APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sekar

Sekar

Sekar menjalani hidup yang sepenuhnya disetir oleh ramalan. Bagi pengusaha di ibu kota ini, prediksi masa depan adalah segalanya, hingga ia mengabaikan takdir Tuhan dan menganggap ibadah hanya kedok tanpa makna. Namun, obsesi tersebut justru membawanya pada pusaran keputusasaan. Di tengah ambisi bisnis dan pencarian tanpa ujung, Sekar kini kehilangan arah. Mampukah ia mengubah garis hidup yang telah digariskan oleh Sang Pencipta, atau justru selamanya terjebak dalam kesia-siaan?
Bab
Bagikan

Bab 3

Berulang kali aku mengutak-atik layar ponsel dan mengintip pesan, masih belum ada tanda-tanda suamiku mengirimkan pesan untukku. Aku hampir saja gila, membayangkan bahwa suamiku sudah tidak cinta padaku lagi. Aku semakin sedih, dan tak nafus untuk makan bahkan tidur sekalipun.

Menunggu waktu hingga jam 7 malam itu terasa sangat lama, dan membuatku tak waras. Meleleh lah air mataku ini. Sudah ku tahan dari beberapa hari yang lalu, tapi sekarang sudah tak tertahankan. Aku menangis sejadi-jadinya di ruangan kantorku.

Pekerjaanku pun terbengkalai, lantaran aku terus saja memikirkan nasib suamiku yang tak kunjung memberikan kabar untukku. Apakah dia masih marah, atau ada marabahaya yang sedang ia hadapi.

Pukul 4 sore, yang biasanya aku masih enggan untuk pulang dan memilih untuk melayani customer ku dan menyiapkan segala jenis orderan dari pesanan transportasi online, kali ini aku memilih untuk pulang lebih awal.

“Lho Mba, kok kamu pulangnya cepet?” tanya Mama

“Iya tadi lagi banyak pelanggan, Alhamdulillah, jadinya sudah sold out,” jawabku berbohong kepada mama

“Terus itu mata kamu sembab, kenapa? Kamu habis berantem sama Martin?” tanya Mama

AKu tidak berani mengatakan mengenai masalah rumah tanggaku kepada orang tuaku, aku takut akan menjadi pikiran bagi mereka. Terlebih dari awal, mama sudah mengingatkan aku bahwa Martin bukanlah pria yang baik.

“Nggak tadi kelilipan aja, terus aku kucek-kucek gitu mata aku, jadinya nangis deh, perih banget soalnya,” jawabku berbohong lagi pada mama.

“Hmmm … yaudah, kalau ada masalah, kamu cerita aja sama mama, siapa tahu dengan kamu cerita sama mama, bisa mengurangi beban kamu,” bujuk Mama

“Iya Ma, udah ya aku mau mandi dulu, gerah banget abis dari jalanan yang berdebu,” kilahku.

Aku yakin, sebenarnya mama pasti penasaran, apa yang sebenarnya terjadi padaku.

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, tandanya, Pak Anton sudah bisa aku hubungi dan aku juga sudah bisa menanyakan perihal hasil terawangannya.

“Assalammu’alaikum,” sapaku melaui sambungan telfon

“Wa’alaikum salam, gimana Mbak Sekar?” tanya Pak Anton

“Ya nih pak,saya jadi nggak mood ngapa-ngapain, perasaannya jadi gelisah begitu,” ungkapku.

“Sebenarnya Mas Martin masih sayang kok sama Mbak Sekar, hanya saja, Mas Martin ini terlalu bnak di pengaruhi oleh keputusan ibunya istilahnya Ibunya terlalu banyak ikut campur gitu lah, Mbak sekar,” papar Mas Anton

“Terus kenapa dia masih belum mau telfon atau sekedar kirim pesan teks, apakah dia masih marah sama aku? Soalnya nomor ponselnya masih belum aktif!” ucapku sambil menahan tangis

“Oh kalau itu, Mas Martin sedang ada tugas di pelosok sih Mbak Sekar, kalau yang saya lihat ya. Jadi ini asli karena pekerjaan, bukan karena Mas Martin marah besar sekali sama Mbak Sekar. Mbak Sekar sabar saja nunggu kabar dari Mas Martin,” usul Pak Anton

Mendengar hasil terawangan Pak Anton setidaknya membuat hatiku menjadi lega sedikit. Setidaknya aku masih bisa tidur, untuk malam ini. AKu mengucapkan terima kasih kepada Pak Anton, yang sudah membantuku.

“Terima kasih banyak ya Pak Anton, udah bantuin nerawangi,” ucapku

“Iya Mbak, sama-sama. Oiya Mbak, sebelumnya saya nggak bisa lama-lama telefon sama mbaknya,” tutur Pak Anton

“Lho memangnya kenapa,Pak?” tanyaku

“Ini lagi mau bantuin istri saya, beresin rumah, kemarin waktu mbak coba hubungi saya kan nggak bisa toh, itu karena rumah saya sedang mengalami musibah kebanjiran,” tutur Pak Anton

“Ya Allah Pak, coba kirim nomor rekening bapak melalui pesan tertulis ya pak,” pintaku

“Iya Mbak sekar, terima kasih.”

Pembicaraanku dengan Pak Anton hanya berlangsung hingga 2 jam lamanya, dna ini rekor tercepat aku menghubungi Pak Anton. Biasanya kalau aku menghubungi Pak Anton, bisa sampai 5 jam lamanya.

Tapi kali ini aku tidak bisa berlama-lama. Aku juga harus memikirkan nasibnya yang tertimpa musibah. Aku sudah biasa memberikan uang kepada Pak Anton dengan mengirimkan uang dengan jumlah tertentu.

Bagiku itu tidak masalah dengan mengirimkan sejumlah uang kepada Pak Anton, sebab ia selalu membantuku dalam menerawang segala permasalahan yang sedang aku hadapi.

Kali ini aku mentransfer uang sejumlah 5 juta. Dan buatku degan mentransfer uang dengan jumlah itu, seperti sedang beramal saja. Aku hanya berharap agar usahaku lancer dan selalu banyak pembelinya.

Tak hanya sekali ini saja aku memberikan uang kepada Pak Anton, sejak aku mengenal Pak Anton, sudah 5x aku memberikan uang dengan jumlah yang tak sedikit. Terkadang dia yang meminta, dan terkadang juga aku yang sengaja memberikannya.

Kali ini Pak Anton dengan sedikit malu-malu meminta padaku uang dengan jumlah yang tak sedikit, yakni 5 juta. Alasannya adalah karena, untuk membayar uang sekolah anaknya yang ingin masuk sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, dan membantunya dalam mengatasi musibah kebanjiran.

Usai mengirimkan uang kepada Pak Anton, aku memutuskan untuk keluar kamar, untuk makan malam. KU buka pintu kamarku, ternyata masih ada mama yang sedang asyik menonton tivi bersama dengan adik bungsuku.

“Eh mama, kirain udah tidur,” sapa ku

“Belum nih, masih ingin menonton,” jawab mama singkat

“Mama masak apa?” tanyaku

“Itu masak balado ati ampela sama tumis taoge,”jawab Mama

“Yaudah aku mau makan ah,” ucapku sambil melangkahkan kaki meuju ruang makan.

“Kamu kenapa sama Martin?” tanya Mama

“Nggak kenapa-napa kok,”jawabku dnegan santai

“Sekilas tadi mama dengar, kamu lagi tanya sama siapa tuh soal Martin?” tanya Mama.

“Oh itu, Pak Anton,” jawabku santai

“Pak Anton siapa?”

“Pak Anton yang dikenalin sama Bi’Inah, yang katanya bisa nerawang gitu lho Ma,” jawabku sambil mengunyah makanan.

“Kamu tuh lho ngapain sih nanya-nanya begitu, udah yakin saja sama takdir dari Gusti Allah. Toh kalo memang tidak berjodoh dengan Martin, masih ada banyak cowok lain yang satu agama juga, nggak usah takut lah!” Mama menasihatiku dengan logat jawanya yang kental.

Aku tidak bisa membalas perkataan mama karena, Martin adalah pilihanku sendiri, aku yang memaksa agar terjadinya pernikahan ini, serta aku juga yang memaksa kedua orangtua ku untuk menerima Martin sebagai Menantunya.

“Tapi … kayaknya kamu sudah jatuh cinta dengan Martin, yam au nggak mau, kamu harus menerima sifat dan sikapnya. Tapi jangan serta merta menerima dengan mentah-mentah ya Nduk. Kalau dia ada berbuat kasar sama kamu, kamu harus bisa melawannya, jangan mau kamu diinjak harga diri sebagai seorang istri.” Mama melanjutkan nasihatnya

“Sudah jangan terlalu di pikirkan, lebih baik kamu berdoa pada Tuhan, minta semoga rumah tanggamu selalu di berkahi dan di lindungi.”

“Iya …” jawabku seadanya.

“Oiya, memangnya kamu nggak apa-apa, kalau kamu tinggal di sini lagi? Bukannya Martin menginginkan kamu tinggal bersama mereka? Nanti kamu tinggal di sini malah jadi masalah,” ucap Mama

“Nggak kok ma, aku sudah minta izin sama Martin untuk tinggal di sini, aku di sana kurang cocok dengan masakannya.” Lagi-lagi aku berbohong pada Mama mengenai kepindahanku.

Aku hanya tak ingin membebani pikiran mama, jika aku mengatakan yang sejujurnya kalau aku tidak betah tinggal di sana, lantaran omonngan pedas dari mertua dan iparku.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Pernah Mencintaimu, Sebatas Itu
8.8
Selama lebih dari dua dekade, Talia Lewis selalu menjadi pusat perhatian dan dimanjakan oleh Tristan Howard. Talia sangat meyakini bahwa masa depan mereka akan diisi dengan pernikahan, kehadiran anak-anak, dan kebahagiaan abadi yang romantis. Namun, keyakinan itu runtuh seketika saat Tristan pulang membawa seorang gadis asing. Kenyataan pahit harus dihadapi Talia ketika pria yang dicintainya itu justru memperkenalkan gadis tersebut sebagai calon kakak iparnya.
Sampul Novel Antara Dendam dan Penyesalan
8.3
Tiga tahun menikah, Selena harus menerima kenyataan bahwa Harvey tidak pernah mencintainya. Saat divonis kanker, ia mendapati suaminya menemani wanita lain. Selena memilih pergi membawa surat cerai, namun Harvey justru mengungkap bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok balas dendam. Di tengah penderitaan sakit dan ayahnya yang koma akibat kecelakaan, Selena yang putus asa memilih melompat dari gedung untuk melunasi utang keluarganya. Harvey pun didera penyesalan hebat dan memohonnya kembali.
Sampul Novel BERBAGI RANJANG DENGAN KAKAK TIRI
8.2
Pernikahan Kenanga hancur setelah Dion, sang suami, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri. Di tengah kepedihan akibat poligami tersebut, masa lalu Kenanga kembali hadir lewat sosok Devano. Sahabat kecilnya itu datang untuk memperjuangkan cinta lama yang dipendamnya. Kini, Kenanga dihadapkan pada pilihan sulit: tetap bertahan dalam rumah tangga yang retak atau membuka hati bagi ketulusan Devano.
Sampul Novel Cinta Dalam Skandal
9.3
Karier Bitna, aktris asal Korea Selatan, berada di ambang kehancuran setelah skandal besar menimpanya pasca-pesta di Indonesia. Kejadian itu turut menyeret Kenzo, bos besar penyelenggara acara. Demi menyelamatkan reputasinya, Bitna setuju memberikan klarifikasi. Namun, tanpa persetujuan Bitna, Kenzo malah mengumumkan pertunangan palsu mereka kepada publik. Apa motif di balik kebohongan Kenzo ini? Bisakah sandiwara tersebut menyelamatkan Bitna, atau justru memperburuk hidupnya?
Sampul Novel Jerat Hasrat Tetangga Tampan
9.4
Pernikahan Andini yang terasa dingin dan tanpa gairah seketika terguncang sejak kedatangan Andreas. Tetangga baru yang rupawan dan berusia lebih muda itu berhasil memantik kembali hasrat membara yang telah lama mati di dalam diri Andini. Walau sadar dirinya telah terikat komitmen pernikahan, bayang-bayang keintiman dengan Andreas terus mengusik benaknya. Kini, ia berada di persimpangan jalan, bimbang antara menjaga kesetiaan atau menyerah pada godaan memikat sang brondong.
Sampul Novel Kiana (Anak yang tidak di Harapkan
9.3
Hidup Kiana dipenuhi kepedihan mendalam akibat diabaikan oleh keluarganya sendiri. Di rumahnya, ia bagai orang asing yang dikucilkan dan tak pernah dianggap ada. Di tengah kehancuran batin dan ketidakadilan ini, harapan Kiana hanya tertuju pada kesembuhan sang ayah yang sangat ia tumpu. Sambil menahan rasa sakit, ia berseru memohon kekuatan kepada Tuhan agar mampu bertahan menjalani kerasnya kesendirian.