APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suami Mokondoku Membawa Madu

Suami Mokondoku Membawa Madu

Rumah tangga Mira hancur setelah Puri, suaminya yang selama ini hidup dari nafkahnya, nekat membawa selingkuhan ke rumah. Kepedihan Mira kian mendalam karena putra mereka menyaksikan sendiri kemesraan sang ayah dengan wanita lain di kamar. Menghadapi pengkhianatan besar ini, Mira berada di persimpangan jalan yang sulit. Ia harus memilih antara bertahan demi pernikahan, atau pergi demi menyelamatkan kesehatan mental serta harga dirinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Dua hari sejak kejadian itu, Puri tidak pulang ke rumah. Seperti biasaya, dia tidak akan pernah pulang ke rumah kalau tidak hari sabtu atau minggu. Hal itu saja tidak setiap minggunya, alasannya selalu mementingkan Yusno. Entah itu untuk menjaga anak-anaknya, ataupun mengantar pergi ke suatu tempat. Mira begitu heran dengan sikap suaminya itu, karena Puri seolah telah merekat dengan kakaknya. Bahkan kepeduliannya melebihi perhatiannya kepada keluarganya sendiri. Tidak jarang, Puri lebih terlihat abai serta menelentarkan Mira beserta anak-anaknya.

“Mir, di mana kamu?” Panggilan yang amat Mira hafal, membuat wanita itu bergegas menuju pintu masuk.

“Ada apa mas?” Tanya Mira sambil menghampiri asal suara tadi.

“Duduk dulu om, Imran bikinkan minum. Mau kopi atau teh om?” tanya anak bungsu Mira lalu berlalu masuk ke dalam rumah.

Mira melihat Yusno dan Puri sudah duduk manis di ruang tamu, sedangkan tadi dia hanya mendengar suara Imran saja. Mungkin mereka datang bersama dengan anak bungsunya, atau memang berdua saja dan langsung masuk ke rumah. Karena kebetulan Mira tidak mendengar salam dari dua orang itu, hanya mendengar panggilan serta salam saja dari putranya tadi.

“Owh ini hasil didikanmu Mir? Laki-laki itu tugasnya dilayani, bukan malah sebaliknya. Biarkan ibumu yang bikin minuman Ran!” teriak Yusno dengan lantangnya, bahkan kini matanya sudah menatap tajam ke arah Mira.

“Sudah, Imran masuk saja. Biar ibu yang bikinkan minum,” kata Mira sambil menggenggam tangan Imran, sebagai tanda untuk tidak menanggapi perkataan omnya itu.

“Nah gitu, perempuan itu harus manut. Kau harus tegas dengan istrimu Pur, biar tidak nglunjak. Bisa blabas nanti hahaha!” teriak Yusno diiringi derai tawanya.

Ruang tamu dan dapur hanya berjarakkan tempat santai, jadinya perkataanya mereka masih terdengar jelas di telinga Mira. Mereka jarang bertemu, mungkin hanya waktu lebaran saja. Jadinya jarang ada waktu untuk berkumpul serta mengobrol bersama. Meski begitu, Mira sudah faham betul bagaimana dengan sikap serta wataknya. Setelah meninggalnya bapak mertua Mira lima tahun silam, sikap Yusno seakan menjadi penggantinya. Mengatur hidup keluarga Puri dengan seenaknya sendiri. Seperti burung lepas dari sangkarnya, apalagi ditambah tidak ada yang berani memperingatkan kesalahannya itu membuatnya semakin menjadi.

“Silahkan mas,” kata Mira sambil menghidangkan minuman dan beberapa cemilan.

“Kau ini hanya istri Mir, tugasmu itu manut sama suami. Jangan sampai menentangnya, durhaka kamu Mir!” cerca Yusno sambil mengunyah cemilan yang dihidangkan Mira tadi.

“Pelan-pelan saja mas makannya, masih banyak di dapur sana. Nanti bisa aku ambilkan lagi,” kata Mira tanpa menghiraukan perkataanya tadi.

“Boleh bungkus nanti buat aku bawa pulang Mir?” selorohnya tanpa rasa malu sedikitpun.

Mendengar itu, Puri langsung menyikut lengan kakaknya. Sedangkan Mira hanya menahan tawanya saja, dia hafal betul kalau Yusno orangnya rakus. Begitu mudah sikap rakusnya itu langsung terlihat, entah apa karena jarang makan atau memang suka makan. Mereka saling bermain mata, memberi kode yang langsung terbaca oleh Mira. Ya, seperti biasanya Puri akan mencari tameng untuk kesalahannya. Dulu sebelum bapak meninggal mana berani mereka berulah seperti ini, ternyata kepatuhannya hanya untuk menutupi rasa takut entah sungkan kepada bapak mertuanya Mira saja.

“Mir, kau ini tak berhak atas gaji suamimu. Kau tak ingin rumah tanggamu bahagia atau malah kau berniat menghancurkannya? Ingat Mir, suami berhak melakukan apa yang dia mau,” katanya seperti orang sedang berorasi.

“Bagaimana kabar istri baru mas Yusno? Sudah tiga tahun menikah aku belum pernah bertemu, katanya juga sudah punya anak lagi ya? Tapi kenapa penampilan sampean tidak seperti dulu lagi saat bersama mbak Yana, maaf tapi sekarang lebih terlihat tak terurus!” sindir Mira sambil menyunggingkan senyum manisnya.

“Maaf mas, kalau kedatangan kalian hanya untuk membahas yang kemaren, saya tidak ada waktu. Saya rasa sebelum mas Yusno berbicara tentang hak, lebih baik sampean berkaca dulu? Sudah belum kewajiban sampean dilaksanakan. Sepertinya mas Yusno lupa, kalau kewajiban suami itu menafkahi anaknya, bukan malah menghidupi wanita lain yang hanya mampir sesaat. Apa sampean sudah menafkahi anak-anak sampean dari mbak Yana?” lanjutan Mira lagi sambil menatap tajam ke arah Yusno.

“Itu bukan urusanmu!” sergah Yusno sambil mengeprak meja, wajahnya mulai terlihat memerah.

“Nah itu mas Yusno tau kalau hal itu bukan urusanku, maka dari itupun mas Yusno juga seharusnya tidak memiliki urusan dengan nafkah anak-anakku. Aku hanya meringankan beban mas Puri saja, dengan mengingatkan kewajibannya serta menjauhkannya dari dosa zina. Aku sudah mengizinkannya menikah lagi, tapi maaf aku tidak ingin mengajukan cerai. Silahkan nikmatilah hidup kalian, perlu di ingat semua ada batasannya, kalau sudah menyangkut anak-anakku. Kalian faham sekarang?”

Mira beranjak pergi, memanggil Imran untuk mengajaknya berjalan-jalan. Sebelum keluar rumah, masih bisa dia lihat mereka sedang berbisik-bisik. Sedikitpun Mira beserta Imran tidak menghiraukan mereka. Sepertinya mereka juga masih enggan keluar dari rumah ini, padahal jelas-jelas Mira dan Imran sudah akan pergi. Bahkan Yusno serta Puri semakin menikmati cemilan yang ada, mereka benar-benar menganggap rumah itu seperti rumahnya sendiri.

“Owh iya, makanan sudah tersedia di meja makan. Makanlah sebelum pergi, rasanya kurang pantas kalau kalian berlama-lama di rumah yang tidak ada pemiliknya!” kata Mira sambil berjalan menuju garasi. Terlihat bagaiman ekspresi mereka, rasanya Mira ingin tertawa melihat suami serta kakak iparnya itu yang ternganga mendengar ucapan Mira.

“Maaf aku bukan mbak Yana yang dengan mudahnya dipengaruhi, dengan tetap melakukan kewajibanku, maka semoga itu menjadi jalan untuk menghapus dosaku,” gumam Mira sambil berjalan masuk ke dalam mobilnya.

“Ibu tidak sakit hati mendengar ucapan mereka? Melihat tingkah laku mereka?” tanya Imran sambil memasangkan sabuk pengaman untuk ibunya itu.

"Apa Imran sakit hati nak?" tanya Mira kembali tanpa menjawab pertanyaan putranya terlebih dahulu.

"Tentu bu, sikap mereka sudah sangat keterlaluan. Apalagi ayah, aku sudah tidak bisa mentoleransinya lagi," jawabnya sambil matanya menatap jauh ke depan sana, Imran berfikir kalau ayahnya begitu egois. Hanya mementingkan nafsunya saja, tanpa menghiraukan perasaan dirinya dan ibunya.

“Sama nak, tapi kita harus terus ingat bahwa sakit itu tidak perlu dibarengi dengan amarah. Ada yang lebih penting lagi untuk ibu pikirkan yaitu bagaimana hak kalian terpenuhi, bahkan kalau bisa kalian jangan sampai terusik oleh masalah ini. Ingat, jangan lupa bagaimanapun itu tetap ayah Imran ya!” jawab Mira sambil menyentuh punggung tangan Imran.

“Yang baik, tirulah. Tapi yang tidak baik, tinggalkan. Ingat nak, tak ada kebahagian yang didapat dari hasil menyakiti orang lain. Contohnya sudah terlihat bukan? Tanpa ibu jelaskan, Imran sudah bisa menilai sendiri dari keadaan om Yusno. Imran fahamkan nak maksud ibu?”

“Iya bu, Imran faham maksud ibu,” Jawab Imran sambil menganggukkan kepalanya.

“Apalagi kamu anak lelaki nak, tanggung jawabmu lebih diperlukan dalam membangun rumah tanggamu nanti. Tidak memungkiri, kamu harus mulai belajar dari sekarang nak, jangan sampai menyesalinya dikemudian hari,” ucapku Mira karena bagaimanapun Mira takut bila nanti Imran akan seperti Puri. Melupakan tanggung jawab utamanya yaitu menjadi pemimpin baik dalam keluarga ini ataupun keluarganya nanti.

“Iya bu, insha Allah aku akan selalu mengingat hal itu. Bagaimanpun aku juga tidak mau kalau nanti anak serta istriku tidak memiliki kenangan bagus akan kehadiranku,” jawab Imran yang sukses membuat Mira mengembangkan senyumnya.

“Apa segitu marahnya kamu nak kepada ayahmu?” tanya Mira yang melihat Imran termenung kembali setelah memberikan jawabannya tadi.

“Sejak kecil, kebersamaan kita bisa dihitung jari bu. Bahkan aku tidak ingat kapan kita tertawa bersama, apalagi setelah membawa wanita itu datang ke rumah. Seperti hanya membawa mimpi buruk saja bu,” jelas Imran diiringi wajahnya yang terlihat merah padam namun matanya terlihat jelas akan kepiluan di sana.

“Meski hanya beberapa kali kebersamaan itu berlangsung, jadikanlah itu sebagai pelipur laramu nak. Ingat saja yang baik-baik nak,” ucap Mira sambil kembali menatap jalanan sana.

“Itu tidak mudah bu,” ucap Imran dengan lirihnya.

“Setidaknya dicoba nak, biar nanti itu menjadi penghilang lukamu,” ujar Mira sambil mengukir senyumnya.

“Aku akan mencobanya bu,” jawab Imran. Bahkan kini wajahnya semakin terlihat murung, seakan enggang untuk mengikuti saran dari Mira tadi.

“Sudahlah, kita lupakan saja nak. Bukankah tadi katanya mau refreshing mumpung kamu liburan bukan?” Imranpun hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum manisnya, hal itu mengingatkan Mira kepada Puri tentunya sebelum dia berubah atau lebih tepatnya sebelum penyakit itu mengenainya.

“Apakah aku bisa kuat di depan anak-anakku nantinya?” gumam Mira sambil mencekram setir mobil yang sedang dia pegang.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dia Memilih Kebohongan, Aku Memilih Pergi
8.9
Demi menyelamatkan adik ipar yang kritis, aku bergegas ke rumah sakit hingga mengalami kecelakaan dengan mobil sport mewah. Pengemudinya yang sombong meminta ganti rugi fantastis dan sesumbar bahwa dia adalah istri penerus keluarga konglomerat Blakely. Seketika aku tersadar, wanita angkuh tersebut adalah selingkuhan suamiku, Nixon. Kini aku berada di persimpangan jalan yang sulit: tetap menolong adik Nixon atau membalaskan sakit hati atas pengkhianatan mereka.
Sampul Novel Dicerai kakak Dinikahi adik
8.0
Setelah rumah tangganya dengan Win kandas, Iyas mencoba menata ulang hidupnya yang hancur. Ia mendirikan sebuah toko bunga sebagai pelarian demi menghapus memori kelam masa lalu. Tak disangka, takdir mempertemukannya dengan Bhaga, adik kandung sang mantan suami. Walau Bhaga terikat erat dengan sumber luka lamanya, pria itu justru membawa kedamaian. Di balik rasa benci dan trauma yang mendalam, Iyas perlahan kembali merasa dihargai serta pantas dicintai oleh sosoknya.
Sampul Novel Majikanku Menjadi Mertuaku
9.4
Demi keluarga dan impian, Aisyah yang menawan pergi merantau dari desanya ke kota. Saat bekerja di rumah Aryo, ia terjebak dalam dilema cinta antara anak majikannya dan seorang sopir. Setelah melewati liku-liku asmara, Angga yang merupakan putra sang majikan akhirnya menikahi Aisyah. Kehidupan barunya pun berlanjut ke dalam bahtera rumah tangga yang penuh rintangan, menguji keteguhan hatinya hingga ia menemukan makna cinta sejati.
Sampul Novel Om Duda I Love You
8.5
Kharisma Baby Arganda, seorang siswi sekolah, pantang menyerah mengejar cinta Rega Pradipta. Gadis polos ini yakin debaran jantungnya adalah bukti cinta sejati, meski Rega yang berusia jauh lebih tua terus menolaknya. Sebagai sahabat dari kakak Baby, Rega merasa kewalahan menghadapi kepolosan adik temannya tersebut. Logika kedewasaan Rega menentang hubungan ini, tetapi kegigihan Baby terus mengujinya. Mampukah keteguhan hati gadis muda ini meluluhkan sosok pria yang ia juluki Om Singa?
Sampul Novel Terapis Pijat Laktasi
9.0
Diawali dengan ajakan sang sahabat untuk mengunjungi sebuah pusat terapi laktasi, perjalanan ini membawa sang protagonis pada situasi yang sama sekali tidak terduga. Di sana, ia mendapati bahwa terapis yang bertugas adalah seorang pria. Metode perawatan yang diberikan pun sangat tidak biasa, tidak hanya mengandalkan pijatan tangan tetapi juga sentuhan mulut. Alih-alih merasa terganggu, ia justru terjerat dalam sensasi intim tersebut dan mulai jatuh cinta pada kehangatan luar biasa yang ia rasakan.
Sampul Novel Warna Warna Mirna
9.3
Mirna terbiasa hidup mandiri di dekat hutan karet bersama ibunya yang tidak stabil secara emosional. Ia sangat bertekad untuk menjauhi asmara dan pernikahan. Namun, hidupnya berubah saat bertemu Erlangga, murid berprestasi yang jatuh hati padanya. Hubungan mereka justru memicu drama penuh duka dan kejadian mistis. Setelah mengalami penolakan yang mempermalukan dirinya, sanggupkah Erlangga tetap bertahan? Ikuti kisah rumit mereka yang lebih dari sekadar romansa sekolah biasa.