus pelarian Amel. Rahasia yang tersimpan rapat bertahun-tahun ini terancam terbongkar saat Andre mendadak ingin berubah demi memperbaiki pernikahan mereka. Amel kini bimbang antara bertahan atau terus berselingkuh.
Sampul Novel Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak
8.4
Dua pewaris takhta terkaya di New York, sang pembalap F1 dan genius investasi, telah bersahabat sejak kecil dan setia mengenakan lencana tembaga buatan Mia selama sepuluh tahun. Namun, kehadiran Ella, putri konglomerat baru, mengubah segalanya. Ketika kedua pria itu membuang lencana Mia demi emblem kain pemberian Ella, persahabatan mereka retak. Kecewa dengan pengkhianatan ini, Mia yang menyembunyikan identitas aslinya memutuskan menyerah dan menghubungi ayahnya di Sisilia untuk menerima pernikahan politik demi keluarganya.
Sampul Novel Dinodai Calon Kakak Ipar
8.1
Kesucianku direnggut oleh calon kakak ipar menjelang pernikahan. Tragisnya, aku malah dituduh menggoda dirinya hingga diusir keluarga. Demi bertahan hidup, aku terpaksa menjajakan diri pada pria kaya. Bertahun-tahun kemudian, pria brengsek yang menghancurkan hidupku itu mendadak kembali menjadi pelangganku. Ia bahkan menyewaku secara eksklusif selama satu bulan penuh. Rencana jahat apa lagi yang sedang ia persiapkan untukku?
Sampul Novel Kau Rebut Ayahku, Aku Rebut Suamimu
9.5
Hidup Arlena hancur setelah seorang wanita merebut ayahnya, memicu duka mendalam yang merenggut nyawa ibunya. Didorong amarah, ia merancang aksi balas dendam yang tak biasa. Kesempatan emas muncul saat Arlena tahu bahwa perusak keluarganya adalah istri dari Rafael Vallenzo, bosnya yang berkuasa. Arlena bertekad memikat Rafael demi menuntut keadilan, tetapi rencana nekat ini justru menjerat perasaannya sendiri dalam risiko yang berbahaya.
Sampul Novel Kecanduan Manis: Istri Manja Tuan Wahid
9.4
Kehamilan tak terduga akibat cinta satu malam menghancurkan hidup Rossa. Di tengah keputusasaan, ia terpaksa menjalani pernikahan bisnis dengan tunangan masa kecilnya. Walau awalnya terasa hambar, cinta mulai tumbuh di hati Rossa. Tragisnya, menjelang persalinan, ia justru didepak dengan surat cerai. Rossa pun memilih pergi. Saat takdir mempertemukan mereka kembali, sang mantan suami memohon kesempat kedua. Akankah Rossa mau memaafkan?