APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sepasang Satria Piningit

Sepasang Satria Piningit

Syams terbuang ke pemukiman kumuh akibat didikan keras sang ayah yang menghukumnya secara berlebihan atas kesalahan sepele. Di sana, ia tinggal di hunian sempit dan diasuh oleh seorang guru sederhana. Di bawah bimbingan pria tersebut, Syams mulai ditempa untuk mengenali jati dirinya dan memahami arti ksatria sesungguhnya. Kini, ia harus berjuang memenuhi syarat berat dari ayahnya demi bisa kembali pulang ke rumah mewahnya. Mampukah ia melaluinya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Waktu baru saja berjalan lima menit. Namun Syams sudah begitu bosan dengan buku-buku yang ada di depannya. Syams kemudian memutuskan untuk keluar rumah.Ia pun mengambil bolanya dan mulai bermain seorang diri di halaman rumahnya. Ia menendang bola kesana kemari. Tidak peduli bahwa ia tidak memiliki teman bermain. Ia tetap melakukannya.

“Daripada belajar terus-menerus. Kalau sudah dewasa nanti, aku akan menjadi orang yang pandai. Ujung-ujungnya aku disuruh apak untuk menjadi seorang pengusaha. Percuma aku belajar serajin mungkin dan menjadi sepintar mungkin kalau aku tidak bisa menggapai cita-citaku. Lebih baik aku bermain saja. Setidaknya aku bisa melupakan perlakuan yang begitu tidak adil yang apak lakukan pada anak-anaknya,” gumam Syams.

Syams kembali menendang bola yang ada di depannya. Ia tak memperdulikan lagi tentang buku-buku sejarah yang akan dibelinya. Bahkan ketika Halim mengajaknya untuk membeli buku baru, ia langsung menolaknya mentah-mentah Halim tak mengerti tentang sikap yang ditunjukkan oleh adik kesayangannya padanya itu. Tetapi ia tak memasukkan permasalahan itu dalam hatinya. Ia menganggapnya sebagai hal yang wajar yang sering dilakukan oleh anak-anak.

Jarum jam menunjukkan pukul 19.30 WIB. Aisyah, Aziz, dan Nashir duduk berjajar di ruang keluarga. Masing-masing dari mereka disibukkan dengan tugas sekolah mereka. Namun saat-saat yang seharusnya membutuhkan konsentrasi yang tinggi itu malah menjadi pecah saat sebuah pesawat mainan jatuh di depan mereka. Mereka yang telah mengetahui tentang pemilik pesawat mainan tersebut menjadi sangat geram.

Pandangan mata mereka langsung tertuju pada Syams. Menatap wajah Syams yang sedang berdiri tak jauh dari tempat duduk mereka.

”Syams! Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu tidak tahu kalau ini adalah waktu belajar? Kenapa kamu malah mengganggu kami?” bentak Nashir.

“Apa kamu tidak mempunyai tugas sekolah? Apa kamu tidak belajar hari ini?" sambung Aziz.

“Iya. Biasanya ka u paling bersemangat saat belajar. Kenapa hari ini kamu tidak mau belajar?” lanjut Aisyah.

“Iya, memang benar. Aku memang sudah bosan belajar. Lagipula untuk apa aku belajar jika aku tidak diperbolehkan untuk mendapatkan apa yang aku inginkan? Di kemudian hari, aku hanya akan menuruti perintah apak untuk menjadi seorang pengusaha. Jadi untuk apa aku meluangkan waktuku untuk menderita di masa depan? Lebih baik aku bermain saja,” jawab Syams dengan nada tinggi.

Syams langsung mendekati ketiga kakaknya dan mengambil mainannya yang terletak di atas meja. Ia lalu meninggalkan ruang keluarga tersebut dengan penuh kemarahan. Di sisi lain, Halim yang sejak lama memperhatikan ketiga adiknya yang begitu semangat dalam belajar, seketika hatinya merasa begitu teriris setelah mendengar semua pernyataan Syams. Air matanya mulai mengalir di pipinya. Ia mencoba untuk menghapusnya. Namun air mata itu terus mengalir.

“Tidak kusangka bahwa adik-adikku sudah semakin besar. Dan mereka mulai mengerti kekejaman apak. Bahkan Syams yang masih sangat kecil tak ingin menjadi korban dari kekejamannya itu. Dia mungkin akan mengalami hal yang sama denganku. Yang harus mengurungkan cita-citanya demi memenuhi keserakahan Apak,” gumam Halim.

Halim menarik nafas panjang dan melanjutkan perkataannya, ”Andai saja dulu aku bisa menggapai cita-citaku sebagai seorang politikus seperti amak. Pasti aku akan merasa sangat bahagia. Aku juga bisa memberi semangat pada adik-adikku agar dapat terus bersemangat dalam belajar.”

Seketika itu Maryam tak sengaja melewati ruang keluarga. Senyuman di wajahnya mulai berkembang ketika ia melihat Nashir, Aziz, dan Aisyah yang begitu bersemangat dalam belajar. Namun senyuman itu mulai menghilang seketika saat melihat air mata yang mengalir di pipi Halim. Tanpa berfikir panjang,ia langsung ia pun langsung mendekati putranya itu.

Maryam berdiri tepat di depan Halim dan bertanya, ”Kenapa kamu menangis? Apa yang membuatmu bersedih seperti ini?”

Halim menjadi sangat terkejut ketika melihat ibunya berdiri di depannya. Ia pun langsung menghapus air matanya lalu menjawab, “Tidak apa-apa, Amak. Aku hanya teringat pada masa laluku yang begitu pahit itu. Ketika aku harus mengorbankan cita-citaku sebagai seorang politikus hanya demi menjadi seorang pengusaha. Mengikuti keserakahan apak.”

Maryam menghela nafas sejenak lalu berkata, “Yaaah .... Begitulah Apakmu. Dia begitu egois sehingga tak memperdulikan keinginan keluarganya. Aku berhenti menjadi seorang politikus dan berhenti dari organisasiku karena keegoisannya itu. Dia memintaku agar aku fokus mengurus rumah saja. Dan aku percaya begitu saja padanya. Tapi lama-kelamaan aku mengerti bahwa ia hanya ingin mengejar keinginannya untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses. Ia tak ingin aku masuk ke dunia politik lagi.

Maryam memandang wajah Halim dengan mata yang lembut. Kemudian ia menepuk bahu putranya itu lalu melanjutkan perkataannya,"Bersabarlah! Berdo’a saja agar suatu hari nanti sifat egois apakmu itu berubah. Dan kalian semua akan mendapatkan udara segar setelah keluar dari penjaranya itu.”

Halim memalingkan wajahnya dari Maryam. Kemudian ia berkata, “Aku tidak apa-apa jika menjadi korban dari kekejaman Apak. Aku sudah menerimanya sejak lama. Tapi aku hanya mengkhawatirkan nasib adik-adikku saja. Bagaimana jika mereka mengalami nasib yang sama denganku? Hati mereka pasti akan merasa lebih hancur dariku.”

Malam belum begitu larut. Nashir, Aziz, dan Aisyah pun belum beranjak jauh dari tempat duduk mereka. Mereka masih saja sibuk dengan buku-buku pelajaran mereka. Namun Malik telah kembali ke rumah.Ia langsung duduk di atas sofa di ruang keluarga tersebut. Melepaskan rasa lelah sambil memandangi anak-anaknya yang tengah sibuk belajar.

Malik merasakan keganjalan yang tengah terjadi malam hari itu. Mata Malik menoleh ke segala arah.Mencari sesuatu yang kurang lengkap yang seharusnya sudah berada di depan matanya. Sesaat ia mengetahui bahwa yang kurang itu adalah Syams, yang tak hadir untuk belajar bersama. Ia bertanya-tanya dalam hatinya tentang keberadaan putra bungsunya.

Hingga secara tia-tiba, ia tak sengaja melihat Syams tengah asyik bermain dengan pesawat mainannya.Ia pun segera memanggilnya dan menyuruhnya untuk duduk di sampingnya. Syams menghentikan permainannya ketika mendengar panggilan dari sang ayah. Dengan sangat gugup serta tubuh yang kaku, Syams mulai berjalan mendekati Malik dan duduk di samping ayahnya itu.

“Syams, kenapa kamu tidak bergabung dengan kakak-kakakmu itu dan belajar bersama mereka? Apa kamu sudah selesai belajar sehingga kamu memilih untuk bermain?” tanya Malik.

Dengan gugup, Syams menjawab, ”Aku tidak belajar hari ini, Apak. Sedang tidak ada tugas sekolah.Jadi aku bermain saja. Lagipula tadi siang sebelum bermain aku kan sudah belajar. Jadi, tidak apa-apa kan, Apak?”

Malik tersenyum lalu berkata, ”Tidak apa-apa. Apak tidak memaksamu untuk belajar terus-menerus. Sehingga kau melupakan waktu bermainmu. Apak percaya bahwa kau adalah anak yang sangat pintar. Dan kau juga begitu rajin belajar. Tidak usah disuruh pun kau sudah belajar sendiri. Jadi kau tidak usah ragu untuk beristirahat dan menggunakan waktu luangmu untuk bermain.

"Ya sudah, lanjutkan saja bermainmu! Tapi jika sudah waktunya tidur, maka cepat tidurlah!" lanjut Malik.

Syams tersenyum setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu. Ia lalu menjawab, “Baik apak."

Syams berdiri dari tempat duduknya. Kemudian ia berlari dan melanjutkan permainannya. Melihat Syams yang begitu gembira dengan permainannya, rasa lelah di tubuh Malik pun hilang seketika. Berbeda dengan Nashir, Aziz, dan Aisyah yang sangat iri padanya. Mereka ingin bebas bermain seperti Syams. Namun mereka tak mempunyai keberanian untuk mengatakannya pada ayah mereka. Selain itu, tugas sekolah mereka juga telah menumpuk.

”Kalian juga ya. Kalian juga boleh beristirahat dan bermain seperti Syams. Jangan menyiksa diri kalian dengan belajar terus-menerus. Apak percaya pada semua anak apak bahwa kalian sudah bisa mengatur waktu kalian sendiri,” tutur Malik sambil menepuk bahu Nasir.

Malik segera pergi meninggalkan Nashir, Aziz, dan Aisyah untuk beristirahat di kamarnya. Walaupun ia telah memberikan kebebasan pada anak-anaknya untuk mengatur waktu mereka sendiri, namun hal itu tak dapat membuat senyuman di wajah anak-anaknya tersebut. Mereka masih merasa takut jika mereka tak belajar dengan rajin maka ayah mereka akan sangat marah kepada mereka. Dan mereka akan mendapatkan hukuman yang berat. Hal itu membuat mereka kembali fokus pada buku-buku mereka. Mereka tak ingin melepaskan pandangan mereka dari buku-buku itu walau hanya sebentar.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel En-PD154
9.0
Kemenangan sepuluh kali berturut-turut di arena justru berujung pengkhianatan dari Roderick. Sang tunangan tega bermesraan dengan cinta pertamanya, bahkan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar tak berkelas. Kelembutan Roderick sirna seketika demi menyatakan cinta pada wanita lain di depanku. Kecewa, aku langsung menghubungi ayahku, sang bos mafia besar. Kupastikan pernikahan kami batal karena aku akan mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel Istri Mafia, Tak Pantas untuk Pewaris
9.7
Divonis mandul membuatku dicampakkan oleh suamiku, seorang Wakil Bos Mafia. Ia tega membawa ibu pengganti dan memperlakukannya penuh kasih, mengkhianati pernikahan kami. Bahkan, ia membiarkanku terluka parah demi menyelamatkan wanita itu. Di dunia hitam, perceraian biasa tidak pernah ada. Demi menghancurkannya, aku merekayasa kematianku sendiri agar ia membusuk di tengah kehancuran takhta yang ia banggakan.
Sampul Novel MAGIC CARD
8.8
Isamu Kenichi, sang bajak laut penakluk delapan samudra, ditelan paus raksasa di Samudra Hitam yang misterius. Di sana, ia menemukan buku pusaka Magic Card dan memperoleh kekuatan Weredragon dari para penjaga kartu. Namun, kekuatan ini menuntut bayaran besar. Kini, Isamu memikul tugas berat untuk membasmi pasukan Werewolf haus darah. Mengerikannya, monster-monster tersebut merupakan mantan awak kapalnya sendiri yang telah disihir oleh iblis jahat.
Sampul Novel Pasangan Tak Diinginkannya: Serigala Putih Rahasia
9.5
Demi Mutiara, sang putri, Larasati merahasiakan jati dirinya sebagai Serigala Putih selama sepuluh tahun. Namun, ketenangan mereka sirna seketika saat anak Alpha Vincent, Cindy, menyiksa Mutiara. Pengkhianatan Vincent pun terungkap saat ia memberikan gelar Luna kepada selingkuhannya, Ivana. Dituduh penyusup dan disiksa perak, Larasati akhirnya mengungkap rahasia besarnya. Dibantu Garda Dewan Agung, ia bangkit menuntut balas.
Sampul Novel Pendekar Serigala Putih
8.8
Nusantara terancam oleh kebangkitan Pendekar Iblis yang membawa kehancuran setiap lima ratus tahun. Sebagai anak Chandika Kalandra dan keturunan pahlawan Bhadrika, Kirana Sasmaya mengemban takdir besar. Di samping ditempa menjadi petarung tangguh, ia juga ditakdirkan menjadi penyihir paling agung dalam sejarah. Perjuangan berat menanti Kirana untuk menguasai ilmu pedang dan sihir putih demi menumbangkan dominasi kegelapan sang musuh.
Sampul Novel Pesona Uncle Ji
8.9
Kehidupan gelap Jimmy Hugo, seorang bos mafia besar, berubah setelah kehadiran Graziela. Gadis muda yang merupakan putri mendiang sahabatnya itu membawa warna baru yang tak terduga. Di tengah perbedaan usia yang sangat jauh, jalinan asmara mereka tidaklah mudah. Keduanya harus menghadapi ancaman mematikan dari musuh-musuh berbahaya. Kisah ini memadukan aksi menegangkan penuh risiko dengan romansa mendalam di dunia kriminalitas.