APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan

Elvano kerap direndahkan oleh Tuan Dandi karena kondisi finansialnya yang serbapas-pasan saat meminang Nadine. Walau memiliki paras tampan, ketiadaan aset dan pekerjaan tetap membuatnya dianggap tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Wijaya. Sang kakek pun menantangnya untuk mengakuisisi seluruh aset Hotel Chandra sebagai syarat pengakuan. Tanpa keraguan, Elvano menerima misi tersebut demi membuktikan kelayakannya serta memperjuangkan cinta dan harga dirinya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hanya masalah sepele saja, mengapa harus mengeluarkan uang yang begitu banyak?

"Kau tidak perlu mengeluarkan uang untuk membebaskan aku. Aku pantas bebas, karena memang tidak bersalah," ucap Elvano lagi dengan percaya diri.

Tapi, wanita angkut itu tidak mau mendengar. Nadine mengacuhkan Elvano.

"Bagaimana, Pak? Apakah saya boleh pulang dulu untuk mengambil uang?"

"Baik! Silahkan! Tapi hanya enam puluh menit. Tidak boleh lebih dari itu!"

"Oke, tidak masalah!" Nadine segera mengeluarkan kunci mobil dari dalam tasnya, bersiap untuk pergi.

"Saya permisi!"

Nadine pergi keluar, meninggalkan kantor posisi itu dengan tergesa-gesa. Lalu ia mengendarai mobilnya menuju rumah.

Elvano tidak bisa berbuat apa-apa lagi ketika melihat wanita itu sudah pergi. Ia hanya bisa duduk di kursi depan petugas dengan tubuh yang mulai menggigil kedinginan.

"Arghhh .... Sial!" maki Faran setelah melihat Nadine benar-benar pergi.

Faran berdiri, lalu berteriak tidak puas pada petugas yang ada di depan Elvano, "Pak, mengapa Anda membiarkan Nadine pulang untuk mengambil uang? Seharusnya Anda bersikap adil. Langsung jebloskan saja pria miskin ini ke dalam penjara. Mengapa harus ada uang jaminan segala?"

Tadi, Faran mendengar bahwa Elvano tidak punya tempat tinggal dan pekerjaan. Bahkan, uang jaminan saja harus dari Nadine. Selain itu, Elvano juga tadi mengatakan tidak memiliki ayah, ibu, kakak dan bahkan adik.

Orang seperti itu, jika bukan gelandangan, lalu apa?

"Maaf, Tuan! Semua yang Anda tuduhan tidak cukup bukti. Penjelasan dari Nona Nadine dan pria ini, mampu menepis semua yang Anda tuduhkan! Bukankah tadi kalian mendengarnya sendiri, bahwa Nona Nadine lah yang masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi. Itu sudah jelas, bahwa pria ini tidak menyembunyikan wanita di kamarnya."

"Hah???" Elvano mengerutkan kening mendengarnya.

Jika memang petugas kepolisian itu benar berpendapat seperti itu, untuk apa sekarang petugas itu meminta uang pada Nadine?

"Oh, seperti itu?" Faran mendekat. Ia melipat kedua tangan di depan, menatap tajam petugas kepolisian itu dengan senyum samar di bibirnya.

"Bagaimana jika aku membayar dua kali lipat dari jumlah uang yang kau sebutkan tadi pada Nadine?" tanya Faran pada petugas dengan penuh ejekan. "Apa kau bisa menjebloskan pria ini ke dalam penjara?"

Faran hanya ingin memberi pelajaran karena tadi Elvano sudah berani menyembunyikan Nadine di kamarnya. Bahkan, mereka berdua sedang asyik berciuman di balik tirai.

"Ah, masalah itu!" Petugas itu salah tingkah. Menatap Faran dengan sangat ramah.

"Anda santai saja, jika ada bukti lain, pria ini bisa masuk penjara! Namun untuk saat ini, tuduhan Anda masih belum kuat, Tuan!" jawab petugas itu dengan sudut bibir yang terangkat. Terlihat bahwa mereka berdua sudah saling mengenal.

"Bagaimana dengan rekaman CCTV yang ada di hotel?" tanya Faran setelah berpikir beberapa detik. "Bisakah itu dijadikan barang bukti? Jika bisa, orangku akan segera meminta rekaman CCTV pada pihak hotel—" ucapan Faran tiba-tiba terhenti karena suara keras teriakan dan pukulan dari meja yang dilakukan oleh Elvano.

"Apa seperti ini, keadilan hukum di negara ini? Semuanya bisa diperjual belikan? Asalkan mempunyai uang yang banyak, bisa mendapatkan apa yang dia inginkan?" teriak Elvano dengan marah. Ia merasa muka dan juga kesal mendengar percakapan dua orang ini.

Sudah berjam-jam dirinya berada di kantor polisi karena tuduhan yang tidak bermutu dari Faran. Dan sekarang, mereka berdua bernegosiasi agar bisa menjebloskan Elvano ke penjara.

'Dasar manusia licik!'

Kemarahan itu bagai lelucon di mata Faran. Setahunya, Elvano adalah pria miskin yang tidak memiliki apa-apa. Membicarakan masalah uang dan kekuasaan, dia sama sekali tidak berhak.

"Tentu saja! Di negara manapun juga sama. Semua hal bisa dibeli dengan uang," balas Faran penuh kepuasan sambil menatap Elvano. "Pria miskin sepertimu, hanya bisa pasrah menerima nasib buruk. Tidak ada celah untuk melawan. Hahaha!"

Ejekan dari Faran benar-benar membuat Elvano muak. Ia segera meminta petugas itu untuk meminjaminya telepon.

Petugas itu pun bingung. Tadi Elvano tidak mengingat nomor siapapun. Tapi sekarang?

"Cepat, aku pinjam teleponnya!"

***

Empat puluh menit kemudian, Nadine datang ke kantor polisi dengan membawa uang lima puluh juta sesuai dengan jumlah yang diminta oleh petugas kepolisian. Setelah menyerahkan uang tersebut, Nadine menandatangani surat keterangan untuk pembebasan Elvano. Setelah semuanya selesai, barulah ia membawa Elvano pergi peninggalan tempat itu.

Di tempat parkir, Faran mengejar Nadine dan juga Elvano yang sebentar lagi akan masuk ke dalam mobil. Ia berteriak pada Nadine dengan nada suara yang terdengar marah.

"Apa yang kau lakukan? Nadine, apa kau sungguh ingin mengantar pria ini kembali ke hotel?"

Nadine mendengar pertanyaan Faran yang dilontarkan kepada dirinya. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia menoleh ke belakang untuk melihat pria yang akan dijodohkan dengan dirinya.

"Faran! Akulah yang menyebabkan pria ini dibawa ke kantor polisi. Jadi sekarang, aku jugalah yang harus mengantarnya kembali ke hotel," jawab Nadine dengan cepat.

Setelah itu, ia menarik Elvano masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan Faran lagi.

Mobil melaju dengan cepat meninggalkan tempat itu, juga meninggalkan Faran yang masih mematung di sana.

Nadine mengantar Elvano sampai ke depan gedung hotel—tempat pria itu menginap.

Setelah mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu masuk hotel, Nadine segera melepaskan sabuk pengamannya. Ia menoleh ke samping untuk melihat pria yang kini duduk di sampingnya.

"Aku akan ikut denganmu ke atas," ucap Nadine pada Elvano yang saat ini sedang bersiap untuk turun dari mobil.

"Ada barangku yang tertinggal di kamarmu! Aku harus segera mengambilnya," tambah Nadine lagi.

Lalu ia mendahului Elvano untuk turun dari dalam mobil, juga menghiraukan pria yang saat ini sedang kebingungan di dalam sana.

"Hey, kau mau pergi ke mana?" teriak Elvano seraya mengikuti langkah Nadine masuk ke dalam gedung hotel. Wanita itu terus berjalan sampai ke depan pintu lift.

"Tunggu!" cegah Elvano lagi. Ia segera berdiri di samping Nadine, lalu bertanya, "Kau mau pergi ke mana?"

Elvano tidak terlalu jelas mendengar penjelasan Nadine tentang alasan dia mau pergi ke kamarnya. Juga tidak mendengar, bawa Nadine ingin mengambil barang miliknya yang tertinggal di kamar Elvano. Jadi sekarang, Elvano tidak mengerti.

"Ke kamarmu!" jawab Nadine sangat singkat.

Tiba-tiba pintu lift pun terbuka.

Tanpa membuang waktunya lagi, Nadine segera melangkah ke depan—masuk ke dalam lift—diikuti Elvano dari belakang.

"Untuk apa kau pergi ke kamarku?" tanya Elvano ketika mereka sudah berada di dalam lift.

Ia menatap Nadine dari ujung kaki hingga ujung kepala. Wanita itu masih terlihat cantik dan penuh percaya diri walau sekarang sudah sangat malam.

"Apa kau inginnn ...." Elvano sengaja menarik ujung kata terakhirnya dan sengaja tidak melanjutkan ucapannya.

Mungkin wanita nakal ini ingin menghabiskan sisa malam ini di kamar hotel bersama dengan dirinya.

'Apa wanita ini sungguh ingin tidur denganku?'

Pintu lift pun sudah terbuka kembali. Mereka berdua sudah sampai di lantai tiga, tepat di mana Elvano menginap.

Sambil berjalan, Nadine menjawab pertanyaan Elvano, "Aku ingin mengambil barangku yang tertinggal di kamarmu!"

Masih dengan sikap acuh, Nadine berjalan sampai ke depan pintu kamar Elvano.

Tanpa diduga, Nadine mengambil benda pipih dari dalam tas kecilnya, lalu mengulurkan tangan ke depan untuk menempelkan benda itu ke pegangan pintu kamar.

Seketika pintu kamar itu terbuka.

"Ini!" Nadine menyerahkan kunci kamar itu pada pemiliknya. Ia masuk ke dalam dan berjalan menuju sofa panjang yang ada di sana.

Elvano sangat bingung, mengapa kunci kamarnya ada pada wanita itu?

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Lain Hanyalah Tamu
8.7
Tujuh kali menikah dan diceraikan oleh pria yang sama demi wanita lain membuat perasaan wanita ini mati rasa. Dari mencoba mengakhiri hidup hingga belajar pergi tanpa suara, ia telah melewati semua kepedihan. Kini, saat kekasih lama suaminya kembali, ia memilih menyodorkan surat cerai atas inisiatif sendiri. Sang suami mengira ini hanyalah bagian dari siklus pernikahan kembali yang biasa mereka lakukan, tanpa menyadari bahwa kali ini istrinya benar-benar pergi selamanya.
Sampul Novel Bingkai Suami, Keadilan Sengit Istri
9.7
Kupikir jaksa Baskara Aditama adalah penyelamat, tetapi dia justru menjebloskanku ke Lapas Cipinang demi melindungi Valerie. Tiga tahun menderita di penjara, aku bebas hanya untuk dipermalukan di pesta mereka hingga hampir mati akibat pendarahan internal. Baskara bahkan tega memalsukan rekam medis demi menutupi aksi kejinya. Kini, harapanku telah musnah dan berganti menjadi ambisi balas dendam membara. Aku bersumpah akan menghancurkan karier, reputasi, serta semua hal yang dia cintai.
Sampul Novel Pengkhianatan Istriku
9.7
Danu ditinggalkan begitu saja oleh Sakira, istrinya yang lebih memilih mengejar lelaki bergelimang harta dan tega membuang bayi mereka. Namun, takdir berbalik kejam pada Sakira. Usai didepak oleh suami barunya, ia kini hidup melarat sembari berjuang melawan kanker paru-paru yang menggerogoti tubuhnya. Impian akan kemewahan sirna tak bersisa, menyisakan penyesalan teramat dalam di tengah kondisi fisiknya yang kian ringkih dan kehancuran finansial yang total.
Sampul Novel Pernikahan Yang Salah
9.0
Sebuah penolakan tiba-tiba mengguncang hubungan asmara modern yang rumit ini. Ucapan emosional 'Jangan sentuh aku, Mas!' menjadi titik balik ketegangan yang menguji komitmen serta kesetiaan sepasang kekasih tersebut. Di balik benturan perasaan itu, terdapat konflik mendalam yang mengancam keutuhan hubungan mereka. Kini, mereka harus menghadapi pilihan sulit: sanggupkah pernikahan ini dipertahankan, ataukah luka yang terlanjur tertanam akan membawa mereka pada perpisahan selamanya?
Sampul Novel Si Cantik Dengan Berbagai Topeng
7.9
Demi membalas budi setelah diselamatkan dari kecelakaan maut, seorang pria berkuasa memutuskan untuk menikahi sang penyelamat. Pernikahan ini memicu kehebohan publik yang menilai wanita tersebut berwajah buruk dan tidak sepadan. Padahal, di balik penyamarannya, ia adalah sosok jelita yang sedang mengemban misi rahasia demi menguak misteri kematian ibunya. Saat satu demi satu topengnya terbuka, dunia terenyak menyadari bahwa ia jauh lebih hebat dari suaminya.
Sampul Novel Terjerat Pesona Sang Casanova
9.5
Bagi Regan, keputusan telah bulat dan penolakan bukanlah akhir dari segalanya. Ia justru tertantang untuk terus mengikat wanita yang sangat dipujanya. Walau perasaannya bertepuk sebelah tangan dan sang wanita berulang kali mencoba kabur, Regan takkan membiarkannya lolos. Obsesinya begitu kuat untuk menahan wanita itu di sisinya selamanya. Tak peduli seberapa keras ia ditolak dan dihindari, Regan bersumpah akan terus mengejar dan menjadikannya milik pribadi.