
Sahabat Masa Kecil Suamiku Adalah Pelakor
Bab 8
Dalam tiga hari berikutnya, Peter tidak pernah pulang lagi. Nindy sudah membereskan semua barang-barangnya, lalu mengirimkannya ke rumah ibunya.
Setelah ragu cukup lama, akhirnya Nindy tetap menelpon ibunya. "Bu, beberapa hari lagi aku akan pulang."
"Hah? Kamu cuti? Peter ikut pulang juga?" Di seberang telepon, ibu Nindy terdengar sangat gembira.
"Nindy, bagaimana persiapan kalian untuk program hamil? Kamu harus banyak makan yang bergizi, tubuh sehat, supaya janinnya juga bisa kuat. Lalu bilang sama Peter, jangan merokok, jangan minum alkohol, juga jangan sering bergadang."
"Kamu nggak tahu nih, tetangga kita setiap hari pamer cucunya, katanya cucunya cantik. Hmph, anak Ibu juga secantik ini, menantu Ibu juga tampan, nanti kalau kamu punya bayi, pasti jauh lebih cantik dari cucunya itu."
Setiap kali menelpon, ibunya selalu punya banyak hal untuk diceritakan pada Nindy. Namun kali ini, mendengar celoteh dan nasihat ibunya, mata Nindy justru memerah.
Seakan mendengar isak tangis putrinya, suara ibu Nindy tiba-tiba berubah. "Nindy, kenapa? Kamu menangis? Ada apa sebenarnya?"
Nindy mengusap air matanya, lalu berkata jujur, "Bu, aku berencana cerai sama Peter."
Begitu kata-kata itu keluar, telepon di seberang sana hening sangat lama. Setelah sekian lama, barulah terdengar suara lembut ibunya lagi. "Kalau begitu, pulanglah. Ibu baru beli satu set seprai baru, motifnya pasti kamu suka."
"Baik, Bu."
Nindy merasa tidak sanggup lagi, dia berkata masih ada urusan lalu menutup telepon. Sambil bersandar di sofa, matanya menatap foto pernikahannya dengan Peter yang tergantung di dinding. Air matanya mengalir dengan dingin.
Lihatlah, Peter. Sekalipun tanpamu, di dunia ini masih ada orang yang mencintaiku tanpa syarat.
Tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi pesan yang menarik kembali pikirannya. Saat dibuka, ternyata itu adalah foto yang dikirim oleh Sofie.
Foto itu adalah foto pernikahan adat Sofie dan Peter. Sofie mengenakan gaun tradisional berwarna emas, dia tampak manis saat bersandar di sisi Peter. Peter juga memakai pakaian adat yang sama, seluruh tubuhnya memancarkan aura anggun dan berwibawa.
Nindy kembali mendongak menatap foto pernikahannya sendiri dengan Peter di dinding. Hatinya penuh dengan kepahitan. Delapan tahun hubungan yang dibinanya, ternyata hanyalah sebuah lelucon besar.
Dulu saat mereka menikah, Nindy juga pernah mengusulkan untuk mengambil foto pernikahan adat. Namun Peter menolak, katanya terlalu rumit dan dia tidak cocok memakai pakaian itu. Namun sekarang, dia bukan hanya memakainya, bahkan dengan senang hati berpose untuk difoto.
Benar saja, itulah bedanya antara "peduli" dan "tidak peduli".
Notifikasi kembali berbunyi, kali ini pesan lagi dari Sofie.
[ Kak Nindy, besok aku dan Peter menikah. Awalnya ingin mengundangmu, tapi emosi ibuku sedang nggak stabil, dia nggak ingin melihatmu. Jadi besok lebih baik kamu jangan datang. Nanti setelah selesai, aku dan Peter akan mengundangmu makan. ]
Betapa jelasnya cara pamer serta provokasinya itu. Nindy hanya menanggapinya dengan senyum dingin, lalu membalas.
[ Selamat ya. ]
Setelah mengirim balasan itu, Nindy langsung memasukkan Sofie ke dalam daftar blokir. Kemudian, dia menelepon sebuah perusahaan pembongkaran yang pernah bekerja sama dengannya.
Segala sesuatu di rumah itu adalah cinta dan jerih payahnya. Kini karena dia akan pergi, semua itu sudah tidak ada artinya lagi untuk ditinggalkan.
Keesokan harinya, di lokasi pernikahan. Yang datang hanyalah kerabat dan teman-teman keluarga Sofie.
Peter terus mencari sosok Nindy di antara para tamu. Namun dari awal upacara hingga selesai, dia tidak pernah melihat Nindy muncul.
Malam harinya, setelah mengantar Bonita kembali ke rumah sakit, Peter berniat pulang ke rumah. Sofie juga ingin ikut dengannya, katanya dia ingin mengucapkan terima kasih secara langsung pada Nindy.
Peter tidak menemukan alasan untuk menolak. Dalam pikirannya, dia dan Sofie bersih dan tidak ada yang perlu ditutupi.
Namun begitu Peter membuka pintu rumah, tubuhnya seakan disambar petir.
Seluruh ruangan rumah yang dulunya hangat itu kini kosong melompong. Semua dekorasi dan perabot sudah hilang, menyisakan dinding dan lantai kusam berwarna semen. Hanya ada beberapa kotak besar berisi barang-barang pribadi milik Peter yang diletakkan di tengah ruang tamu.
Di bawah tatapan terkejut Sofie, Peter berjalan mendekati kotak itu. Dengan tangan bergetar, dia mengambil sebuah amplop yang diletakkan di atasnya.
Ketika dibuka, di dalamnya ada surat perjanjian cerai yang sudah ditandatangani Nindy beserta rekam medis operasi kehamilan ektopik miliknya.
Anda Mungkin Juga Suka





