APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Skandal anak Sekolah

Skandal anak Sekolah

Kehidupan SMA Rani yang awalnya indah berubah menjadi mimpi buruk akibat kesalahan fatal. Terbawa oleh gelora cinta pertama bersama Alan, ia harus menghadapi kenyataan pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan hasil positif. Di usianya yang masih sangat muda dan berstatus sebagai pelajar, Rani kini terjebak dalam konsekuensi besar. Sanggupkah ia bertahan menjalani hari-harinya setelah skandal kehamilan ini terbongkar ke publik?
Bab
Bagikan

Bab 3

Sedangkan Alan, cowok itu makin bingung. "Ini kenapa dia malah makin ngibrit, sih?" gerutunya mempercepat langkah.

Alhasil, dua manusia itu sama-sama berjalan cepat hampir seperti sedang kejar-kejaran. Bayangkan saja bagaimana keadaannya.

"Kalian berdua ngapain sih?"

Seketika itu juga, Alan dan Rani berhenti di tempat masing-masing. Dengan posisi Rani di depan dan Alan di belakang pada jarak sekitar satu setengah meter.

"Enggak ngapa-ngapain, Kak!" jawab Alan dan Rani kompak.

Tepat dengan itu, Rani menoleh ke belakang. Lah, kok ada si Alan? Jadi daritadi yang ngikutin gue.. ? batinnya kembali mengudara.

"Kalau nggak ngapa-ngapain kenapa jalan ngibrit gitu lo berdua? Kayak yang di kasih speed booster 2x? Hayo mau ngapain?"

Raihan Satria. Itu nama yang ada di nametag salah satu osis di Satu Nusa. Kakak osis yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan mengejutkan Rani juga Alan.

"Ini kak, saya sih mau ke toilet. Nggak tau kalo yang di belakang," jawab Rani jujur.

"Oh. Lo juga mau ke toilet?" tanya Raihan menatap Alan.

"Iya," jawab Alan.

"Oh oke. Ingat! Jaga jarak batasan! Laki-laki dan perempuan toiletnya beda! Jangan sampe-"

"Iya, Kak! Gue paham," potong Alan cepat.

Ia sengaja, sebab dirinya makin bingung karena melihat sesuatu di badan Rani yang semakin banyak.

"Y-yaudah, Kak. Permisi," kata Rani. Cewek ini bersiap untuk melanjutkan langkahnya.

Secepat kilat, Alan menyusul langkah Rani. "Buruan! Gue kebelet!" kata Alan yang sudah menutupi punggung Rani.

Rani terjingkat, "Ish. Astaga. Kaget tau. Ngapain sih nempel nempel di belakang gue?"

"Ck. Udah diem. Buruan jalan! Gue kebelet. Tapi lo duluan, biar gue di belakang," kata Alan.

"Ngapain? Kayak naik sepeda aja sih," risih Rani. Bisa-bisanya gue naksir ma cowok begini, batin Rani heran.

Raihan menoleh pada dua anak yang terlihat buru-buru ke toilet itu. Sedetik kemudian, ia mengedikkan bahunya. "Bukan urusan gue, ah!" ucapnya. Lanjut saja, cowok manis berkulit putih itu melanjutkan jalannya keluar dari jalur toilet.

Alan menyadari jika Raihan sudah tidak ada di toilet. Sekarang, kesempatan bagus untuk mengatakannya kepada Rani.

"Bentar!"

"Eh.. eh, aduh! Apaan sih astaga," ringis Rani karena Alan mendadak menarik kaos seragam belakangnya sampai akhirnya Rani harus tersentak mundur.

"Sini!" Alan memutar paksa posisi Rani jadi berhadapan dengannya.

Deg

Tatapan mata keduanya bertemu. Jarak ini cukup dekat. Sebagai manusia normal baik Rani maupun Alan pasti akan merasakan suatu getaran yang tak biasa. Apalagi, Alan ini manis dan Rani pun cantik. Ya bukan tidak mungkin iman masing-masing melemah.

"Iya. Gue tau gue ganteng," ucap Alan tiba-tiba.

"Ish." Rani melepas cekalan tangan Alan di badannya. "Kenapa si? Udah ngikutin, nempel-nempel, terus tiba-tiba puter badan gue. Lo aneh tau nggak. Udah bagus tadi lo dihukum sama Kak Pangeran, tapi malah nyusul gue kesini. Kayak yang kur-"

"Ssst!" Telunjuk Alan menempel pada mulut Rani. Cewek itu juga spontan terdiam dan terkelu dalam pikirannya.

Karena Rani sudah diam, Alan menjauhkan jari telunjuknya. Tindakan yang ia lakukan berikutnya adalah melepas jaket yang masih menempel di badannya. Yah ... sejak baru saja sampai di kelas tadi, Pangeran tidak memberikan kesempatan untuk Alan melepas jaket dulu, dirinya langsung dihukum begitu saja.

Tetapi, ternyata ada untungnya.

Alan membalutkan jaketnya ke pinggang Rani. Dengan telaten dia mengikat pula bagian lengan jaket ke bagian perut depan Rani, supaya terkait dan tidak turun dari pinggang.

Rani? Apa kabar dia?

Astaga! Alan! Ini apa-apaan sih? Jangan bikin gue meriang di tempat gini dong. Apalagi lo udah punya cewek, kalau gue baper yang tanggung jawab siapa? batin Rani menari-nari.

"Heh! Nggak usah bengong!" tegur Alan.

Rani terkaget. "Si-siapa juga sih yang bengong?!"

"Lo lah, masa bayangan lo," jawab Alan ketus.

"Galak amat sih jadi cowok. Lagian, ngapain lo tiba-tiba giniin gue? Pake ngalungin jaket segala. Apa jangan-jangaan..."

"Jangan-jangan apa?"

"Lo suka ya sama gue? Terus lo mau nembak gue? Terus sekarang cewek lo yang masih dihukum, mau di kemanain? Kok lo playboy sih?"

Alan takjub. Dia tertawa garing.

"Aduh, mbak. Pikiran mbak terlalu percaya diri ya? Maap saya ga playboy kok cowoknya," kata Alan.

"Ya terus apa? Ngapain begini? Jangan bertele-tele deh."

"Mau tau banget?" tanya Alan.

"Tolong ya! Ini gue mendesak banget mau ke toilet. Gara-gara lo bisa-bisa bahaya nih gue," kata Rani.

Alan memutar bola mata malas. "Oke. Jadi.... tadi pas lo keluar kelas, gue liat sesuatu di rok belakang lo. Gue pikir itu akan memalukan kalo-"

"Tunggu! Sesuatu di belakang rok gue? Hah?" potong Rani.

Alan sekarang jadi garuk-garuk kepala. Bingung juga, karena ini konteksnya sangat sensitiv bagi kaum Hawa, juga rada canggung untuk kaum Adam.  "I-iya. Dan warnanya merah. Makannya gue buru-buru susulin biar lo-"

"Cukup!" kata Rani sedikit menekankan. Tiada tanda angka satu, dua, tiga, tiba-tiba Rani balik badan lanjut ngacir lari jurus seribu. Melenyap dari pandangan Alan.

Tolong, ada yang punya kotak ngga? Gue mau nitip muka. Malu gaes, batin Rani dalam larinya.

Alan yang sekarang masih mematung, akhirnya sadar pada dunia nyatanya. Dia kembali menggaruk kepalanya. Perlahan, kakinya bergerak untuk melangkah memutar dan menuju ke kelas.

"Kocak juga," ucapnya singkat. Lalu terukir senyum manis setelahnya.

🌹🌹🌹

Sluurp! Bunyi sisa air keran yang baru saja dimatikan oleh Rani. Rani menatap kaca di wastafel toilet wanita itu.

"Ya ampun astaga. Tadi malem gue mimpi apa coba? Bisa-bisanya bocor gini di depan dia??" monolognya sambil menatap kaca.

Rani melihat ke bawah. Roknya sudah terganti. Untung saja, ada kakak kelas ceweknya yang mau meminjami dia rok. Kalau tidak bagaimana dan apa jadinya?

Tanpa ada angin yang berhembus. Pikiran Rani kembali terpaku pada satu nama yang berhasil menarik dirinya.

Rani terkesan dengan tindakan cowok itu. "Apa jadinya kalau Alan cowok yang nakal?" tanya Rani kembali bermonolog.

Ya, mungkin jika yang memergoki noda di rok Rani adalah cowok lain. Bisa saja dia malah digiring habis-habisan dan jadi bahan tertawaan seantero jagad Satu Nusa. Aduh, ngeri sekali membayangkannya.

"Alan ... Lo udah punya cewek. Tanpa gue tau sifat lo, gue udah suka liat lo. Dan sekarang, lo malah dateng kasih jasa ini ke gue. Kalo gak ada lo, gue udah malu banget pasti," ujar Rani masih menatap kaca.

"First Impression yang lo kasih ke gue, ini makin bikin gue suka sama lo. Tapi, lo kan udah ada yang punya."

"Masa iya gue harus jadi orang ketiga? Yah kan , naudzubillah banget!"

"Jahat ngga si? Tapi gapapa kan, Lan? Kalau aku menunggu putusmu?"

Rani bergeleng-geleng cepat! "Ish ngomong apaan sih astaga! Gausah gila, Ran! Inget! Lo ini masih bau bedak, bau kencur, kencing masih bengkok, jadi jangan dulu niat berpacaran!"

"Ah yaudahlah, mending balik ke kelas!"

Rani pun beranjak dari sana.

Namun, baru juga selangkah menjauh dari wastafel. Tiba-tiba tangannya tercekal oleh tangan lainnya. Mata Rani membulat ketika tau siapa yang sudah mencekal tangannya.

"Aduh .. gimana dong? Gue denger semuanya tanpa kecuali," kata cowok itu tepat di depan wajah Rani.



Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam Seorang Adik
8.6
Kematian tragis Danisa meninggalkan luka batin yang mendalam bagi Amara. Mengetahui sang kakak mengakhiri hidup akibat dikhianati keluarga Pramudya, Amara bersumpah menuntut balas. Berbekal pesona memikat, ia menyusup ke lingkaran mereka untuk menghancurkan reputasi serta kekayaan mantan suami, mertua, hingga ipar kakaknya. Namun, saat rencana penghancuran ini berjalan, muncul perasaan tak terduga yang mengancam misi utamanya. Mampukah Amara tetap menjaga hatinya agar tetap dingin?
Sampul Novel Godaan Sang Mantan Pacar
8.6
Pertemuan kembali dengan Leon membawa situasi baru bagi Nisa. Dahulu, pria itu sangat berarti dalam hidupnya, tetapi kini Nisa sama sekali kehilangan ingatannya tentang Leon. Bukannya kasih sayang, Nisa justru menyimpan rasa benci yang kuat dan selalu menghindarinya. Di tengah kondisi yang sulit ini, Leon tidak menyerah dan terus berupaya keras mendapatkan kembali cinta Nisa. Sanggupkah Leon menumbuhkan kembali perasaan yang telah sirna dari memori sang mantan kekasih?
Sampul Novel ISTRI LUMPUH TUAN NATHAN
8.0
Pernikahan Violetta dan Nathan diselimuti keheningan yang menyakitkan. Meski Violetta telah menyerahkan seluruh jiwa dan raganya demi sang suami, ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Nathan terus membangun dinding pemisah yang tebal, memperlakukan Violetta layaknya orang asing di hidupnya. Harapan Violetta untuk bersatu seutuhnya kini pupus, menyisakan kepedihan mendalam akibat sikap dingin dan pengabaian Nathan yang tak berujung.
Sampul Novel Keperkasaan Sang Mertua
9.3
Hubungan terlarang yang menegangkan tersaji dalam novel modern Keperkasaan Sang Mertua. Di hadapan jendela kaca besar yang memperlihatkan keramaian orang di bawah, seorang menantu perempuan tidak berdaya menghadapi tindakan intim dan dominasi fisik dari ayah mertuanya sendiri. Meski sang menantu merasa sangat malu dan memohon untuk dihentikan, sang mertua justru mengabaikan rasa bersalah tersebut. Ia menganggap situasi berisiko ini sebagai hal yang mengasyikkan untuk dinikmati.
Sampul Novel Satu Laki-Laki Empat Istri
9.5
Kehidupan pernikahan Rendra tidaklah sederhana. Kresna, Tessa, Kanti, dan Wanda dituntut memiliki keikhlasan luar biasa untuk bersanding sebagai para istri yang berbagi satu suami. Di balik keharmonisan yang tampak di luar, benarkah tidak ada kecemburuan yang membara di antara mereka? Ketenangan rumah tangga ini sebenarnya menyimpan rahasia besar yang belum terungkap. Sebuah drama romansa dewasa yang mengupas tuntas pengabdian, cinta, dan misteri hati.
Sampul Novel Suamiku Dingin, Hatinya Beku
8.6
Akibat trauma masa lalu, Adam tumbuh menjadi sosok kaku yang cuma peduli pada pekerjaan. Kehidupannya kian pelik ketika perjodohan tanpa cinta memaksanya menikahi Aurora, seorang mahasiswi kedokteran. Walau Aurora selalu perhatian, Adam tetap dingin dan acuh tak acuh. Di tengah rasa sepi yang melanda, hadirlah lelaki lain yang menawarkan kehangatan untuk Aurora. Akankah ia bertahan menjaga kesetiaan pernikahannya, atau justru menyerah menghadapi kebekuan hati sang suami?