APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Salahkah Aku Mendua

Salahkah Aku Mendua

Astrid terperangkap dalam pernikahan dingin tanpa cinta akibat perjodohan. Pengabaian konstan dari sang suami, Tristan, menorehkan luka batin yang begitu dalam baginya. Merasa tak pernah dihargai, Astrid memilih berpaling kembali kepada Deon, mantan kekasihnya. Di balik pencarian kenyamanan tersebut, ia merancang skenario balas dendam untuk memberi pelajaran pada Tristan. Astrid bahkan nekat mengancam akan mencari lelaki lain jika Deon menolak membantunya dalam rencana ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Tristan berjalan terlebih dahulu untuk menemui Astrid, meninggalkan Viviana karena tidak mau kalau karyawan tahu jika dia menjalin hubungan dengan Viviana, atau akan ada laporan ke ayahnya jika dia berselingkuh, mengingat jika masih berstatus suami Astrid.

Astrid melihat Tristan yang baru saja keluar dari lift, hingga kemudian melihat Viviana yang menatap benci padanya.

"Aku akan membuat kalian berpisah!" Viviana terus menatap pada Astrid dengan berjuta rasa iri.

Tristan sendiri berjalan menghampiri Astrid, terlihat malas saat menatap istri sahnya itu.

"Ayo pergi!" ajak Tristan yang bersikap dingin pada Astrid. Langsung melangkah keluar lobi tanpa menunggu Astrid.

Astrid mengekor dan naik ke mobil Tristan, mereka pergi menuju restoran tempat ibu Astrid mengajak makan siang.

**

Mereka sampai di sebuah restoran berbintang lima, tempatnya makan kalangan orang atas. Tentu saja memandang status orangtua Astrid, yang tidak mungkin memilih sembarangan tempat untuk makan.

Tristan bersikap seolah dirinya dan Astrid berhubungan dengan baik, menunjukkan kalau dirinya adalah suami yang baik di depan mertuanya.

"Kalian datang juga, ayo duduk!" Ibu Astrid mempersilahkan keduanya duduk. Tersenyum lebar melihat kedatangan Astrid dan Tristan.

Astrid mencium pipi kanan dan kiri sang ibu sebelum duduk di kursi yang ditarik oleh Tristan untuknya.

"Terima kasih," ucap Astrid mengulas senyum pada Tristan, bersikap seolah hubungan mereka begitu harmonis dan tak ada celah keburukan yang diperlihatkan.

Tristan pun membalas senyum, sebelum akhirnya duduk di kursi sebelah Astrid. Keduanya berpura-pura jika hubungan pernikahan mereka baik-baik saja.

Mayla—ibu Astrid, menatap putri dan menantunya, merasa bahagia melihat Tristan dan Astrid yang tampak bahagia.

"Mama sangat senang melihat kalian akur seperti ini," ucap Mayla dengan senyum penuh kebahagiaan.

Astrid hanya tersenyum tipis, sedangkan Tristan tetap saja memasang topeng manisnya karena takut kalau diadukan ke sang ayah.

"Tentu saja, Ma. Kami pasti akan selalu akur," balas Tristan masih dengan seutas senyum. Bahkan menoleh Astrid, menunjukkan jika sangat memperhatikan istrinya itu.

"Syukurlah," ucap Mayla merasa begitu lega.

"Mama hanya rindu kalian, makanya ngajak makan siang mumpung lagi di sini. Kalian tidak sedang sibuk, 'kan?" tanya Mayla menatap Astrid dan Tristan bergantian.

"Sesibuk apa pun kami, kalau demi Mama pasti akan kami tinggal," dusta Tristan seraya menggenggam telapak tangan Astrid yang berada di atas meja.

Astrid terkejut Tristan sampai menggenggam tangannya, hingga mencoba tersenyum untuk mengikuti drama pria itu.

Mayla begitu senang melihat keduanya terlihat saling perhatian. Awalnya dia takut kalau Tristan dan Astrid tidak bahagia mengingat jika mereka menikah, hanya demi membahagiakan ibu Tristan yang sekarang sudah tiada.

"Baguslah, Mama sangat senang melihat kalian seperti ini," ucap Mayla yang tidak bisa menyembunyikan kelegaan hatinya.

Mereka pun makan siang bersama, membahas keseharian masing-masing.

"Awalnya Mama takut kalau kalian tidak cocok satu sama lain. Melihat bagaimana kalian sekarang, sudah cukup membuat Mama tenang untuk kembali pulang ke Singapore," ujar Mayla di sela makan siang mereka.

"Dia akan kembali ke Singapore? Bukankah ini bagus," gumam Tristan dalam hati.

"Mama tenang saja, kami baik-baik saja," balas Tristan dengan senyum yang dibuat senatural mungkin.

"Ya, seperti yang Mama lihat. Kami tidak mempunyai masalah apa pun," timpal Astrid yang sebenarnya tengah menyindir Tristan, bahkan gadis itu melirik sekilas Tristan seraya tersenyum miring.

Tristan memaksakan senyum ketika mendengar ucapan Astrid, melirik tajam seakan tengah berkata kenapa Astrid harus bilang seperti itu.

"Baguslah, Mama jadi tenang," ucap Mayla seraya mengusap dada. "Meski mamamu sudah tidak ada, tetaplah jaga amanah dia demi kebahagiaannya di surga. Mamamu sangat ingin melihatmu bahagia, jadi hiduplah yang rukun." Mayla memberi nasihat untuk Tristan.

Tristan hanya mengangguk kepala pelan menanggapi nasihat Mayla. "Jika mama ingin bahagia, seharusnya Mama memberiku pilihan untuk menentukan pasangan hidupku." Tristan bicara dalam hati.

**

Setelah makan siang, keduanya berpamitan dengan Mayla, karena wanita itu akan terbang ke Singapore. Setelahnya Astrid dan Tristan kembali ke perusahaan Tristan terlebih dahulu, karena Astrid juga harus mengambil mobilnya.

"Jangan menganggap serius ucapanku tadi!" ketus Tristan mengingatkan, tidak ingin jika Astrid besar kepala dan menganggap jika ucapan yang dilontarkan saat bersama Mayla benar adanya.

"Tidak, aku tidak pernah menganggap perkataanmu serius," balas Astrid dengan tatapan yang tertuju pada aspal jalanan. "Aku juga berharap ajakan cerai itu juga bohong dan tidak serius," gumam Astrid kemudian. Memalingkan wajah untuk melihat pepohonan yang berjajar rapi di sisi jalan.

Tristan yang mendengar gumaman Astrid langsung mencebik, hingga kemudian berkata, "Kalau masalah perceraian itu aku serius, jangan berharap aku akan mengubah keputusanku!"

Astrid memutar bola mata malas, menatap sekilas pada Tristan hingga kemudian kembali menatap keluar jendela.

Tidak ada kata-kata yang keluar, hingga keduanya sampai di perusahaan dan Astrid langsung pergi meninggalkan perusahaan sang suami.

**

Astrid kembali ke perusahaan, langkahnya terasa lemas dan tidak ada semangat. Sekuat dan setegar apa pun dirinya, tapi pada kenyataannya dia hanyalah gadis biasa yang bisa menangis. Bukan karena sikap Tristan hatinya sakit, tapi karena Tristan kini menunjukkan terang-terangan perselingkuhan dengan Vivian.

Astrid tidak masuk lift, memilih masuk ke pintu tangga darurat, menaiki beberapa anak tangga sebelum akhirnya terduduk dengan tubuh yang begitu lemas. Ia memegang teralis besi tangga, menyandarkan kepala di sana dan menangis, kenapa Tristan tidak pernah menganggap dirinya? Apa kekurangan dirinya? Itulah yang ada dipikiran Astrid sekarang.

"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau melihatku?" tanyanya dengan suara terisak karena mencoba menahan tangisnya.

**

Deon baru saja selesai makan siang, melihat Astrid yang berjalan masuk ke pintu darurat, hingga pria itu lantas mengikuti dan melihat Astrid yang sedang menangis.

Deon mendekat dan duduk di sebelah Astrid, memegang pundak gadis itu penuh kelembutan.

"Ada apa? Apa Tristan menyakitimu lagi?" tanya Deon mencoba mencari tahu.

Bagi Deon, Astrid tetaplah gadis yang dicintainya selama lima tahun ini, meski gadis itu dengan tega meminta putus, tapi akhirnya Deon tahu kalau Astrid hanya terpaksa.

"Aku tidak apa-apa, hanya lelah." Astrid menyeka buliran kristal bening yang luruh. Mencoba tersenyum ketika ada mantan kekasihnya itu.

"Kamu mau membohongiku? Kapan kamu tidak menangis setelah menikah dengan pria itu? Di mana Astridku yang periang?" tanya Deon dengan tatapan lembut.

Deon tahu kalau Astrid memang tidak pernah mengeluh pada siapapun, tapi juga tidak bisa melihat kalau gadis itu menghadapi tekanan hidup itu sendirian.

"Aku benar-benar tidak apa-apa," jawab Astrid masih mencoba tersenyum.

Astrid bangun dari duduk dan menepuk perlahan rok bagian belakang.

"Jam makan siang sudah selesai, ayo kembali bekerja!" ajak Astrid yang hendak berjalan menuju pintu yang tadi dilewati.

Deon tidak bisa membiarkan Astrid menderita, terlebih karena disebabkan oleh pria bernama Tristan. Ia harus bisa membawa Astrid kembali ke pelukan.

Deon berdiri dengan cepat, memeluk gadis itu dari belakang dan langsung menyandarkan kepala di pundak.

Astrid cukup terkejut dengan yang dilakukan Deon, tangannya terhenti ketika akan memutar gagang pintu.

"Deon," lirih Astrid, merasakan pelukan yang sebenarnya sangat dirindukan.

"Ceraikan pria itu, aku mohon! Kembalilah padaku, aku menerimamu apa adanya."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 Sayap Pelindungku
9.0
Lauren, putri bungsu keluarga Torres yang lemah, pulang setelah empat tahun di Gereja Mistik. Kepulangannya disambut dingin dan sinis oleh ketiga kakak laki-lakinya. Namun, segalanya berbalik saat pesta ulang tahunnya tiba. Lauren ternyata mampu melihat masa depan. Berkat ramalannya, sang kakak sulung selamat dari maut, kakak kedua terhindar dari kebangkrutan, dan penyakit kakak ketiga berhasil dideteksi. Kini, ketiga kakaknya berbalik menjadi pelindung setia yang siap menjaganya.
Sampul Novel Gadis Yang Terjamah
8.7
Demi ambisi pendidikan, Marlina kehilangan kehormatan hingga terbuang ke dunia gelap narkoba sebagai pengedar. Saat berniat tobat dan berhijrah, jebakan rival justru menjebloskannya ke penjara. Di balik jeruji besi, ia memperdalam ilmu agama. Namun setelah bebas, penolakan keras masyarakat kembali menghadangnya. Kini, Marlina dihadapkan pada pilihan sulit: kembali ke jalan haram yang menjanjikan atau tetap teguh pada proses hijrahnya.
Sampul Novel Hasrat Liar Sang PILOT
9.6
Kehidupan Adrian, kapten pilot tampan berumur 35 tahun sekaligus seorang ayah, penuh dengan godaan di dunia penerbangan. Dikelilingi para pramugari menawan, ia tak mampu membendung hasrat liarnya dan mulai mendekati rekan-rekan kerjanya demi memuaskan nafsu terpendam. Di sisi lain, sang istri yang bernama Dewi tentu tidak tinggal diam menghadapi perselingkuhan ini. Akankah rumah tangga mereka bertahan di tengah badai pengkhianatan? Simak konflik panas pernikahan mereka.
Sampul Novel Istri Kampungan Kesayangan Presdir
9.1
Demi menghidupi adik-adiknya, Santi, seorang gadis desa, memutuskan mengadu nasib di kota besar. Takdir membawanya bertemu Bima, CEO tampan berjiwa Casanova yang sering bergonta-ganti kekasih. Biasa dikelilingi kemewahan, pertahanan Bima justru runtuh saat menghadapi ketulusan dan kepolosan Santi. Perbedaan latar belakang yang kontras ini menjadi awal mula kisah cinta tak terduga di tengah riuhnya kehidupan metropolitan.
Sampul Novel Mengungkap Hati: Istriku Seorang Miliarder?!
9.7
Demi membalas budi, Melanie rela menikahi Ashton. Namun, ia hanya mendapat derita, bahkan sang suami tega berniat memeras darahnya tanpa empati. Kecewa dengan kekejaman itu, Melanie pun menuntut cerai demi harga diri. Di tengah proses perpisahan, rahasia besar terbongkar; Melanie ternyata seorang miliarder, memicu kehebohan publik. Saat situasi memanas, ia baru menyadari bahwa paman Ashton, Derek, selalu melindunginya secara diam-diam.
Sampul Novel MENIKAH DENGAN SULTAN
8.9
Demi kesembuhan sang ibu, Rinai rela bekerja keras walau terus ditindas Natasya, kakak tirinya. Ketulusan Rinai menarik perhatian Wira, anak konglomerat yang menyamar dan memborong dagangannya. Konflik memuncak saat Natasya berniat menggusur rumah Rinai melalui pacarnya, tanpa tahu bahwa Wira adalah pemilik perusahaan tersebut. Begitu identitas asli Wira terbongkar, Rinai yang merasa rendah diri kabur ke kota. Namun, takdir membawanya bekerja sebagai ART di kediaman Wira.