APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Saving My Two Sons Mentally

Saving My Two Sons Mentally

Seorang ibu mengambil langkah berani untuk bercerai demi melindungi masa depan kedua putranya. Kini, ia harus berjuang sendirian menghadapi kerasnya realitas kehidupan. Tanpa kenal lelah, dirinya bekerja keras dari pagi hingga malam demi memenuhi kebutuhan harian serta biaya sekolah buah hatinya. Kisah menyentuh ini menyoroti perjuangan dan pengorbanan luar biasa seorang wanita yang rela melakukan apa saja demi memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak tercintanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Indra yang mendengar suara Riana hanya mengedikkan bahu tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel. Riana yang kesal pun langsung menggendong Faaz.

"Sayang, cup-cup. Kenapa anak ibu nangis terus, hmm? Sabar ya, Nak. Faaz haus ya? Ikut ke dapur dulu yuk, liat ibu cuci piring."

Faaz mulai tenang saat di dekap oleh tubuh Riana, dan hal itu membuat kedua sudut bibir Riana tertarik keatas begitu saja. Riana senang karena anaknya sudah mulai anteng lagi.

Riana yang ingat akan tugasnya, langsung bergegas melangkah kembali ke dapur untuk melanjutkan mencuci piring. Posisinya yang masih menggendong Faaz, sama sekali tak membuatnya merasa kesulitan. Justru hatinya terasa tenang karena Faaz tidak rewel lagi.

Tak terasa akhirnya Riana telah menyelesaikan mencuci semua piring dan perkakas yang kotor. Riana segera melangkahkan kakinya menuju ke kamar dan akan meletakkan Faaz di atas ranjang. Akan tetapi ternyata Indra, yang berada di ruang televisi pun menoleh saat menyadari kehadiran Riana. "Udah selesai?" tanya Indra.

"Belum. Aku mau nyusuin Faaz dulu, kasihan Faaz nya kehausan," jawab Riana dengan hati yang mulai berdegup kencang, lalu Riana meletakkan Faaz di ranjang.

Indra yang mendengar jawaban Riana pun langsung naik pitam dan bangkit menghampiri Riana dengan tatapan tajamnya. "Kenapa gak di selesaikan dulu! Faaz biar disini, daripada ganggu kinerja kamu. Lagian dia juga gak bakalan ke mana-mana. Gak usah khawatir!"

"Gimana aku gak khawatir. Faaz nangis tapi kamu biarin gitu aja, Mas! Aku ini seorang ibu. Aku gak bisa kalau dengar anakku nangis terus menerus. Kamu yang ada di sampingnya justru cuekin Faaz dan pilih mainin hp daripada nenangin anaknya. Padahal Faaz lagi nangis loh, Mas? Apa susahnya sih handphone nya di taruh dulu." Riana mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya.

"Lah tapi kan aku ada di sampingnya, ngapain kamu khawatir?" Indra merasa tak terima dan langsung berdiri untuk mendekati istrinya. "Faaz itu masih kecil, gak bakalan ke mana-mana. Gak ada yang perlu kamu khawatirin dari dia."

"Tapi kan tadi Faaz lagi nangis, Mas. Apa susahnya sih kamu perhatiin dia dulu? Aku tuh yang kerja sampe gak bisa konsentrasi loh, dengar tangisan Faaz terus. Dia juga anak kamu, Mas!"

Plak! Indra menampar Riana hingga tertoleh ke arah samping. "Jangan ngejawab terus bisa gak! Kamu ini semakin lama makin berani dengan suami, ya!"

Riana yang merasakan panas di pipinya pun langsung membalikkan sedikit badannya. Sebuah air mata luruh dan Riana langsung mengusapnya, tidak dia biarkan air mata itu jatuh hingga pipinya.

Cekcok yang selalu dimenangkan oleh Indra pun tak pernah bisa terelakkan. Sudah banyak sekali Riana mengalah, dan kali ini dia harus mengalah kembali.

"Ya udah kalau gitu aku lanjut ke dapur lagi buat nyelesein tugasku dulu. Tolong jagain Faaz."

Tidak ada sahutan dari Indra, dia hanya melirik dari ekor matanya saat Riana melangkahkan kakinya kembali menuju dapur. Riana mengelap kompor. Dia juga tak lupa membilas pakaian yang telah di giling mesin cuci, lalu memasukkannya ke mesin pengering.

Saat Riana baru saja memutar mesin bagian pengering pakaian, kembali dia mendengar suara Faaz menangis. Hal itu membuat Riana semakin tergesa, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Riana mengambilkan sarapan untuk Indra ketika dia telah selesai mandi.

"Ini, Mas, sarapan kamu." Riana menyodorkan piring dan segelas air putih ke meja di depan Indra duduk.

Indra menaruh ponselnya saat jatah sarapannya sudah datang. Riana mengambil Faaz dari sofa, dan langsung menggendongnya kembali.

Melihat Indra yang memakan makanannya dengan lahap sejenak, sebelum akhirnya kembali melangkah pergi menjauh. Faaz pun tidak serewel tadi, hanya saja Riana tak tega dengan putranya yang selalu dicueki oleh ayahnya.

Riana mengambil baju dari mesin pengering sambil menggendong Faaz, lalu dia menjemurnya di luar rumah.

"Maaf ya, Nak. Kamu jadi kurang nyaman gini di gendongnya. Sebentar lagi ya, jemuran ibu tinggal dikit kok." Riana mengelus kepala Faaz.

"Mah, Pah, Riana kangen." Riana melakukan pekerjaannya dengan berderai air mata, rasa sesak menghampiri dadanya. Ia benar-benar sudah tidak tahan menghadapi sikap suaminya yang selalu semena-mena terhadap dirinya dan Faaz.

"Apa lebih baik aku pergi dari rumah ini ya? Terlalu sakit kalau aku terus bertahan dengan suami yang sama sekali tidak menyayangi putranya sendiri."

"Mau ke mana kamu, Riana?"

Bak seorang kancil yang tertangkap basah sedang mencuri, Riana langsung menghentikan aktivitas memasukkan baju dirinya dan Faaz.

Indra jelas bingung dengan sikap Riana yang memasukkan baju-bajunya ke dalam tas. Dia baru saja selesai mandi dan malah mendapati istrinya seperti itu.

"Sampai kapan kamu akan diam? Jawab pertanyaanku," ucap Indra dengan penuh penekanan, seolah memaksa Riana untuk mengungkapkan hal yang jujur.

"Kamu bisa lihat kan Mas, aku lagi ngapain?" Riana kembali melanjutkan memasukkan bajunya ke dalam tas.

"Ya. Aku bisa lihat dengan jelas kok. Tapi, apa alasan kamu sampe masukin baju ke tas segala? Mau liburan?" tanya Indra

"Aku mau pergi dari rumah ini." Bibir Riana bergetar saat mengucapkan kata tersebut, tapi tak ada pilihan lain menurutnya, selain pergi dari rumah. Dia tak ingin jika kesehatan mentalnya dan anaknya akan terganggu karena sikap Indra yang tak pernah bisa sabar dalam menghadapi keduanya.

"Gila kamu ya! Emang udah ada tujuan apa kalau pergi dari rumah ini?"

"Ada lah, aku mau pulang ke rumah orang tua ku."

"Kamu sengaja bikin aku terkesan jelek di mata kedua orang tua mu?"

'Bukannya emang bener ya? Kan memang faktanya sikap kamu itu gak baik terhadap aku dan Faaz. Orang kok gak pernah mau ngakuin kesalahannya,' cibir Riana di dalam hati. Dia masih cukup waras untuk tidak mengeluarkan cibirannya, kecuali jika dia ingin tangan atau wajahnya membiru karena amukan Indra.

Saat Riana baru saja duduk di ranjangnya sambil menata baju ke dalam tas, tiba-tiba dia merasakan kasur di sebelahnya bergerak. Riana refleks langsung melihat ke arah samping, ternyata Indra lah yang duduk di sampingnya.

"Kenapa kamu lihat-lihat?"

"Gak apa-apa. Aneh aja, Mas ngapain duduk di sini." Riana kembali melanjutkan aktivitas memasukkan baju miliknya dan Faaz.

Indra yang sama sekali tidak pernah mengalah pun, kali ini harus menurunkan sedikit egonya untuk membujuk Riana. Indra meneguk ludahnya dengan susah payah, hanya dengan membujuk saja Indra harus berusaha keras.

"Kenapa kamu mau pulang?"

Riana yang mendengar pertanyaan konyol dari bibir suaminya itupun seketika langsung naik darah. Dia tak habis pikir dengan pola pikir Indra yang selalu tak pernah merasa salah kepada siapapun. "Kamu masih nanya kenapa aku mau pulang? Aku capek, Mas! Aku udah gak kuat lagi menghadapi sifat kamu."

"Sifat aku yang gimana? Udah, kamu disini aja. Jangan pulang, aku akan usahakan biar kamu betah tinggal sama aku."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dimadu Saat Koma
9.0
Terbangun dari koma pasca-melahirkan, Inara harus menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya telah berpoligami dan anaknya sendiri bersikap dingin. Di tengah rasa sakit akibat pengkhianatan tersebut, Feri, dokter sekaligus mantan kekasihnya, datang menawarkan kenyamanan. Inara yang terluka akhirnya terjerat dalam hubungan terlarang sebagai wujud balas dendam. Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang hancur atau menyudahinya demi harga diri.
Sampul Novel Istri Lusuhku Jadi CEO, Setelah Aku Ceraikan
9.4
Setelah perceraian yang menyakitkan, Surya tega mengusir Anaya dan mengabaikan anak kandungnya sendiri. Selama tiga belas tahun, ia menghilang tanpa memberi nafkah atau mencari tahu kabar mereka. Namun, sebuah desakan hidup yang mendesak akhirnya memaksa Surya untuk melacak keberadaan anak-anaknya kembali. Ketika pencariannya berhasil, ia justru dihadapkan pada kenyataan mengejutkan bahwa nasib mantan istri dan buah hatinya kini telah berubah drastis di luar perkiraannya.
Sampul Novel MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMIKU
7.9
Kehidupan pernikahan Amira hancur seketika saat perselingkuhan suaminya, Bagas, terungkap. Selama ini, wanita berusia 26 tahun tersebut selalu patuh dan setia mendampingi sang suami tanpa pernah mengeluh. Meski dikhianati dan terluka sangat dalam, Amira menolak untuk menjadi korban yang lemah. Ia mulai merancang strategi matang untuk membalas rasa sakit hatinya. Mampukah Amira melewati rintangan berat ini? Ikuti kisah perjuangannya menuntut keadilan atas pengkhianatan Bagas.
Sampul Novel Mr. Parasite
9.6
Sherly Violeta Dunn tak bisa menghindari takdir yang terus mempertemukannya dengan Dean Austin J, seorang gelandangan berpenampilan kacau. Rasa iba membuat Sherly, yang memang sulit menolak permohonan orang lain, nekat menolong dan membawa pria bertubuh kekar itu tinggal di rumahnya. Keputusan ini menjadi awal baru bagi Dean. Ia kini resmi menyusup ke dalam hidup Sherly, siap memanfaatkan kebaikan hati sang gadis demi bisa terus bertahan hidup di dekatnya.
Sampul Novel PULANG KAMPUNG
9.4
Demi merawat sang ibu yang lanjut usia, Ningrum dan Huda memilih kembali ke desa. Sayangnya, niat mulia ini disambut cibiran warga setempat yang meremehkan mereka karena hanya menaiki motor tua. Padahal, pasangan ini merupakan pemilik showroom mobil sukses di Jakarta. Di tengah terjangan fitnah dan sikap skeptis orang-orang, sanggupkah mereka bertahan dengan kesabaran sekaligus membuktikan kenyataan yang sebenarnya?
Sampul Novel Putrinya, Kesalahannya
9.0
Lima tahun menghilang, Austin Rogers kembali membawa anak haram bangsawan. Demi meredam amarah Ratu Slaka akibat putrinya terluka, Austin dan Rosita tega mengurung Joanna di ruang uap penuh lintah. Mereka menuduhku cemburu dan ingin merusak kesuksesan mereka. Namun, skenario kejam ini akan menjadi bumerang. Austin tidak sadar bahwa anak yang disiksa di sana bukanlah putriku. Kini, sebuah pembalasan yang mematikan siap menghancurkan mereka.