APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sedingin Es

Sedingin Es

Sejak sang ayah pergi demi wanita lain, Tisa menutup rapat hatinya dan memandang cinta sebagai sumber penderitaan. Trauma mendalam ini membuatnya dikenal sangat dingin dan tidak tersentuh. Namun, sikap apatis tersebut justru memicu rasa penasaran Langga, seorang playboy kampus yang terbiasa mendapatkan apa saja. Meski terus diabaikan oleh Tisa, Langga pantang menyerah. Akankah kegigihan cowok itu mampu meruntuhkan tembok pertahanan Tisa?
Bab
Bagikan

Bab 3

Bab 3 Langga

"Hei ngelamun aja, pulang kuliah hangout yuk. Gue perhatiin sejak lu putus sama Dion muka lu gak ada seger-segernya bikin jengah gue lihatnya." Pagi-pagi dah nyerocos aja ni anak, batin Tisa.

"Lu jalan sendiri aja ya, gue lagi males," jawab Tisa malas-malasan.

"Ya... Gak seru dong." Memasang wajah cemberut membuat pipi tembemnya jadi semakin tembem bikin gemes.

"Tar gue kenalin sama cowok temen kakak gue, kalau lu sedih gue yang susah. Mau ya?" buruknya lagi.

"Gak ah, gue lagi gak mau berurusan sama cowok," jawabnya dengan muka jutek.

"Belum bisa move on sama Dion? " tanya Clara ingin tahu.

"Rasa sakit itu masih membekas dan meninggalkan luka dalam. Dikhianati oleh orang-orang yang gue cintai, Papa dan Dion." Menatap kosong ke langit-langit kelas. Sebulir cairan bening jatuh di pipinya, segara Tisa mengusapnya.

"Maaf, gue cuma gak ingin sahabat baik gue sedih berlarut-larut." Dielusnya punggung Tisa lembut memberikan rasa nyaman.

"Gue udah move on dari Dion, saat ini gue ingin sendiri dulu. Lu sahabat gue pasti lu ngerti yang gue rasakan saat ini. Cowok di mata gue sekarang hanya akan membawa petaka dalam hidup gue. Jadi gue harap lu gak usah repot-repot nyariin gue cowok pengganti." Perkataan Tisa disambut anggukan Clara dan janji pada dirinya sendiri untuk selalu menemani Tisa menjadi sahabat yang baik untuknya.

"Iya gue ngerti, gue akan selalu ada untuk lu. Kalau butuh gue, kapanpun gue siap. Jangan sedih lagi ya? Yuk bisa yuk! " Mengangkat kedua tangan Tisa ke atas memberinya semangat.

"Your life must go on!" lanjutnya.

Tisa tersenyum, tingkah sahabatnya sejenak membuatnya terhibur.

"Nah gitu dong!" Ikut senang melihat Tisa tersenyum.

"Kantin yuk, laper gue," ajak Clara.

Tisa mengangguk mengiyakan ajakan Clara, tadi di rumah belum sarapan. Tanpa sengaja netranya melihat Dion di sudut kantin sendirian. Ke mana Cintya? Kenapa Dion tidak bersamanya? Tisa menghentikan langkahnya menarik tangan Clara. Reflek Clara berhenti dan mengikuti ke mana arah mata Tisa. Rupanya si b******k ada di sini. Dialihkan pandangan ke Tisa yang masih menatap Dion. Sepertinya masih sulit baginya melupakan laki-laki itu. Menepuk bahu Tisa pelan, "cabut yuk, cari tempat lain! " Menarik paksa tangan Tisa melangkah keluar dari kantin. Terlambat, Dion sudah melihatnya.

"Tisa, tunggu! " teriak Dion melambaikan tangan ke arah Tisa.

"Jangan hiraukan Dion, ayuk pergi dari sini! " ajak Clara menarik paksa tangan Tisa. Tisa diam tak bergeming, menunggu apa yang akan Dion lakukan kepada dirinya. Clara mengendurkan tangannya mengikuti kemauan Tisa. Awas kalau macam-macam, ancam Clara dalam hati.

"Tisa, sudah tak adalah kesempatan bagiku untuk menjelaskan semuanya? Apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku dan Cintya... " menggantung kalimatnya menunggu reaksi Tisa. Clara yang melihat Tisa diam saja mengambil alih suasana.

"Sudahlah Dion, jangan menambah luka lagi. Lebih baik pergi dan jangan sekali-kali menganggu Tisa lagi. Ayuk Tisa kita pergi, tak baik berlama-lama di depan laki-laki b******k ini." Dengan tangan mengepal matanya menatap tajam ke arah Dion yang masih berdiri di depan Tisa.

"Clara, please jangan ikut campur urusan aku sama Tisa. Biar aku bicara sama Tisa." Melotot ke arah Clara.

Dion menarik tangan Tisa secara bersamaan Clara melakukan hal yang sama. Tarik menarik tak bisa dihindari, Tisa meringis kesakitan.

"Dion, cukup! Lepaskan tanganku. Mulai saat ini kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jangan muncul di depanku lagi." Tisa ikut bersuara. Membalikkan badan melangkah pergi meninggalkan Dion. Baru beberapa langkah, tangannya ditarik Dion dari belakang, "Tisa, please beri aku kesempatan sekali lagi," rengek Dion. Ditepisnya tangan Dion, dengan langkah mantap ditinggalkannya Dion yang masih terpaku di tempatnya. Tisa sudah berubah, batin Dion.

Berjalan tergesa-gesa, amarah dan kebencian masih menguasai dirinya. Tak sengaja menubruk seorang cowok yang berjalan berlawanan arah dengannya. Jatuh tersungkur, "auw," rintihnya lirih.

Sebuah tangan terulur di depannya, dengan ragu Tisa menerima uluran tangannya dan mencoba berdiri.

"Makasih," ucapnya ke si pemilik tangan.

"Langga"

"Tisa"

Buru-buru Tisa menarik tangan Clara menjauh pergi dari laki-laki tampan di depannya.

***

"Bukankah tadi gadis yang di dalam foto tempo hari ya? " tanya Leo setelah mereka duduk di kantin.

"Benar. Tisa, cantik namanya seperti sang pemiliknya, " gumam Langga lirih.

"Gue gak salah dengar? Jangan-jangan lu suka ya sama tu cewek? " tanya Leo menebak isi hati sahabatnya. Tidak ada dalam kamusnya melihat Langga begitu mengagumi seorang gadis seperti ini.

"Menurut lu gimana?" tanya Langga meminta pendapat Leo.

"Sepertinya dia bukan gadis biasa, jangan bermain-main dengannya seperti yang sering kamu lakukan ke mantan-mantanmu," ucap Leo memberi peringatan.

"Sepertinya aku telah jatuh cinta sama dia," gumam Langga hampir tak terdengar di telinga Leo.

"Gue harap ini yang terakhir, jadilah pria dewasa mengerti akan makna cinta. Gue selalu dukung lu selama lu mau berubah." Kali ini Leo benar-benar berharap Langga menanggalkan cap playboy dan menjadi pria dewasa yang bertanggung-jawab.

"Tugas lu bantu gue buat ngedapetin tu cewek." Menatap Leo penuh harap.

"Ok, tenang saja. Gue pasti bantuin elu," jawab Leo penuh semangat. Dia ikut senang sahabatnya mau berubah.

" Ah, sial, kenapa tadi gak minta nomor kontaknya ya? " gerutu Langga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Iya juga ya, biasanya lu gerak cepat," timpal Leo.

"Saking senengnya gue bisa ketemu dia sampai lupa bertukar kontak," jawab Langga menyalahkan diri sendiri.

"Kalau dia di Fakultas yang sama tak sulit mencari keberadaannya." Jawaban Leo sedikit menenangkan hatinya yang gusar.

"Semoga lu beruntung," lanjutnya.

"Kamu memang sahabat gue yang paling baik," puji Langga.

"Gue makan dulu ya, dah laper ni dari tadi mana belum sarapan juga gara-gara lu jemput gue kepagian, " gerutu Leo.

"Punya gue tu sekalian dimakan, gue lagi tak berselera." Disodorkannya sepiring nasi goreng ke depan Leo.

"Thanks bro, tau aja gue masih laper. " Pantang nolak rejeki dilahapnya juga sepiring nasi goreng Langga. Tersenyum Langga melihat tingkah sahabatnya, dari dulu gak ada yang berubah. Beruntung gue punya sahabat seperti dia. Yang diperhatikan jadi salah tingkah.

"Uhuk... Uhuk... "

"Pelan-pelan aja makannya, santai saja. Gue masih di sini kok. Nih minum dulu!" Diberikannya sebotol air mineral dingin kepada Leo yang masih terbatuk-batuk.

"Makasih," jawab Leo sambil membuka tutup botol dan meminumnya segera sampai habis tak bersisa.

"Cabut yuk, keduluan dosen alamat kita gak bisa masuk kelas." Ajak Langga mengingatkan dosen yang ini sangat disiplin, telat semenit pun tetap tidak diijinkan masuk kelas.

Leo buru-buru merapikan kemejanya, menarik kursi ke belakang berjalan mensejajari langkah Langga yang tergesa-gesa.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku yang Dinikahi, Selingkuhannya yang Dimanja
9.6
Hari pernikahan berubah kacau saat cinta pertama sang suami datang memakai gaun pengantin yang sama. Alih-alih marah melihat mereka menyambut tamu bersama, sang istri justru memuji keserasian mereka. Hal ini membuat wanita itu menangis lalu kabur, hingga sang suami memaki istrinya pelit. Setelah pesta usai, sang suami malah membawa cinta pertamanya pergi bulan madu. Tanpa memicu keributan, sang istri langsung mengambil keputusan dingin untuk menjadwalkan aborsi.
Sampul Novel Anak Milik CEO
8.8
Pertemuan tak terduga di lift kantor membuat seorang wanita membeku saat berhadapan lagi dengan Davero. Suasana seketika mencekam ketika sang CEO tampan mengurungnya di dinding dengan tatapan tajam mendominasi. Meski wanita itu didera rasa takut dan gugup, Davero dengan suara serak menegaskan tak akan melepaskannya lagi. Sebuah klaim penuh ancaman pun terucap, menegaskan bahwa kini ia telah menjadi milik sang CEO sepenuhnya tanpa bisa menghindar.
Sampul Novel Benih Cinta Romantis di IKN
9.1
Di tengah megahnya proyek IKN, takdir mempertemukan Aiden, seorang arsitek ambisius, dengan Clara, aktivis lingkungan yang idealis. Perbedaan pandangan sempat memicu ketegangan, namun kolaborasi dalam konsep pembangunan hijau perlahan menumbuhkan benih cinta. Saat konflik prinsip dan godaan karier di luar negeri menguji komitmen mereka, keputusan besar harus diambil. Pada akhirnya, keduanya memilih bertahan di ibu kota baru demi menjaga cinta dan impian hijau mereka.
Sampul Novel Bukan Perawan Kesayangan Tuan-tuan Gigolo
9.6
Jagat raya dikejutkan oleh aksi para gigolo kaya nan rupawan yang memperebutkan kasih sayang seorang gadis desa yang serba kekurangan. Di balik kepolosan wajahnya, perempuan tersebut rupanya seorang pembunuh kejam yang telah melukai mereka. Anehnya, para pria ini malah merasa bangga jika harus tewas di tangan sang gadis. Mengapa mereka justru memuja sosok yang mengancam nyawa tersebut? Inilah kisah cinta penuh laga tentang obsesi luar biasa yang sulit dinalar publik.
Sampul Novel Dikejar Mantan Posesif
9.6
Tujuh tahun lalu, Farel Zay Amanta menghilang tiba-tiba dari kehidupan Refa Aletta Zafana tanpa penjelasan, meninggalkan kepedihan yang mendalam. Kini, Farel mendadak muncul kembali dengan sikap protektif yang sangat posesif. Mengabaikan misteri masa lalu mereka yang belum terselesaikan, sejak pertemuan pertama setelah sekian lama berpisah, Farel langsung menuntut dengan tegas agar Refa bersedia menikahinya saat itu juga.
Sampul Novel Love By Accident
7.9
Satu kekhilafan fatal di masa lalu membuat Liz mengandung anak Caden, pria asing yang belum pernah ia kenal. Caden yang tidak mengetahui fakta sebenarnya justru sangat membenci Liz dan menuduhnya sengaja menjebak demi keuntungan pribadi. Bertahun-tahun terpisah tanpa komunikasi, takdir tak terduga mempertemukan mereka kembali. Kini, rahasia besar dan luka lama yang belum sembuh mulai membayangi hubungan mereka lagi.