
Sentuhan Panas Suami Dingin
Bab 1
One Night Stand
"Aargk~~~ to--tolong berhenti," rintih Ziea rendah dan serak, memejamkan mata dengan raut gelisah dan takut. "Lep-passs!" cicit Ziea, memberontak dengan terus mendorong dada bidang seorang pria yang mengerayapi tubuhnya.
Jika bukan karena dalam kondisi setengah mabuk, Ziea yakin bisa melawan pria ini. Namun, akibat pertama kali mencoba minuman beralkohol, kepalanya pening dan tubuhnya terasa lemas.
Ziea diundang ke acara reunian SMA, di sebuah hotel ternama yang ada di kotanya, dan Ziea datang untuk acara tersebut. Salah satu temannya menantang Ziea untuk meminum alkohol, Ziea menolak tetapi temannya tersebut terus memaksa. Pada akhirnya Ziea meminumnya, hanya beberapa teguk dan Ziea berhenti. Tak sampai beberapa menit setelah meminum cairan bening beraroma pekat tersebut, kepala Ziea terasa berat dan mendadak tengkuknya panas. Ziea memutuskan untuk pulang, kabur dari acara reunian itu secara diam-diam. Namun, saat di lorong hotel– menuju sebuah lift, tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dan menyeret Ziea dari sana.
Di sinilah Ziea berakhir, dalam sebuah kamar dan tengah berjuang– mempertahankan sisa kesadarannya dan berusaha melawan pria asing yang berniat memperkosanya.
Tidak! Keluarganya akan malu dan hancur jika tahu ini. Daddy dan Kakak laki-lakinya akan marah, dan dia akan menghancurkan hati Mommynya.
Sialnya, pandangan Ziea mengabur. Dia tak bisa melihat siapa pria bastard yang tengah melecehkannya.
"Aaaah …," desah Ziea, dibatas ambang kesadarannya. Dia tahu dia tengah diperkosa oleh seorang pria, tetapi Ziea sudah tidak melawan. Dia menikmati sentuhan pria ini akibat kesadarannya yang hampir hilang, dan-- Ziea merasa ini seperti mimpi. Dia bukan dirinya lagi. "Eunggg …," lengkuhan Ziea, mengigit bibir bawah namun tetap memejamkan mata.
Ekspresinya yang seperti itu semakin membuat pria yang menggaulinya semakin berhasrat tinggi. Pria itu telah berhasil membuka kain yang membungkus tubuh indah Ziea, lagi-lagi dia semakin ingin dan tak bisa menahan lagi. Dia melucuti pakaiannya sendiri– mendekati gadis cantik tanpa busana tersebut, kemudian mulai menyatukan tubuh mereka.
"Eungggg … aahhh, ja--jangan!" rintih Ziea pada sisa-sisa kesadarannya, bersamaan dengan kelopak matanya yang telah berat, turun lalu berakhir tertutup.
Paginya, Ziea bangun dengan tubuh yang terasa sakit serta remuk. Saat dia mencoba mengangkat kepala, rasa sakit dan pening langsung memenuhi kepalanya. Dia ingin mual, perutnya seperti diaduk-aduk.
Meenyadari sesuatu, Ziea …-
"Ti--tidak!" pekik Ziea pelan, spontan air matanya jatuh ketika melihat tubuhnya tanpa busana. Jantungnya berdebar kencang, dan dadanya terasa nyeri.
Ada noda merah di sprei!
"I--ini tidak mungkin!" pekiknya lagi, air matanya jatuh semakin deras– melewati pipi dan memberikan rasa panas di sana. Dengan leher yang terasa kaku dan jantung yang terus berpacu kencang, Ziea memberanikan diri untuk menoleh ke arah samping; menatap siapa pria yang telah tega dan keji merampas mahkotanya.
Deg'
Mata Ziea membelalak, per sekian detik jantungnya terasa berhenti berdetak, kaget sekaligus tak percaya melihat siapa pria yang berbaring di sebelahnya– yang telah merebut Virgin-nya.
Tubuh Ziea yang sebelumnya terasa kaku kini bergetar hebat, perasaan takut langsung menyelimuti dirinya. Dengan buru-buru tetapi tetap berhati-hati, Ziea turun dari ranjang. Dia mengenakan pakaiannya secepat mungkin kemudian keluar dari kamar secara diam-diam.
Ini mimpi buruk! Ziea bersumpah dia tak akan menemui pria tadi. Sampai kapanpun!
Ziea juga akan merahasiakan ini, nama baik keluarganya akan tercemar dan semuanya bisa rusak!
Pria itu adalah pria yang Ziea takuti, dan pria itu berasal dari keluarga yang sangat berbahaya.
Sepupunya sendiri!
'Apa aku yang menggodanya tadi malam? Atau …-- ah, tidak mungkin! Aku--aku lupa semuanya! Aku hanya ingat keluar dari pesta.' pekik Ziea, memukul-mukul kening yang masih pening, kesal dan marah pada diri sendiri yang sama sekali tidak ingat kejadian semalam.
Hanya ada kilasan tak jelas, tetapi Ziea tak bisa memastikan apapun. Ini seperti mimpi yang terasa jelas, namun saat bangun kita mendadak lupa apa yang terjadi dalam mimpi tersebut.
Hola!! kembali dengan cerita baru CaCi. Ini cerita sequel dari novel 'Suami Bastard yang Manis. CaCi harap pembaca baru mohon untuk membaca Suami Bastard yang Manis lebih dulu, supaya makin klop dengan kisah Rei dan Zie. Semoga suka ….
Ditipu oleh Kakak
Tiga hari setelah kejadian tersebut, Ziea merasa aman. Rahasianya– malam kelam itu, bisa ia sembunyikan dari kedua orang tua dan Kakaknya. Kebetulan saat kejadian, orang tuanya masih di luar negeri. Sedangkan Kakaknya ke luar kota untuk bisnis.
Ziea juga tidak pernah bertemu dengan seseorang itu selama tiga hari ini. Ziea aman!
Saat ini Ziea sedang bersama Kakaknya, dia dipaksa ikut oleh kakaknya– menemani sang Kakak untuk membeli buku. Cik, entah buku apa. Namun, kesannya Haiden--kakaknya-- terkesan memaksa agar Ziea bisa ikut.
"Kenapa ke sini, Kak?!" pekik Ziea, sudah berkeringat dingin dan gugup setengah mati ketika Haiden malah membawa Ziea ke kediaman Azam.
I--ini rumah keluarga pria itu!
Ziea takut bertemu dengannya. Dia sangat takut! Tolong Ziea.
"Reigha sudah pulang dari Paris, Kakak ingin bertemu dengannya."
"Trus hubungannya denganku apa? Penipu! Kakak bilang ingin ke toko buku. Aaaargk!" Ziea menjerit histeris, antara kesal pada Kakaknya dan panik karena takut bertemu dengan pria itu.
Tidak, tidak! Ba--bagaimana jika pria itu ingat dengan kejadian saat malam itu?! Dia bisa menuntut Ziea dan beranggapan jika Ziea adalah perempuan nakal serta Bitch kurang belaian.
Ditambah Ziea sangat mengaguminya dahulu, pria itu dengan mudah menuduh Ziea bukan?!
"Cik, lebay sekali!" Haiden menyumpal mulut adiknya dengan hiasan buah jeruk yang ia temukan di mobil. Itu membuat Ziea terdiam dan semakin dongkol pada sang Kakak, "harusnya kau senang. Karena apa? Yah, Kakakmu yang baik hati ini akan mempertemukanmu dengan Cinta diam-diammu, setelah kalian berpisah lima tahun lamanya."
"Kak, itu sudah lama. Aku tidak suka dengan dia lagi. Dan lagian aku juga sudah punya pacar," dongkol Ziea, menolak turun dari mobil.
Namun dengan gilanya Haiden menariknya secara paksa dan menggendongnya masuk ke dalam mansion mewah dan megah tersebut.
Sampainya di rumah itu, barulah Haiden menurunkan Ziea. Namun, Haiden sama sekali tak melepaskan tangannya dari genggaman adiknya. Dia terus menarik Ziea agar ikut dengannya.
"Haiden, Ziea, ayo kemari, Sayang," panggil seorang wanita paru baya yang masih begitu terlihat cantik serta awet muda– Satiya, mommy dari pria yang sangat Ziea takuti.
Dengan tersenyum malu-malu, Ziea dan Haiden menghampiri wanita itu. Mereka menyalim tangannya kemudian ikut bergabung dengan sepupu mereka yang lain.
Keluarga Ziea berkerabat baik dengan keluarga Reigha, dan faktanya Reigha adalah sepupu Ziea dan Haiden.
"Woi, Ziea, kau semakin cantik."
"Jarang terlihat, sekarang kau sudah besar ternyata."
Ziea hanya tersenyum dan mengangguk kecil sebagai jawaban celutukan para sepupunya. Dalam hati, Ziea merapalkan doa supaya tidak bertemu dengan pria itu– Reigha! Tidak! Ziea sudah berjanji pada dirinya untuk tak bertemu dengan pria itu lagi.
Diam-diam Ziea menoleh ke sana kemari, memastikan pria yang dia takuti tersebut ada di mana. 'Dia kan introvert akut. Jadi dia tak mungkin keluar dari kamarnya. Haaaah, aku selamat sepertinya.' batin Ziea, menghela napas secara pelan.
"Ziea, kau sedang apa berdiri di situ? Duduklah."
Ziea tersenyum kikuk dan lagi-lagi menganggukkan kepala dengan pelan. Dia menoleh ke sana kemari, mencari tempat duduk untuknya. Beberapa sepupunya duduk di lantai dan ada juga yang duduk di sopa. Mereka membentuk kelompok. Itu biasa terjadi.
'Aduh, aku malas sekali. Mending aku jaga cafe daripada kumpul di sini. Yara juga tidak ada. Hais.' batin Ziea dengan air muka muram, bingung akan duduk di mana. 'Ini lagi! Dasar penipu!' kesal Ziea sembari menoleh pada kakaknya yang masih berdiri, berada tepat di sebelah Ziea dan tengah mengetik sesuatu di ponselnya.
'Aku duduk di mana yah? Gabung dengan Kak Rafael, bicaraan mereka terlalu ngeri. Gabung dengan sepupu yang cewek, kerjaan mereka menggosib terus.' batin Ziea, mengulurkan tangan ke sopa di sebelahnya– berniat untuk bertopang tangan di sana. Namun, kenapa tangannya seperti memegang rambut?
Ziea spontan menoleh ke sebelahnya. Matanya langsung membelalak, menatap syok dan kaget pada pria yang ia pegang kepalanya tersebut.
Reigha Abbas Azam! Pria yang sangat Ziea takuti dan sekaligus pria yang merampas mahkotanya di malam itu.
Canggung Berbicara dengan Jodoh
"Ma--maaf." Ziea buru-buru menarik tangannya dari kepala Reigha– di mana pria itu tengah menatapnya dengan sorot dingin serta penuh peringatan.
"Ahahaha …." Tawa orang-orang di ruangan tersebut menggema. Mereka tahu Ziea menyukai Reigha dan mereka sering menjodoh-jodohkan keduanya jua.
Tetapi mereka tidak pernah tahu jika sekarang Ziea sangat takut pada Reigha. Sepupunya yang satu ini pernah mengancamnya dan pernah meneror Ziea juga. Dari rasa suka, Ziea beralih takut pada Reigha. Di tambah malam itu, Ziea semakin ketakutan!
"Habis memegang rambut jodoh, cium dong tangannya, Ziea. Siapa tahu ketempelan aroma Reigha."
"Calon suamimu sudah kembali, Ziea. Salam gih."
Ziea benar-benar meringis malu, rasanya dia ingin pulang dari sana. Jantungnya terus berdebar kencang dan raut mukanya mendadak pias. Demi Tuhan! Ziea berkeringat dingin. Semua orang menggodanya dengan Reigha, tetapi tak satupun dari mereka yang menyadari jika Ziea tengah ketakutan.
Bagaimana mungkin mereka tahu? Ziea tak pernah mengatakan pada siapapun mengenai teror dan ancaman Reigha padanya selama ini.
"Sepertinya aku harus kembali ke kantor. Ada urusan mendadak," ucap Haiden tiba-tiba, kemudian dia menoleh ke arah adiknya. "Ziea, kau di sini saja dengan yang lain. Nanti ku jemput, atau diantar pulang oleh …-" Haiden menggantungkan ucapannya, menoleh ke arah para sepupunya untuk meminta bantuan mengantar Ziea pulang jika semisal dia tidak bisa menjemput.
"Aku akan mengantarnya pulang," ucap Reigha tiba-tiba bersuara, nadanya rendah dan bass– terasa berat serta dalam, membuat Ziea berdebar kencang bercampur takut.
Suara yang sangat seksi serta menggetarkan jiwa raga Ziea. Ditambah dia sangat mengagumi pria ini sebelumnya, tubuh Ziea semakin merespon. Tetapi tak dipungkiri jika Ziea juga merasa terancam oleh suara merdu Reigha.
"Tidak." Ziea menggelengkan kepala dengan cepat. Dia tidak bisa berlama-lama di sini. Karena dia sudah berjanji pada dirinya untuk menghindari Reigha. "Aku juga ada urusan di cafe," buru-buru Ziea merangkul lengan Haiden secara erat, takut ditinggalkan oleh kakaknya.
Sepertinya Reigha lupa dengan malam ini, tetapi tetap saja Ziea takut berhadapan dengan pria ini.
Setelah lima tahun tak pernah bertemu, pria ini kembali pulang dengan pesona yang semakin bertambah. Tampan, tetapi lebih banyak mengerikannya. Apalagi jika Ziea mengingat teror dan ancaman Reigha padanya selama ini. Haaah, Ziea semakin lupa jika dia pernah jatuh cinta pada sosok ini.
Sejujurnya, Ziea dulu sangat mengidolakan Reigha. Bahkan pernah bercita-cita untuk menjadi istri dari pria dingin ini. Dia pernah cari perhatian pada Reigha, pernah mengutarakan perasaannya jua dan bahkan pernah mengajak Reigha menikah. Namun, semua rasa yang dia punya pada Reigha perlahan padam. Diawali dengan Reigha tiba-tiba pindah ke luar negeri, Reigha punya kekasih yang mematahkan hati Ziea, hingga suatu malam pria itu menghubungi Ziea dan melontarkan kalimat ancaman.
'Kau akan tahu akibatnya jika kau berani macam-macam, Zie. Hidupmu akan kubuat tak tenang!' Ancaman Reigha yang tak pernah Ziea lupakan sampai detik ini. Saat itu Ziea masih polos dan naif, jadi dia benar-benar takut–bahkan jatuh demam karena ancaman dari Reigha tersebut.
Namun, sampai sekarang tak ada yang tahu perbuatan kejam Reigha padanya. Ziea memilih memendamnya. Gilanya, dia malah melakukan one night stand dengan pria ini--sepupunya yang sangat dia takuti, lalu sekarang dia malah berhadapan dengan Reigha. Padahal selama tiga hari ini dia sudah berusaha menghindar.
Semoga Reigha amnesia! Itu doa Ziea.
"Astaga, Ziea! Bukannya tadi kau yang mengotot ingin kemari? Ingin menemui Kak Rei-mu kan?! Itu, dia ada di sebelahmu."
'Kakak kampret! Kapan aku bilang begitu? Malah aku ditipu makanya aku bisa di sini.' cengang Ziea dalam batin, menatap syok dan horor ke arah Kakaknya.
Sialnya, bukan hanya para sepupunya yang suka mencomblangkan Ziea dengan Reigha. Tetapi makhluk menyebalkan di sebelahnya ini juga. Yah, Kakaknya sendiri.
"Ingin menemuiku tetapi tidak mau berbicara denganku. Aneh," ucap Reigha yang kembali bersuara, tanpa menoleh ke arah Ziea--sibuk membaca sebuah buku tebal di tangannya. Wajahnya yang tampan terlihat datar dan dingin, tatapannya serius dan tak teralihkan dari buku.
"Duduk di sebelahku, Calon istri," tambah pria itu, nadanya rendah dan berat. Tiba-tiba menoleh ke arah Ziea, membuat perempuan itu semakin terlihat gugup dan canggung, "berlatih duduk di sebelahku sebelum kita ke pelaminan."
"Cieee …." Semua orang di sana menyorak, lalu tertawa geli secara bersama.
Demi Tuhan! Ziea ingin lenyap dari muka bumi ini! Reigha masih sama jahilnya dengan lima tahun terakhir. Pria ini selalu ikut menggoda Ziea, seperti para sepupu mereka yang lain.
'Di depan semua orang kamu terlihat manis. Tetapi di belakang mereka, kamu-- kamu iblis, Reigha Abbas Azam! Aku tahu sisi gelapmu, dan kenapa harus aku saja yang tahu itu?!'
Dengan kikuk dan gugup setengah mati, Ziea akhirnya mau duduk di sebelah Reigha. Bagaimana tidak? Kakaknya terus mendorong pundaknya dan sepupunya yang lain terus menyorakinya. Jika Ziea menolak duduk di sebelah Reigha, mereka akan salah paham; mengira bahwa Ziea masih sangat menyukai Reigha, sehingga dia malu-malu pada Reigha. Jadi … mau tak mau Ziea harus berani duduk di sebelah Reigha, agar mereka tahu jika Ziea sudah tak ada rasa.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Reigha, setelah diam cukup lama dan melihat para sepupunya sudah sibuk dengan obrolan masing-masing.
"Baik, Kak Rei," jawab Ziea seadanya, pura-pura sibuk dengan ponselnya padahal kenyataannya dia tak melakukan apa-apa dengan ponsel tersebut. Argkkkk! Tolong Ziea! Dia sangat gugup, canggung dan takut.
Tetapi …-
Sikap Reigha terlihat biasa saja. Apa benar Reigha tak mengingat malam itu? Atau mereka sama-sama dalam keadaan mabuk? Pertanyaannya, kenapa Reigha bisa ada di sana?! Harusnya dia saat itu masih di Paris.
Ah, intinya semoga pria es batu ini amnesia!
Ini Asli, Kak!
Karena tak tahan digoda oleh keluarga Reigha, di mana mereka terus menjodoh-jodohkan Ziea dan Reigha, Ziea memutuskan untuk pulang lebih dulu– dengan alasan pengunjung cafe miliknya ramai dan Ziea harus membantu para pegawainya.
"Ziea, kau mau pulang?" tanya pamannya--Gabriel–Daddy Reigha, yang kebetulan berpapasan dengan Ziea.
"Iya, Paman," jawab Ziea dengan menganggukkan kepala pelan, tersenyum tipis ke arah pamannya. Kata orang-orang, pamannya ini sangat menyeramkan. Namun, bagi Ziea pamannya ini adalah paman terbaik.
Yah, pendiam dan dingin. Namun, Pamannya ini orang yang sangat peduli serta sangat menyayangi keluarga.
"Ega, kemari sebentar," panggil Gabriel tiba-tiba, saat melihat Reigha lewat dan berniat masuk dalam lift.
Ziea sendiri seketika panik, sontak menatap ke arah Pamannya memandang– memperhatikan Reigha yang berjalan dengan cool, layaknya king yang ingin naik ke singgasananya.
'Zi, kamu sudah punya pacar. Tolong lupakan Kak Reigha. Ingat! Wanita di Paris banyak yang cantik dan smart, dan terakhir kali dia menggandeng perempuan. Tolong jangan jatuh cinta lagi pada orang ini. Ingat juga dong kalau dia pernah menerormu! Jangan jatuh cinta pada devil, Ziea.'
Jantung Ziea berdebar kencang, semakin berdetak kuat dan melaju cepat seiring Reigha yang berjalan lebih dekat ke arahnya. Ketika pria itu berhenti tepat di sebelahnya dengan jarak yang sangat dekat, jantung Ziea rasanya hampir meledak dalam sana.
Ini terlalu dekat! Bahkan pundaknya menyentuh lengan Reigha. Jantung Ziea tak aman!
Sejujurnya, pria ini adalah pria yang Ziea suka, dan dia tak pernah curhat mengenai perasaannya pada siapapun. Dia memendamnya sendiri. Namun, entah bagaimana mereka tahu jika Ziea menyukai Reigha. Dan ada yang menjadi cepu di keluarga ini, tiba-tiba kabar itu tersebar– membuat Ziea selalu dijodoh-jodohkan dengan Reigha.
Dulu, Ziea malu-malu saat dijodoh-jodohkan dengan Reigha. Sekarang juga begitu, hanya saja dia memahami sesuatu. Reigha risih dan tak suka!
Ziea pernah nekat mengungkapkan perasaannya pada Reigha, lima tahun yang lalu. Dengan konyolnya, dia mengungkap perasaannya pada Reigha. Pria itu mengatakan Ziea harus menyelesaikan pendidikannya dan mengejar cita-citanya lebih dahulu baru Reigha bersedia menjalin hubungan dengan Ziea. Sialnya! Beberapa bulan setelah Ziea mengutarakan perasaannya pada Reigha, pria itu menghindarinya. Tak lama juga, Reigha mendadak memutuskan untuk menetap di Paris– mengurus bisnis keluarga mereka yang ada di sana. Dan Ziea paham jika saat itu Reigha tidak sedang berjanji untuk menunggunya, tetapi pria itu tengah menolak Ziea secara halus.
Hal yang menyakitkannya adalah Ziea nekat serta diam-diam menyusul Reigha ke bandara, berniat mengantar pria itu dan sebagai perjumpaan terakhir mereka. Tetapi sampainya di sana, Ziea harus melihat Reigha sedang duduk dengan memangku perempuan dan mereka berciuman. Itu patah hati terberat bagi Ziea.
Sejak saat itu Ziea memilih memendam rasa, berusaha move on dan melupakan Reigha–sepupu yang menjadi cinta pertamanya. Disela-sela dia berusaha move on, Reigha tiba-tiba mengancamnya lewat telpon. Itu menjadi cambukan cinta paling menyakitkan bagi Ziea.
Sekarang, Ziea sudah punya kekasih. Ziea belum mencintai kekasihnya, tapi dia yakin setelah dia dan kekasihnya menikah, dia akan mencintai sang kekasih.
"Calon istrimu ingin pulang. Kau bisa mengantarnya, Son?" tanya Gabriel setelah Reigha di dekatnya.
'What?! Apa-apaan Paman ini?! Ah ya Tuhan!! Bahkan Paman juga ikut-ikutan. Aduh.'
"Baik, Daddy." Reigha menganggukkan kepala.
"Se--sebenarnya tidak perlu, Paman. Aku sudah memesan taksi--"
"Kau bisa membatalkannya." Reigha memotong cepat, mencekal pergelangan tangan Ziea kemudian menarik Ziea agar ikut dengannya.
"Kak, aku tidak perlu diantar oleh Kak Reigha. Aku bisa pulang sendiri. Lagipula pacarku …-"
"Putuskan pacarmu!" potong Reigha dengan cepat, nadanya terkesan marah dan raut mukanya semakin terlihat dingin.
"Maaf, Kak. Itu bukan urusan Kakak dan tak ada sangkut pautnya juga dengan Kakak."
"Siapa yang mengizinkanmu punya kekasih?!" desis Reigha dengan menatap tajam ke arah Ziea.
"Aku sudah dewasa, jadi aku sudah bisa menentukan pilihanku sendiri tanpa harus izin pada siapapun," ucap Ziea dengan nada pelan dan hati-hati, dia sangat gugup dan canggung secara bersamaan. Tatapan Reigha begitu menusuk dan mengintimidasi.
Jujur saja, Ziea takut dan merinding!
"Dewasa? Apa buktinya kau sudah dewasa, Zi?" Reigha menaikkan sebelah alis, bersedekap di dada dengan raut muka yang terlihat dingin sembari memperhatikan ekspresi wajah muram dan kecut Ziea.
"Usiaku sudah dua puluh lima tahun."
"Usia tidak bisa menjamin seseorang dewasa atau tidak."
"Dadaku sudah tumbuh besar," kesal Ziea mengaco, membusungkan dada ke arah Reigha– menunjukkan jika ukuran dadanya sudah jauh lebih besar dibandingkan lima tahun terakhir.
Namun, saat menyadari apa yang dia lakukan, dan sadar jika Reigha menatap ke arah dadanya, Ziea sontak menyilangkan tangan di depan dada. Bergerak mundur juga karena merasa malu dengan Reigha.
'Aaaah, apa yang aku lakukan? Astaga astaga! Aku sangat malu!' batin Ziea, meringis dalam hati. Pipinya memerah padam dan terasa panas dari dalam, dia malu hingga ke akar-akar.
"Cih, palsu," komentar Reigha berkacak pinggang dan masih menatap ke arah dada Ziea,"busa," lanjutnya, semakin mencekik dan membuat Ziea reflek menganga dan membulatkan mata.
Sakit sekali! Dadanya dituduh palsu? Busa? Yang benar saja?!
"Ini asli!" kesal Ziea.
"Aku sudah melihat," ucap pria itu, berhasil membuat tubuh Ziea membeku dan menegang kaku, "tidak lebih besar dari telapak tanganku," tambahnya dengan nada pelan, sudah berada tepat di depan Ziea dengan jarak yang sangat dekat– Ziea bisa merasakan hembusan napas pria ini yang menerpa wajah Ziea, beraroma mint dan menyegarkan.
Namun membuat jantung Ziea serasa turun ke lambung dan membuat lututnya gemetaran.
"A--aku tidak paham dengan apa yang Kak Reigha katakan. Maaf, aku harus pergi." Buru-buru Ziea mendorong dada bidang Reigha, kemudian segera beranjak dari sana dengan air muka panik dan pucat pias.
Hah, tidak lebih besar dari telapak tangannya? Ke--kenapa rasanya si kulkas ini menjadi mesum? Dan-- shit, jangan-jangan Reigha sadar dengan malam itu.
***
"Nanti kita ber-telponan lagi. Matikan saja sambungannya, pasien menunggumu dan menyelamatkan nyawa seseorang itu lebih berharga dibandingkan ber-telponan," ucap Ziea lembut, tengah ber-telponan dengan kekasihnya yang bernama Dion Sanjaya– seorang dokter bedah di salah satu rumah sakit kota ini.
Mereka sudah berpacaran enam bulan yang lalu, dan menurut Ziea itu sudah cukup untuk saling mengenal. Namun, entah kenapa Ziea menolak untuk menikah di waktu yang dekat dengan Dion. Entahlah! Mungkin karena Ziea masih ingin memuaskan diri di masa mudanya ini.
"Hais." Ziea menghela napas, memijit kening setelah kekasihnya memutuskan sambungan telpon. Lagi-lagi Dion menanyakan kesiapan Ziea untuk dinikahi. "Apa aku mau saja yah? Tapi kan aku sudah tidak perawan lagi. Cik, bagaimana ini?" gumam Ziea, dalam ruangan kerja di cafe miliknya.
Ceklek'
Pintu ruangannya terbuka, Ziea spontan menoleh ke arah sana. "Siap--" Perkataan Ziea spontan berhenti saat melihat siapa yang membuka pintu.
Reigha Abbas Azam!
Deg'
Jantung Ziea sontak berdebar kencang. Matanya membelalak dan air mukanya berubah pucat. "Kenapa Kak Rei kemari?"
Jangan bilang Reigha mengikutinya kemari?
"Putuskan Kekasihmu!" dingin pria itu, sama sekali tidak menjawab pertanyaan Ziea. Dia mengunci pintu kemudian melangkah mendekati Ziea yang sudah mematung dan membeku.
"Sudah kukatakan, aku dan kekasihku tidak ada sangkut pautnya dengan Kak Reigha!" kesal Ziea, sengaja untuk menutupi kegugupan yang melandanya saat Reigha sudah ada di dekatnya.
"Kau akan menikah denganku," jawab Reigha santai.
"Apa? Siapa yang ingin menikah dengan Kak Reigha?!" kaget Ziea dengan air muka gugup dan dia semakin panik. "Aku tidak mau, aku akan menikah dengan kekasihku. Bukan dengan Kak Reigha."
"Kau yakin menolak menikah denganku?" Reigha menaikkan sebelah alis.
"Tentu. Aku sangat yakin seratus persen." Ziea menganggukkan kepala dengan mantap.
"By the way, malam itu aku sama sekali tidak menggunakan pengaman dan aku mengeluarkannya di dalammu," ucap Reigha dengan nada dingin dan menusuk, sudah berada tepat di depan Ziea– memeluk pinggang perempuan itu sembari menatap tajam dan penuh peringatan.
Jantung Ziea rasanya akan copot dan wajahnya bukan hanya kaku, tetapi juga memerah padam– marah namun jua malu mendengar perkataan Reigha. Ditambah posisinya yang sangat intim seperti ini dengan Reigha, rasanya Ziea ingin pingsan.
'Aku kembali untukmu, tetapi kau memilih dengan orang lain. Cih, jangan harap kau bisa lepas dariku, Little girl!'
Dipaksa Menerima Perjodohan
Ucapan Reigha terus mengiyang di kepala Ziea– di mana pria itu mengungkit one night stand antara keduanya. Reigha mengakuinya tetapi juga menjadikan itu sebagai ancaman untuk menikahi Ziea.
"Tapi kenapa Kak Reigha mendadak ingin menikah denganku? Pasti ada sesuatu. Tak mungkin kan karena dia menyukaiku. Hai, melihatku saja dia risih dan … harus ada Kak Haiden atau sepupunya yang lain, baru dia mau berbicara denganku," gumam Ziea pelan, bermonolog sendiri dalam kamarnya.
Memalukan! Ziea benar-benar pingsan, Coi! Yah, karena terlalu dekat dan terlalu intim dengan Reigha, dia menahan napas lalu kepalanya tiba-tiba ringan. Mendadak semua gelap, dan dia berakhir pingsan.
Lalu ketika dia bangun, dia sudah di dalam kamar dan langsung dimarahi oleh Haiden karena Ziea dianggap merepotkan Reigha. Untung Daddy dan Mommynya sudah pulang, jadi Ziea bisa berlindung dari amukan Kakaknya.
Ceklek'
Tiba-tiba pintu kamar Ziea dibuka, memperlihatkan Kakaknya dengan air muka malas dan ditekuk. Mungkin Haiden masih marah dengan Ziea.
"Daddy memanggilmu," ketus Haiden, menatap datar ke arah adik perempuannya kemudian segera beranjak dari sana. "Cepat!"
"Cik, iya." Ziea menghela napas, mematikan laptop lalu buru-buru bergegas. Padahal dia sedang sibuk menatap konsep baru dan menu baru untuk cafenya. Yah, meskipun kenyataannya Ziea asyik memikirkan Reigha.
Dengan langkah cepat, Ziea menemui Daddynya. Dia masuk dalam ruang kerja sang Daddy– di mana Mommynya juga ada di sana.
Kenzie Mahendra dan Mozza Marisa, nama orang tuanya. Daddynya punya kembaran bernama Keena Mahendra, tetapi Daddynya dan Auntynya sama sekali tak punya kemiripan.
Keena– aunty-nya tersebut menikah dengan Paman Reigha (Kakak dari Daddy Reigha yang bernama Alfa) karena itulah Reigha dan Ziea masih disebut sepupu.
Sedangkan Daddynya dan Daddy Reigha begitu dekat, bisa dikatakan bersahabat sejak mereka muda. Itu semakin memperkuat tali persaudaraan antara keluarga Mahendra dan keluarga legendaris Azam.
"Ada apa Daddy memanggil Ziea?" ucap Ziea setelah di ruangan Daddynya, setelah duduk di hadapan sang Daddy yang terlihat menampilkan wajah serius– memegang dua buah benda yang mirip dengan undangan pernikahan.
'Untuk undangan ulang tahun perusahaan kali.' batin Ziea, positif thinking saat melihat undangan di tangan Daddynya.
"Kau sudah bertemu dengan Rei?"
"Sudah, Dad," jawab Ziea, menggaruk pipi lalu langsung menoleh ke arah Mommynya– bertanya-tanya karena heran kenapa Daddynya menyinggung Reigha.
Namun, Mommynya malah mengedikkan pundak.
"Bagiamana? Minggu depan atau bulan depan saja?"
"Hah? Minggu depan apanya, Daddy?" ucap Ziea dengan semakin bingung. Apa Minggu depan orangtuanya masih ada perjalanan bisnis? Dan dia akan ditinggal lagi bersama Kakaknya yang tempramental itu?
Kenzie mendongak ke arah putrinya, mendorong contoh undangan di tangannya pada Ziea. "Pernikahanmu dengan Rei."
"Loh!" kaget Ziea, air mukanya muram dan wajahnya berubah pucat serta menegang kaku. Menikah dengan Reigha? Hell! Yang benar saja?!
"Kenapa kaget? Rei tidak memberi tahumu jika kalian akan menikah?"
"Tidak, Daddy. Dan aku tidak bersedia." Ziea menggelengkan kepala dengan kuat, "aku dan Kak Reigha sepupu, kami terpaut usia yang jauh– tujuh tahun, Daddy. Dan lagipula aku sudah punya kekasih, dia berencana melamarku."
Wajah Kenzie berubah dingin, menatap putrinya dengan penuh peringatan. "Semua sudah siap, Ziea tidak bisa menolak pernikahan ini."
"Iya, Sayang. Rei pulang ke tanah air juga khusus untuk menikahi kamu. Jadi kalian memang harus menikah, dan kamu tidak punya pilihan untuk menolak lagi," tambah Mommynya, membuat Ziea miris dan muram secara bersamaan.
"Tetapi, kenapa mendadak, Mom. Dan kalian lupa, Kak Reigha dan aku sepupuan, kita masih family yang dekat, jadi tidak mungkin kami menikah. Aku-- aku sudah punya kekasih, dia akan melamarku Minggu depan. Dan aku yakin, Kak Reigha juga sudah punya kekasih di Paris. Jadi aku punya alasan untuk menolak pernikahan ini," bantah Ziea, menolak untuk menikah dengan Reigha.
Dia punya kekasih yang mencintainya, dan itu cukup menjadi alasan Ziea menolak untuk menikah dengan Reigha.
Pepatah mengatakan jika lebih baik menerima orang yang mencintai kita dibandingkan menerima orang yang kita cintai. Belajar mencintai seseorang mungkin bukan hal yang mudah, tetapi berusaha membuat orang yang kita cintai balik mencintai kita itu suatu hal yang bisa sangat menyakitkan.
Ziea tak mau! Apalagi Reigha adalah mimpi buruk baginya. Teror dan ancaman pria itu selama ini, membuat Ziea takut untuk berumah tangga dengan pria es itu. Lagipula, Reigha sudah punya kekasih, bukan?!
"Apa yang kau katakan, Nak?!" Kenzie menghela napas secara pelan, memijit kening lalu mengusap wajah dengan kasar. "Daddy memohon-mohon pada Gabriel agar memberikan putranya untuk menikahi putriku, agar dia membujuk Rei supaya bersedia menikahimu. Daddy membanting harga diri demi-mu!"
Wajah Ziea murung, menatap tak enak bercampur tertohok mendengar ucapan Daddynya. "Kenapa Daddy melakukan itu?"
"KERENAMU!" bentak Kenzie tanpa sadar, marah karena kecewa pada sikap putrinya. Dia sudah sejauh ini, melakukan permintaan putri semata wayangnya."Daddy melakukannya karena kau sendiri yang memintanya. Setiap ulang tahunmu, kau enggan menerima kado dari Daddy. Kau memilih terus-terusan mendesak Daddy untuk menjodohkanmu dengan Rei. Jika Daddy tidak meng-iyakan, kau mogok makan dan tidak mau berbicara dengan Daddy! Dan sekarang Daddy telah menuruti kemauanmu."
"Tetapi itu hanya ketika ulang tahun tujuh belas, delapan belas sampai ke ulang tahun dua puluh tahun, Dad. Selanjutnya aku tidak pernah lagi meminta Daddy untuk berusaha menjodohkanku dengan Kak Rei. Dan lagipula aku memintanya saat aku masih bocah, Dad! Saat aku masih labil dan ambisius pada satu objek tanpa memikirkan akibatnya. Sekarang aku sudah dewasa dan aku tidak ingin dijodohkan lagi dengan Kak Reigha. Aku punya pilihan sendiri!" bantah Ziea lagi, dia enggan dijodohkan dengan Reigha.
Dan sekarang dia tahu kenapa Reigha mendadak ingin menikah dengannya. Karena permintaan dan permohonan Daddynya sendiri.
Kenzie memotong cepat. "Daddy sangat mencintaimu sampai rela memohon-mohon tanpa muka pada Paman Gabriel, hanya agar putriku diterima di keluarga mereka. Lalu ini balasanmu?!"
"Bu--bukan begitu--" Ucapan Ziea dipotong oleh Kenzie.
"Banyak sepupu keluarga Azam yang menawarkan putri mereka untuk dinikahkan dengan Rei, dan Daddy bersaing dengan mereka semua. Di mana Daddy selalu yakin jika putriku lebih baik dari putri mereka semua. Putriku berkualitas dan pantas bersanding dengan Rei. Dan dari banyaknya lamaran yang datang untuk Rei, Paman Gabriel memilihmu untuk menjadi pendamping putranya.
Kau tahu siapa Reigha dan seberapa penting dia bagi keluarga inti Azam, Nak? Dia pewaris utama Azam, yang melanjutkan mengelola bisnis keluarga mereka di Paris– pemimpin perusahaan ElitQuality'Electronikc. Tentu Paman Gabriel tak akan sembarangan mengizinkan wanita diluaran sana untuk menjadi pendamping Rei. Dia selektif! Dan Paman mempercayaimu untuk mendampingi putranya, dia memilihmu. Entah karena permohonan Daddy atau tidak, tetapi kaulah yang dia pilih. Tolong, jangan menghancurkan ekspetasinya padamu dan jangan membuat Daddy semakin tidak punya muka dihadapannya."
Ziea terdiam dan membatu. Matanya memerah dan terasa panas karena mendengar penuturan panjang sang Daddy. Hatinya tertampar dan tertohok, merasa dia telah menjadi Boomerang untuk Daddynya.
Daddynya memohon supaya Ziea menjadi istri Reigha. Di satu sisi juga, Pamannya--Gabriel, mempercayainya untuk menjadi istri Rei.
Sekarang bagaimana? Setelah mendengar Reigha penerus utama keluarga Azam, Ziea semakin merasa rendah dan tidak pantas. Tetapi, Daddynya terlanjur melakukan banyak hal agar Ziea bisa bersanding dengan Reigha. Bahkan Daddynya sampai memohon.
'Aku anak paling durhaka dan egois, karena keinginanku dahulu, aku sampai membuat Daddyku memohon-mohon pada keluarga itu. Aku anak tidak tahu diri,' batin Ziea, tak bisa berkata apa-apa dan hanya menangis dengan kepala tertunduk.
"Begini saja, Mas. Biar aku yang menasehati putri kita. Siapa tahu dia lebih mendengarku sebagai temannya," bujuk Mozza pada suaminya supaya tak terlalu menekan putri mereka lagi. Kasihan Ziea! Dia sudah menangis sesenggukan dan terus menundukkan kepala, tak berani menatap Dda
"Cik." Kenzie berdecak setengah marah, berdiri dari tempat ia duduk kemudian segera beranjak dari ruangannya.
"Daddy telah melakukan semuanya agar kamu bisa menikah dengan pria impian kamu, Nak." Mozza mendekati putrinya, memeluknya dan membelai surai lembut Ziea. "Daddy sangat-sangat mencintaimu! Daddy rela memohon pada Aunty Keena, Paman Alfa, Paman Gabriel, Aunty Satiya, Aunty Luna dan Paman King, hanya agar kamu bisa menikah dengan pria idaman kamu. Dan apa yang kamu lakukan sekarang, tentu saja melukai hati Daddy."
"Maafkan aku, Mommy," cicit Ziea lirih. "A--aku salah."
'Kalian hanya tahu jika aku sangat menyukai Kak Rei. Tetapi … kalian tak tahu jika sekarang aku ketakutan. Aku bahkan takut untuk menatap matanya. Dan aku harus menikah dengan pria yang kutakuti? Ini mimpi buruk.'
"Daddy pikir kamu senang saat tahu kamu akan menikah dengan Kak Rei. Ternyata responmu malah begini, ditambah kamu mengaku punya kekasih, itu semakin melukai Daddy, Sayang."
Ziea menggelengkan kepala. "Aku tidak bermaksud, Mommy. Aku menyesal membantah Daddy. Maaf …."
"Be--besok aku akan menemui Kak Rei dan berbicara padanya, aku akan menyelesaikan masalah ini, Mommy," ucap Ziea sesenggukan dan terus menangis.
"Iya, Sayang." Mozza hanya menganggukkan kepala, terus membelai pucuk kepala putrinya agar putrinya tersebut menenang dan berhenti menangis. "Jangan lupa meminta maaf pada Daddy."
"Baik, Mom."
Panggil Mas Rei, Ziea!
Seperti yang Ziea katakan pada Mommynya, hari ini Ziea memberanikan diri untuk menemui Reigha di Mansion keluarga Azam. Agar tidak terlalu menonjol, Ziea beralasan menemani Kakaknya– seperti semalam.
Padahal sekarang, murni Ziea yang ingin ikut-- tanpa dipaksa atau ditipu oleh Kakaknya lagi.
Setelah melihat-lihat kondisi, Ziea memberanikan diri untuk menghampiri Reigha dan berbisik pada pria itu.
"Aku ingin bicara dengan Kak Rei," bisik Ziea sembari berjinjit– berusaha menggapai telinga Reigha.
Pria ini sangat tinggi, dan tingginya tidak normal bagi Ziea. Bagi Ziea dia sudah tinggi– 163 cm itu sudah termasuk tinggi yang ideal untuk wanita di tanah air. Laki-laki di negri ini pada umumnya, rata-rata punya tinggi kurang lebih 175 cm. Tetapi tidak dengan Reigha dan para sepupu pria ini. Reigha punya tinggi 193 cm, lebih tinggi satu centi meter dari Kakaknya, Rafael.
Jadi, Ziea begitu pendek jika di sebelah Reigha.
Sedangkan tinggi Kakaknya, Haiden, hanya 185 cm. Itu saja sudah membuat Ziea bagai tenggelam di danau. Apalagi Reigha bukan?! Ziea seperti tenggelam di samudera!
"Silahkan," ucap Reigha dengan santai, mengambil susu kotak di lemari pendingin kemudian segera menutup pintu kulkas.
"Tidak di sini," ucap Ziea, mendongak ke arah Reigha dengan raut muram bercampur gugup. Jantungnya sebenarnya melaju dengan cepat, hampir meledak dalam sana.
Jujur saja, ada sedikit perasaan takut pada pria ini yang menyelimuti diri Ziea. Aura Reigha sangat mengerikan dan tatapannya membius serta menghipnotis.
"Humm." Reigha berjalan lebih dulu, diikuti oleh Ziea.
Reigha membawanya ke rooftop, mengunci pintu dan hanya mereka berdua yang ada di sana. Ziea semakin gugup dan deg deg kan. Tetapi, Reigha tak mungkin melakukan hal-hal aneh padanya karena ini masih di kediaman Azam.
"Duduk," titah Reigha yang sudah lebih dulu duduk di sebuah kursi santai.
Ziea menganggukkan kepala dan memilih duduk di kursi sebelah Reigha.
"Kau ingin mengatakan jika kau sudah memutuskan hubunganmu dengan pacarmu?" dingin Reigha, tanpa menoleh ke arah Ziea.
Ziea menggelengkan kepala. "Aku datang ke sini untuk meminta Kak Reigha membatalkan pernikahan kita. Maaf sebelumnya, Kak, tapi aku baru tahu jika Daddy meminta Paman supaya aku yang menjadi pendamping Kak Reigha. Itu kesalahanku karena dulu aku terus mendesak Daddy untuk berusaha menjodohkan kita. Maaf, dulu aku memang kekanak-kanakan. Ulahku mungkin membuat Paman tak enak hati pada Daddy, jadi mungkin Paman menekan Kak Reigha agar bersedia menikahiku. Tapi sekarang tak akan ada yang membebani Kak Reigha lagi, karena sekarang aku tidak berharap menjadi istri Kak Reigha lagi dan … dan aku juga tidak akan mengusik Kakak lagi. Kakak bisa membatalkan pernikahan kita."
"Kau pikir mudah membatalkan pernikahan ini? Undangan sudah disebar," geram Reigha tiba-tiba, menatap tajam dan marah ke arah Ziea.
"Tapi--" Ziea mendadak kaku.
'Aku bahkan tidak tahu kapan tanggal pernikahannya. Kenapa undangan sudah disebar saja? Tadi malam, Daddy baru memberikan contoh undangan. Apa-apaan?'
"Sekarang kau lebih kekanak-kanakan! Setelah membuat Paman Kenzie memohon demi dirimu, kau tetap keukeh membatalkan pernikahan ini?!"
Ziea meneguk saliva dengan kasar. "Karena itu aku datang untuk meminta maaf dan mengakui kesalahanku."
"Kau punya otak?!" sarkas Reigha, seketika membungkam mulut Ziea, "dada busa palsumu sama sekali tidak bisa membuatmu untuk bersikap dewasa. Lebih baik copot saja!"
"Kak Rei!" jerit Ziea, marah bercampur malu. Ucapan Reigha bukan hanya sarkas, tetapi membully serta body shaming juga. Jujur saja, Ziea sakit hati karena ucapan sarkas tak senonoh Reigha, tetapi dia lebih dominan malu.
Faktanya … di--dia memakai bra busa. Ucapan Reigha mengenai dadanya yang kecil, membuat Ziea tidak pede. Karena itu dia memakai bra busa untuk membantu memperbesar ukuran dadanya.
"Bisa tidak, nggak usah mempermasalahkan dadaku?! Dari dulu, selalu itu saja yang Kak Rei singgung. Apa masalahnya kalau dadaku kecil?!" marah Ziea. Sebenarnya dia ingin sekali menangis, tetapi dia malu.
Ya kali dia menangis hanya karena ukuran dadanya yang kecil?! Astaga! Memalukan sekali.
"Cih." Reigha berdecis pelan, menatap ke arah dada Ziea dan membuat perempuan itu sontak menyilangkan tangan di depan dada.
"Baiklah, tetapi jika kau tetap ingin membatalkan pernikahan ini, itu bukan masalah besar bagiku, Zie."
Ziea menatap ragu-ragu ke arah Reigha, masih menampilkan air muka malu dan pipi memerah– sisa-sisa efek perkataan Reigha sebelumnya. Nada pria ini kembali santai, tetapi entah kenapa itu malah menambah kesan horor dan bahaya. Ziea semakin takut! Pria ini terlalu misterius, dan Ziea tak bisa menebaknya.
"Aku sudah merasakan tubuhmu," ucap Reigha santai, "dan jika kau masih ingin membatalkan pernikahan ini-- it's ok! Tapi saat kau sudah hamil nanti, jangan harap aku akan bertanggung jawab. Dan satu lagi, jangan menyeret namaku!"
Deg deg deg
Bak diremas, jantung Ziea seperti akan pecah dan meledak, terasa ngilu serta sakit. Tubun Ziea menengang dan membeku, dia tertampar mendengar perkataan Reigha.
Pria ini benar-benar memanfaatkan tragedi malam itu. Ziea tak bisa berkutik!
"Tapi jika kau setuju menikah denganku, maka mulai detik ini kau harus memanggilku dengan sebutan Mas," ucap Reigha selanjutnya.
Ziea meremas tangannya sendiri– dia cemas dan gelisah. Reigha mengancamnya dan sekarang bersikap semaunya pada Ziea. Tapi --
Sebenarnya apa tujuan Reigha begitu keukeh untuk menikahinya? Reigha sangat anti serta risih padanya. Ziea sudah meminta maaf jua pada pria ini mengenai masalah Daddynya yang memohon agar Reigha menikahinya. Reigha sudah bebas!
Apa Reigha suka padanya? Tidak mungkin! Jika dia menyukai Ziea, dia akan melamar baik-baik, atau minimal mengutarakan perasaan. Bukan memperkosa Ziea dan menjadikan alat untuk menundukkan Ziea. Reigha kesannya … bastard!
Apa Reigha punya dendam padanya?! Nah, itu lebih masuk logika bagi Ziea.
"Ma--Mas Reigha," cicit Ziea. Terpaksa! Karena dia takut hamil dan jika dipikir-pikir dia sangat egois jika menolak pernikahan ini. Daddy-nya sudah berkorban banyak untuk ini!
Sebenarnya … Reigha berhasil mengancamnya dengan memanfaatkan tragedi itu.
"Tidak buruk," gumam Reigha pelan, menyender santai ke kursi sembari menatap lurus ke arah depan.
"Tapi kita sepupu, Ka--Mas Rei. Kita tidak bisa menikah."
"Agama tidak menyalahi," singkat Reigha, "secepatnya putuskan kekasihmu."
Ziea hanya menganggukkan kepala. 'Mungkin Kak Reigha tidak tega melihat Daddy terus memohon padanya agar dia bersedia menikah denganku. Kak Reigha dan Daddy kan dekat. Jadi mungkin itu alasan kenapa Kak Reigha mengotot menikahiku. Atau … balas dendam?'
Anda Mungkin Juga Suka





