APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Satu Talak Seribu Luka

Satu Talak Seribu Luka

Setahun menjalani pernikahan hampa, Aurelia Shanum langsung diceraikan Damian Revan Alveric begitu ayah mertuanya tiada. Dua tahun berlalu, kini Aurelia telah bangkit menjadi perempuan mandiri yang sukses memimpin bisnis EO pernikahannya sendiri. Namun, takdir mempertemukan mereka kembali lewat cara yang tak terduga. Damian mendadak datang sebagai klien baru yang meminta Aurelia merancang hari bahagianya. Kini, ia dituntut profesional di hadapan mantan suami yang dahulu telah mematahkan hatinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu, cahaya matahari menembus tirai jendela kantor Étoile Weddings, memantul lembut di lantai kayu dan meja kaca yang tertata rapi. Aurelia duduk di kursi, menatap dokumen-dokumen konsep pernikahan yang tertata di depannya. Tangannya menatap sekilas, tapi pikirannya jauh melayang ke pertemuan kemarin.

Satu hal yang tidak bisa ia hapus dari ingatannya: tatapan Damian Revan Alveric-tajam, menembus, dan misterius. Ia mencoba menyangkal perasaan yang dulu pernah membekap hatinya, tapi kenyataannya ia masih merasakan denyut yang sama-marah, sakit, dan sedikit takut.

Tiba-tiba telepon kantornya berdering. Layar menampilkan nama yang membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

"Étoile Weddings, Aurelia berbicara," ujarnya, mencoba terdengar tenang.

"Riel," suara Damian terdengar jelas di ujung telepon. Suaranya tetap rendah, terdengar serius. "Aku ingin membahas konsep dekorasi pernikahan... secara pribadi. Bisa bertemu hari ini?"

Aurelia menahan napas. Ada rasa ragu, tapi ia tidak bisa menolak. Profesionalisme tetap harus dijaga.

"Baik, Tuan Alveric. Aku bisa menyesuaikan jadwal. Apakah di kantorku?"

"Ya. Aku datang sekitar jam dua siang," jawab Damian, sebelum menutup telepon.

Aurelia menghela napas. Dua tahun berlalu, tapi sepertinya takdir memang sengaja menempatkan mereka di jalur yang sama, berulang kali.

Jam dua siang, dentingan bel pintu menandakan kedatangan seorang tamu. Aurelia menatap pintu ketika Damian melangkah masuk, rapi dengan jas hitam klasik, rambutnya tersisir rapi ke belakang. Aura maskulinnya masih sama kuat seperti dulu-membuat siapa pun yang berada di dekatnya sulit mengalihkan pandangan.

"Selamat siang, Tuan Alveric," sapanya dengan sopan, menahan denyut panik yang mulai menggelitik dadanya.

"Selamat siang, Aurelia," Damian membalas dengan nada dingin namun tidak menyinggung, lalu melangkah masuk ke ruang kerja.

Senyuman profesional tetap menghiasi wajah Aurelia, tapi hatinya waspada. "Silakan duduk. Aku sudah menyiapkan beberapa konsep dekorasi untuk pernikahan Anda dan Nona Montel."

Damian duduk, menatap dokumen-dokumen yang ia taruh di meja. Matanya berhenti pada satu konsep floral arrangement yang Aurelia desain khusus dengan dominasi warna putih dan peach. Ia menatap Aurelia, menunggu reaksinya.

"Kau melakukan ini... dengan cukup baik," katanya pelan, menatap lurus ke matanya.

Aurelia menelan ludah. "Terima kasih, Tuan Alveric. Tapi saya rasa kita harus fokus pada konsep, bukan komentar pribadi." Suaranya terdengar tegas, menahan amarah yang tiba-tiba muncul.

Damian mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Riel... kenapa kau terlihat begitu dingin padaku? Dua tahun lalu kau menatapku dengan mata penuh amarah dan sakit hati, tapi sekarang... seolah kau tak pernah peduli."

Aurelia menahan napas. Suara Damian seakan menyentuh luka yang belum benar-benar sembuh. "Aku profesional. Aku di sini bukan untuk membahas masa lalu. Aku di sini untuk bekerja."

"Tapi... aku ingin tahu," Damian melanjutkan, suaranya berubah sedikit lebih lembut, namun tetap tegas, "apa kau benar-benar baik-baik saja setelah semua ini?"

Aurelia menatap lurus ke arahnya, menolak meneteskan air mata. "Aku lebih dari baik. Aku bahkan... lebih kuat dari yang kau kira." Suaranya kini dingin, tapi setiap kata dipilih dengan hati-hati.

Damian menarik napas panjang, menundukkan kepala sejenak, lalu menatapnya lagi. "Riel... dulu aku salah. Aku terlalu egois, terlalu sibuk dengan dunia dan diriku sendiri sehingga aku... melupakanmu. Tapi kau..." Matanya berkaca-kaca sekejap, tapi cepat ditutupi. "Kau... luar biasa. Dua tahun ini kau berubah banyak, tapi aku tidak yakin aku siap melihatmu seperti ini."

Aurelia menatap tajam. "Lalu kenapa kau harus muncul di hidupku lagi? Kenapa harus datang ke kantorku, menjadi klienku, menatapku seolah tak ada masa lalu?"

Damian diam sejenak, lalu dengan suara pelan tapi mantap, "Karena aku ingin melihatmu... tanpa topeng itu. Aku ingin tahu, apa kau benar-benar bahagia, atau kau hanya pura-pura di depan semua orang?"

Aurelia merasakan darahnya memanas. "Aku tidak perlu kau menilai kebahagiaanku. Aku hidup untuk diriku sendiri sekarang. Jika kau di sini untuk menilai atau menyakiti lagi, lebih baik kau pergi."

Damian menghela napas, wajahnya menegang. "Riel... aku tidak di sini untuk menyakiti. Tapi aku juga tidak bisa pura-pura tidak peduli."

Mereka terdiam beberapa saat, udara di antara mereka tegang. Kedua hati yang pernah rapuh kini saling berhadapan, menahan emosi yang belum pernah benar-benar reda. Aurelia memandang Damian, menimbang kata-kata sebelum melanjutkan.

"Baiklah. Jika kau ingin bicara soal konsep pernikahan, mari kita bicarakan. Tapi jangan bawa masalah pribadi ke sini. Ini bukan ruang untuk itu," tegas Aurelia, mengambil dokumen dan menaruhnya di depan Damian.

Damian menatap dokumen itu, lalu menatap Aurelia lagi, seperti ingin membaca isi hatinya melalui mata. "Baik," katanya akhirnya. "Aku akan fokus pada pekerjaan. Tapi Riel... ingat satu hal. Tidak ada yang benar-benar bisa melupakan masa lalu begitu saja."

Aurelia menelan ludah. "Aku sudah belajar caranya."

Dan dengan itu, mereka mulai membahas setiap detail pernikahan-dari warna bunga, dekorasi meja, layout aula, hingga tema keseluruhan. Aurelia tetap profesional, menjelaskan dengan rinci, tetapi setiap kata Damian menimbulkan getaran di hatinya. Kadang ada komentar singkat dari Damian yang membuatnya menahan napas. Kadang ada tatapan penuh arti yang ia tahu bisa memunculkan kenangan lama.

Setelah dua jam, pertemuan itu berakhir. Damian berdiri, menyerahkan dokumen dengan sopan. "Terima kasih, Aurelia. Kau tetap luar biasa seperti dulu."

Aurelia mengangguk, menahan perasaan campur aduk yang tiba-tiba menyerang. "Terima kasih. Aku berharap semua persiapan ini berjalan lancar."

Damian tersenyum tipis, hampir tidak terlihat, lalu meninggalkan ruangan.

Setelah pintu tertutup, Aurelia menegakkan punggungnya, menarik napas panjang. Hatinya berdebar, tapi ia berbisik pada diri sendiri, "Aku kuat. Aku bisa menghadapi ini."

Namun di lubuk hatinya, ia tahu satu hal: kehadiran Damian kembali ke dalam hidupnya bukanlah kebetulan. Dan perang emosional yang selama ini ia hindari... baru saja dimulai.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang hampir sama seperti sebelumnya. Aurelia sibuk dengan klien, vendor, dan timnya yang tak pernah berhenti menuntut kesempurnaan. Tapi kali ini, ada satu hal yang membuat hatinya terusik-Damian.

Sejak pertemuan pribadi mereka di kantor, Damian tampak hadir dalam pikiran Aurelia lebih sering dari yang ia sadari. Ia mencoba mengabaikannya, menyibukkan diri dengan pekerjaan, namun setiap kali ia menerima pesan singkat dari tim Étoile tentang preferensi Damian atau perubahan kecil dalam konsep dekorasi, jantungnya berdegup lebih cepat.

Hingga pada suatu sore, telepon Aurelia berdering. Layar menampilkan nama Damian.

"Selamat sore, Tuan Alveric," sapanya profesional, meski dadanya sedikit bergetar.

"Riel," suara Damian terdengar lembut, nyaris berbeda dari sebelumnya. "Aku baru saja menerima konsep bunga yang kau kirim. Ada satu hal yang ingin aku ubah, tapi aku tidak yakin cara menjelaskannya lewat telepon. Bisakah kau datang ke apartemenku sebentar? Aku ingin meninjau bersama."

Aurelia menatap telepon. Jantungnya berdetak cepat. Ia tahu ini lebih dari sekadar urusan profesional. "Baik, Tuan Alveric. Aku akan datang dalam setengah jam."

Setengah jam kemudian, Aurelia berdiri di depan apartemen Damian, tangannya sedikit gemetar saat menekan bel. Pintu terbuka, dan Damian menyambutnya dengan senyum tipis, berbeda dari dinginnya sebelumnya-ada kehangatan samar di sana.

"Masuklah," ujarnya. "Aku sudah menyiapkan semua konsep di meja ruang tamu."

Aurelia melangkah masuk, tetap menjaga jarak profesional. Namun matanya tak bisa lepas dari Damian. Ada aura yang berbeda-lebih manusiawi, lebih dekat, namun tetap misterius.

"Jadi, bagian bunga ini..." Damian mulai menjelaskan sambil menunjuk dokumen, "aku ingin warna putih sedikit lebih dominan, tapi jangan sampai kehilangan sentuhan peach yang lembut."

Aurelia mengangguk, menatap tata letak bunga dengan mata kritis. "Bisa diubah. Tapi aku harus menyesuaikan vendor, mereka akan butuh beberapa hari untuk memodifikasi pesanan."

Damian menatapnya lama, bukan sekadar tatapan profesional. Ada perhatian yang terselip di sana-perlahan namun nyata. "Aku senang kau yang menanganinya, Riel. Kau selalu tahu apa yang terbaik."

Aurelia menelan ludah. Kata-kata itu terdengar ringan, tapi menggetarkan hatinya lebih dari yang ia mau akui. Ia mengalihkan pandangan ke dokumen. "Itu memang tugasku," jawabnya tegas, menahan denyut yang tiba-tiba muncul di dada.

Namun Damian tidak menyerah. Ia duduk di sofa, menatap Aurelia dari kejauhan. "Riel... kau tahu, aku tidak pernah bilang ini sebelumnya. Tapi dua tahun ini... aku sering memikirkanmu. Bagaimana kau, apa kau baik-baik saja... aku ingin tahu."

Aurelia menatap lurus ke arahnya, menahan air mata yang ingin menetes. "Aku sudah bilang, Tuan Alveric. Aku baik-baik saja. Aku belajar bertahan tanpa peduli pada masa lalu."

Damian mendekat sedikit, suaranya rendah tapi lembut. "Aku tidak ingin kau pura-pura baik-baik saja. Aku ingin melihatmu bahagia-dan jika aku bisa melakukan sesuatu untuk itu, aku ingin melakukannya."

Hati Aurelia bergetar. Kata-kata itu menyentuh sisi lembut yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Ia ingin menatapnya, ingin menangis, ingin mengatakan segala hal yang tak pernah ia ungkapkan. Tapi ia menahan diri. Profesionalisme harus dijaga.

"Terima kasih, Tuan Alveric," katanya akhirnya, suaranya sedikit bergetar. "Tapi kita di sini untuk membahas dekorasi, bukan..." ia berhenti sejenak, "...perasaan."

Damian tersenyum samar. "Aku mengerti. Tapi kadang... kita tidak bisa memisahkan pekerjaan dan perasaan sepenuhnya, Riel."

Aurelia menghela napas panjang, menundukkan kepala. Ia mencoba fokus pada dokumen di depannya, menulis catatan perubahan bunga dan dekorasi, tapi setiap gerakan tangannya terasa berat. Hatinya bergolak.

Damian memandangnya, seolah membaca semua konflik batin yang ia tahan. "Riel, kau tahu... aku tidak ingin mengganggumu. Aku hanya ingin berada di dekatmu, sebentar saja. Melihatmu, berbicara denganmu... tanpa pretensi, tanpa dinding."

Aurelia menatap ke arahnya, sulit menahan rasa campur aduk. Ada kemarahan karena masa lalu yang menyakitkan, ada luka yang belum sembuh, tapi juga... ada rasa rindu yang ia kira telah hilang.

"Damian... ini tidak mudah," bisiknya pelan, hampir terselip di antara desahan napas. "Aku berusaha keras untuk tidak peduli lagi. Aku berusaha keras menjadi profesional. Tapi... kehadiranmu membuat semuanya... kacau."

Damian mengangguk pelan, menundukkan kepala sebentar. "Aku tahu. Aku juga tidak ingin membuatmu kesulitan. Tapi aku tidak bisa berpura-pura bahwa aku tidak peduli, Riel. Aku tidak bisa."

Diam-diam, Aurelia merasakan sesuatu yang lama hilang-kehangatan yang dulu ia rindukan, perhatian yang pernah ia dambakan. Dan kini muncul lagi, di hadapan matanya, dengan cara yang tak terduga.

Mereka terdiam beberapa menit, hanya suara pena menulis catatan Aurelia yang terdengar. Tidak ada yang berani melanjutkan percakapan emosional itu, tapi kehadiran Damian di ruang itu terasa berat dan manis sekaligus.

Saat Aurelia bersiap pergi, Damian berdiri di depan pintu. "Riel... aku harap kau tahu. Aku tidak datang untuk menyulitkanmu. Aku hanya... ingin kau tahu bahwa aku masih ada. Untukmu. Jika kau mau."

Aurelia menatapnya, sulit untuk menolak perasaan yang tiba-tiba muncul. "Aku... aku mengerti. Tapi kita harus tetap profesional, Tuan Alveric. Demi pekerjaan ini, dan demi diriku sendiri."

Damian tersenyum samar, menundukkan kepala. "Baiklah. Profesional. Aku menghormatinya."

Saat Aurelia melangkah keluar, hatinya campur aduk. Ada ketegangan, ada rindu, ada sakit yang tersisa, tapi juga ada harapan samar yang ia tidak ingin akui. Kehadiran Damian bukan lagi sekadar pengingat masa lalu-ia kini menjadi kekacauan yang mengusik ketenangan yang telah ia bangun selama dua tahun.

Dan Aurelia sadar satu hal: kehadiran Damian kembali bukan hanya tentang pekerjaan. Itu adalah awal dari badai emosi yang tak bisa ia hindari.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dibuang Suami Diperistri Tuan Presdir
8.1
Lima tahun pernikahan Zara dan Harry yang semula tenang hancur seketika. Demi melunasi utang raksasanya, Harry tega menjual Zara kepada seorang pria kejam sebagai jaminan. Di tengah penderitaan akibat dijadikan pemuas nafsu, Zara tidak tinggal diam. Ia mulai menyelidiki alasan di balik utang besar suaminya hingga menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Kisah rumah tangga yang penuh pengkhianatan dan konspirasi ini mengandung konten dewasa khusus pembaca cukup umur.
Sampul Novel Ibu Mandul Melahirkan Sextuplets Untuk CEO Panas
8.9
Diceraikan Callan karena dituduh mandul, Amy nekat menghabiskan malam satu kali bersama gigolo sebelum pergi jauh. Enam tahun kemudian, ia kembali sebagai ibu dari enam anak kembar yang lucu. Namun, betapa terkejutnya Amy saat mendapati bos barunya di NorthHill adalah pria dari masa lalunya itu. Kini ia harus menyembunyikan rahasia besar tersebut dari sang CEO berkuasa, yang sebenarnya juga diyakini tidak dapat memiliki keturunan.
Sampul Novel Menghidupkan Kembali Cinta yang Hilang
8.8
Cinta tulus Regina pada Malvin berbalas kepedihan. Di tahun kedua pernikahan, saat tengah mengandung, Malvin justru meminta cerai demi cinta pertamanya. Regina bahkan diabaikan saat bersimbah darah akibat kecelakaan tragis. Setelah berhasil bangkit dari kematian dan meraih kesuksesan, Regina siap memulai hidup baru dengan pria lain. Namun, melihat kebahagiaan itu, Malvin didera cemburu hingga nekat mengacaukan pernikahan Regina dan memohonnya kembali di altar.
Sampul Novel Patah Hati Mendatangkan Pria yang Tepat
9.0
Lena dikhianati oleh tunangannya yang berselingkuh dengan ibu tirinya demi menguasai harta. Setelah dijebak tidur bersama orang asing, ia membalas dendam dengan membawa Delon, pria tampan yang dikira miskin, untuk merusak acara pertunangan tersebut. Faktanya, Delon adalah CEO berkuasa dari Grup Vit. Hubungan sandiwara mereka menjadi nyata saat Delon enggan pergi. Lena pun tersadar bahwa Delon adalah sosok dari masa lalunya. Akankah rahasia ini menyatukan mereka?
Sampul Novel Rahasia Hati Sang Pewaris
8.0
Siti, seorang gadis desa yang ulet, dipertemukan takdir dengan Reza. Di balik sosoknya, Reza ternyata merupakan ahli waris kerajaan bisnis hotel yang sengaja menyembunyikan identitas aslinya. Perbedaan status sosial yang mencolok memicu konflik besar di antara mereka. Namun, situasi kian rumit saat keduanya terjebak dalam pusaran misteri gelap yang mengancam jiwa. Di tengah ancaman dan kebohongan, mampukah cinta tulus mereka bertahan menghadapi rahasia besar di balik harta?
Sampul Novel Suami yang Berjanji Setia, Malah Berpaling
8.8
Pernikahan putri mafia dengan miliarder Darius Fontana awalnya diragukan banyak orang. Meski Darius tampak berubah, ia meminta pernikahan terbuka sejak malam pertama. Masalah besar muncul ketika Shanti Rasyid, kekasih keseratus Darius, mengkhianati transaksi senjata keluarga hingga nyaris menewaskan ayah sang putri. Bukannya menghukum Shanti, Darius justru melindunginya. Terluka oleh pengkhianatan suaminya, sang putri mabuk dan tanpa sengaja terbangun di ranjang paman Darius.