APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sejuta cerita di balik pintu kos

Sejuta cerita di balik pintu kos

Menginjak usia tujuh belas tahun, Dens Bagus memutuskan merantau ke Solo. Menempati kamar kos nomor tujuh berpintu cokelat, ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang sangat kontras dari rumah asalnya. Di lorong kos sederhana tersebut, keseharian Dens diwarnai interaksi bersama Bu Kos yang tegas tetapi perhatian, Mei Lin yang periang, Li Hua yang tertutup, Fajar yang menjengkelkan, serta Mas Arya yang misterius. Bersama mereka, ia mulai mengarungi dinamika kehidupan kota yang asing.
Bab
Bagikan

Bab 3

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Suara ketukan di dinding yang mengakhiri riuhnya obrolan dari kamar sebelah masih terngiang. Aku tidak tahu apakah aku harus berterima kasih atau justru merasa lebih malu. Keheningan yang menyusul terasa lebih berat daripada segala tawa mereka sebelumnya. Aku membalikkan badan, mencoba mencari posisi yang nyaman di atas kasur busa yang masih terasa asing, namun pikiranku terus berputar. Apakah mereka mendengarku menangis? Apakah mereka mengejekku dalam hati? Beban di dadaku terasa begitu nyata, seperti batu besar yang menghimpit.

Pagi menjelang dengan cepat, membawa serta aroma masakan dari dapur. Bau bawang goreng dan tumisan sayur menyeruak masuk ke celah-celah pintu, perlahan mengusir sisa-sisa kesedihan malam. Perutku yang kosong mendadak bereaksi. Aku belum makan sejak tiba kemarin sore, dan bau sedap itu sungguh menggoda. Dengan langkah ragu, aku keluar dari kamar, mengikuti aroma.

Lorong kos masih sepi. Beberapa pintu kamar tertutup rapat, yang lain sedikit terbuka, menampakkan kegelapan di dalamnya. Aku melangkah pelan, seperti pencuri, sampai akhirnya tiba di ruang tengah yang sekaligus berfungsi sebagai dapur dan ruang makan. Di sanalah, berdiri tegap di depan kompor dengan wajan besar mengepul, ada seorang perempuan paruh baya. Rambutnya diikat rapi, mengenakan daster batik motif parang. Itulah Bu Ratih, pemilik kos.

Ia sedang membalik nasi goreng dengan cekatan. Aroma rempah dan kecap manis langsung menyergap indra penciumanku. Aku berhenti di ambang pintu, terlalu segan untuk melangkah lebih jauh.

"Nah, akhirnya muncul juga penghuni nomor tujuh!" Suaranya renyah tapi ada intonasi ketegasan yang tak terbantahkan. Ia menoleh, menatapku dengan mata tajam yang seolah bisa membaca seluruh isi pikiranku. "Dens Bagus, kan? Ayo sini, jangan cuma melongok di pintu. Sarapan sudah siap."

Aku tergagap. "E-eh, iya, Bu. Selamat pagi."

"Pagi. Ayo, duduk. Jangan sungkan," katanya, tapi nada suaranya tidak mengundang kesantaian. Aku melangkah masuk, menarik salah satu kursi kayu di meja makan yang panjang. Di atas meja, sudah tersaji piring-piring berisi nasi goreng, telur ceplok, dan kerupuk. Sebuah teko berisi teh hangat juga mengepul di tengahnya.

Bu Ratih menyendokkan nasi goreng ke piringku, porsi yang cukup besar untuk perutku yang lapar. "Ini khusus untuk kamu, anak baru. Biar kuat nanti dengerin ceramah saya," ucapnya, sambil tersenyum tipis yang entah mengapa terasa seperti peringatan. Aku hanya bisa menunduk, menerima piring itu dengan kikuk.

"Jadi begini, Dens," Bu Ratih memulai, suaranya kini sedikit melambat, penuh penekanan. "Kamu di sini itu kan merantau. Jauh dari orang tua. Nah, saya di sini fungsinya seperti orang tua kedua. Jadi, kalau ada aturan, ya harus diikuti. Jangan sampai bikin masalah."

Aku mengangguk cepat, menyuap sesendok nasi goreng yang langsung terasa nikmat di lidah.

"Pertama, kebersihan. Kamar masing-masing itu tanggung jawab sendiri. Jangan sampai saya lihat ada sampah numpuk atau baju kotor berserakan. Saya ini anti sekali sama kotor. Kalau kamar mandi dan dapur, itu tanggung jawab bersama. Kalau sudah pakai, ya dibersihkan. Jangan cuma numpang lewat." Ia menunjuk ke arah kamar mandi dan dapur dengan sendok nasi gorengnya, seolah sedang memberikan komando militer.

"Kedua, jam malam. Pintu gerbang itu saya kunci jam sepuluh malam. Kalau mau pulang lewat dari itu, ya izin dulu. Jangan main nyelonong masuk saja. Apalagi kalau bawa teman menginap, wah, itu saya tidak suka sama sekali. Ini kos putra-putri, tidak bisa sembarangan."

Pipi dan telingaku terasa panas mendengar penekanan pada "kos putra-putri". Aku membayangkan kejadian semalam, saat mereka semua riuh nonton bola. Apakah aku melanggar aturan dengan menangis? Atau justru mereka yang melanggar jam malam? Aku mengamati ekspresi Bu Ratih, mencari petunjuk, tapi wajahnya tetap serius.

"Ketiga, listrik dan air. Pakai secukupnya. Jangan boros. Ingat, ini bukan rumahmu sendiri. Apalagi kalau malam-malam pakai AC sampai pagi, padahal cuaca tidak terlalu panas. Itu namanya buang-buang uang."

Bu Ratih melanjutkan, rentetan aturannya mengalir bagai air bah. Mulai dari larangan memelihara hewan, kewajiban membayar uang kos tepat waktu, sampai himbauan untuk bersosialisasi tapi tetap menjaga privasi. Aku hanya bisa mengangguk, sesekali bergumam "iya, Bu" saat ia memberi jeda untuk menarik napas.

"Intinya, saya di sini cuma mau anak-anak kos nyaman dan aman. Kalau ada masalah, jangan sungkan cerita. Tapi jangan sampai masalah kecil jadi besar gara-gara tidak mau terbuka. Paham?" Ia menatapku intens, menunggu jawabanku.

"Paham, Bu," jawabku pelan.

"Bagus. Nah, sekarang makan yang banyak. Habiskan itu nasi gorengnya. Kamu kelihatan kurang gizi."

Baru saja aku hendak menyuap lagi, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki riang dari lorong. Mei Lin muncul, rambut hitamnya diikat ekor kuda, mengenakan kaus oblong bergambar kartun dan celana pendek. Di belakangnya, adiknya, Li Hua, berjalan lebih tenang, memegang buku sketsa.

"Selamat pagi, Bu Ratih!" sapa Mei Lin ceria, langsung menuju meja makan dan mengambil piring. "Wah, nasi gorengnya sudah habis banyak, ya? Dens, kamu sudah sarapan?"

Aku mengangguk canggung, menatap Mei Lin yang sudah terlihat segar bugar, seolah tidak pernah bergadang semalam. Li Hua hanya tersenyum tipis padaku, lalu duduk di pojok, membuka buku sketsanya.

"Tentu saja sudah sarapan, Mei Lin. Bu Ratih kan sudah bilang, anak baru harus sarapan banyak biar kuat dengerin ceramah saya," Bu Ratih menimpali, melirikku dengan senyum tipis. Aku merasa pipiku kembali memanas.

"Hahaha, betul itu, Bu!" Mei Lin tertawa. "Dens, nanti kamu pasti cepat akrab kok sama Bu Ratih. Galaknya cuma di depan saja. Kalau sudah kenal, nanti malah dikira anak sendiri." Ia mengedipkan mata padaku, seolah ingin memberi kode bahwa semua akan baik-baik saja.

Aku tidak tahu harus membalas apa. Aku hanya menunduk, melanjutkan sarapan. Mendengar Mei Lin berbicara, aku merasakan sedikit kelegaan. Tapi omelan Bu Ratih tadi, meski diiringi nasi goreng lezat dan senyum tipis, tetap meninggalkan kesan mendalam. Aku merasa seperti baru saja menjalani ujian masuk yang ketat. Di tempat baru ini, bahkan untuk sekadar sarapan pun aku harus melewati serangkaian aturan dan omelan. Bagaimana aku bisa bertahan jika setiap hari akan seperti ini?

Bu Ratih mengambil secangkir teh, menyesapnya perlahan. Matanya menyapu sekeliling, lalu kembali padaku. "Oh ya, Dens. Karena kamu anak baru dan kamar nomor tujuh itu jarang sekali ada penghuninya, saya ada satu tugas khusus untukmu."

Jantungku berdebar. Tugas khusus? Apa lagi? Aku menatap Bu Ratih, menunggu dengan napas tertahan. Kali ini, ekspresinya tidak bisa kubaca. Apa yang akan datang setelah ini? Sebuah tantangan baru yang akan semakin menguji batasku di tempat asing ini? Atau justru... sesuatu yang jauh lebih berat?

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 180 Hari Menuju Akad
9.3
Kania Salsabila menghadapi dilema berat di usia 27 tahun akibat perjodohan sepihak dengan seorang ustadz pilihan orang tuanya. Padahal, cintanya hanya milik sang sahabat, Aryaguna Wiratmaja, pelindung setianya. Kania akhirnya bersedia patuh dengan satu syarat: ia meminta waktu 180 hari bersama Arya. Namun, kebersamaan intens tersebut justru membuat Kania kian sulit merelakan sosok Arya demi melangkah ke pernikahan yang terpaksa ia jalani.
Sampul Novel Another Word To Say I Love You
8.7
Dunia remaja Lisa mendadak kacau setelah bertemu Pramana, pria yang sempat mengambil novel dewasanya di toko buku. Siapa sangka, ia ternyata guru olahraga di sekolah barunya. Pramana sendiri didera kebimbangan karena Lisa mengingatkannya pada masa lalu. Sikap profesionalnya sebagai guru mulai goyah pasca sebuah insiden kelam. Di tengah keraguan, Pramana kini harus siap menanggung konsekuensi besar akibat pengakuannya yang memicu masalah rumit.
Sampul Novel As Your Command
8.2
Demi wasiat sang ayah, Kenneth mendedikasikan hidupnya untuk mematuhi setiap perintah Kania. Sejak sekolah hingga bekerja, ia bertindak layaknya robot dingin tanpa emosi. Namun, Kania tidak menyerah dan terus berusaha mendobrak dinding pertahanan Kenneth. Ketika tuntutan sang majikan perlahan berubah menjadi lebih berani dan intim, Kenneth akhirnya menyadari bahwa pengabdian setianya kini telah bertransformasi menjadi benih cinta yang nyata.
Sampul Novel Belenggu Hasrat Tuan Muda Adalrich
8.9
Hans, penerus takhta Adalrich yang terlihat sempurna, sebenarnya memendam trauma mendalam terhadap wanita. Untuk menyembunyikan rasa jijiknya, ia selalu berlagak sombong dan dingin. Namun, dinding pertahanannya runtuh sejak berjumpa Sashenka, anak dari musuh bebuyutan bisnisnya. Sosok gadis tersebut rupanya sanggup menyalakan kembali gairah Hans yang telah lama padam. Di tengah sengitnya konflik keluarga, Hans kini harus berjuang keras demi mendapatkan cinta Sashenka.
Sampul Novel CINTA MASA MUDA (YOUNG LOVE)
8.8
Hubungan asmara sepasang mahasiswa yang awalnya intim dan penuh gairah perlahan berubah menjadi obsesi beracun akibat sikap posesif serta pengkhianatan sang pria. Merasa terkekang, sang wanita bertekad melepaskan diri dari cinta pertamanya itu demi menemukan kembali jati diri dan kemandiriannya. Sarat adegan dewasa, kisah ini menggambarkan perjuangan batin yang emosional untuk bebas dari ketergantungan cinta yang menyakitkan.
Sampul Novel Cinta yang Kukira Abadi, Ternyata Ilusi
8.2
Tiga belas tahun mendampingi sang suami dari masa sekolah hingga pernikahan membuat Valen rela melepas hubungan dengan keluarganya demi memberikan sebuah perusahaan yang telah go public. Namun, ilusi pernikahan bahagia itu hancur saat sebuah buku catatan usang dari laci rahasia mengungkap kebenaran yang mengejutkan. Tulisan di dalamnya menegaskan kebencian mendalam sang suami kepadanya. Menyadari cinta tulusnya selama ini bertepuk sebelah tangan, Valen kini mempertanyakan kelanjutan rumah tangga mereka sekaligus masa depan perusahaan yang telah ia perjuangkan.