APKDock Logo
Sampul Novel Seriusin Aja, Nikahnya

Seriusin Aja, Nikahnya

8.9 / 10.0
Kara bimbang saat Soni menyatakan cinta. Meski berutang budi, ia tak bisa membalas perasaan itu. Keadaan kian rumit ketika Hendra datang membongkar rahasia Kara, memicu Soni untuk mundur. Mengejutkannya, Hendra justru bertekad menikahi Kara. Akankah pernikahan mereka nanti hanya sebatas perjanjian kontrak belaka, atau malah menjadi awal dari kebahagiaan sejati bagi Kara?

Seriusin Aja, Nikahnya Bab 1

Suasana malam dingin, alunan musik piano instrumental tampak semakin nyaring terdengar ketika Soni mempersilakan Kara untuk duduk. Pria itu telah mempersiapkan segalanya, untuk melamar Kara. Wanita yang memiliki kulit putih bertubuh ramping nan mungil, senyuman kecil ditorehkan tampak kaku.

Suasana canggung tercipta.

"Mbak Kara, ingin memesan makanan yang kamu suka?" tanya Soni tak meluputkan pandangannya begitu serius.

Kara mengendik, "Son, sebenarnya aku lebih menyukai aneka makanan yang sederhana. Makan di warteg ataupun sekadar nasi goreng pinggir jalan." Kara menjawab sembari menyelipkan anak rambut, ragu menatap pria itu.

Kara benar-benar memperhatikan suasana di cafe tersebut. Suasana yang membuatnya sangat canggung. Bagaimana tidak, sedangkan tempatnya saja tergolong sangat mewah.

"Mbak, sebenarnya aku mau mengatakan sesuatu kepada Mbak. Sebenarnya aku itu mencintai Mbak Kara." Soni akhirnya berani mengungkapkan perasaannya yang telah lama terpendam.

Kara langsung terbelalak mendengar pengakuan Soni.

"Apa? Itu tidak boleh terjadi Soni!" Kara sedikit tersentak kaget dan tersenyum canggung. Kara bergeming memikirkan cara menolak secara halus pada pria di hadapannya.

Soni langsung memegang tangan Kara dan mengecup punggung tangan Kara.

"Aku serius, Mbak. Aku mencintaimu. Lagian kenapa juga tidak boleh terjadi?"

Kara semakin bingung untuk menjelaskan semuanya. Kara tahu, sikap Soni yang suka memaksa. Makanya sekarang, Kara lebih memilih memikirkan cara halus menolak pria ini.

"Kita nggak akan pernah cocok, Son. Kita juga nggak akan bisa bersama. Kita nggak pantas Soni. Aku harap kamu paham."

Kara mencoba berbicara dengan sangat pelan pada Soni. Kara juga berbicara dengan nada yang lemah lembut.

"Kenapa nggak cocok. Please 'lah. Kalau kasih alasan itu yang tepat dikit. Aku tahu, kamu juga belum move on dari dia. Apa salahnya terima aku dan coba buka hati buat aku?"

Soni menatap tajam Kara. Karena penolakan wanita itu. Sungguh jawaban Kara yang ambigu. Soni tidak dapat menerima itu.

"Kita nggak akan bisa sejalan. Orang tuamu tidak akan pernah setuju. Aku tidak bisa melawan takdir yang ada. Aku harap kamu paham akan hal ini."

Kara berusaha tegas menjawab itu. Kara tidak ingin jika Soni menaruh harapan yang lebih. Kara lekas berdiri dan ingin pergi meninggalkan tempat itu.

"Kamu mau ke mana, Mbak? Makan dulu." Soni menatap tajam Kara, agar mau menurutinya.

Kara memang menuruti ucapan Soni. Ya, Kara memilih mencari aman saja saat ini.

"Mbak, tolong jawab! Kenapa Mbak nolak aku? Ini bukan karena Shella 'kan?"

Kara tersenyum getir menatap Soni.

"Bukan karena siapapun Son. Kita memang tidak seharusnya bersama. Tolong Son, jangan memaksakan takdir yang jelas sangat tidak mungkin ini."

Kara menundukkan wajahnya dan enggan menatap Soni.

"Kenapa tidak mungkin, Mbak? Apa sejijik itu, aku di matamu? Kenapa pria itu bisa dapat tempat di hatimu, sedangkan aku nggak. Aku yang menemanimu loh, Mbak. Sampai kamu udah ada di titik ini. Sedangkan dia menghilang pergi begitu saja, di saat kamu butuh dia, Mbak."

Soni sangat tidak terima, jika Kara masih mempertahankan cintanya, untuk mantan kekasihnya yang menghilang begitu saja.

"Aku tahu, kamu cukup berjasa dalam hidupku, tapi tidak sepatutnya kita bersama. Maaf, aku tidak bisa memberikan jawaban lain. Aku harap kamu dapat mengerti tentang hal ini."

Sesak semakin terasa, saat Soni mengatakan itu. Sesuatu yang sangat jelas larangannya. Andai saja, Kara mampu berkata jujur tentang keadaan yang sesungguhnya. Namun, semua itu hanya akan membuat banyak hati tersakiti dan sampai saat ini Kara hanya bisa memendam itu.

Soni hanya menatap Kara dengan tatapan seolah tidak percaya dengan jawaban wanita itu. Soni mengira karena ada hal lain. Soni benar-benar bingung dengan sikap Kara saat ini. Kara lebih diam dan lebih dingin.

Soni melangkah pulang bersama Kara. Walaupun tidak menutup perasaannya yang cukup hancur mendengar penolakan Kara tadi.

"Aku masuk duluan. Makasih sudah menjemputku. Lain kali nggak usah jemput lagi."

Kara meninggalkan Soni terlebih dahulu.

Soni langsung menggebrak setir mobilnya. Kesal bukan kepalang saat ini. Yang Soni tahu, saat ini Kara masih jomblo, tapi kenapa sulit digapai? Lebih sulit daripada mengejar Shella yang anak sultan itu.

"Aku akan menaklukanmu, Mbak Kara. Aku pastikan kamu pasti akan menjadi milikku," gumam Soni.

*

Kara langsung berlari menuju kamarnya. Namun, dipertengahan jalan Kara bertemu dengan Ibu Arlita, ibunda Soni.

"Kara, Soni mana? Kenapa sih kamu harus dijemput Soni terus? Nggak berani pulang sendiri kamu?"

Kara sebisa mungkin tersenyum, walau sangat jelas gurat kesedihan di matanya.

"Maaf, Nyonya! Saya tidak menyuruh Den Soni menjemput saya. Saya tahu diri, kok."

Kara sebisa mungkin mengontrol emosi. Hal seperti ini, sudah sangat sering terjadi. Kara selalu berpikir, setidaknya dia dibiayai sekolah dan bisa mendapat pekerjaan yang layak saat ini. Kara menepis segala keinginan lain, agar nantinya mendapatkan masa depan yang baik.

"Ya memang, seharusnya kamu tahu diri. Ingat, kamu hanya cucu seorang pembantu!" seru Arlita.

Kara semakin tersenyum hambar.

"Setidaknya pekerjaan pembantu itu halal, Bu. Satu lagi, dia tidak pernah untuk tidak mengakui cucunya ataupun anaknya."

"Kamu!"

Bu Arlita semakin emosi kepada Kara. Namun, Bu Arlita lekas meredam emosinya, saat Soni memasuki rumah.

"Maaf, Bu! Saya permisi!" Kara tersenyum manis, walaupun dalam hatinya menahan luka yang teramat dalam.

Kara langsung masuk kamar neneknya. Kara langsung memeluk Nenek Ruminah dan menangis dipelukan Ruminah.

"Kara ngerasa lelah, Nek. Kita pergi aja yuk!"

Ruminah menggelengkan kepala.

"Nggak, Kara. Kita nggak boleh pergi dari sini. Kalau kita pergi, berarti kita kalah. Bukankah kamu masih menginginkan hal itu."

Kara memejamkan mata. Mencoba menahan rasa sakit yang kian menggebu. Ditambah rasa bersalah pada Soni, karena tidak bisa mengungkapkan siapa dia yang sesungguhnya.

Semua Kara lakukan untuk kebaikan bersama. Mungkin tidak akan ada yang memihaknya, kecuali Nenek Ruminah dan juga Revan sahabatnya.

"Kamu kuat, kok, Kara. Kamu lebih kuat dari ini. Kamu bahkan sudah melewati rasa yang terlampau sakit itu."

"Kara tahu, Nek, tapi sampai kapan?" Kara tidak sanggup membendung tangisnya.

"Sabar, Sayang. Sabar." Nenek Ruminah menarik napas sebelum menyampaikan ucapannya. "Bentangkan sajadahmu. Menangis dan mengadulah pada Sang Pencipta. Mintalah agar dia dilembutkan hatinya dan mau menerimamu, serta mengakuimu."

Kara menganggukan kepala.

Pagi hari, Soni seperti biasa ingin mengantarkan Kara ke tempat kerjanya. Namun, hari ini dengan tegas Kara menolak.

"Aku dijemput Revan, Son. Kamu nggak usah antar aku lagi. Mulai hari ini, Revan yang akan antar jemput aku."

Soni sendiri cukup terkejut dengan perkataan tegas Kara

"Kamu mencoba menghindari aku, Mbak? Bahkan kamu nggak kasih celah sedikitpun aku buat masuk ke dalam hatimu."

Kara menggelengkan kepala dan tersenyum manis. Senyum yang membuat Soni, semakin ingin dekat bersama Kara.

"Kenapa kamu pilih Revan dibandingkan aku?" Soni sangat penasaran. Ingin rasanya Soni marah, tapi ini masih di rumah. Soni juga tidak mau membuat kericuhan di sana. Apalagi ada sang Mama yang biasanya tidak suka dengan Soni yang sering mengantar jemput Kara.

"Kamu tidak perlu tahu alasanku. Aku tidak akan memberikan alasan apapun tentang itu. Jadi, ada baiknya kamu tidak bertanya apapun lagi. Maaf aku permisi."

Kara segera melangkah pergi dari hadapan Soni. Kara langsung naik ke motor milik Revan.

"Tumben minta jemput. Ada apa?" Revan penuh tanda tanya tentang Kara. Apalagi Kara biasanya selalu ceria dan tertawa lepas. Sekalipun orang lain melihat senyum Kara manis, tapi tidak dengan Revan. Pria itu tahu, jika senyum itu adalah luka dalam diri Kara.

"Jalan dulu aja, ya. Nanti aku ceritain kok."

Revan mengangguk dan memberikan helm pada Kara. Revan juga sudah menyalakan motor dan menstaternya.

"Mau langsung ke tempat kerja apa mau cerita dulu."

"Mampir cari sarapan dulu ya. Aku mau cerita, tapi yang dekat kantor aja."

"Oke."

Revan menuruti keinginan Kara.

Revan menepikan motor di dekat penjual nasi uduk.

"Kenapa?"

"Ini tentang Soni. Dia memintaku menjadi pacarnya."

Revan langsung terbelalak mendengar penuturan Kara.

"Apa? Jangan bercanda loh!"

"Buat apa aku bercanda. Aku serius dengan semua ini. Makanya aku pusing."

Revan hanya menggelengkan kepala saja.

"Bukankah itu tidak boleh terjadi?"

Kara menganggukan kepala.

"Please, mau yah. Jadi pacar pura-puraku."

Revan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Oke, deh. Aku bantuin kamu loh, ya. Biar kamu nggak dikejar terus sama pria itu. Apalagi kamu itu nggak boleh, tidak pantas dan tidak sepatutnya bersama dia. Kamu masih ingat tentang itu 'kan? Hal yang menjadi masalah utamanya."

"Aku tidak boleh lupa tentang hal itu."

Revan sangat tahu bagaimana hancurnya perasaan Kara saat ini.

"Jangan pernah nyerah, karena aku tetap akan dukung kamu!"

Lanjut Membaca

Daftar Isi Seriusin Aja, Nikahnya

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Balas Dendam Manis Sang Ratu Miliarder
9.0
Setelah diusir, Helen baru menyadari identitas aslinya yang bukan bagian dari keluarga tersebut. Rumor menyebut ia kembali ke pelukan keluarga miskin yang akan mengeksploitasinya, namun fakta justru berbanding terbalik. Ayah kandung Helen rupanya seorang miliarder yang siap memanjakannya. Helen sendiri memegang paten desain bernilai fantastis dan menjadi mentor astronomi nasional. Di saat publik menantikan kejatuhannya, ia melesat menjadi sosok legendaris dan memikat pria misterius yang sangat berkuasa.
Sampul Novel Dilema Sang Sekretaris
9.2
Kehidupan profesional Grace, seorang sekretaris berdedikasi, berubah total sejak kakak atasannya gencar mendekat. Walau awalnya dingin, sebuah malam tak terduga membuat Grace sulit mengabaikan daya tarik pria itu. Kini ia menghadapi dilema berat antara mempertahankan karier profesional atau menyerah pada perasaan cintanya. Di tengah dunia elite yang penuh rahasia, Grace harus menentukan pilihan hidupnya dalam jalinan asmara yang kian rumit.
Sampul Novel GADIS PENCURI VS TUAN MUDA
9.3
Nyawa seorang pencuri wanita andal terancam setelah ia jadi buronan bernilai jutaan Dolar. Di tengah ancaman maut dari para penguasa, Martin Jakovsky justru hadir melindunginya. Padahal, tuan muda kaya raya ini mengidap alergi aneh yang membuatnya tidak bisa menyentuh wanita. Mengapa Martin rela mempertaruhkan segalanya demi menyelamatkan sang gadis dari kejaran musuh? Temukan jawabannya dalam kisah penuh aksi dan romansa ini.
Sampul Novel Janji Selamanya
7.9
Hari pernikahan yang dinanti justru diwarnai pengkhianatan saat sahabat kecil tunanganku hadir mengenakan gaun pengantin yang sama persis. Alih-alih membuat keributan saat melihat mereka menyambut tamu bersama, aku justru memuji keserasian mereka. Hal itu membuat sang sahabat pergi dengan malu, sementara tunanganku malah menuduhku picik. Setelah resepsi, ia bahkan nekat pergi berbulan madu bersama sahabatnya itu. Tanpa tangisan, aku segera menghubungi pengacara untuk mengambil tindakan tegas.
Sampul Novel Menantu Bodoh
7.8
Hubungan rahasia yang mendebarkan terjadi di bawah satu atap dalam novel Menantu Bodoh. Sang ibu mertua berusaha menolak sentuhan intim dari Jose, menantunya yang dianggap bodoh. Namun, reaksi tubuhnya justru berkhianat, mengkhianati kata-katanya sendiri dengan gerakan yang menggoda. Ketegangan semakin memuncak karena aksi berani ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tepat ketika suara tawa putrinya dan sang sahabat terdengar jelas dari ruang tamu sebelah. Sensasi terlarang ini memicu gairah yang tak tertahankan.
Sampul Novel Pesona Suami Kedua
9.1
Demi membiayai operasi jantung ibunya, Keenan terpaksa berutang besar pada Roman. Namun, pelunasan utang itu menuntut syarat tak biasa: Keenan harus menikahi Khanza, mantan istri Roman yang cantik. Roman berniat memanfaatkan Keenan agar menceraikan Khanza kelak, sehingga Roman bisa mengajaknya rujuk. Di tengah situasi rumit ini, Keenan terjebak dalam pernikahan sandiwara yang menguji perasaan serta harga dirinya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan