
Selir Harem Memelihara Monster Perkasa
Bab 2
Aku panik. Tanpa berpikir panjang, aku berlari menuju pintu.
Ada dua hal yang membuatku ketakutan. Pertama, aku takut benar-benar terlibat dalam sesuatu yang melampaui batas. Kedua, kekuatan manusia-hewan itu begitu mencolok, membuatku merasa kecil dan lemah di hadapannya.
"Kenapa lari, cantik?" Suara berat itu terdengar dari belakang dan semakin mendekat.
"Dulu, Vina juga sepertimu ... takut dan mencoba menjauh. Tapi akhirnya, dia memohon agar aku nggak meninggalkannya setiap malam. Dia bahkan memberiku padamu untuk malam ini. Bukankah seharusnya kamu menghargai kesempatannya?"
Aku bisa merasakan embusan napas hangat di telingaku. Detak jantungku melonjak tak terkendali.
Apakah ini benar-benar akan terjadi? Apakah aku akan ... dengan makhluk ini?
Tiba-tiba, sesuatu yang lembut dan basah menyentuh telingaku. Aku tersentak. Ada durinya! Seluruh tubuhku gemetar hebat, napasku tersendat.
"Nggak ... tolong ... jangan," bisikku lemah.
Aku mencoba membuka pintu, tetapi tubuh kekarnya melingkupiku dan menahan gerakanku. Panas tubuhnya terasa seperti bara api yang membuatku semakin tak berdaya.
Manusia hewan itu bukan hanya kuat, tetapi tubuhnya terasa jauh lebih sempurna daripada manusia biasa. Sudah lama aku tidak merasakan keintiman seperti ini.
Tanpa sadar, tubuhku sedikit bersandar ke arahnya, hampir menyerah pada kekuatan dan auranya yang mendominasi. Dia tertawa kecil, suara beratnya menggema di telingaku.
"Masih pura-pura keras kepala?"
"Manusia selalu suka mengatakan yang berlawanan dengan keinginannya," gumamnya sambil terus mendekatkan tubuhnya ke tubuhku.
Tangannya mulai menjelajahi tubuhku, dan cakar khas hewan yang tajam menyentuh kulitku dengan sensasi yang sulit diabaikan. Ketika dia mulai mencoba menjangkau bagian dalam pakaianku, aku mengerahkan seluruh tenagaku dan mendorongnya sekuat mungkin.
Pintu akhirnya terbuka dan aku berlari keluar dengan napas terengah-engah, tanpa menoleh ke belakang.
....
"Kak Vina, terima kasih atas niat baikmu. Hidup di istana memang sepi, tetapi aku tidak bisa mengabaikan orang tuaku."
Setelah kejadian itu, aku sengaja menghindari Kak Vina selama beberapa hari. Saat berkeliling di harem, aku juga tidak melihat tanda-tanda keberadaan manusia hewan itu.
Apakah dia hanya tinggal di istana Kak Vina? Apakah kesehariannya hanya makan dan tidur di satu ruangan kecil?
Aku menggelengkan kepala dengan cepat, berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran itu. Namun, kenapa beberapa hari terakhir aku terus memikirkan makhluk itu?
Aku samar-samar mengingat, sebelum aku melarikan diri waktu itu, bulu singa khasnya begitu nyata di tubuhnya. Memang pantas disebut raja hutan. Hanya dengan melihatnya sekali, langsung bisa terpesona oleh keperkasaannya.
Aku segera menampar pipiku ringan. Tidak, aku tidak boleh memikirkan hal seperti ini lagi!
Ketika sedang duduk di tepi danau untuk menenangkan pikiran, tiba-tiba terdengar suara gemerisik di dekatku.
Suara itu ... mirip sekali dengan yang kudengar di kamar Kak Vina beberapa hari lalu. Ada sesuatu tentang suara itu yang membuat hati ini berdebar dan gelisah.
"Sayang, tarik kembali ekor ular itu. Kalau dibiarkan begitu, orang pasti akan melihatnya."
Suara itu ... bukankah itu milik Selir Yinari?
Selir Yinari dikenal sebagai wanita yang selalu dingin dan jarang tersenyum. Bahkan dalam percakapan singkat, dia sering menyindir orang lain. Namun sekarang, dia berbicara dengan nada manja seperti itu?
Tunggu. Ular?
Apakah dia juga bersama seorang manusia hewan? Jadi, di istana ini bukan hanya ada satu manusia hewan?
Aku menggigil. Aku selalu merasa jijik dengan hewan melata bersisik seperti ular. Membayangkan seseorang harus bersama makhluk seperti itu membuatku merinding. Aku ingin segera pergi dari tempat itu. Namun tiba-tiba, sesuatu menarik kakiku.
Rasa dingin yang menjalar ... itu jelas ekor ular! Aku berteriak ketakutan, tetapi sebelum suaraku sempat menggema, seseorang langsung membungkam mulutku.
Aku menggeliat, mataku membelalak ketakutan dan mengeluarkan suara tercekik, "Mmmhh!"
Setelah beberapa saat, orang itu akhirnya melepaskanku. Aku buru-buru menghapus jejak basah dari bibirku, air mata mulai mengalir karena rasa takut dan keterkejutan.
"Kenapa? Belum pernah dicium?"
Yang bertanya padaku adalah seorang manusia hewan dengan sisik berkilauan di wajahnya. Namun anehnya, dia tidak tampak menakutkan sama sekali. Bahkan, sisik-sisik itu justru memberinya daya tarik yang memikat. Sungguh enak dipandang.
"Hei! Apa yang kamu lihat!"
Itu suara Selir Yinari. Dia mendorongku dengan keras dan memutar matanya kesal.
"Ini manusia hewan milikku. Kalau kamu mau , cari saja yang lain sendiri!"
Setelah memarahiku, nada bicaranya berubah menjadi manja dalam sekejap. "Sayang, kenapa kamu bersikap akrab sama orang lain di depanku? Nggak heran kalau orang-orang bilang, ular itu pada dasarnya ...."
Belum selesai dia bicara, bibirnya langsung dibungkam oleh ciuman manusia hewan itu. Suara basah itu segera mengingatkanku untuk tidak melihat lebih jauh. Untungnya, ekor ular yang melilit kakiku sudah terlepas.
Aku segera berlari keluar dari balik bebatuan buatan itu. Sejak tahu bahwa istana ini dipenuhi manusia hewan, aku sering kali melarikan diri dengan cara seperti ini ... terburu-buru dan malu. Namun, apa yang sebenarnya kutakuti?
Yang kutakuti adalah, begitu aku menyerah pada keinginan, aku tidak akan bisa berhenti. Aku ingat betul, bagaimana malam-malam panjang di istana membuatku sulit tidur.
Tiga tahun lalu, ketika aku pertama kali masuk ke istana, aku pernah merasakan kenikmatan itu beberapa kali.
Kalau tidak pernah merasakannya, mungkin aku bisa bertahan. Namun, setelah tahu seperti apa rasanya, kehilangan itu terasa menyiksa. Aku menyentuh lembut daun telingaku. Bekas sentuhan kasar dengan duri kecil itu masih begitu terasa.
Manusia hewan ... ada singa, ada ular ...apakah ada yang lain? Yang bertubuh kekar dengan kulit kecokelatan. Yang memikat dengan kulit pucat. Dan yang lainnya ....
Tanpa sadar, pikiranku melayang terlalu jauh, hingga aku mendapati diriku sudah membuka pakaian. Namun, tepat saat itu, pintu kamarku terbuka dengan suara keras. Jantungku berdegup kencang, aku buru-buru membungkus tubuhku dengan kain seadanya.
Sayang, semuanya sudah terlambat. Aku telah tertangkap basah. Manusia hewan yang masuk kali ini berbeda. Tubuhnya tinggi dan ramping, dengan wajah yang luar biasa tampan. Sekilas, aku tidak bisa menebak dia manusia hewan jenis apa.
"Siapa kamu? Cepat keluar dari sini!" bentakku, mencoba menyembunyikan rasa gugup. Alih-alih pergi, dia tersenyum tipis.
"Kamu bisa memanggilku Zian. Aku datang malam ini untukmu. Aku nggak akan pergi."
Kekuatannya luar biasa besar. Dengan mudah, dia merobek pakaian yang tadi kupakai untuk menutupi tubuhku.
Anda Mungkin Juga Suka





