
Seandainya Waktu Bisa Kembali
Bab 2
Setelah Andrew dan Lolly masuk ke dalam kamar rawat, Ethan berlari masuk dari luar, melewati Andrew tanpa sempat menghentikannya.
Dengan tangan gemetar, Ethan meraih tanganku yang sudah membeku. Suaranya bergetar dan penuh dengan kepedihan.
Dia ingin mengusap rambutku, namun saat ujung jarinya menyentuh dahiku yang sedingin es, air matanya mengalir begitu saja, jatuh tanpa bisa ia tahan.
“Bodoh… Andai saja dulu kau mau menikah denganku, kau nggak akan berakhir seperti ini… Bahkan setelah mati pun, nggak ada yang peduli padamu.”
Melihat Ethan yang datang dengan napas tersengal dan wajah penuh debu perjalanan, hidungku terasa sedikit perih. Sepertinya dia baru saja kembali dari luar kota.
Sejak aku menikah, Ethan memang meninggalkan kota ini. Saat itu, alasan yang ia berikan kepadaku sederhana, Andrew tak akan pernah membiarkan keberadaannya, dan dia juga tak ingin membawa masalah padaku. Pergi adalah pilihan terbaik.
Aku adalah seorang yatim piatu. Saat berusia tujuh tahun, Keluarga Baskoro mengadopsiku, dan Ethan menjadi kakak angkatku.
Awalnya, dia tidak terlalu menyukaiku. Tapi seiring waktu berlalu, perlahan, sikapnya terhadapku berubah. Dia semakin baik… semakin peduli.
Dulu, aku memutus hubungan dengan orang tua angkatku demi Andrew. Alasannya sangat sederhana yaitu mereka ingin aku menikah dengan keluarga kaya. Aku tahu sejak awal bahwa mereka mengadopsiku bukan karena menyayangiku, melainkan hanya untuk dijadikan alat pernikahan politik.
Ethan membantuku melarikan diri dari Keluarga Baskoro.
Perasaan Ethan padaku? Aku sudah mengetahuinya sejak lama.
Namun dibandingkan menikahi Andrew, aku justru lebih tidak mungkin menikahi Ethan. Setidaknya, orang tua angkatku pasti tak akan pernah mengizinkannya.
Ethan membawa pergi jasadku, membawaku menjauh dari tempat ini.
Sementara itu, di saat yang sama, Andrew baru saja melangkah keluar dari rumah sakit untuk membeli makanan bagi Lolly.
Hanya karena Lolly tiba-tiba berkata bahwa dia ingin makan kue dari toko yang berjarak tiga puluh mil dari sini, Andrew tanpa ragu langsung beranjak pergi.
Dulu, aku hanya ingin makan onigiri dari toko di lantai bawah dan meminta Andrew membawakannya sepulang kerja. Namun, bahkan untuk sekedar berbelok sebentar, dia enggan melakukannya.
Saat Ethan dan Andrew berpapasan di pintu rumah sakit, tubuhku sudah tertutup kain putih.
Tatapan mereka bertemu. Andrew mengenali Ethan.
“Minggir.”
Nada suara Ethan tak ramah, dan itu wajar. Bagaimana mungkin dia bersikap sopan kepada orang yang telah membunuhku?
Andrew menatapnya dengan ekspresi rumit, lalu melangkah mundur selangkah. Bagaimanapun juga, orang yang sudah mati patut dihormati.
Namun, saat Ethan hendak berbalik, tatapan Andrew tanpa sadar jatuh pada pergelangan kakiku.
“Tunggu!”
Andrew tampak seperti baru teringat sesuatu. Dia buru-buru mengejar Ethan.
“Orang yang meninggal itu… siapa dia bagimu?”
Aku langsung menahan napas. Aku takut Ethan akan langsung mengungkapkan bahwa akulah yang telah meninggal. Tapi di sisi lain, aku juga takut dia tidak mengatakannya.
Bagaimanapun, aku ingin tahu bagaimana reaksi Andrew setelah mengetahui kematianku.
Ethan terdiam cukup lama sebelum akhirnya membuka mulut.
“Dia istriku.”
Aku terkejut. Andrew juga membeku di tempat.
Andrew tahu semua tentang keadaanku, termasuk fakta bahwa Ethan menyukaiku.
“Kapan kalian menikah?”
Andrew refleks melontarkan pertanyaan itu. Namun, begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, dia sendiri pun tampak terkejut.
Ethan menanggapi dengan tawa dingin, balasannya pun tidak sopan sama sekali.
“Menurutku, ini bukan urusanmu, bukan?”
Andrew terdiam sejenak, lalu tersenyum sinis.
“Dulu kau selalu bilang mencintai Laura. Aku lihat kau juga sama saja.”
Langkah Ethan yang sudah hendak pergi tiba-tiba terhenti. Dia menoleh ke arah Andrew, hanya menyisakan satu kalimat sebelum benar-benar pergi.
“Setidaknya, aku masih lebih baik dari kau.”
Sindiran yang begitu gamblang, aku yakin Andrew pasti mengerti maksudnya.
Aku mengikuti Ethan pergi. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, aku menoleh sekali lagi ke arah Andrew.
Entah kenapa, aku merasa aku tak lagi mencintainya seperti dulu.
Anda Mungkin Juga Suka





