APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SUAMI BLANGSAKKU TERNYATA PENGUSAHA

SUAMI BLANGSAKKU TERNYATA PENGUSAHA

Dio harus menelan pil pahit setiap hari akibat perlakuan buruk mertuanya. Meski dicap miskin karena hanya berprofesi sebagai pedagang cendol, Marisa sang istri tetap setia mendampinginya dengan tulus. Namun, di balik penderitaan tersebut, Dio sebenarnya adalah pewaris tunggal dari dinasti keluarga paling kaya raya. Akankah ia terus bersabar menghadapi hinaan mertuanya, ataukah rahasia besar mengenai identitas aslinya akan segera terungkap dan membalikkan keadaan?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Pa, Ibu demam," ucap Tasya anak Dio yang berusia 5 tahun, terlihat raut wajahnya yang begitu was-was karena melihat ibu sambungnya yang masih terbaring lemah di ranjang dengan badan yang terasa panas.

Dio tersentak ketika mendengar ucapan anak semata wayangnya. Dio pikir Marisa, istrinya hanya tidur kesiangan seperti biasa, makanya sampai saat ini dia belum bangun juga.

Terpaksa Dio menghentikan pekerjaannya membereskan adonan cendol untuk nanti siang jualan keliling. Setelah itu ia menghampiri sang istri yang masih berada di dalam kamar.

Tatkala Dio membuka daun pintu kamar, terlihat wajah Marisa yang pucat pasi, badannya menggigil kedinginan, hanya dibaluti helaian selimut yang tipis, bibirnya gemetar. Dio menyentuh dahi Marisa dengan punggung tangan, dan ternyata memang panas, suhu tubuhnya sangatlah tinggi.

"Sayang, kamu demam tinggi seperti ini sejak kapan? perasaan semalam kamu baik-baik saja," tanya Dio sambil membangunkan Marisa yang masih terpejam.

"Pa, ibu kenapa?" Tasya sangat khawatir melihat keadaan ibunya.

Dio tak menghiraukan pertanyaan putri kecilnya. Hal itu karena pikirannya yang dipenuhi kecemasan. Dengan cepat Dio mengambil lap kecil dan air dingin untuk mengompres Marisa. Ia berharap semoga saja dengan cara itu demamnya bisa turun.

"Mass .…" Akhirnya Marisa terbangun ketika Dio meletakkan lap kecil basah di dahinya.

"Ada apa, Mar? Apa kau mau sesuatu?" tanya Dio was-was.

"Kenapa gak bawa saja ke dokter, Pa? Kasian Ibu," ujar Tasya si gadis kecil mungil.

Dio hanya menundukkan kepala. Jangankan untuk memeriksa Marisa ke dokter, bahkan untuk makan sehari-hari keluarga Dio sudah kesusahan. Apalagi sekarang musim hujan, hanya mengandalkan jualan cendol keliling kampung saja, rasanya sudah kepayahan karena jarang habis.

"Mas, kamu tidak berdagang hari ini?" tanya Marisa dengan suara seraknya.

Marisa mengerti betul kalau saja hari ini suaminya tidak berjualan keliling, bagaimana nanti sore keluarganya bisa makan? Sedangkan adonan sudah siap. Tidak mungkin kalau Dio membiarkannya begitu saja. Tentu akan merugikan.

"Keadaan kamu gimana? Mas gak tega, kalau harus ninggalin kamu di sini dengan Tasya."

"Aku baik-baik saja, Mas. Nanti Tasya belikan obat di warung. Pasti akan mendingan nanti," ujar Marisa sambil berusaha bangkit dari tidurnya.

"Iya, semoga saja kamu sembuh," kata Dio berusaha membuang kecemasannya itu. Dia lalu bangkit dari duduknya untuk segera mempersiapkan cendol dan akan segera berangkat berkeliling.

Rasanya berat sekali untuk melangkah dengan kondisi istri yang terbaring lemah. Tak ada pilihan lain, Dio mulai mengayunkan kaki yang terasa berat ini menuju arah dapur. Ia lalu mempersiapkan cendol di gerobak, menatanya dengan rapi. Namun, santan ketinggalan, entah tersimpan di mana, Dio lupa. Karena tadi Tasya datang tiba-tiba.

Setelah 3 menit Dio mencari, ternyata ketemu di bawah wastafel. Dengan segera tangan Dio meraihnya. Akan tetapi, tak sengaja matanya melirik pada wadah persegi empat yang biasa di isi beras. Wadah itu nampak kosong, hanya ada beberapa butir beras yang tersisa. Lelaki itu mengambil dan memperhatikan wadah tersebut dengan gamang.

Nanti bagaimana Marisa dan Tasya akan makan, sedangkan beras sudah habis? Pikirnya. Pagi ini Dio hanya sarapan nasi goreng yang tinggal satu piring. Itu pun Dio sisakan untuk Marisa dan Tasya.

"Astaghfirullah."

Dio bingung, apa yang harus dilakukannya. Ternyata menjalani hidup jauh dari orang tua tidaklah mudah. Sedangkan mertuanya sendiri Bu Minah sangat membenci Dio, karena dia orang tidak punya, dan profesinya hanya tukang cendol keliling yang uangnya tak seberapa.

Dio pun menghembuskan napas kasar. 'Mengapa menjalani hidup sepahit ini? Hidup begitu melarat, kasihan sekali anak dan istriku, mereka tersiksa karena aku menjadi suami yang tidak becus memberi mereka kebahagiaan. Jangankan kebahagiaan, mencukupi makan sehari-harinya saja aku sangat kesusahan,' batinnya menyesali diri.

Dio mengusap wajah dengan air mata yang menetes membasahi pipi. Pria itu segera mengayunkan kaki dengan rasa cemas merasuki isi kepala sebab istri yang sakit. Akan tetapi, apa boleh buat, mencari uang untuk membeli beras itu lebih penting saat ini.

Dio kembali ke kamar untuk melihat kondisi istrinya sekaligus berpamitan sebelum dia berangkat berjualan.

"Mar, Mas berangkat jualan dulu. Semoga siang kamu sudah sembuh." Dio menatap wajah Marisa dengan sorot yang begitu sendu.

"Jangan khawatir, Pa. 'Kan ada aku," timpal putri kecilnya sambil tersenyum manis menambahkan semangat Dio.

"Jagain Ibu ya, Sayang. Papa jualan dulu." Dio mencium pipi Tasya dengan penuh kasih sayang.

"Iya, Mas. Semoga jualan hari ini laris manis," ucap Marissa yang masih bersandar di kepala ranjang, bibirnya tampak kering dengan wajah pucat.

Bagaimana Dio tidak menyayangi Marisa yang sudah menemaninya selama satu tahun lebih. Ia dan Marissa menikah tanpa restu orang tua, karena Bu Minah—ibu dari Marisa—tak merestui sama sekali. Alasannya karena Dio adalah duda beranak satu dan hanya bekerja sebagai tukang cendol keliling.

Namun, Marisa dan Dio sudah tidak bisa dipisahkan. Marissa mencintai Dio. Wanita muda itu tak memperdulikan ibunya yang mati-matian melarang hubungannya itu. Hingga akhirnya Marisa memilih minggat dari rumah dan kawin lari bersama Dio. Oleh karena itu, sampai saat ini Marisa pun tidak tahu bagaimana kabar sang bunda.

Dio melangkah pelan sambil mendorong gerobak cendolnya berkeliling.

Ting! Ting! Ting!

Suara itu berasal dari botol yang dipukul dengan sendok, untuk menarik pelanggan. "Cendol, dol, dol, dol!"

"Dio, sini!" Lambaian tangan Bu Esroh tampak dari kejauhan.

Bibir Dio seketika melengkung membentuk senyuman lantaran merasa senang ada yang memanggilnya. Mungkin ini adalah rezekinya yang pertama.

"Iya, Bu. Mau berapa kantong?" tanya Dio antusias.

"Berapa kantong apanya! Saya bukan mau beli!" sentak Bu Esroh, tukang warung langganan.

Dio tercengang dengan perkataan Bu Esroh yang tiba-tiba ngegas tanpa sebab. Senyuman Dio menghilang begitu saja. "Terus, Bu?"

"Si Marisa, kemarin dia ngutang! Minggu lalu ngutang, terus kamu kapan bayarnya? Kalau gini caranya, saya bisa bangkrut!" cerca Bu Esroh menjelaskan.

Dio tertegun sejenak. "Memangnya hutang istri saya berapa, Bu?" tanya lelaki itu.

"Tiga ratus! Saya gak mau tahu! Besok kamu mesti bayar walaupun separoh. Apalagi kamu juga tahu, kalau saya punya cicilan Bank Emok!" tegas Bu Esroh sambil mendelikkan mata.

Dio hanya bisa mengelus dada saat mendengar ucapan Ibu Esroh yang begitu ketusnya. Pagi-pagi sudah disambut dengan omelan Bu Esroh yang menagih hutangnya. Namun, wajar Bu Esroh berbuat seperti itu, sebab ia pun sama membutuhkan.

Tadinya Dio pun berniat hari ini akan ngutang lagi untuk beras dan telur, karena rencananya uang hasil jualan hari ini untuk memeriksa istrinya ke dokter. Akan tetapi, kalau Bu Esroh sudah marah begini Dio pun tak berani.

Dada Dio semakin sesak, jantungnya berdegup kencang. Betapa pikiran dia benar-benar frustrasi, mengapa ia bisa menjadi kepala keluarga yang gagal dan pecundang begini.

Langkahnya semakin berat, lututnya teramat lemas rasanya. Dengan terpaksa Dio harus terus melangkah untuk melanjutkan berjualan cendol. Dengan sekuat tenaga Dio mencoba melupakan masalah dan beban di dada. Ia harus fokus demi sesuap nasi di hari ini.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Istri pilihan
8.8
Demi menyelamatkan hari pernikahan, Leana terpaksa menggantikan Sasmita, kakaknya yang mendadak kabur. Ia pun terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta bersama Elvano Mahendra, pria dingin yang terus menyalahkannya. Sadar tak pernah diinginkan, kesabaran Leana akhirnya habis saat sang kakak kembali. Namun, ketika Leana menuntut perceraian, Elvano justru menolak melepaskannya meski sang kekasih lama telah pulang. Mengapa pria itu bersikeras mempertahankan pernikahan mereka?
Sampul Novel Chef Galak Itu Mantan Pacarku
9.2
Mita, seorang manajer selebriti profesional, terkejut saat dipertemukan kembali dengan Gun Saliba. Chef terkenal yang terkenal sangat cerewet ini rupanya adalah mantan pacar yang paling ingin Mita lupakan. Bukannya bekerja sama dengan baik, Gun malah terus memusuhi dan mempersulit karier Mita. Namun, di balik sikap buruknya, Gun sebenarnya tidak pernah tahu penyebab utama mengapa Mita mengakhiri jalinan asmara mereka dulu.
Sampul Novel Diary Naya
9.1
Bagi sebagian orang, cinta memiliki arti yang beragam, layaknya kutipan Marianne Williamson tentang esensi kehidupan. Namun bagiku, makna sejati dari perasaan ini sama sekali bukan tentang kepemilikan. Kisah ini mengupas tuntas sebuah pengorbanan terbesar. Di mana mencintai seseorang menuntut ketulusan luar biasa untuk merelakan sosok paling berharga pergi, demi membiarkannya menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Sampul Novel Hamil Dengan Pengkhianat
8.6
Malam tak terduga di Paris mempertemukan Vera dengan Dante, sosok masa lalu yang paling ia benci. Setelah kembali ke Jakarta, Vera terkejut mendapati dirinya tengah mengandung anak dari pria tersebut. Bertekad melupakan masa lalu, ia memilih untuk merawat bayinya seorang diri. Namun, takdir berkata lain saat Dante tiba-tiba muncul kembali di hadapannya. Kehadiran pria itu mengacaukan rencana Vera, membawanya masuk ke dalam dilema yang rumit.
Sampul Novel JANJI YANG DIKHIANATI
9.5
Pernikahan seorang istri hancur lebur setelah ia membongkar perselingkuhan suaminya yang telah lama disembunyikan. Rasa sakit hati dari pengkhianatan bertahun-tahun ini memicu tekad kuatnya untuk mencari keadilan. Ia pun mulai merancang pembalasan yang sangat diperhitungkan. Langkah berani ini tidak hanya menguras emosi jiwanya, tetapi juga menguji kesetiaan serta batas kesabaran dari orang-orang terdekat di sekelilingnya.
Sampul Novel Jebakan Bidadari Rumah Sakit
8.5
Dalam keheningan ruang perawatan yang diselimuti atmosfer ambigu, ketegangan tak kasat mata mulai terbangun. Tatapan intens dari seorang pasien terasa begitu nyata, memicu getaran yang tak tertahankan bagi sang protagonis. Terbawa oleh situasi, ia akhirnya melepaskan kancing seragamnya dan menyerah pada permainan kotor yang berbahaya. Hubungan terlarang ini mencapai puncaknya saat robekan stoking menandai awal dari keintiman mendalam yang tak lagi bisa mereka hindari.