APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rinai Hujan di Pagi Hari

Rinai Hujan di Pagi Hari

Kania terpaksa merelakan kekasihnya, Sammy, untuk menikahi sang kakak, Melani Lim, setelah kecelakaan tragis merenggut tangan kiri Melani. Demi melupakan kepedihan tersebut, Kania akhirnya menerima lamaran Daniel, seorang pria yang usianya jauh lebih tua. Di tengah pernikahan baru yang hambar tanpa rasa cinta ini, mampukah Daniel merebut hati Kania? Ataukah bayang-bayang masa lalu bersama Sammy akan terus membayangi kehidupan rumah tangga mereka selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Ken, kamu nggak mau ke bawah?" tanya David sambil membuka pintu kamar Kania, anaknya.

"Males ah. Kania mau di kamar aja," tolak Kania.

"Yakin nggak mau keluar? Makanan di bawah enak-enak lho," goda David.

"Papi aja deh yang ambilin dan bawain ke sini," pinta Kania dengan manja.

"Enak aja. Ambil sendiri di bawah. Papi lagi ada tamu Ken."

"Ah, Papi jahat. Udah nggak sayang lagi sama Kania."

"Eh ini anak. Ikut Papi aja mau?"

"Ke mana Pi?"

"Ke ruang kerja. Sekalian kenalan sama temen Papi. Orangnya ganteng lho."

"Nggak mau ah. Biar ganteng pasti udah tua."

"Kata siapa? Kan kamu belum lihat."

"Males ah. Mau di kamar aja," tolak Kania.

"Ya udah terserah kamu aja. Tapi kalo kamu bosan, ke ruang kerja Papi aja."

David meninggalkan Kania dan kembali ke ruang kerjanya yang berada di lantai bawah rumah.

Hari ini istrinya mengadakan pesta kecil untuk merayakan wisuda Melani putri sulungnya. Dan seperti biasa, Kania lebih memilih diam di kamar daripada berada dalam acara-acara seperti saat ini.

David masuk ke dalam ruang kerja. Di sana ada Daniel, rekan bisnisnya yang baru. Pria keturunan Korea - Indonesia yang baru setahun ini dikenalnya.

"Sori harus menunggu lama," ujar David dengan bahasa formal.

"Its oke," jawab Daniel santai.

"Saya belum pernah lihat anak kamu yang bungsu," ujar Daniel pada David.

"Kania itu susah orangnya. Agak menutup diri dengan suasana baru dan orang yang belum dia kenal," David memberi penjelasan.

"Oh, unik juga ya. Saya jadi penasaran ingin ketemu dan berkenalan."

David tertawa mendengar perkataan Daniel. "Bisa diatur," jawab David.

"Oke, sekarang mari kita membahas tentang rencana akhir pembukaan mini market di Kemang," ujar Daniel.

Untuk beberapa waktu Daniel dan David sibuk membahas rencana kerja sama mereka membuka cabang mini market MIRAE di daerah Kemang.

"Saya permisi ke kamar kecil dulu," ujar Daniel setelah beberapa saat.

"Silakan."

Daniel beranjak dari duduknya dan keluar ruangan menuju ke kamar kecil. Sambil berjalan, Daniel membalas pesan yang masuk dari Ji Sung, sekretaris pribadinya yang berada di Seoul, sehingga tidak melihat Kania yang berjalan ke arahnya.

Kania pun tidak melihat Daniel karena dirinya juga sedang membalas pesan dari Sammy, kekasihnya.

"AW!" pekik Kania sambil memegangi keningnya.

"Maaf, saya tidak sengaja. Ada yang luka?" tanya Daniel pada gadis di hadapannya.

Kania memandangi pria di hadapannya. Dan tiba-tiba saja dirinya dilanda rasa panik.

"Maaf, saya nggak sengaja," ujar Kania gugup.

"Tidak masalah," jawab Daniel sopan. "Tapi apa kamu terluka?"

Kania buru-buru menggelengkan kepalanya, dan mencoba untuk melanjutkan langkahnya.

"Eits, kamu mau ke mana?" tanya Daniel sambil mencekal tangan Kania yang hendak kabur.

"Bukan urusan kamu kan." Kania menyentakkan tangannya kemudian langsung pergi meninggalkan Daniel.

Daniel memandangi Kania sampai gadis itu menghilang dari pandangannya.

"Gadis yang lucu," gumam Daniel sambil tersenyum kecil."

Daniel pun meneruskan niatnya menuju ke kamar kecil. Setelah selesai, Daniel kembali ke ruang kerja.

"Papi!" Kania membuka pintu ruang kerja sambil memanggil ayahnya.

David yang tengah membahas tentang mini market mengangkat kepalanya mendengar suara Kania memanggilnya.

"Sini masuk Ken," ujar David.

Kania berjalan menghampiri David yang duduk di sofa tunggal di ruang kerja. Kemudian duduk di sandaran tangan dan memeluk David.

"Pi, Kania la …."

Kania tidak jadi meneruskan ucapannya karena dia melihat ada pria yang tadi bertabrakan dengan dirinya di sana.

"Kenapa kamu di sini?!" tanya Kania dengan nada ketus pada Daniel.

Daniel tertawa kecil mendengar "kata sambutan" dari Kania.

"Kita ketemu lagi," ujar Daniel pada Kania.

"Dia ini siapa Pi?"

"Temen bisnis Papi. Kan tadi Papi udah bilang."

"Kalo gitu, Kania balik aja ke kamar." ujar Kania langsung berdiri dan berjalan meninggalkan ruang kerja David.

David hanya dapat menggelengkan kepala melihat kelakuan Kania.

"Jadi dia anak bungsu kamu?" tanya Daniel setelah Kania keluar.

"Iya."

"Lucu juga sikapnya," ujar Daniel.

"Dia memang seperti itu kalau merasa tidak nyaman," sahut David.

"Bukankah itu bagus? Berarti dia tidak sembarangan dalam memilih teman dan pergaulan."

"Terkadang memang baik bersikap seperti itu, tetapi hal itu membuatnya tidak memiliki teman dekat."

"Saya justru sangat menyukai sikapnya yang seperti itu," ujar Daniel.

David terdiam mendengar perkataan Daniel barusan. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika mendengar nada suara Daniel.

***

Keluar dari ruang kerja David, Kania berjalan menuju dapur. Cacing-cacing di perutnya sudah berdemo sejak tadi minta diberi makanan.

Tadinya Kania ingin meminta David menemaninya mengambil makanan di ruang makan. Namun, melihat ada orang lain di sana, Kania mengurungkan niatnya.

Maka dia langsung menuju dapur, mencari Bi Sumi untuk meminta tolong pengasuhnya sejak kecil mengambilkan makanan untuk dirinya.

"Bi, Kania laper."

"Mau Bibi ambilin makanan?"

"Mau Bi," ujar Kania senang. "Kania tunggu di atas ya. Inget ya Bi, Mami dan Kak Mel nggak boleh tau."

"Iya Non."

Kania bergegas keluar dapur dan menuju ke lantai atas. Dia menunggu Sumi datang membawakan makanan di balkon.

Tidak lama, Sumi datang membawa baki berisi makanan.

"Ini Non. Dihabiskan ya," ujar Sumi.

"Wah banyak banget Bi. Ini namanya rejeki nomplok," ujar Kania sambil memandangi piring-piring yang berisi bermacam-macam makanan, bahkan sampai hidangan penutup pun dibawakan oleh Sumi.

"Bibi tinggal dulu ya. Piring-piring kotornya biarin aja di sini. Nanti biar Bibi yang beresin," ujar Sumi.

"Iya Bi. Sangat-sangat terima kasih," ujar Kania dengan mimik wajah lucu.

Kania tidak menyadari kehadiran Daniel sejak tadi dan mendengar semua pembicaraannya dengan Sumi.

Daniel berjalan menghampiri Kania dan berdiri di belakang gadis itu.

"Ternyata kamu ngumpet di sini," ujar Daniel pada Kania.

Kania yang baru saja hendak makan, urung begitu mendengar suara pria di belakangnya. Kania menoleh untuk melihat siapa yang datang.

"Mau ngapain ke sini?! Bukannya lagi ngobrol sama Papi?!" tanya Kania ketus.

"Saya mau ngerokok dulu," ujar Daniel sambil mengambil sebatang rokok.

"Emang rokok rasanya enak?"

"Penasaran? Mau coba?" tantang Daniel.

"Nggak. Makasih. Cukup Papi aja yang ngerokok di rumah ini," tolak Kania.

Dengan gaya acuhnya, Kania mulai menikmati makanan yang dibawakan oleh Sumi.

"Kenapa kamu tidak bergabung di bawah?" tanya Daniel yang semakin penasaran dengan gadis ini.

"Males. Enakan di sini, bisa ngeliatin bintang."

"Kalo mau liat bintang, pake teleskop lebih baik. Bintang jadi terlihat semakin jelas."

"Belum perlu. Begini juga udah bagus kok."

"Kamu suka bintang?" tanya Daniel.

Kania menganggukkan kepalanya. "Suka banget. Apalagi kalau nggak ada awan, bintang bisa keliatan jelas dan langit jadi semakin cantik."

"Boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tanya aja, nggak ada larangan kan?"

"Berapa usia kamu?"

"Masih delapan belas. Nanti Agustus baru genap sembilan belas. Kenapa?"

"Berarti kita berbeda usia enam belas tahun," sahut Daniel. "Sudah lulus sekolah menengah?"

"Baru lulus," jawab Kania.

"Berencana untuk kuliah?"

"Nggak."

"Kenapa?"

"Mau cari kerja aja. Otak saya nggak sanggup kalo harus kuliah," jawab Kania santai.

"Kalau membantu di mini market mau?"

"Wah, mau jadi apaan di sana?"

"Kamu bisa belajar untuk mengelola mini market. Atau belajar cara pembukuan," ujar Daniel.

"Gajinya besar?" tanya Kania dengan mimik lucu. "Bisa buat beli teleskop?"

Daniel tertawa keras mendengar pertanyaan Kania. Gadis ini ternyata ramah dan penuh selera humor kalau sudah merasa nyaman.

"Itu bisa diatur. Kalau kamu setuju, saya akan bilang sama David."

"Baiklah, akan dipikir baik-baik."

"Saya tunggu jawaban kamu."

"Saya udah selesai makannya, dan mau balik ke kamar."

"Oke. Senang bisa mengobrol sama kamu."

"Sama-sama," jawab Kania yang sudah lebih ramah. "Ngomong-ngomong, saya nggak tau nama kamu."

"Saya Daniel." Daniel mengulurkan tangannya pada Kania.

"Kania," ujar Kania sambil menjabat sekilas tangan Daniel.

"Boleh saya minta nomor ponsel kamu?" tanya Daniel yang belum melepaskan tangan Kania.

"Buat?"

"Ponsel berguna untuk berkomunikasi. Tentunya untuk berkomunikasi dengan kamu," ujar Daniel.

"Oh kira in buat nagih hutang," jawab Kania.

Kemudian Kania memberikan nomor ponselnya pada Daniel. Setelah itu Kania kembali ke kamarnya.

Daniel beranjak meninggalkan balkon dan kembali ke bawah. Saat berjalan menuju ke ruang kerja, dia berpapasan dengan Sherly.

"Oh, ternyata ada Daniel. Sudah makan?" tanya Sherly ramah.

"Belum," jawab Daniel sopan.

"Mel, sini dulu sebentar," panggil Sherly pada Melani.

"Ada apa Mi?" tanya Melani.

"Kamu udah sapa Om Daniel?"

"Selamat malam Om, apa kabar?" tanya Melani sambil tersenyum manis.

"Saya baik. Oh iya, selamat ya karena sudah lulus kuliah."

"Makasih Om."

"Sudah mendapatkan pekerjaan?" tanya Daniel sopan.

"Sedang menunggu panggilan Om."

Sherly melihat David datang dan bertanya pada David.

"Pap, kamu liat Kania?" tanya Sherly pada suaminya.

"Paling di kamarnya. Memang kenapa?"

"Anak itu apa nggak pernah diajarin sopan santun?! Masa kakaknya lulus wisuda dia malah diem aja di kamar?"

"Daniel, bagaimana kalau kita makan dulu?" David tidak menghiraukan perkataan istrinya.

"Oke. Usul yang baik. Kebetulan saya sudah lapar."

"Bapak sama anak sama aja. Sama-sama nggak punya aturan!"

"Kenapa kamu sepertinya marah sama istri kamu? Maaf kalau saya lancang." Daniel bertanya pada David saat mereka sedang mengambil makanan.

"Bukan marah. Hanya tidak suka terhadap kelakuannya yang selalu membedakan Melani dan Kania."

"Oh ya?"

"Seharusnya istri saya bersikap adil pada mereka berdua, tapi nyatanya …." David tidak melanjutkan perkataannya.

"Itukah sebab nya kamu lebih memperhatikan Kania dibanding Melani?"

"Mungkin juga," jawab David. "Mari kita ke taman."

David membawa Daniel menuju ke taman di samping rumah. Mereka duduk di meja yang mengahadap ke taman yang terlihat cukup terang karena lampu-lampu hias yang tergantung cantik.

"Bagus juga taman kamu," ujar Daniel kagum.

"Ini hasil perbuatan Kania," ujar David dengan bangga.

"Serius? Ternyata dia memiliki jiwa seni yang cukup baik," puji Daniel tulus.

"Memang begitulah Kania. Lebih suka tidak terlihat dan lebih senang dengan hal-hal yang berhubungan dengan seni."

"Saya malah ingin mengajak Kania bergabung di mini market," ujar Daniel.

David terkejut mendengar pernyataan Daniel. "Sebagai?"

Belum sempat Daniel menjawab, mereka dikejutkan dengan suara teriakan Kania dari dalam rumah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Hanyalah Ilusi Cinta Pertamanya
9.5
Pernikahan dengan Stephen sejak awal tidak didasari cinta, melainkan utang budi setelah melindunginya dari tikaman pisau. Ketika cinta pertama pria itu kembali, dia tanpa ragu membatalkan pernikahan mereka. Namun, Stephen justru menjadi gila saat mengetahui bahwa sang istri memilih untuk menggugurkan kandungannya dan pergi menghilang demi melepaskan diri dari hubungan tanpa rasa cinta tersebut.
Sampul Novel Aku Pelakor?
8.4
Di hari pernikahan putranya, seorang istri diusir suaminya dari kursi utama demi Liana, wanita masa lalu sang suami. Lebih menyakitkan lagi, putranya sendiri mendukung keputusan itu dan menolak menyajikan teh pernikahan untuk ibu kandungnya demi menyenangkan Liana hari itu saja. Menghadapi konspirasi suami dan anak kandungnya yang tega menyingkirkannya di momen penting tersebut, wanita ini akhirnya menyadari bahwa dedikasi dan pengorbanannya selama 25 tahun membina rumah tangga hanyalah sebuah lelucon belaka.
Sampul Novel Anon I love u
9.4
Sheril, wanita 25 tahun yang belum pernah pacaran, kerap digunjingkan tetangga akibat jam kerjanya. Padahal, ada pria-pria memikat seperti Rey, Vero, dan Tedi di sekitarnya. Uniknya, ia justru terpikat pada Anon, pemilik akun misterius di aplikasi Minsta yang belum pernah ia jumpai secara langsung. Mengapa Sheril memilih pria asing tersebut? Siapa sebenarnya sosok asli di balik identitas anonim itu? Simak kisah romansa dewasa penuh misteri ini.
Sampul Novel Deviant Love
9.5
Kehidupan Windy hancur total pasca-kematian Jimmy. Tak lama setelah itu, rangkaian pembunuhan sadis mulai meneror orang-orang terdekat di sekitarnya. Tragisnya, pola kejahatan ini malah membuat Windy dituduh sebagai dalang di balik semua kekejian tersebut. Di tengah desakan tudingan publik, ia juga harus bertahan dari ancaman mematikan sosok misterius yang mengincar nyawanya. Windy kini terjebak dalam teka-teki mencekam: apakah sang pembantai dan peneror itu adalah orang yang sama?
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Niat tulus Rheina menyelamatkan sahabatnya dari tuan tanah malah berujung pelik. Sang ayah justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat, menyeret Rheina ke dalam lingkaran konflik keluarga yang kelam dan merusak hidupnya. Di tengah kerasnya tekanan hidup yang dipenuhi kata kasar dan adegan dewasa, gadis lugu ini terjebak dalam cinta segitiga yang rumit. Saksikan perjuangan emosional Rheina menghadapi takdirnya yang sarat liku.
Sampul Novel Kesempatan Kedua dengan Kekasih yang Dicemooh
9.1
Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran finansial, Johanna terpaksa menjadi wanita simpanan Carson. Sempat dimanjakan, ia sangat terluka setelah menyadari dirinya cuma alat dalam rencana licik pria itu. Johanna akhirnya pergi untuk membangun kehidupan baru yang mandiri. Saat mereka kembali dipertemukan, Johanna telah menjelma menjadi sosok tangguh yang didekati banyak pria. Carson yang dirundung penyesalan memohon kesempatan kedua, tetapi Johanna menolaknya dengan dingin karena mengaku telah menikah.