APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Selingkuhannya Pengasuh Anakku

Selingkuhannya Pengasuh Anakku

Kehidupan rumah tangga Sekar hancur setelah perselingkuhan suaminya terungkap. Pengkhianatan ini terasa sangat menyakitkan karena wanita lain tersebut adalah pengasuh anaknya sendiri, orang yang sangat ia percayai. Walau suaminya meminta maaf dan mengaku khilaf, Sekar didera dilema berat. Terlebih saat tahu sang pengasuh ternyata masih bersuami dan dinafkahi oleh suaminya. Mampukah Sekar bertahan menghadapi kenyataan pahit yang merusak pernikahannya ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

Cekiiiit ....

Mobil yang dikemudikan oleh Sekar ngerem mendadak. Sekar dibuat spot jantung dan shock. Matanya melotot ke depan, kalau saja tidak cepat-cepat ngerem mendadak. Mungkin dia sudah menabrak orang pejalan kaki dan orang itu pun tampak melongok dan melihat ke arah mobil Sekar yang juga bengong terkaget-kaget.

"Astagfirullah ... hampir saja aku mencelakai orang, gara-gara aku melamun!" gumam Sekar sembari membuka jendela mobil dan menimbulkan kepalanya keluar memandangi seorang bapak-bapak yang tengah berjalan belanjaan. Sepertinya dia pun shock dan kaget.

"Maaf, Pak. Maaf banget, aku tidak sengaja. Bapak tidak apa-apa 'kan, Pak?" dengan perasaan yang tidak menentu, berdebar begitu hebat masih beruntung Sekar keburu sadar, hingga tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Sambil bengong, si bapak berkata. "Tidak, saya tidak kenapa-napa, makanya hati-hati kalau membawa mobil. Emangnya ini mobil nenek moyang kamu sehingga melaju dengan seenak mu," terdengar sedikit menggerutu.

"Iya, Pak ... maaf banget, Pak! sekali lagi maaf!" Sekar menyatukan kedua tangannya yang diarahkan kepada bapak tersebut. Setelah itu barulah mobilnya kembali melaju dengan lebih hati-hati lagi.

Mobil sekar semakin meluncur menuju kantor tempatnya bekerja. Dan setibanya di sana dia langsung menyibukkan diri dengan tugas-tugasnya yang menumpuk

Ketika waktu makan siang rasanya dia malas untuk keluar, sehingga dia memesan saja biar makan di dalam ruangannya.

"Terima kasih, Mbak dan ini uang bayarannya! kembalinya ambil saja." Sekar berikan berapa lembar uang pecahan kepada mbak yang membawakan makanan untuknya makan siang. Satu porsi pecel beserta es tehnya.

Sekar langsung menyantapnya tidak membuang-buang waktu! karena yang malas itu bukan makannya, tapi keluarnya! dia makan begitu sangat lahap, karena bagaimanapun dia butuh tenaga untuk menghadapi hidup yang terasa pahit dan berat ini.

"Pahit dan berat, hidup yang harus aku hadapi ini. Tetap harus makan biar tubuh ku gak drop!" Sekar tersenyum getir menertawai dirinya sendiri.

Sekitar pukul 04.30 sore. Sekar tersenyum dan mengangguk pada para staf lainnya, disaat dia berjalan menuju mobil untuk pulang. Mengenakan sabuk pengaman terlebih dahulu dan setelah itu Sekar menancap gas perlahan, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

Retttt.

Retttt.

Retttt.

Segera Sekar merogoh saku rok span nya mengambil ponsel yang getarannya terasa di paha, dengan hati-hati menyetir, melihat kontak yang tertera di layar, yaitu papa yang menelpon. Setelah memasang headset di telinganya ... barulah mengangkat telepon dari papa dengan masih mobil melaju pelan.

"Halo, assalam--" suara Sekar menggantung. Keburu di timpali oleh suara yang di ujung sana.

(Halo, Sekar, kamu di mana? Papa dan mama sudah berada di rumah mu! buruan pulang?)

"Iya, ini juga aku mau pulang dan sedang di perja-lanaan!" Sekar langsung tidak enak hati dengan kedatangan orang tua nya yang secara tiba-tiba datang ke rumah tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Dan langsung menerka-nerka dengan kedatangan mereka. Apa kah mereka tahu dengan apa yang sedang menimpa dirinya?

Dengan dengan pandangan terus ke arah depan, mobil Sekar melaju dengan kecepatan sedang! dengan perasaan yang sangat bergemuruh, dada nya berdebar kuat. Sementara dia belum cerita sama sekali pada orang tuanya atas masalah yang sedang menimpa rumah tangganya bersama Zulfan.

Setibanya di rumah, Sekar langsung di sambut oleh kedua orang tuanya yang bersikap masam dan marah, dan kedua netra mata Sekar pun tertuju pada wajah Zulfan yang tampak bonyok, mungkin kena pukulan atau entah apalah. Namun Sekar tidak ingin bertanya ataupun sok perhatian, ia hanya melirik dengan dingin dan mengarahkan pandangan pada kedua orang tuanya.

"Assalamu'alaikum, Pa. Mah, kapan datang?" Sekar langsung meraih tangan kedua orang tuanya itu bergantian mencium nya penuh hormat.

"Wa'alaikum salam." Kemudian mereka duduk di ruang keluarga. Sekar duduk menunduk dalam, berasa mau diintrogasi mengingat tatapan kedua orang tuanya yang sangat tajam, tapi sedari tadi mereka masih terdiam tanpa kata yang terucap.

Zulfan duduk tidak jauh dari Sekar, dia pun tampak menunduk ketakutan, nampak jelas dari wajahnya dan sesekali terlihat meringis. Tapi Sekar tetap bersikap cuek tidak mau tahu apalagi peduli.

"Papa benar-benar shock, terpukul dengan berita yang sedang menimpa rumah tanggamu ini, sementara kamu sendiri tidak bicara apa-apa sama Papa juga mama! Sementara orang-orang dah pada tahu dari media sosial, sungguh memalukan."

"Mama sangat kecewa, ini. Rumah tangga yang kamu impikan? ini suami yang kamu banggakan? yang tega mengkhianati kamu di depan mata, di rumah kamu sendiri dia berselingkuh dengan orang yang kamu kasih makan. Di mana otaknya di mana?" suara mama menggebuk-gebuk sambil menuding ke arah Zulfan yang terus menunduk.

Sekar hanya bisa menunduk dengan derai air mata yang jatuh ke pangkuan. Teringat kembali di saat dia ketika ingin menikah dengan Zulfan sampai dia memohon-mohon bahkan mengancam-mengancam kepada orang tuanya, agar diizinkan menikah dengan Zulfan yang notabene nya orang biasa.

"Mah, aku cinta sama Mas Zulfan dan aku hanya ingin menikah dengannya saja. Aku nggak mau menikah sama laki-laki lain, Mah!" kata Sekar waktu itu kepada Mama nya dengan setengah memohon.

"Cinta! cinta kamu bilang? apa yang kamu bisa harapkan dari laki-laki macam itu? pekerjaannya cuma serabutan, kadang-kadang cuman kerja bangunan. Sementara kamu itu anak kuliahan dan bentar lagi kamu wisuda! masa kamu mau menikah sama laki-laki macam itu! Biaya kamu per hari aja berapa?" sergah Mama terlihat jengkel.

"Papa juga tidak setuju, kalau kamu kekeh ingin menikah dengan Zulfan banyak laki-laki yang ingin melamar kamu, yang mapan! yang masa depannya pun terjamin kenapa kamu malah milih si Zulfan? masih mending kalau dia bisa membahagiakan kamu nantinya, kalau nggak bagaimana!" kata papa sambil memandangi wajah Sekar yang terus menunduk. "Papa akan carikanmu calon suami yang lebih baik, seperti si Jono. Si Madun! si Febri, si Udin. Mereka sudah mapan!"

"Tapi Sekar tidak mau menikah dengan laki-laki lain, kecuali sama Mas Zulfan. Titik! apalagi seperti nama-nama yang Papa sebutkan itu." Sekar menggeleng, beranjak dari duduk dan berjalan dengan cepat menuju kamarnya.

Biarpun dibujuk gimanapun oleh orang tuanya, tetap saja Sekar memilih ingin menikah dengan Zulfan, bukan dengan pria lain pilihan orang tua nya. Sekar benar-benar bucin pada Zulfan yang baik, sopan dan bertanggung jawab juga sangat sayang padanya.

Sekar pun rela datang setiap hari ke rumahnya, untuk bertemu Zulfan kalau tidak menemuinya ke kampus. Biarpun jalan-jalan pakai motor butut, mereka sangat bahagia. Sekalipun jalan kaki dan minum es doang ... terasa dunia ini milik berdua dan yang lain cuman ngontrak, hati selalu berbunga-bunga tanpa ada kesedihan atau beban apapun.

Setelah selesai wisuda, Zulfan pun datang untuk melamar sang pujaan hati, dia datang hanya bersama kedua orang tuanya saja. Serta membawa keranjang buah-buahan. Membuat kedua orang tua Sekar menatap penuh cibiran, masa mau melamar cuman bawa gituan doang.

"Mah, Pah tolong dong ... hargain mas Zulfan, dia bener-bener serius sama aku dan kami berdua ingin menikah. Tolong restui kami, Mah ... nikahkan kami. Emangnya Mama dan Papa mau? jika kami melakukan yang macam-macam tanpa adanya pernikahan. Tidak kan? Mah, Pah ..." Sekar menatap kedua orang tuanya penuh permohonan.

"Papa dan Mama tetap tidak setuju kalau kalian itu menikah. Emangnya kamu mau dikasih makan apa?" Tambah mama yang tetap ragu akan kesejahteraan putri nya.

"Aduh Mama ... ya dikasih makan nasi dong ... nggak mungkin aku dikasih daun atau rumput! dia makan nasi. Kelas aku juga makan nasi. Memangnya aku kambing dikasih rerumputan hijau, kan nggak mungkin, Mah." Protesnya Sekar sembari tersenyum kecut.

"Iya, tapi dia itu kerja apa? dia itu cuma kerja serabutan 'kan ... cuma kerja bangunan, itupun bila ada! kalau nggak ada? kamu mau dikasih makan apa?" tambah mama. Suaranya memekik, ditahan agar tidak kedengaran keluar dimana keluarga Zulfan berada di ruang tengah.

"Aduh Mama ... Rezeki itu Allah yang ngatur, yang penting kita mau berusaha. Yakin deh ... kita gak bakalan kelaparan!" Sekar terus meyakinkan. "Kalau Mama ingin anaknya bahagia ... tentunya Mama sama Papa mau menikahkan kami berdua! terimalah mas Zulfan ya, Ma, Pa." Sekar menatap keduanya bergantian.

Papa menghela nafas sangat panjang. "Kalau memang kamu bersikukuh ingin menikah dengannya, baiklah. Papa akan merestui dan menikahkan kamu sama pria itu! tapi bila suatu saat nanti ... kamu bermasalah dengan laki-laki itu, lihat saja! Papa gak akan ngasih ampun!"

Sekar langsung memeluk papanya. "Terima kasih, Papa ... terima ka ... sih ... banget!"

Sementara wajah mamanya Sekar tetap saja tampak masam. Sebenarnya dia tetap keberatan jika Putri satu-satunya itu menikah dengan pemuda yang bernama Zulfan.

Lantas kemudian Sekar, papa dan Mamanya berjalan menuju ruang tamu, di mana zulfan dan kedua orang tuanya tampak duduk menunggu dengan wajah-wajah yang.

Bergabung ....

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel About Sila
8.6
Siti Laila, anak ustaz yang keras kepala, tumbuh tanpa kehangatan orang tua. Di balik sikap santunnya di rumah, Sila menyimpan dendam membara di luar. Ketika ia memutuskan bertobat dan lepas dari masa lalu kelamnya bersama Lucas, ancaman fatal justru datang. Lucas bersumpah akan meluluhlantakkan keluarga Sila jika gadis itu nekat pergi. Kini, Sila terhimpit di antara keinginan menebus dosa dan tuntutan menyelamatkan orang-orang yang ia sayangi.
Sampul Novel Be Your Pet
9.2
Erick, pemuda berusia dua puluh tahun, terpaksa mengambil langkah ekstrem demi melunasi biaya rumah sakit ibunya. Ia bersedia menjadi 'peliharaan' bagi Jason, seorang pria penyuka sesama jenis yang sangat dominan dengan kecenderungan BDSM. Kini, hidup Erick dipenuhi kekerasan, makian, serta penghinaan. Sanggupkah Erick bertahan melewati hubungan dewasa yang sangat ekstrem ini demi menyelamatkan sang ibu?
Sampul Novel Bukan Seorang Pengganti
7.9
Vonis medis yang mengerikan menghancurkan hidup Dira. Di masa kritis ini, ia harus berjuang sendirian tanpa dukungan dari suaminya, yang ternyata hanya menganggap dirinya sebagai sosok pengganti yang tak berharga. Didera penderitaan fisik dan batin, Dira kini dihadapkan pada keputusan besar dalam hidupnya. Apakah ketulusan cintanya mampu menyadarkan sang suami, atau ia ditakdirkan selamanya menjadi bayangan orang lain yang selalu dipandang sebelah mata?
Sampul Novel Kehormatan Yang ternoda
9.0
Nasib malang menimpa Salmah, gadis desa miskin yang harus merawat Ayuna sendirian akibat diperkosa. Tiga tahun kemudian, Jhondra Mahardika sang pelaku datang lagi demi merebut anak itu. Langkah ini ia ambil lantaran istrinya, Dinda Kirana, mandul setelah rahimnya diangkat. Agar hak asuh sang putri tidak hilang, Salmah terpaksa menerima tawaran menjadi istri kedua Jhondra. Sayangnya, keputusan tersebut justru menyeretnya ke dalam kehidupan pernikahan yang penuh siksaan batin.
Sampul Novel Mendadak menjadi Istri
8.8
Kehidupan Wulan mendadak kacau setelah kehadiran Wisnu yang mengklaim sebagai suami sahnya. Padahal, ia merasa belum pernah menikah dan tengah bersiap membina rumah tangga bersama kekasihnya, Rayyan. Keadaan kian pelik saat sang Bunda justru mendukung pernyataan pria asing itu. Enggan terjebak dalam teka-teki status pernikahan misterius yang tidak masuk akal ini, Wulan pun mulai bergerak. Ia bertekad kuat mengusut tuntas rahasia tersembunyi di balik semua kejanggalan tersebut.
Sampul Novel Pelabuhan Terakhir
9.5
Caca, seorang yatim piatu yang terasing di kediaman pamannya, harus menghadapi kenyataan pahit ketika lamaran Awan ditolak calon ibu mertua akibat perbedaan status sosial. Setelah neneknya wafat, ia memutuskan pergi ke pesantren di Purwokerto demi menunaikan wasiat sang ibu. Di lingkungan baru ini, Caca yang tomboy dan ceria dapat mengekspresikan dirinya secara bebas. Namun, pertemuannya dengan seorang rival justru menjeratnya dalam pusaran konflik asmara yang rumit dan penuh emosi.