
Si Bodoh Yang Mirip Cinta Pertamaku
Bab 2
Aku bersandar di dinding yang dingin, berusaha menenangkan detak jantungku yang berdebar kencang. Kok bisa jadi begini? Dia itu idiot! Dia tak tahu apa yang sedang dia lakukan?
“Tok tok tok!” Pintu kamar mandi diketuk dan suara kekanak-kanakan Leon terdengar dari luar, “Kakak, Leon juga mau pipis, tolong bantu aku.”
Astaga, kenapa dia seperti pembuntut! Aku membuka celah pintu sedikit, berusaha agar nada bicaraku terdengar tenang, “Leon sayang, kamu pipis sendiri, ya. Kakak masih lagi mandi.”
Namun, dia malah memanyunkan bibir, menarik tanganku tanpa mau melepaskannya, matanya juga terlihat berkaca-kaca, “Tapi… tapi Leon nggak bisa. Kakak, tolongin aku dong….”
Melihat matanya yang berkaca-kaca, hatiku pun langsung luluh dan terpaksa mengiyakan.
Dia bersorak gembira, lalu menarik tanganku keluar. Belum sempat aku bereaksi, diriku sudah didudukkan di atas kloset olehnya. Dia berdiri di depanku, lalu langsung menggenggam tanganku….
Wajahku langsung memerah, sentuhannya pantas dan nyata. Astaga, besar sekali ukurannya!
“Kakak, cepat… Leon mau pipis….” Leon mengayunkan tanganku dan suaranya terdengar panik.
Kepalaku pusing karena guncangannya, jadi aku pun terpaksa untuk membantu meluruskan ‘Leon kecilnya’, lalu mengarahkannya ke kloset.
Aliran hangat menyembur keluar, aku bahkan bisa merasakan suhu cipratan airnya di punggung tanganku.
Sampai akhirnya selesai, aku segera menarik tangan, berlari ke wastafel dan mencuci tangan dengan panik. Seolah ingin menghilangkan sesuatu yang kotor.
“Kakak, kamu baik sekali!” Leon memelukku dari belakang, kepala basahnya menggesek-gesek di lekukan leherku.
Aku merasa sangat tidak nyaman, tapi tidak enak untuk mendorongnya. Jadi, aku pun membiarkannya memelukku.
“Sudahlah, Leon. Ayo, kita ganti baju.” Aku menepuk punggungnya dengan lembut, membujuknya seperti anak kecil.
Barulah dia melepaskanku dan dengan patuh mengikutiku masuk ke kamar.
Aku membantunya mencari satu set pakaian bersih, lalu berbalik mencari pakaianku di lemari.
“Kakak, bramu bagus sekali.” Tiba-tiba suara Leon terdengar dari belakang.
Aku menoleh dan langsung terkejut setengah mati.
Di tangan Leon ada bra rendaku, dia lagi mengamatinya sambil diarahkan ke cahaya.
“Leon, cepat letak kembali!” Aku buru-buru menghampirinya dan merebut kembali braku.
Dia malah menghindar seperti sedang main petak umpet, mengangkat braku ke sana dan kemari, sambil mengomel, “Nggak mau, nggak mau!”
Aku merasa kesal dan tak berdaya dibuatnya. Anak ini benar-benar semakin sulit dihadapi!
Dosa apa yang telah kuperbuat?!
Beberapa hari berikutnya, Leon seperti plester, terus menempel erat padaku. Ke mana pun aku pergi, dia harus ikut. Bahkan memintaku untuk menyuapinya dan menemaninya tidur.
Yang lebih parahnya, tampaknya minatnya pada tubuhku semakin mendalam. Dia terus-menerus meraba-rabaku, membuatku gelisah sepanjang hari. Aku sampai takut suatu hari diriku akan tidak tahan dan melahapnya habis.
Hari ini, aku sedang membaca buku di kamar. Tiba-tiba, Leon mendorong pintu dan masuk, sambil memegang gaun tidur rendah hitam di tangannya.
“Kakak, kamu pakai ini, ya?” Dia berjalan ke depanku dan menatapku dengan penuh harap.
Aku menunduk melihatnya dan jantungku langsung berdebar kencang, pipiku terasa panas.
Gaun tidur renda hitam ini terlihat jelas adalah model lingerie sexy, kainnya sangat minim dan tembus pandang, dihiasi dengan beberapa bordiran bunga yang rumit dan sangat sexy..
“Leon, kamu ambil dari mana?” tanyaku yang pura-pura tenang, sambil menahan rasa malu.
“Punya ibu,” jawabnya sambil terkekeh, sepasang mata jernihnya penuh kepolosan dan kebingungan, “Ibu bilang mau kakak memakainya… kakak nggak tahu?”
Ibu? Aku tertegun, “Kapan ibumu bilang hal seperti ini?” Itu jelas pakaian sexy, mengapa ibunya menyuruh aku memakainya?
Leon memiringkan kepala dan berpikir, seolah berusaha mengingat, lalu menunjuk ke bagian dada gaun tidur itu dan berkata dengan suara kekanak-kanakan, “Ibu bilang ada bunga renda cantik di sini, akan terlihat sangat cantik kalau kakak memakainya….”
Pandanganku mengikuti arah jarinya dan wajahku langsung memerah. Sialan, memang ada mawar renda di bagian dada gaun tidur itu, terlihat hidup dan sangat sexy.
Anda Mungkin Juga Suka





