
Suami Memalsukan Kematian Demi Cinta Pertama
Bab 3
Saat aku dan semua orang tiba di kantor polisi, hari sudah pagi. 'Pria baik hati' tidak bisa menjelaskan, tetapi dia juga tidak berani mengatakan yang sebenarnya.
Di luar dugaanku, pria ini tidak mengkhianati adiknya.
Namun, hal ini tidak memengaruhi keinginanku untuk membalas dendam padanya. Dia juga berkontribusi pada tragedi di kehidupanku sebelumnya.
Lagi pula, dia tidak bisa melarikan diri dan juga tidak bisa memberikan penjelasan. Dia adalah tersangka utama.
Saat aku membawa polisi kembali ke 'lokasi kematian' suamiku, tubuh suamiku telah hilang.
Tidak heran, aku menerima telepon dari ibu mertuaku.
Dia bilang dia telah membawa suamiku untuk dikremasi dan telah mengadakan acara pemakaman.
Tampaknya rencana untuk membongkar suamiku yang memalsukan kematiannya telah gagal. Hanya saja, yang seharusnya khawatir sekarang adalah mereka, bukan aku.
Jenazah sudah dikremasi, tetapi botol minumannya masih ada.
Polisi mengambil botol minuman itu untuk diperiksa dan memberitahukan bahwa hasilnya akan keluar dalam beberapa hari.
Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada polisi dan meminta mereka harus menemukan pelaku sebenarnya.
Polisi menepuk dadanya dan meyakinkanku. Aku baru meninggalkan kantor polisi dan pergi ke pemakaman suamiku.
Begitu sampai di tempat pemakaman, ibu mertuaku langsung memintaku pergi ke kantor polisi untuk mencabut gugatan.
"Pergilah ke kantor polisi dan jelaskan pada mereka kalau Robin meninggal karena sudah punya niat bunuh diri sebelumnya."
Aku diam-diam mendengus dingin.
Setelah melihat kerabat-kerabat di sekitar, aku sengaja bertanya kepada ibu mertuaku dengan suara lantang, mengapa ingin mencabut gugatan?
Kerabat-kerabat yang berada di sekitar langsung memusatkan perhatian ke arah kami.
"Apa Ibu nggak ingin pembunuh Robin diadili?"
Ibu mertuaku tentu menyadari tatapan semua orang. Dia menyuruhku untuk mengecilkan suara.
Aku bukan hanya tidak mengecilkan suara, tetapi malah bertanya lebih keras lagi. Mengapa dia ingin mencabut gugatan?
Suaraku penuh dengan rasa kekecewaanku terhadap ibu mertuaku. Ibu mertuaku masih mengelak.
"Bukan begitu. Robin sungguh berniat bunuh diri. Dia memberitahuku sebelum kalian mendaki gunung."
Sembari berbicara, ibu mertuaku menangis tersedu-sedu. Bersamaan dengan itu, dia juga memandangku dengan tatapan yang seolah berkata, 'Aku malah nggak menyadarinya.'
Orang-orang di samping mulai memandangku dengan tatapan aneh. Aku menyadari sudut bibir ibu mertuaku sedikit terangkat.
Aku tertawa. "Robin nggak bunuh diri, tapi dia meninggal karena minum air pemberian orang itu."
"Apalagi, polisi baru saja memberitahuku bahwa mereka telah menemukan petunjuk. Mereka akan segera menemukan pelakunya."
Tentu saja, aku hanya mengelabui ibu mertuaku. Sampai sekarang polisi masih belum menemukan hasil.
Namun, ibu mertuaku memercayainya. Dia mulai panik.
"Aku menyuruhmu mengatakan Robin bunuh diri. Kenapa kamu nggak mau dengar?"
Aku tetap menolak dan menuduhnya begitu kejam. Bahkan, tidak peduli dengan kematian putranya sendiri. Wanita berhati jahat.
Orang-orang di sekitar kami kembali memandang ibu mertuaku dengan tatapan aneh.
Menyadari hal itu, ibu mertuaku langsung membela diri.
Dia tiba-tiba menoleh. "Kamu lihat wanita di belakangku ini? Dia kakak orang yang ditangkap itu."
"Robin berutang banyak padanya. Dia bilang kalau kita nggak mau bilang Robin bunuh diri, dia mau kita melunasi utang sekarang juga."
Aku melirik wanita di belakang ibu mertuaku. Cinta pertama suamiku ada di sana.
Begitu melihat wanita ini, aku langsung mengenalinya.
Dia-lah yang mendatangiku sambil membawa putranya. Lalu, mengambil alih mobil dan rumahku serta mengusirku. Terakhir di saat aku sekarat, dia mempermalukanku dengan menukar uang sepuluh ribu dengan selembar uang dua ribu.
Aku terdiam beberapa saat. Cinta pertama suamiku berjalan mendekatiku.
"Nona Eva, suamimu berutang 12 miliar kepadaku. Aku punya bukti. Silakan pergi ke kantor polisi untuk mencabut gugatanmu."
"Kalau nggak, kembalikan utang suamimu sekarang juga."
Dia mengeluarkan selembar kertas. Ekspresi wajahnya tampak menantang.
Di saat ibu mertuaku mengira aku akan menurut, aku tiba-tiba angkat bicara.
"Demi membalaskan dendam suamiku, aku juga nggak akan ragu meski harus membuat keluargaku bangkrut."
Anda Mungkin Juga Suka





