
Seandainya Waktu Bisa Kembali
Bab 4
“Kak Andrew, ayo kita mulai lagi dari awal. Anggap saja kau nggak pernah menikah, dan aku nggak pernah mengkhianatimu. Aku sungguh mencintaimu.”
Lolly melihat wajah Andrew semakin tegang, maka nada suaranya melunak.
Dalam hal membujuk Andrew, Lolly memang ahli. Dan Andrew, seperti biasa, selalu luluh olehnya.
Sementara aku? Saat Andrew marah, sekalipun aku berusaha mati-matian, dia bahkan tak sudi memberiku seulas senyuman.
Cinta dan ketidakcintaan begitu jelas, tapi aku justru sebodoh itu dan baru menyadarinya setelah aku mati.
Pria yang selalu dingin padaku, di hadapan wanita lain bisa begitu lembut. Batasannya bisa ia turunkan berkali-kali hanya demi Lolly.
Hatiku penuh dengan luka yang menyakitkan. Tapi sekarang, aku tak lagi peduli bagaimana Lolly memfitnahku atau seberapa besar kebencian Andrew terhadapku.
“Kau baru saja keluar dari rumah sakit. Lebih baik kau istirahat lebih awal,” katanya.
Andrew mendorong Lolly menjauh. Dia tak langsung menjawab pertanyaannya, hanya berbalik dan pergi begitu saja.
Begitu Andrew menghilang di ambang pintu, Lolly menghentakkan kakinya kesal.
Sementara itu, Andrew sudah sampai di lantai bawah. Dia mendongak, menatap balkon rumah kami yang gelap gulita.
Dulu, aku selalu meninggalkan satu lampu untuknya. Tak peduli seberapa larut dia pulang, lampu itu selalu menyinari langkah kakinya.
Andrew tertegun sejenak.
Saat tiba di rumah, dia membuka pintu. Rumah yang tak dihuni selama lebih dari sebulan itu terasa dingin dan sunyi. Dia mengernyitkan dahi.
“Laura, sampai kapan kau akan bersikap kekanak-kanakan seperti ini? Aku hanya menggugatmu ke pengadilan, itu saja. Kalau bukan karena kesalahanmu pada Lolly, aku nggak akan memperlakukanmu seperti itu.”
Andrew berteriak ke arah kamar, suaranya penuh kebencian dan keluhan.
Aku mengikuti di belakangnya, hanya tertawa dingin.
Lima tahun kebersamaan, ternyata tak sebanding dengan beberapa kata dari orang lain.
Untung aku sudah mati. Kalau tidak, hari-hari seperti ini pasti akan terus berlanjut.
Hari ini, Andrew bisa mengambil nyawaku demi Lolly.
Siapa yang tahu, besok dia akan melakukan apa lagi?
Andrew mencari-cari aku di seluruh rumah.
Di atas meja, masih ada hidangan yang kusiapkan sebelum pergi ke rumah sakit. Namun, semuanya sudah berjamur, tak lagi bisa dikenali bentuk aslinya.
Hari itu seharusnya menjadi peringatan lima tahun pernikahan kami. Aku menunggu dan terus menunggu, tapi yang datang justru surat perintah eksekusi dari pengadilan.
Aku tak perlu bertanya. Aku tahu, pada hari yang seharusnya menjadi milik kami, Andrew pasti sedang menemani Lolly, menenangkannya menjelang kelahiran hidup barunya.
Lolly takut operasi, dan Andrew akan menggenggam tangannya erat, meyakinkannya agar tak takut.
Sementara aku? Aku menghadapi kematian. Saat aku paling membutuhkannya, Andrew malah berharap orang lain yang bisa bertahan hidup.
Andrew mengerutkan kening, menatap meja makan yang berantakan. Lalu, ia mengeluarkan ponselnya dan meneleponku.
Satu kali. Dua kali. Aku bahkan tak tahu sudah berapa kali panggilannya masuk.
Andrew jarang sekeras kepala ini. Atau lebih tepatnya, selama ini, kalau tak ada hal penting, dia tak pernah meneleponku lebih dulu.
Hari ini, dia tampaknya lebih sabar dari biasanya.
Hanya saja, panggilan itu… sudah tak ada lagi yang bisa menjawabnya.
Setelah beberapa kali gagal menelepon, Andrew mengirimiku pesan Whatsapp. Dia langsung mengirim pesan suara dengan nada dingin dan penuh emosi.
“Laura, kau belum puas ngamuk, ya? Lihat rumah ini, sudah berantakan seperti apa? Aku belum sempat menuntut kau, malah kau yang kabur duluan. Aku kasih waktu satu jam! Kalau kau nggak pulang, kita cerai!”
Cerai?
Bagus sekali.
Seandainya dulu Andrew mengatakan ini padaku, mungkin aku akan langsung menyetujuinya. Dengan begitu, aku tak perlu berakhir seperti ini.
Tak lama, ponsel Andrew bergetar. Ekspresinya langsung berubah, matanya tampak berbinar. Namun, saat melihat siapa pengirimnya, Lolly. Sorot matanya seketika meredup.
Aku tak tahu… apakah itu hanya perasaanku saja.
[Kak Andrew, aku ketinggalan sesuatu di rumah sakit. Bisa tolong ambilkan untukku?]
Andrew dengan cepat membalas.
[Oke].
Saat mengenakan jaketnya, dia sempat berhenti sejenak di depan pintu. Menoleh ke dalam rumah, sorot matanya sulit diartikan.
Aku hanya bisa tersenyum pahit.
Sekarang sudah larut malam, tapi Andrew tetap bergegas untuk Lolly. Dulu, saat aku terbangun di tengah malam karena sakit perut dan memintanya mengantarku ke rumah sakit, dia malah menggerutu soal jarak yang terlalu jauh.
Tapi sekarang? Rumah sakit itu tak terasa jauh lagi, ya?
Andrew mengendarai mobil menuju rumah sakit dan langsung ke kamar tempat Lolly sebelumnya dirawat. Namun, begitu tiba, dia malah berpapasan dengan seorang perawat.
Aku mengenal perawat itu.
Dia ada di sana saat operasi berlangsung. Dia juga menyaksikan siaran langsung persidanganku di TV dan tampaknya cukup bersimpati padaku.
Begitu melihat Andrew, perawat itu mendengus kecil, lalu tersenyum mengejek.
“Kenapa? Baru sekarang kau ingat istrimu yang mati di meja operasi?”
Langkah Andrew terhenti. Dia menatap perawat itu dengan mata penuh ketidakpercayaan.
“Apa yang kau katakan? Siapa yang mati?”
Perawat itu menatapnya seperti melihat orang bodoh.
“Istrimu, Laura! Aku benar-benar nggak ngerti gimana kau bisa disebut sebagai suami. Istrimu mengalami gagal ginjal, dan kau masih memaksanya untuk mendonorkan ginjal? Bukankah itu sama saja membunuhnya?”
Anda Mungkin Juga Suka





