
Saat Cinta Menyerah
Bab 5
Ding, dong!
Suara bel tiba-tiba berbunyi.
Hatiku langsung berbunga. Aku pikir, pesanan mie nyemek milikku akhirnya tiba.
Dengan satu kaki menopang tubuh, aku berjalan ke arah pintu dengan hati-hati.
Tapi, saat pintu terbuka, yang kulihat justru Zayn dan Selena.
Wajahku yang kecewa jelas terlihat oleh mereka.
“Kemarin buru-buru keluar, lupa bawa kunci,” ucap Zayn datar.
Sambil bicara, dia mengambil salah satu sandal bergambar kura-kura milikku, yang bahkan enggan kupakai karena terlalu kusayangi dan memberikannya pada Selena.
Gambar kura-kura yang ada pada sandal itu merupakan lambang shio-ku. Kini justru dengan entengnya diberikan pada orang lain.
“Nggak usah dijelaskan,” jawabku pelan.
Yang kupikirkan hanya satu, makan malamku—mie nyemek. Aku berbalik, bertumpu pada satu kaki, melangkah ke meja untuk mengambil ponsel, memeriksa status pesananku.
“Mbak Manda, ini semua salahku. Tolong jangan marah sama Bang Zayn,” ucap Selena. Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca nyaris menangis.
“Apa lagi yang mau kamu lakuin, Manda! Selena baru lulus S2, dia juga dipaksa nikah sama orang tuanya. Sekarang, dia nggak punya tempat tinggal. Jadi, nggak masalah ‘kan kalau dia menginap di sini beberapa hari,” sahut Zayn dengan nada bicara tak sabar.
Mendengar semua itu, aku malah tertawa. Tawa yang sarat dengan getir dan ketidakberdayaan.
Zayn salah paham. Dia mengira aku menertawakan mereka.
“Kamu memang nggak ada empatinya ya sama orang! Hal kayak gini kamu masih ketawain?” ucap Zayn terlihat serius.
Melihat ekspresinya seperti itu, aku justru tertawa sambil meneteskan air mata.
“Ayo kita bicara, Zayn,” ucapku. Suaraku tenang, tapi juga tegas.
“Jangan bikin drama. Selena belum tidur semalaman, dia butuh istirahat,” tolaknya kesal. Tatapan matanya tersirat ketidaksukaan padaku.
“Aku mau cerai,” ucapku kemudian dengan serius. Aku tidak ingin menunda lagi.
Zayn justru menanggapinya dengan enteng.
“Kenapa kamu nggak bisa lapang dada, sih? Cuma soal sandal, ‘kan?” ucap Zayn sambil melirik sandal bergambar kura-kura. Tatapannya tampak suram, seolah sedang menghindari sesuatu.
“Zayn! Aku bilang … hubungan kita berakhir! Kita cerai!” ucapku menegaskan sekali lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





