APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sang Mantan Kembali

Sang Mantan Kembali

Aruna diusir mertua dan diceraikan Revan atas tuduhan mandul. Takdir membawanya pada malam satu malam bersama pria asing. Tiga tahun berlalu, ia pulang ke Canberra membawa putranya. Tiba-tiba, Presdir Dion Alverado muncul dan mengklaim anak itu. Sementara itu, Revan datang menyesali masa lalu dan meminta rujuk. Kini Aruna terjebak dalam dilema antara sang mantan suami yang ingin menebus kesalahan atau Dion, ayah kandung dari putranya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Udara di dalam kafe seakan membeku. Aroma kopi yang biasanya menenangkan justru terasa sesak di dada Aruna. Tatapan Dion dan Revan saling mengunci, bagaikan dua prajurit yang baru saja menemukan musuh bebuyutannya di medan perang.

Aruna berusaha memecah keheningan yang mencekam. "Kalian... saling kenal?" suaranya terdengar ragu, nyaris berbisik.

Dion tak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya menggeser kursinya sedikit ke arah Aiden, seolah secara naluriah ingin melindungi bocah itu. "Aruna, aku serius. Kita harus bicara. Sekarang."

Revan melangkah mendekat. Matanya mengamati Dion dengan penuh penilaian, lalu berpindah pada Aruna. "Aku juga perlu bicara sama kamu. Tentang... masa lalu kita."

Masa lalu. Kata itu terdengar seperti duri yang menusuk hati Aruna. Ia menatap keduanya secara bergantian-dua pria yang kini sama-sama mengklaim ruang dalam hidupnya.

"Aku nggak bisa ngobrol di sini," kata Aruna akhirnya. "Aiden nggak seharusnya ada di tengah pembicaraan orang dewasa seperti ini."

"Aku bisa bawa dia pulang," ujar Dion cepat. "Supaya kamu bisa bicara sama... mantan suami kamu ini." Nada suaranya menekankan dua kata terakhir dengan ketegasan yang tak bisa disembunyikan.

Revan mendengus pelan. "Kamu pikir aku bakal kasih anak itu sama orang asing begitu saja?"

Dion menoleh, menatapnya tajam. "Aku bukan orang asing. Dia anakku."

"Aku ayah sahnya!" balas Revan.

Kata-kata itu membuat Aruna menegang. "Cukup!" serunya, membuat beberapa pengunjung kafe menoleh.

Aiden yang sedari tadi diam mulai terlihat gelisah. Ia menatap mamanya, lalu dua pria di depannya. "Mama... ini siapa?" tanyanya pelan sambil menunjuk Dion.

Aruna menelan ludah. "Dia... teman Mama."

Tatapan Dion meredup sejenak, tapi ia tidak membantah. "Baik. Kalau kamu nggak mau bicara di sini, ayo ke tempat yang lebih tenang. Aku ikut."

Revan langsung memotong, "Kalau dia ikut, aku juga ikut."

Aruna memejamkan mata, mencoba mengatur napas. Ini gila. Hidupnya yang selama tiga tahun terakhir tenang kini kembali diombang-ambingkan dalam satu sore.

Mereka akhirnya sepakat bertemu di apartemen Aruna, meskipun ia tahu itu bukan ide terbaik. Namun ia tidak bisa membiarkan percakapan ini berlanjut di depan Aiden di tempat umum.

Begitu masuk, Aiden langsung berlari ke kamarnya. Aruna sengaja membiarkan pintu sedikit terbuka agar ia bisa mengawasi dari ruang tamu.

Dion berdiri di dekat jendela, mengamati pemandangan hujan yang menetes di kaca. Revan duduk di sofa, bersandar dengan sikap yang terkesan santai tapi matanya waspada.

Aruna berdiri di tengah, merasa seperti terdakwa yang diadili dua hakim sekaligus.

"Oke," katanya sambil menarik napas panjang. "Aku mau kalian berdua tahu, aku nggak mau ada pertengkaran di sini. Kalau kalian mulai berdebat, aku yang akan mengusir kalian."

Dion menoleh duluan. "Aruna, aku mau tahu, kenapa kamu nggak pernah bilang soal Aiden? Tiga tahun... kamu nyembunyiin anakku."

Aruna merasakan darahnya berdesir. "Anak kita? Aku bahkan nggak tahu siapa kamu waktu itu! Malam itu gelap, dan kamu-" suaranya tercekat.

Revan mengernyit. "Malam apa?"

Aruna menutup mata sebentar, mencoba mengendalikan diri. "Bukan urusan kamu, Revan. Kita sudah berakhir."

"Bukan urusanku?" Revan bersandar ke depan, tatapannya menusuk. "Aruna, kita baru sehari cerai waktu itu. Dan sekarang, tiga tahun kemudian, kamu punya anak yang umurnya... pas sekali. Aku nggak bodoh."

Dion mendengus, matanya tak lepas dari Revan. "Jangan mimpi. Anak itu nggak punya satu pun ciri fisik kamu. Dia milikku."

"Punya atau tidak, secara hukum, aku pernah jadi suaminya saat anak itu... mungkin... diciptakan."

Aruna sudah muak. "Kalian pikir ini lelang? Siapa yang menawar lebih tinggi akan dapat Aiden?" suaranya bergetar, tapi matanya memancarkan amarah. "Aiden bukan barang. Dia anakku. Dan aku yang menentukan siapa yang boleh ada dalam hidupnya."

Keheningan merayap di ruangan.

Beberapa detik kemudian, Dion menghela napas dan suaranya melunak. "Aku nggak mau merebut dia darimu, Aruna. Aku cuma mau ada di hidupnya. Aku mau dia tahu siapa ayahnya sebenarnya."

Revan menyela, "Dan aku mau menebus kesalahanku. Aku nggak peduli dia anakku atau bukan, aku mau jadi ayah buat dia dan suami buat kamu lagi."

Kata-kata itu membuat hati Aruna terguncang.

"Kamu serius?" tanyanya lirih.

Revan menatapnya dalam. "Aku salah waktu itu. Aku biarkan Ibu mengatur segalanya. Aku pengecut. Tapi tiga tahun ini aku sadar, nggak ada yang bisa menggantikan kamu."

Dion menegakkan bahunya. "Dan aku nggak akan mundur. Malam itu... aku nggak tahu kenapa aku sampai di kamarmu. Tapi sekarang aku tahu, itu bukan kebetulan. Dan Aiden adalah bukti kalau hidup menginginkan kita bertemu."

Aruna merasa kepalanya berdenyut. "Kalian nggak tahu rasanya jadi aku. Mengandung seorang anak sendirian. Melahirkan tanpa ada tangan yang menggenggam. Membangun hidup dari nol. Dan sekarang, kalian datang... membawa masa lalu yang bahkan belum sempat aku mengerti."

Ia berbalik, menatap hujan di luar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh.

Dion mendekat perlahan. "Aruna... aku janji, aku nggak akan memaksamu mengambil keputusan sekarang. Tapi izinkan aku... mulai besok... datang untuk Aiden. Biarkan dia mengenalku sedikit demi sedikit."

Revan bangkit dari sofa. "Kalau begitu, izinkan aku juga. Aku mau ada di sini, bantu kamu, entah sebagai teman atau lebih... kalau kamu mau."

Aruna menoleh, matanya penuh lelah. "Aku nggak mau kalian ada di sini kalau cuma untuk saling mengalahkan. Aiden butuh ketenangan. Aku juga."

Dion mengangguk pelan. "Aku akan hormati itu."

Revan menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, "Baik. Tapi aku nggak akan menyerah."

Malam itu, setelah keduanya pergi, Aruna duduk sendirian di ruang tamu. Hujan sudah reda, tapi pikirannya masih badai. Di kamar, Aiden sudah tertidur pulas, tidak tahu bahwa hidupnya baru saja berubah.

Aruna tahu satu hal pasti-ia tidak akan membiarkan masa lalu yang pahit merusak masa depan putranya. Tapi ia juga sadar, badai yang lebih besar sedang menuju hidup mereka.

Dan kali ini, ia harus siap berdiri di tengahnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta di Tepi: Tetaplah Bersamaku
9.4
Dua tahun lalu, Regan menikahi Ella demi melindungi wanita lain. Menganggap Ella licik, Regan mengabaikan ketulusan istrinya selama sepuluh tahun dengan sikap dingin. Namun, saat Ella mulai lelah dan ingin menyerah, ketakutan justru melanda Regan. Ketika nyawa Ella terancam saat mengandung anak mereka, Regan akhirnya tersadar bahwa cinta sejatinya selama ini hanyalah untuk sang istri.
Sampul Novel Dendam Istri Muda
8.7
Duka Lita atas wafatnya sang anak kian perih saat tahu pelakunya adalah Jenni, pengasuh yang dahulu ia bantu. Liciknya, Jenni memanfaatkan momen ini untuk memikat Khalid hingga sukses menjadi istri muda. Di balik aksi itu, tersimpan dendam lama yang ingin Jenni tuntaskan. Kini, di tengah kehancuran rumah tangganya setelah sepuluh tahun bersama, Lita harus melawan musuh dalam selimut. Sanggupkah pernikahan Lita dan Khalid bertahan dari badai pengkhianatan ini?
Sampul Novel Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
9.3
Delapan tahun menikah, Jessica selalu memercayai alasan pekerjaan Rio Aditya setiap hari jadi pernikahan mereka. Namun, rahasia busuk terungkap saat ia mendengar rencana Rio untuk menceraikannya demi Nadia. Di tengah pengkhianatan tersebut, Jessica justru menerima diagnosis medis yang fatal: kanker ovarium stadium akhir. Menyadari suaminya tidak lagi mencintainya sejak ia keguguran, Jessica memutuskan untuk merelakan hubungan mereka dan pergi dalam damai tanpa pernah bertemu lagi.
Sampul Novel Kubeli Kesombongan, Gundik Suamiku
8.7
Kehidupan Keysa, istri seorang abdi negara yang juga dosen dan influencer, mendadak terusik. Ia harus menghadapi Risa, perempuan kaya raya yang diduga menjadi selingkuhan suaminya. Di hadapan Risa yang kerap memamerkan hartanya dengan sombong, Keysa tidak tinggal diam. Ia justru bangkit menjadi sosok yang jauh lebih tangguh. Mampukah Keysa membungkam kesombongan Risa dan memenangkan persaingan sengit ini? Ikuti kisah perjuangan emosional Keysa.
Sampul Novel Melepas dengan Ikhlas
8.0
Fitnah keji dan hinaan dari mantan ibu mertua yang serakah telah menghancurkan hidup Mutia. Kepedihannya kian mendalam karena sang suami justru enggan membelanya. Enggan terus menderita akibat ketidakadilan ini, Mutia memilih pergi membawa luka batin. Ia bertekad bulat tidak akan pernah kembali lagi. Mampukah Mutia meraih kebahagiaan baru setelah melangkah pergi? Ikuti perjuangan emosionalnya menghadapi pengkhianatan ini.
Sampul Novel SCHOOL DIARY
8.0
Dijuluki Miss Bad Luck karena asmaranya selalu berujung sial, Kana memutuskan menyerah dalam mencari cinta. Ia bertekad menutup rapat hatinya demi menghindari kemalangan yang terus berulang. Namun, pertahanan Kana goyah ketika seorang pemuda asing mendadak muncul di hadapannya. Sambil membawa martabak keju kesukaan Kana, cowok itu mengajukan kesepakatan unik: jika Kana menerima makanan tersebut, mereka berdua otomatis resmi menjadi sepasang kekasih detik itu juga.