APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sang Penggoda

Sang Penggoda

Demi bertahan hidup dari kesulitan ekonomi, Jullyana terpaksa bekerja sebagai wanita penghibur di klub malam. Keputusan sulit ini membuatnya dijuluki Sang Penggoda oleh orang-orang di sekitarnya. Jullyana pun tidak membantah sebutan tersebut. Ia memilih tegar menghadapi segala stigma dan pandangan buruk masyarakat demi memenuhi kebutuhan finansialnya. Simak kisah perjuangan hidup Jullyana yang penuh realita pahit di sini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sesampainya di kediaman Pak Edward aku keheranan melihat mobil Pak Edward masih terparkir, biasanya jika aku datang sudah tidak ada lagi mobilnya berparkir. Jika seperti itu, itu artinya, lelaki itu masih ada di dalam rumah. 

Ku lihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku, memastikan jika aku tidak kecepatan datang, dan benar saja kok, aku tidak salah, jam sekarang sudah jam sepuluh. ‘Ah mungkin dia naik taxi.’ Pikirku. Aku pun berjalan masuk ke dalam ruamh, melalu pintu belakang tentunya.  

Saat aku sudah masuk ke dalam dapurnya yang besar dan megah itu, aku di kejutkan dengan keberadaan Pak Edward yang tengah menyeduh kopi hitam. 

“Pagi Pak,” sapaku tanpa menatapnya. 

“Hm.” Hanya itu kata yang keluar dari mulutmya, akupun sudah biasa, bagiku Pak Edward bicara panjang lebar adalah sebuah keajaiban. Aku meletakan tasku, lalu bersiap mengerjakan tugasku yaitu membersihkan rumah.

  Dari ujung mata dapat ku lihat Pak Edward mulai beranjak dari pantry. Namun saat di pertengahan jalan, langkahnya terhenti dan menoleh kepadaku. 

“Apa kamu bisa memasak?” tanyanya. 

Aku mengangkat kepalaku hingga kini aku bisa menatp wajah tampannya yang datar itu. “Emm sedikit Pak, tapi tidak mahir.” Jawabku seadanya.

 “Bisa tolong buatkan saya makanan?” 

Aku menautkan alisku, jujur  itu bukan termasuk tugasku, karena tugasku hanya bersih-bersih dan mencuci pakaian kotornya saja. 

“Saya akan berikan bonus di gajimu.” 

Mendengar kata bomus tentu saja aku akan tergoda, siapa yang tidak tergoda dengan bonus. “Baik Pak, saya buatkan, Bapak mau makan apa Pak?” tanyaku penuh semangat. Tentu saja semangat  karena akan mendapat bonus, kebetulan Revano harus membyar uang gedung sekolah akhir bulan ini.

 “Apa saja.” Setelah mengucapkan dua kata itu dia langsung melenggang pergi, meninggalkan aku yang bingung harus memasak apa. 

Aku sendiri tidak tau masak masakan orang kaya, ya maklum saja lah ya.  Aduh aku harus masak apa ini? Risauku sendiri. Aku pun langsung saja berjalan menuju kulkas mencari bahan makanan yang bisa aku olah menjadi makanan. Saat aku membuka kulkas sialnya tidak ada apa-apa, hanya da sekerat daging, satu ikat sayur sawi, dan dua butir telur. Mulutku terbuka melihat isi kulkas itu, yang benar saja isi kulkas orang kaya hanya itu saja? 

‘Kalau seperti ini masak apa? Yaudah si masak nasi goring aja kali ya? Lagian salah dia juga punya kulkas bagus tapi gak ada isinya.’

Aku pun mulai mengeluarkan semua isian kulkas yang aku lihat  tadi, termasuk sekerat daging sapi. 

Aku berniat mencampurkan daging sapi itu ke nasi goreng. 

Beberapa menit berkutat dengan seperangkat alat masak akhirnya nasi goreng ala seorang Jullyana pun telah jadi. Aku menatanya di dalam sebuah piring lalu ku letakkan di meja makan. Baru saja aku akan memanggil Pak Edward, lelaki itu sudah lebih dulu tiba. 

“Pak sudah jadi, silahkan.” Ucapku mempersilhkan dengan sangat  amat ramah. 

Tanpa  menjawab dia langsung saja duduk dan memakan nasi goreng buatanku itu, aku sedikit takut, kahwatir tidak sesuai dengan lidahnya, ya maklum terkadang selera orang kaya sedikit berbeda dengan kita yang biasa ini ‘kan? Tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda dia akan melepehkan, ku lihat dia malah lahap sekali memakannya. Entah dia lapar atau suka, akupun tidak tau. 

Ku pilih untuk pergi melanjutkan tugasku yang lain.  Sperti biasa aku membersihkan seluruh rumahnya, yang besar ini. Lelah? Oh tentu saja, tapi tidak apa demi anak-anak dan Ibuku aku  tidak akan mengeluh.

***

 Tepat jam lima sore semua pekerjaanku telah selesai, dan seperti biasa pula aku akan bersiap pulang. Sedangkan Pak Edward aku tidak melihatnya setelah makan tadi, sepertinya dia tengah berada di kamarnya, aku tidak tau juga. Karena aku sendiri tidak pernah masuk ke kamarnya. Aku memang mebersihkan rumah terkecuali kamar pribadinya. 

Baru saja aku hendak keluar dari pintu dapur, suaranya memanggil menghentikan langkahku. 

“Iya, ada apa Pak?” tanyaku. 

“Bisa kamu temani saya belanja isi dapur malam ini?” 

Aku tentu saja  terkjut, tidak biasanya seorang Julian Edward Stewerd seperti ini,biasanya berbicara saja sangat lagka, sampai aku mengira dia kembaran Mr. Limbut yang memiliki peliharaan burung hantu itu. 

Mataku mengerjap beberpa kali saat aku tersadar dia tengah menatapku menunggu jawabanku. 

“Ah maaf Pak, tapi saya tidak bisa Pak.” 

Keningnya mengkerut. “Saya akan bayar kamu seberapapun itu.” Lagi-lagi aku di buat terperangah. Yang benar saja kenapa dia sampai segitunya, bahkan rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk di temani belanja isi dapur? Bukannya dia selalu melakukannya sendiri? 

Aku diam sejenak, jika saja aku tidak berjanji pada Mami maka sudah pasti akan aku ambil tawaran dari Pak Edward. Tapi masalahnya aku sudah berjanji pada Mami jika malam ini aku akan melayani tamu istimewanya, dan Mami sendiri menjanjikan bayaran dua kli lipat karean tamu malam ini tamu special katanya. 

“Emm maaf Pak, tapi saya tidak bisa.”Jawabku. 

“Oke.” Diapun berbalik dan melenggang masuk.Dan aku kembali melanjutkan tujuanku  untuk pulang dan kemudian bersiap kembali bekerja malam.  

***

Aku menghela nafas saat pulang kembali harus melewati para Ibu-ibu yang setiap sore akan berkumpul hanya untuk bergosip. Resiko tinggal di perkampungan memang seperti itu, banyak CCTV yang memantau, dan banyak wartawan rumpi. 

“Hhh, malas sekali rasanya.” Lirihku dengan langkah yang gontai. 

“Eh Jullya capek banget kayaknya, habis menggoda siapa Jull, enak gak?” 

Aku memejamkan mataku menahan gemuruh yang siap meledak. Aku memilih diam dan terus melangkah membiarkan para Ibu-Ibu itu bergosip ria tntang diriku.

“Liat aja pasti sebentar lagi dia bakal pergi lagi itu, biasa pekerjaan haram dia itu, menggoda laki-laki, ihhh sumpah amit-amit deh kalau punya anak seperti itu, kasian sekali itu Ibu Sri (Ibuku) punya anak tapi gak bener, pantes aja lakinya menghilang ya?” Aku mendengar ucapan mereka itu meski aku sudah berlalu, bagaimana tidak dengar, mereka bergosip sangat nyaring. 

“Iya sepertinya lakinya gak tahan kali sama kelakukan dia, atau udah gak enak lagi, longgar.” Gelak tawa terdengar nyaring masuk ke dalam gendang telingaku.  

“Eh Neng Jullya, baru pulang?” Sapa Kang bakso yang setiap sore mangkal di kampung. 

“Iya Kang.”

 “Jull, gak mau godai Akang aja Jull, Akang juga punya duit loh ini.”Ucap salah lelaki pemabuk yang ada di kampung itu. Aku diam tak mengubris dan melanjutkan langkahku pulang ke rumah. 

***

“Mama!” teriak anak pertamaku saat aku baru tiba di rumah, hal seperti inilah yang membuat lelahku lenyap seketika. “Mama baru pulang?” Tanya Revano memelukku.

“Iya Abang, Adik mana Bang?” tanyaku.

 “Adik sama Nenek di dalam, Nenek lagi masak  bakwan jagung Ma, enak sekali.” Beritahu Revan antusias.

“Oh ya? Abang udah cicipin pasti ya?” godaku mencolek pipinya yang putih. 

“Ehehe. Giginya terlhat saat ia tersenyum manis seperti itu.

“Iya Ma, ayo masuk Ma, jangan di luar Abang tidak suka sama para tetangga kita.” Sudah ku bilangkan jika anak pertamaku itu dewasa sebelum waktunya.

“Mama, Adik mam wan agung.” 

Aku tertawa kecil saat masuk ke dalam rumah melihat pemandangan seperti ini, ku lihat Kevano berlari kecil denga mulut penuh dan tangan membawa bakwan  jagung buatan Ibuku tercinta. 

“Uhh Adik udah mandi apa belum?” tanyaku menciumi gemas Kevan.

“Belum Mama, Adik tidak mau mandi padahal Abang udah suruh mandi.” Sahut Revano dengan gaya sok dewasaya. 

“Hmm Adik kebiasan iniii, lain kali kalau Abangnya ajak mandi, mandi ya Sayang?”

 “Adik mau mandi ma Mama.” Jawabnya dengan cara bicaranya yang belum terlalu lancar, aku juga tidak tau mungkin Kevano sedikit lambat dari anak yang lain, tapi tidak apa yang terpenting dia sehat. 

“Bu” aku ke dapur dan melihat Ibuku tengah memask.

“Eh Jull, sudah pulang? Mandi sana, sekalian mandiin Kevano ya? Tadi Ibu mau mandiin dia gak mau, sama Revan juga gak mau.”

“Iya Bu.”

 ***

Selesai mandi kami makan bersama, sudah menjadi kebiasan makan malam kami menjadi makan sore, musabab aku yang harus turun bekerja jam tujuh malam. 

“Ma,” Revano memanggilku di sela-sela makannya.

 “Iya Sayang kenapa Nak?” tanyaku lembut. 

“Tadi Abang berantem di sekolah.” 

Aku dan Ibu sama-sama kaget mendnegarnya.“Hah? Berantem? Kenapa Cuk?” Tanya Ibu dengan wajah panik. Pantas saja tadi aku melihat baju sekolah Revano kotor dari biasanya. Aku tidak mengira jika di habis berkelahi. 

“Iya Nek, Abang kesal, mereka menghina Nenek dan Mama, Abang tidak suka ada yang menghina Nenek dan Mama.”

Deg!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Crazy In Love
8.2
Sosok pemalas berparas rupawan mirip idola Korea ini punya sejuta pesona, mulai dari otak encer hingga tubuh atletis yang memikat wanita. Namun, di balik kesempurnaannya, ia menyembunyikan nama asli yang memalukan: Jamaluddin. Kemarahannya meledak ketika seorang gadis tanpa ragu menertawakan nama itu di depan umum. Merasa harga dirinya diinjak-injak, ia kini menyusun rencana matang untuk membalas dendam dan menghancurkan hidup gadis yang telah mempermalukannya.
Sampul Novel Enam Bulan Dinikahi, Enam Kali Dikhianati
8.5
Pernikahan perjodohan selama enam bulan menjadi neraka bagiku. Dito, suamiku, terang-terangan berselingkuh dengan mantan kekasihnya, Luna. Kehadiranku diabaikan, ia enggan menyentuhku dan selalu muak. Saat pengkhianatannya kian menjadi, kesabaranku habis. Karena ia tidak bisa adil, aku memutuskan mundur. Di tengah rasa sakit, takdir mempertemukanku dengan Arya Pratama, pria yang sangat dingin.
Sampul Novel Gairah Nakal Remaja
9.2
Kedewasaan tak melulu soal usia, melainkan dibentuk oleh lingkungan dan pergaulan. Kisah romansa modern ini membawa kita menyusuri memori masa SMA hingga kuliah yang sarat gejolak cinta remaja. Dirancang untuk menghidupkan kembali kenangan indah masa lalu, alurnya menyajikan konflik emosional yang mendalam. Karena terdapat konten eksplisit dan adegan khusus dewasa di beberapa bagian, pembaca diharapkan bersikap bijak dan menyikapinya secara dewasa.
Sampul Novel Kehadiran Orang Ketiga
8.2
Pernikahan harmonis Hanum dan Fahmi, yang dikaruniai dua anak bernama Arya dan Adiva, hancur akibat ulah Hani. Kakak kandung Hanum itu tega berselingkuh dengan Fahmi. Fahmi bahkan mengancam Arya yang memergoki aksi bejat mereka. Saat Hanum mencari kebenaran, sang ibu mertua malah menyalahkannya. Di tengah terbongkarnya pengkhianatan masa lalu, Hanum berjuang kuat demi buah hatinya. Apakah rumah tangga ini akan diselamatkan atau berujung perceraian?
Sampul Novel Kesempatan Kedua Cinta
9.4
Nadia berniat membagikan kabar kehamilannya pada Raul, tetapi kenyataan pahit menghantam saat ia memergoki pria itu bersama wanita lain. Merasa ketulusannya selama tiga tahun dikhianati, Nadia pun memutuskan pergi. Tiga tahun berselang, ia telah berhasil membangun lembaran baru. Raul tiba-tiba muncul kembali dengan penyesalan besar dan memohon agar Nadia bersedia menjadi istrinya. Namun, Nadia menolak dengan tenang. Sambil tersenyum, ia menyatakan telah bertunangan dengan pria lain.
Sampul Novel KUSEMBUNYIKAN KEKAYAANKU DARI SUAMI DAN MERTUA
9.6
Mia lelah terus-menerus direndahkan oleh ibu mertuanya karena dinilai miskin dibanding menantu lain. Di balik hinaan kejam itu, Mia memilih diam dan menyimpan rahasia besar. Tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya sangat kaya raya, memiliki aset melimpah serta tumpukan emas dari hasil kerja kerasnya menulis online. Ia sengaja menyembunyikan kekayaan ini agar suami dan mertuanya yang serakah tidak bisa merampas harta tersebut.