APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Salah Melamar

Salah Melamar

Bagaimana jadinya jika suami Anda ternyata mencintai adik kandung Anda sendiri? Akibat kelalaian fatal orang tua saat proses lamaran, seorang wanita terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia harus menelan pil pahit kehidupan rumah tangga yang dipenuhi ketidakpastian, sembari menghadapi kenyataan bahwa hati suaminya milik wanita lain. Di tengah luka batin dan kekecewaan yang mendalam, ia terpaksa bertahan menjalani takdir pernikahan yang salah sasaran ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

“Dijah, kamu segera siap-siap ya. Nanti malam ada yang melamarmu,” ucap emak sambil memamerkan senyum di wajah keriputnya. Binar matanya indah, menyiratkan betapa bahagianya saat ini. 

“Me-la-mar, Mak?” tanyaku tak percaya. 

“Iya. Sudah hentikan bacaanmu. Kamu segera mandi, ini sudah jam 5 sore juga. Anak perawan kok males mandi,” ucap Emak dengan kecepatan kilat sambil menarik paksa buku yang kupegang. Sebuah novel roman yang baru saja kubeli beberapa saat lalu.

Aku Dijah, anak pertama dari seorang janda tua sederhana. Bapakku sudah meninggal beberapa tahun lalu, dan aku hanya tinggal berdua bersama Emakku yang super bawel. Meskipun begitu, aku sangat menyayanginya. Sebenarnya aku masih punya saudara, Namanya Dinda, dia adikku satu-satunya, yang mau tak mau menjadi teman berantemku. Sayang, saat ini ia sedang kuliah di kota, mengejar mimpinya. Sedangkan aku? Aku lebih memilih tinggal bersama ibu, karena tak tega meninggalkan ia. Terlebih lagi aku tak ingin membebani emak dengan biaya kuliah yang mencapai puuhan juta. Hingga tinggallah Dijah, yang hanya sebatas tamatan sekolah menengah atas. 

“Dijah! Kenapa masih di kamar? Cepat segera mandi,” teriak emak dengan tinggi nada yang semakin keatas.

Kalau ucapannya sudah bervolume diatas standar, mau tidak mau aku harus nurut. Dari pada daun telinga ini menjadi korban atas keganasannya, atau bisa jadi sapu dan kemoceng akan melayang ke setiap bagian tubuhku.

Dijah, nama yang sangat kuno bukan? Aku dilahirkan pada tahun 90 an, tapi namaku seperti pada era kemerdekaan. Nama yang selalu menjadi sasaran empuk buat teman-temanku untuk membullyku. Meskipun sebenarnya nama pemberian dari almarhum bapak ini, adalah nama yang indah. Lengkapnya Khadijah. Nama yang cantik bukan? Bapak pernah berharap, aku memiliki kelembutan hati seperti istri seorang nabi. Tapi, sayangnya, di umurku yang terbilang sudah cukup dari kata matang belum juga ada lelaki yang hendak mempersuntingku. 

Bukan tanpa alasan. Aku adalah wanita biasa, hidupku juga sangat biasa. Aku tak cantik, juga tak cerdas, aku juga tak memiliki keahlian apapun, terlebih aku bukanlah perempuan berada. Entahlah, mungkin saat pembagian rejeki, aku hanya dapat bagian sedikit saja. Lain halnya dengan adikku Dinda. Meskipun kami dilahirkan dari rahim yang sama, nyatanya rejekinya berbeda. Dia terlahir sebagai wanita cantik, hidungnya mancung, tubuhnya semampai dengan kulit tubuh yang putih dan bersih. Bibirnya kecil, namun selalu berwarna kemerahan, berikut dengan alis warna hitam meskipun tanpa tersentuh oleh eye brow. Jika kami sedang berdiri bersama, tentu akan terlihat perbedaan mencolok diantara kami, terlebih lagi tinggiku sudah tersaing oleh tubuh sempurnanya. 

“Dijah, masih belum keluar kamar juga?” tanya emak dengan nada yang semakin meninggi, dengan cepat aku membuka pintu kamar dan menampakkan diri. 

“Emak, tadi Dijah ambil handuk dulu,” ucapku sambil memerkan benda bertekstur halus yang melingkari leherku.

Emak tersenyum.

“Sebenarnya siapa yang mau melamar dijah, Mak?” tanyaku ragu. 

Sebenarnya siapapun yang datang, aku tak mungkin menolak. Karena bagaimanapun, aku yakin kalau pilihan emak adalah jodoh yang terbaik, itulah yang aku percayai. Lebih memilih pasrah dengan jodoh yang akan ditakdirkan tuhan kepadaku. 

“Nak Ammar.”

“Ammar?” tanyaku yang diikuti dengan menelan saliva dengan kasar. 

“Jangan bilang kamu menolak. Kamu sudah janji kan, menyerahkan urusan jodoh kepada Emak.’

“Nggih, Mak,” ucapku yang segera berlalu ke kamar mandi dengan menahan senyum di hatiku.

“Ammar?” ucapku tak percaya sambil menatap wajahku di cermin kamar mandi. 

Ya, di ruangan yang tak besar ini aku memang meletakkan pecahan kaca yang memiliki sisi tak beraturan ke dinding. Aku mempunyai kebiasaan menatap wajahku sebelum dan sesudah mandi. Alasannya sih supaya tahu bagaimana perubahan wajahku dari jelek menjadi cantik, tapi nyatanya tak ada yang berubah. Entah aku mandi ataupun tidak, rasanya tak ada bedanya, karena itulah aku jadi wanita yang malas mandi. 

Ammar, dia adalah salah satu pemuda idaman di kampung ini. Lebih tepatnya idamanku. Dia anak dari seorang imam masjid tempat ini. Lain dari kakak-kakaknya yang selalu terlihat rapi dan agamis. Ammar memiliki penampilan yang beda. Jika kedua kakaknya lebih sering memakai sarung dan baju koko, Ammar lebih suka dengan celana levis dan atasan kaos. Jika kedua kakaknya suka ikut berjamaah di saf depan bersama bapak mereka, lain halnya dengan Ammar yang selalu datang terlambat dan berada di saf sholat paling belakang. Ia terlihat lebih urakan dari saudaranya yang lain, tapi tetap saja wajah tampannya itu menghipnotis kaum hawa.

‘Amar melamarku?’ batinku yang masih tak percaya. Beberapa kali kuusap kasar wajahku sendiri, memastikan jika semua bukanlah mimpi. 

***

Detikan jam terus berjalan, bersamaan dengan hatiku yang dag dig dug tak karuan. Menghadirkan sandi rumput yang entah bagaimana cara membacanya. 

Apalagi ketika kulihat rombongan dengan 2 mobil terparkir. Jantungku seakan hendak copot dari tempatnya. Emak memintaku untuk berdiam di kamar, menatap rombongan itu masuk dari balik jendela. Sedangkan wanita keramat yang telah melahirkanku, menjamu tamunya dengan wajah sumringah. 

“Khadijah,” teriak bulekku bersamaan dengan ketukan pintu. 

Kalau sudah seperti ini, mau tidak mau aku harus keluar menampakkan batang hidungku yang terkesan pas-pasan. Kulihat kembali wajahku di cermin, berikut dengan pakaian yang menyelimutiku saat ini. Aku berdiri di depan kaca besar yang menempel di pintu almari, mengenakan kebaya warna biru dengan make up seadanya. Tidak lupa kututupi mahkotaku dengan warna senada. 

“Eh, lupa,” ucapku bermonolog sambil mengambil parfum murahan yang berada di atas meja, kusemprotkan benda tersebut, hingga wangi itu menguar ke seluruh ruangan.

“Tarik nafas, hembuskan. Tatik nafas, hembuskan,” ucapku sendiri sambil melakukan perintah dari bibir. Seperti inilah caraku menenangkan diri dari rasa tegang.

Perlahan kupegang gagang pintu, dan memutarnya. Kugeser benda kayu itu, hingga terdengar suara berderit ketika pintu kayu berbenturan dengan lantai. Kini, semua mata menatap kearahku, karena pintu kamar langsung berhadapan ke ruang tamu.

Kedua orang tua Ammar duduk di sofa panjang, dengan ketiga anaknya yang saling berdampingan dengan pasangan masing-masing. Tak terlihat Amar layaknya sebuah pesta lamaran di tiktok ataupun facebook. Karena di desa ini, masih sangat mengikuti budaya lokal. Dimana sang lelaki yang melamar, tak akan turut serta untuk datang. Apalagi sampai bertukar cincin layaknya selebriti. Bahasa jawanya, orang tua akan nembung kepada pihak perempuan, meminta ijin jika anak perempuannya akan diunduh mantu. Setelahnya, sang wanita ditanyai oleh pihak lelaki, apakah bersedia dinikahi oleh anaknya yang bernama fulan. Ketika aku menjawab iya, semuaa prosesi usai. Ya, sangat sederhana.

Setelah melakukan prosesi lamaran usai. Baik keluarga Ammar dan keluarga besarku saling musyawarah tentang hari pernikahan. Sekilas akupun mendengar, jika hari pernikahanku tinggal hitungan hari. Hingga di hari H, aku mendapati kenyataan jika yang hendak dilamar oleh Ammar adalah Dinda, adikku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bos Mencuri Ciuman dari Istrinya yang Hamil Setelah Bercerai
7.8
Kayshila Zena menjalani pernikahan paksa dengan Zenith Edsel, penguasa Jakarta, akibat penolakan keluarganya sendiri. Namun, tuduhan miring tentang masa lalunya membuat pernikahan itu hancur hingga ia harus pergi setelah melahirkan dan menandatangani perceraian. Bertahun-tahun berlalu, Kayshila kembali membawa anaknya dan melamar sebagai dokter pribadi Zenith. Di luar dugaan, sang mantan suami justru menerima kehadirannya dengan tangan terbuka, bahkan menyayangi anak misterius tersebut seperti darah dagingnya sendiri.
Sampul Novel Kebohongan Pedang Perak
9.4
Menjadi putri dari suku terpandang tidak membuatku lepas dari rahasia gelap. Aku nekat menjalin hubungan terlarang dengan Walker, pria yang dulu mendampingi saudari kandungku, Emily. Kemesraan kami bahkan sengaja didokumentasikan dalam bentuk video. Namun, semua berubah saat pemimpin suku itu pergi setelah pertemuan intim kami dan meninggalkan arlojinya. Ketika berniat mengembalikannya, aku justru mendengar obrolan rahasia dari balik pintu yang membalikkan hidupku.
Sampul Novel Kehangatan Cinta
9.3
Memasuki tahun ketujuh pernikahan, kebenaran pahit terungkap bagi sang istri saat Yeni, cinta pertama Hans, kembali ke tanah air. Sadar hanya menjadi bayang-bayang, ia memutuskan menggugat cerai. Keputusannya pergi justru disambut gembira oleh putranya sendiri yang berharap Yeni menjadi ibu barunya. Tanpa ragu, ia melangkah pergi bersama putrinya. Tiga bulan berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Saat sang putra menatapnya sambil menangis, ia memilih berpura-pura tidak mengenalnya.
Sampul Novel Ketika Suamiku  Minta Rujuk
8.0
Pernikahan Reyna hancur setelah Damar berselingkuh dengan Livia, sahabatnya sendiri hingga hamil. Padahal selama ini Damar selalu membatasi penampilan Reyna, namun ia malah berpaling pada Livia yang modis. Kecewa berat, Reyna memutuskan pergi demi membangun kehidupan baru yang mandiri. Saat Reyna akhirnya berhasil meraih kebahagiaan dan kesuksesannya sendiri, Damar tiba-tiba datang kembali untuk mengemis rujuk dan meminta kesempatan kedua.
Sampul Novel PERNIKAHAN SYDEN ADIBA DI LAHORE PAKISTAN
9.3
Demi menyelidiki rahasia yang disembunyikan Adiba, orang tuanya memanggilnya pulang ke Pakistan. Dengan berat hati, ia harus meninggalkan Rusia dan berpisah dari Syden. Syden sendiri adalah mantan idola kampus di Filipina yang kini sukses menjadi miliarder di Rusia. Meski ketulusan Syden mampu mengobati luka masa lalu Adiba, perbedaan latar belakang menjadi penghalang restu keluarga. Kini, Syden harus berjuang keras demi meluluhkan hati keluarga Adiba di Lahore.
Sampul Novel The Present Of Love
8.6
Sebagai anak mucikari, hidup Seila dipenuhi hinaan. Namun, takdir mempertemukannya dengan Aksara yang menyelamatkannya dari aksi pemerkosaan. Setelah malam intim yang membawa kebahagiaan sesaat, Aksara justru pergi ke luar negeri dan meninggalkan Seila dalam kepedihan serta kerinduan mendalam. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang terus mengejar, mampukah Seila bangkit mengatasi keterpurukan dan menemukan kedamaian hidupnya kembali?