APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SALAHKAH  BERPOLIGAMI

SALAHKAH BERPOLIGAMI

Bian memendam tekanan batin dalam pernikahannya bersama Wiwit karena perbedaan usia, pendidikan, dan gaya hidup sang istri yang boros. Demi kedamaian, ia memilih mengalah. Namun, ketenangannya goyah saat mengunjungi cabang tokonya di luar kota. Di sana, ia bertemu Alma, sosok masa lalu yang belum terlupakan. Pertemuan tak terduga ini memicu gejolak batin baru yang menguji kesetiaan serta prinsip hidup Bian.
Bab
Bagikan

Bab 1

" Tarraaa,,,pagi Ayah, ,bunda bawakan teh manis special dan roti bakar coklat bikinan Mbok Tarmi, biar hari-hari ayah jadi segar dan bugar. Silakan dinikmati!" celoteh istriku, Laswita atau panggilannya Wiwit begitu memasuki ruang kerjaku di lantai dua.

"Terima kasih Bunsay, tapi lain kali bisa nggak sebelum masuk ucapkan salam dulu, jangan langsung buka pintu"

Padahal aku sudah menempel stiker bertuliskan ucapkan salam sebelum masuk, tapi istri dan bocil-bocilku masih sering membuka pintu dan langsung menerobos masuk.

"Yaa kan bunda mau kasih surprise buat suami tercinta" lihat, dia malah ngeles.

"Yah, bunda boleh minta tambahan dana bulanan?. Soalnya uang belanja yang ayah kasih awal bulan tinggal sisa Rp. 200.000 mana bisa sampai tanggal 30" pinta istriku sambil menyandarkan kepalanya di bahuku, padahal aku sedang sibuk mengecek laporan penjualan melalui laptopku.

Mendengar permintaanya yang tidak biasa , aku bertanya "Lho Bunda, bulan-bulan lalu uang Rp. 4.000.000 kan selalu cukup. Kenapa sekarang baru tanggal 20 sudah hampir habis semuanya?" suaraku meninggi.

Bagaimana tidak bulan lalu uang belanja empat juta rupiah selalu cukup, untuk Tabungan keluarga , aku sebagai keluarga yang menanggungnya. Kuserahkan ATM kepada Wiwit agar ia dapat menggunakannya untuk keperluan rumah tangga.

Bibir Wiwit yang tipis dan pink alami itu menekuk, jujur, ia lebih seksi kalau sudah begitu.

"Ayah kan nggak tau aja kalo sekarang nilai duit hampir nggak ada. Beli barang kebutuhan pokok saja sudah nguras duit. Apalagi beli susu untuk Nizam yang baru disapih, keperluan sekolah untuk Nilam dan Sofie plus asupan gizi mereka. Aku nggak mau mereka tumbuh jadi anak yang pertumbuhannya terhambat atau stunting yah". Tandas istriku".

Hmmmh stunting? Bukan hanya sekali itu dia fasih mengucapkan kata-kata Bahasa Inggris. Ia juga pernah mengatakan branded bag, lux, please, latest fashion, work from home, healing, shopping, vacation . Darimana dia tau istilah Bahasa Inggris itu, kukira dari media social dan ibu-ibu sosialita penghuni komplek perumahan kami yang juga sering arisan bersama Wiwit. Istriku menikah ketika berusia delapan belas tahun, tepat ketika baru menerima ijazah SMAnya. Aku yang sudah berusia 27 tahun dengan mantap meminangnya setelah berpacaran selama dua tahun.

Namun dunia pacaran tentu saja berbeda jauuuhh dengan dunia rumah tangga. Awal-awal berumah tangga, Wiwit yang berasal dari keluarga sederhana nampak sekali gagap dalam mengatur keuangan keluarga. Ia boros tepatnya. Sebulan ia membeli baju tiga kali. Belum lagi ia doyan sekali makanan-makanan tersier yang lumayan menguras kocek seperti aneka buah, roti, biskuit kaleng dan es krim. Walhasil ruang makan dan kulkas kami sudah seperti toko. Tapi karena waktu itu belum ada anak maka uang bulanan yang kuberikan masih cukup.

"Ya sudah, ayah transfer Rp. 1.000.000 ya, cukup kan sampai akhir bulan?" akhirnya aku mengalah karena bagaimanapun Istriku yang lebih paham harga pasaran barang.

"Terima kasih Ayahh,,, muaah,," ia mendaratkan bibirnya di pipi kananku kemudian melangkah pergi.

Huufftt, hanya sendirian di ruangan ini, pandanganku menghadap satu titik dimana terdapat foto keluarga. Foto keluarga Bahagia yang diambil setahun lalu, wajah istriku sangat cantik dan jelita ,, yaahhh zaman sekarang gambar foto dan bahkan adegan video bisa diedit, entah dengan aplikasi atau filter. Aslinya Wiwit tampak lebih tua dari usianya yang masih 27 tahun. Mata pandanya bercerita jujur tentang perjuangannya mengorbankan waktu tidur untuk menjaga si bungsu agar tidak rewel. Pipinya yang makin chubby karena harus menampung makanan para bocil yang kerap tidak habis.

"Assalamualaikum ayah", Nilam anak keduaku yang bulan lalu merayakan ulang tahun ke 6 mengucap salam. Hehehe dia memang sudah paham soal aturan. Meski baru belajar ngaji Al-Qur'an tiga bulan. Roman romannya dia calon wanita solehah karena dari sekarang sudah hafal doa makan, ke toilet, akan tidur dan bangun tidur, paham adab dalam rumah.

" Ya sayang,, mana kak Sofie? Nilam nggak main sama teman-teman kompleks minggu ini?"

Jawaban Nilam membuatku tercenung, Kak Sofie masih nginep di rumah Eyang. Nilam mau bersepeda dengan ayah keliling perumahan. Mumpung minggu dan ayah di rumah. Boleh? Nilam udah lama nggak keluar bareng ayah. Kangen! Nilam seolah memelas. Batinku tercubit prihatin.

Bahkan aku tak tahu Sofie menginap di rumah eyangnya dari kemarin. Aku memang bukan CEO atau manager sebuah Perusahaan multinasional, tapi aku pemilik tiga toko yang menyediakan hand phone dan laptop. Tiga toko itu berada di kabupaten yang berbeda. Siapa yang bisa menyangkal eksistensi dua benda pipih ajaib yang kini telah menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat luas terutama siswa, mahasiswa dan kaum professional. Tapi tentu saja aku tak bisa tinggal diam santai tanpa mengecek laporan keuangan dan arus keluar masuk barang. Sabtu minggu yang biasa dipakai bersantai pun seringkali kuhabiskan mengecek tokoku di ibukota kabupaten lain yang letaknya berjauhan.

"Paa,,, temenin Nilam,,, bete di rumah sendiri" rengeknya

"Lho, Mama kemana memangnya" tanyaku.

"Mama pergi ke pasar sama Dik Nizam. Katanya mau beli buah dan sayur"

Aku langsung menepuk jidat, kenapa ia tak meminta izin dulu padaku. Hmm, setelah ku lihat HPku ternyata ia meminta izin via whatupp aplikasi.

"Lho kok Nilam nggak mau ikut?"

"Nggak mau ah Pa, habis mama suka nggak boleh kalo beli jajanan pasar. Katanya nggak sehat. Cepet basi" mata bundar itu sendu menatapku.

"Okay okay,, jangan sedih anak Papa yang cantik, yuk kita tamasya keliling kompleks" kataku menjawil pipi chubbynya.

Aku menutup laptopku meski sebenarnya pekerjaanku belum selesai. Biarlah demi buah hati.. lain kali saja kukerjakan.

Kukeluarkan sepeda sport yang nyaris berdebu dari dalam Gudang, begitupun Nilam yang mulai menaiki sepeda mini imut warna pink dengan keranjang di depannya. Kubiarkan Nilam mendahului dengan sepedanya melesat melalui rumah-rumah gedong yang berada di sekitar kompleks perumahan grand mulia Mandiri. Wow ternyata banyak rumah-rumah baru berdiri di lingkungan belakang tempat tinggalku, semoga saja nantinya rumah-rumah itu ada yang menempati tidak dibiarkan kosong tanpa penghuni karena pemiliknya hanya menjadikan rumahnya asset masa depan.

Meski baru enam tahun ternyata Nilam sangat gesit membawa sepeda mininya ,, huuft aku saja dibuat ngos-ngosan. Ketika dalam perjalanan pulang ke rumah, di sebuah persimpangan putriku melihat penjual mainan plastik sedang menjajakan barangnya bukan hanya itu Elan dan Fitria, anak kompleks sebaya Nilam juga tengah memilih-milih mainan untuk dibeli. " wah, gawat ini roman-romannya Nilam ingin beli mainan baru batinku.

Mereka serempak menyapa putriku ketika dilihatnya Nilam menghentikan sepeda dan ikut memilih-milih mainan. Waduhhh kacau mana aku tak membawa dompet lagi,, harusnya tadi sudah kularang ia mampir membeli mainan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam Wanita Simpanan
8.1
Nayla terhimpit ancaman berat akibat mencoba menyelesaikan masalahnya tanpa bantuan siapa pun. Kini, sumpah dari Kak Yuni tampak benar-benar menjadi kenyataan yang mengerikan. Lelah karena terus-menerus dituduh dan difitnah sebagai perebut suami orang, Nayla memutuskan mengambil tindakan nekat. Ia bertekad mengubah semua tuduhan miring itu menjadi kenyataan demi membalas dendam atas penderitaan yang selama ini menyiksanya.
Sampul Novel Dilema Cinta Penuh Nikmat
9.8
Endah nekat mengabaikan statusnya sebagai tunangan orang lain demi semalam bersama Aslan, lelaki yang sangat dicintainya. Didorong hasrat mendalam, ia menyerahkan diri sepenuhnya pada pelukan hangat Aslan di dalam kamar. Walau masih sangat minim pengalaman, gairah Endah tetap berkobar saat membalas sentuhan mesra Aslan. Meski harus merasakan perih di tengah desah napas yang memburu, ia tetap memilih pasrah menikmati momen intim tersebut demi memuaskan dahaga cintanya.
Sampul Novel MAHLIGAI: Istana yang Kujaga
8.0
Kebahagiaan Dara Kahiyang bersama Adam dan anak kembar mereka kini terancam hancur. Ibu dan kakak kandungnya kembali hadir, membawa dendam membara untuk merusak keharmonisan tersebut. Sebagai mantan putri yang dahulu dibuang dan diabaikan, Dara menyimpan sebuah rahasia masa lalu yang sangat kelam. Kini, ia harus berjuang habis-habisan demi melindungi keluarga kecilnya dari ancaman kerabat sendiri. Mampukah Dara bertahan menghadapi teror yang datang bertubi-tubi?
Sampul Novel Relokasi Rasa
9.7
Sebagai putri kesayangan keluarga Candra, Aileen terpaksa memendam perasaannya pada asisten sang ayah demi mematuhi prinsip ibunya. Namun, pengkhianatan sang kekasih menyulut kemarahan besar, mendorong Aileen nekat menikahi musuh masa kecilnya, Gama Mahardika. Bagi Aileen yang ambisius, Gama adalah ancaman terbesar bagi harga dirinya. Di sisi lain, Gama yang juga keras kepala tidak akan mengalah, menyeret keduanya ke dalam pernikahan rumit yang sarat akan persaingan ego.
Sampul Novel Saat Aku Mati, Pacarku Sibuk Menolong Wanita Lain
7.9
Bencana melanda saat hujan deras memicu banjir di area parkir bawah tanah, mengurung Yuni dalam situasi kritis karena pintu darurat yang terkunci rapat. Di tengah kepanikan, ia segera menghubungi kekasihnya, Wibi, untuk meminta bantuan darurat. Namun, panggilan darurat Yuni justru ditanggapi dengan kemarahan. Wibi memilih mengabaikan nyawa kekasihnya demi membantu Maya mengevakuasi seekor kucing yang terjebak di atas pohon. Tanpa rasa iba, Wibi memutuskan kontak dan membiarkan Yuni berjuang sendirian.
Sampul Novel Sangkawang
8.6
Terbangun di kerajaan asing, Reyna Mahesa syok mendapati dirinya menjadi permaisuri yang sangat mirip dengannya. Di balik kemegahan istana, ia justru terjebak dalam pusaran kebencian dan intrik yang mengancam nyawa. Kenyataan pahit terungkap bahwa suaminya, sang raja, adalah sosok yang pernah menghukum mati permaisuri terdahulu. Kini, Reyna harus memilih: mencari celah untuk pulang ke era modern atau bertahan demi membongkar konspirasi pengkhianatan di tempat itu.