APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Stay With Me (Gaza dan Clara)

Stay With Me (Gaza dan Clara)

Pernikahan paksa akibat insiden tak terduga menyatukan Gaza dan Clara dalam ikatan tanpa cinta. Seiring waktu, rasa terpaksa itu terkikis saat mereka menyadari perasaan tulus yang rupanya telah lama terpendam. Namun, kebahagiaan mereka langsung diuji begitu pengakuan cinta terucap. Berbagai rintangan berat kini datang bertubi-tubi mengancam komitmen baru mereka. Mampukah hubungan yang berawal dari ketidaksengajaan ini bertahan melewati badai ujian?
Bab
Bagikan

Bab 1

Bab 1

"Menikah? Astaga, Ayah! Clara masih kuliah!" Teriakan seorang gadis yang tidak terima atas keputusan sang ayah, membuat semua yang berkumpul di ruang tamu bernuansa Eropa itu tercengang.

"Perbuatan kamu sangat memalukan, Clara! Kali ini Ayah tidak akan memaafkan!" Ayah dari gadis tersebut sangat murka. Tangannya mengepal menahan amarah yang membuncah di dada.

Di salah satu sofa ruang tamu tersebut, terdapat seorang pemuda yang berpenampilan sederhana, hanya duduk mendengarkan perdebatan antara ayah dan anak gadisnya itu. Dia tidak dapat berbuat apapun. Pembelaan yang dia lontarkan sama sekali tidak merubah yang telah terjadi.

"Yah, coba pikirkan lagi! Apa Ayah tega menikahkan Clara dengan laki-laki yang nggak jelas kayak gini!" Ibu dari gadis itu menyela pembicaraan kedua belahan jiwanya. Dia melirik laki-laki itu dengan pandangan sinis. Sedangkan sang pemuda tertunduk dan menahan amarah. Harga dirinya terinjak-injak atas ucapan sang ibu.

"Coba Mama pikir! Kalau Clara hamil gimana?" Pertanyaan dari sang ayah membuat pemuda itu tercengang. Itu adalah tuduhan keji. Dia tertunduk mengutuk dirinya yang tidak dapat membela diri karena tidak ada bukti yang menguatkan, jika dirinya tidak bersalah.

"Astaga, Ayah! Clara minta untuk visum!" sentak gadis itu.

"Tidak ada waktu, Clara! Semua telah mengetahui aib ini. Ayah malu. Nak Gaza, bisa memanggil orang tuanya kemari? Kita akan membicarakan masalah ini lebih lanjut." Pemuda berkaca mata itu terkejut.

"Maaf, Pak. Tapi, saya yatim piatu," jawab pemuda itu gugup.

"Tuh, kan, Yah. Asal usulnya aja kita nggak tahu. Jangan-jangan dia turunan penjahat." Sang Ibu sangat berat menerima keputusan dari suaminya.

Dia sangat menyayangi Clara anak satu-satunya. Tidak mungkin semudah itu dia melepaskan anak gadisnya dengan seorang pemuda yang tidak mereka kenali.

Gaza merasa tersinggung dengan perkataan ibu dari gadis itu. Dia juga sama sekali tidak menghendaki keputusan sepihak ini. Tapi, apalah daya. Dia hanya seorang perantau yang mencari rezeki di kota demi sesuap nasi. Dia hanya butiran debu, jika dibandingkan dengan Clara dan keluarganya.

"Clara mau bawa ini ke jalur hukum! Kalau Ayah nggak mau bantu Clara, biar Clara yang usaha sendiri!" Kemudian gadis itu berlalu ke kamarnya. Dia tidak memedulikan lagi teriakan ayahnya.

Beberapa saat kemudian sang ibu menyusul anak gadisnya itu ke kamar. Setelah dia menyatakan ketidaksetujuannya atas keputusan sang suami.

Gaza merasa bersalah dengan keadaan yang tidak menguntungkan ini. Seandainya dia lebih hati-hati, semua kejadian ini tidak akan membelenggu mereka sejauh ini. Namun, semua telah terjadi dan dia harus menghadapi semua.

"Nak Gaza, Bapak meminta maaf atas semua ucapan mamanya Clara." Gaza tersenyum dan mengangguk, meskipun dadanya panas mendengar hinaan yang dilontarkan wanita yang masih modis meskipun dimakan usia itu.

"Ini sudah menjadi keputusan saya. Sungguh saya sangat malu dengan semua yang terjadi. Apa Nak Gaza setuju dengan semua ini?"

Sebelum menjawab, Gaza membenahi duduknya. Dia terlihat berpikir. "Maaf, Pak. Semua yang menjadi keputusan Bapak, saya mengikutinya." Sebenarnya bukan itu yang akan dia katakan. Setelah melihat wajah memelas dari laki-laki yang telah memutih rambutnya itu, membuat Gaza luluh. Dia harus menerima keputusan ini, meskipun terpaksa.

Setelah perbincangan berakhir, Gaza pamit undur diri. Dia keluar dari ruangan yang menegangkan itu menuju motor sport-nya yang dia parkir di depan rumah. Sebelum mengenakan helm, pemuda berpostur tinggi itu melihat ke lantai atas. Ternyata, Clara berada di balik jendela kamarnya. Netra mereka beradu, lalu Clara melihat tajam ke arah Gaza dan mengacungkan jari tengah sebelum berlalu.

***

Malam ini, begitu banyak bintang bertaburan di langit. Gaza memilih untuk duduk di taman dekat dengan rumah kontrakannya. Dia memikirkan hidupnya setelah ini. Tanggung jawabnya akan bertambah, jika pernikahan yang terpaksa ini benar-benar terjadi.

Kaleng soda di tangannya sudah kosong sedari tadi. Dia hanya memainkannya. Tidak lama kemudian dia meremasnya dan membuangnya ke tong sampah yang ada di depannya. Pemuda itu melepas kaca mata dan menyimpannya di saku kemeja. Kemudian menyandarkan bahunya di kursi taman sambil melihat langit yang betebaran oleh bintang-bintang. Sesekali dia mengusap wajah dan rambutnya dengan kasar. Dia mengutuk dirinya yang sangat ceroboh. Tidak hanya kehilangan pekerjaan. Sekarang, dia harus menikahi anak gadis orang.

Malam semakin larut, Gaza masih bertahan di gelapnya malam dalam kesendirian. Taman tersebut juga sudah terlihat sepi. Hanya beberapa orang saja yang tinggal. Kemudian pemuda itu berjalan menuju mini market 24 jam di depan taman.

Setelah masuk, Gaza mengambil minuman kaleng bersoda di lemari pendingin. Tidak lupa dia membeli rokok. Kemudian dia membayarnya dan duduk di depan mini market tersebut.

Gaza menyulut rokoknya. Dia melihat pasangan muda mudi yang berlalu lalang di depannya. Mereka terlihat sangat mesra. Berjalan sambil bergandengan tangan. Ada juga yang duduk di bangku taman sambil bercanda. Gaza tersenyum, apakah kelak dia akan melakukan hal itu dengan Clara?

Gaza tersenyum kecut ketika memikirkan Clara. Gadis itu sangat membencinya. Bagaimana bisa mereka menjalankan pernikahan atas dasar kebencian? Sikap Clara di rumahnya tadi, membuat matanya terbuka. Apa dia harus membatalkan keputusan yang telah disepakati?

***

Gaza sengaja bangun terlambat pagi ini karena sudah tidak ada tanggung jawab untuk bekerja. Beberapa saat kemudian, ponselnya berdering. Dia mengabaikannya dan memilih untuk tetap tidur.

Beberapa kali dia mematikan panggilan dari nomor tidak dikenal itu. Namun, penelepon itu terus mengganggu, sehingga membuat tidurnya tidak nyaman. Terpaksa dia mengangkat panggilan tersebut.

"Halo ...."

"Lo ke mana aja! Gue cari di perpus, tapi nggak ada. Semua bilang lo dipecat! Gue nggak mau tahu! Sekarang gue tunggu di kantin dekat perpus, cepat!" Gaza mendengar suara gadis yang sangat dia hapal melalui pengeras suara. Suara tersebut bagaikan alarm yang membuatnya harus bergegas untuk pergi. Tanpa mandi, hanya mencuci muka dan menggosok gigi, Gaza melaju ke kampus demi panggilan seorang gadis bernama Clara.

Lima belas menit kemudian, Gaza telah sampai di tempat Clara. Dia mencari sosok cantik tersebut. Setelah menemukan gadis itu, dia segera menghampirinya.

Gaza tersenyum pada Clara. Bukannya membalas senyum tersebut, gadis itu memandang penampilan Gaza yang berantakan. Rambut disisir asal dan hanya memakai celana selutut dengan atasan kaus.

"Ada yang penting, Ra?" Suara Gaza mengejutkan Clara. Kemudian dia mempersilakan Gaza untuk duduk.

Gadis itu menunjukkan sebuah lembaran dari map yang dia bawa. Sebelum membaca, Gaza membenarkan kaca matanya terlebih dahulu. Baru satu paragraf dia membacanya, Clara menyodorkan lembaran yang lain.

"Lo harus tanggung jawab, Za! Semua peristiwa ini terjadi atas kecerobohan yang lo buat!" Gaza tercengang. Dia melanjutkan kembali membaca lembaran tersebut. Ternyata isinya adalah tuntutan untuk dirinya. Dia dijerat dengan pasal kelalaian dan pencemaran nama baik. Atas tindakan tersebut membuat korban mengalami kerugian.

"Nggak bisa gini, Ra! Aku nggak terima!"

"Perbuatan lo itu merugikan gue tahu nggak! Lihat ini! Gue di-Do!" Gadis itu menunjukkan lembaran satu lagi dengan mata berkaca-kaca.

"Kalau Ayah nggak bantu gue, teman-teman gue dari bantuan hukum Fakultas siap urus semua!"

"Tapi, ini bukan kesalahanku, Clara! Semua terjadi gitu aja!" Gaza kehabisan kata. Dia tidak dapat meyakinkan Clara atas kejadian yang terjadi.

"Setelah visum dilakukan, gue mau polisi selidiki kejadian ini. Kalau lo terlibat, jangan salahkan gue tuntutannya akan lebih banyak lagi!"

Gaza membelalakkan matanya, ternyata perempuan di depannya ini tidak main-main dengan tindakannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Pernikahan Sang Mafia
8.6
Demi menebus dosa masa lalu sang ayah, Leonard, Aveline Harper yang berusia 21 tahun dipaksa menikahi Gabriel Alaric. Di balik pernikahan dingin ini, Gabriel menjadikan Aveline sebagai alat balas dendam, meski batinnya sendiri tersiksa oleh rahasia kelam. Di tengah badai emosi dan kebencian suaminya, Aveline mencoba bertahan dan memahami luka masa lalu Gabriel. Akankah dendam membara ini membawa kehancuran bagi mereka, atau justru menumbuhkan cinta tak terduga?
Sampul Novel Dia Mendanai Wanita Lain Menggunakan Uangku
8.9
Demi menguji kesetiaan sang kekasih, Julissa Palmer memilih menyamar sebagai staf biasa di perusahaannya sendiri. Siasat ini justru membuat Ethan Wilson salah paham. Ia mengira Noreen adalah ahli waris Grup Palmer yang sesungguhnya. Sambil terus merendahkan Julissa, Ethan diam-diam mendekati Noreen demi mengincar harta. Di sebuah pesta mewah, Ethan bahkan nekat melamar Noreen di hadapan media. Ia tidak sadar bahwa Julissa adalah pemilik asli Grup Palmer yang sebenarnya.
Sampul Novel En-PD181
7.9
Karier saya sebagai agen papan atas terancam hancur karena ulah Lucas. Model pendatang baru yang sombong itu menuntut pemecatan saya hanya demi masalah jaket, bahkan memamerkan kedekatannya dengan pemilik perusahaan saat pesta. Namun, dia salah mencari lawan. Tanpa ragu, saya langsung menghubungi pria terkaya di negeri ini untuk menarik diri dari proyek film besarnya. Kini, investasi mereka berada di ujung tanduk akibat keangkuhan Lucas.
Sampul Novel Harga Diri Seorang Wanita
8.1
Jenna Ren hampir mengakhiri hidupnya di atap rumah sakit dengan luka fisik dan batin. Namun, kehadiran sang suami bersama selingkuhannya menyadarkan Jenna. Kematiannya hanya akan menguntungkan mereka. Setelah kehilangan calon bayinya akibat penderitaan itu, ia memilih bangkit untuk membalas dendam. Jenna mengurungkan niatnya lalu bersujud di hadapan Tuan Besar Kim, memohon kekuatan besar untuk menghancurkan semua orang yang telah mengkhianati dirinya.
Sampul Novel Ibu Mandul Melahirkan Sextuplets Untuk CEO Panas
8.9
Diceraikan Callan karena dituduh mandul, Amy nekat menghabiskan malam satu kali bersama gigolo sebelum pergi jauh. Enam tahun kemudian, ia kembali sebagai ibu dari enam anak kembar yang lucu. Namun, betapa terkejutnya Amy saat mendapati bos barunya di NorthHill adalah pria dari masa lalunya itu. Kini ia harus menyembunyikan rahasia besar tersebut dari sang CEO berkuasa, yang sebenarnya juga diyakini tidak dapat memiliki keturunan.
Sampul Novel Istri Mandul, Tak Pernah dicintai
9.6
Tiga tahun Alina bertahan dalam pernikahan dingin bersama Rayhan, sembari menahan caci maki keluarga yang menuduhnya mandul. Impiannya memiliki anak sirna karena sang suami sama sekali tidak menginginkan kehadirannya. Di tengah sikap acuh tak acuh Rayhan dan rasa hampa tanpa cinta, Alina akhirnya mencapai batas kesabaran. Di rundung kepedihan mendalam, ia mulai meragukan masa depan hubungan mereka. Haruskah Alina tetap bertahan dalam pernikahan yang terus menorehkan luka?