APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rencana Perceraian 100 Poin

Rencana Perceraian 100 Poin

Tiga tahun membina rumah tangga, aku mencatat tiap perselingkuhan Baskara dalam jurnal khusus berskala seratus poin. Batas sabarku habis saat kecelakaan tragis merenggut poin terakhir itu di usia kehamilan delapan minggu. Di ruang darurat, Baskara yang merupakan dokter bedah tega menolak menyelamatkanku demi mendahulukan mantan kekasihnya. Keputusan dingin itu tanpa sengaja menjadi vonis mati yang ia jatuhkan sendiri untukku dan calon buah hati kami.
Bab
Bagikan

Bab 2

Keesokan paginya, Karina tidak pergi ke rumah sakit. Dia pergi menemui seorang pengacara. Kantornya berada di lantai 30 sebuah gedung pencakar langit kaca, dengan pemandangan seluruh kota. Rasanya pas. Dia akhirnya mendapatkan perspektif baru.

Dia menyerahkan sebuah map berisi perjanjian pranikahnya dan ringkasan asetnya.

"Saya ingin mengajukan gugatan cerai," katanya, suaranya tenang dan datar. "Saya ingin menyiapkan surat-suratnya sekarang, agar siap ditandatangani begitu saya memutuskan."

Pengacara itu, seorang wanita cerdas bernama Ibu Dewi, menatapnya dengan simpati profesional. "Tentu saja, Nyonya Santoso. Kami bisa menyiapkan semuanya dan menunggu sinyal dari Anda."

Meninggalkan kantor pengacara, Karina merasakan kelegaan yang aneh. Bukan kebahagiaan, tapi pelepasan. Dia berhenti di sebuah kafe kecil dan membeli semangkuk sup ayam dan termos teh panas, jenis yang disukai Baskara saat sakit. Itu adalah kebiasaan, sisa-sisa tugas yang telah dilakukannya selama bertahun-tahun.

Ketika dia tiba di rumah sakit, dia berhenti di luar kamar Baskara. Melalui panel kaca di pintu, dia melihat Ariana duduk di samping tempat tidurnya. Dia mencoba menyuapinya sup, tetapi gerakannya canggung. Dia menumpahkan sesendok ke gaun rumah sakit Baskara, lalu sesendok lagi ke sprei putih bersih.

"Oh, maafkan aku, Baskara!" seru Ariana, menyeka tumpahan itu dengan serbet. "Aku benar-benar tidak berguna."

"Tidak apa-apa," suara Baskara serak tapi lembut. Dia mengulurkan tangan dan menyeka air mata dari pipi Ariana. "Hanya sup."

"Tapi kamu terluka karenaku," isaknya, bahunya bergetar. "Dokter bilang menghirup asapnya parah. Bisa merusak paru-parumu, tanganmu… kariermu…"

"Ssst," Baskara menenangkannya. "Itu sepadan. Selama kamu aman."

Ariana menatapnya, matanya lebar dan bersinar dengan kekaguman. "Kamu selalu ingin menjadi ahli bedah saraf. Kamu melepaskan mimpimu menjadi pelukis untuk itu."

Tatapan Baskara melembut. "Aku tidak melepaskannya. Aku menjadi dokter bedah karenamu."

Ariana tampak bingung. "Apa maksudmu?"

"Apa kamu ingat hari itu di SMA?" tanyanya, suaranya rendah. "Kamu jatuh dari tribun dan kepalamu terbentur. Kamu tidak sadar selama hampir satu menit. Aku belum pernah setakut itu seumur hidupku. Itulah hari aku memutuskan ingin menjadi dokter. Dokter terbaik. Jadi aku bisa selalu ada untuk menyelamatkanmu jika kamu membutuhkanku."

Wadah sup terlepas dari tangan Karina, jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk pelan. Dia tidak menyadarinya. Kata-kata itu bergema di kepalanya, raungan yang memekakkan telinga.

Seluruh kariernya. Ambisi hidupnya. Semuanya untuk Ariana.

Ariana terkesiap, tangannya menutupi mulutnya. "Baskara… aku tidak pernah tahu."

Dia melemparkan dirinya ke dalam pelukan Baskara, membenamkan wajahnya di dadanya. "Oh, Baskara."

Baskara ragu sejenak, matanya melirik ke arah pintu seolah merasakan sesuatu. Tapi kemudian lengannya melingkari Ariana, memeluknya erat. Sebuah tablo cinta dan pengabdian yang sempurna dan menyakitkan.

Karina merasakan sakit yang tajam dan menyesakkan di dadanya. Pandangannya kabur. Dia berbalik dan berjalan pergi, langkahnya sunyi dan mati rasa. Dia meninggalkan sup dan teh di lantai di luar pintu kamar Baskara.

Di lobi rumah sakit, dia berpapasan dengan salah satu kolega Baskara, Dokter Erwin. Dia sedang terburu-buru, setumpuk map di tangannya.

"Karina! Aku baru saja mau menjenguk Baskara. Bagaimana keadaannya?"

"Dia baik-baik saja," katanya, suaranya hampa.

"Bagus, bagus. Dengar, aku ada operasi darurat. Bisakah kamu memberikan ini padanya?" Dia menyerahkan sebuah map manila ke tangan Karina. "Ini surat pengunduran dirinya dari dewan riset. Dia perlu menandatanganinya."

"Pengunduran diri?" tanya Karina, bingung. Baskara sangat menyukai posisinya di dewan riset.

"Ya, dia mundur untuk mendanai klinik swasta baru. Gila, kan? Mengorbankan risetnya sendiri… tapi dia bilang ini untuk seseorang yang penting." Pager Dokter Erwin berbunyi. "Aku harus lari!"

Dia menghilang di ujung koridor. Karina berdiri sendirian di lobi yang ramai, memegang map itu. Tangannya gemetar saat membukanya. Di dalamnya ada surat pengunduran diri resmi Baskara. Dan terlampir di situ adalah proposal bisnis untuk klinik baru.

Itu adalah fasilitas kesehatan mental dan kebugaran canggih. Penerima manfaat utama dan direktur yang tercantum dalam proposal itu adalah Ariana Wijaya.

Dunia seakan berputar. Bukan hanya masa lalunya. Masa depannya juga. Setiap bagian dari hidupnya dibangun di sekitar Ariana. Dia menjadi dokter untuknya. Sekarang dia menyerahkan posisi risetnya yang bergengsi untuk membangun tempat perlindungan baginya.

Karina hanyalah sebuah nama di akta nikah. Seorang pengisi kekosongan. Hantu dalam hidupnya sendiri.

Dia teringat hari ketika Baskara dirayakan karena teknik bedah terobosannya. Dia sangat bangga, hatinya membengkak karena cinta pada pria yang cemerlang dan berdedikasi ini. Sekarang dia menyadari, dengan kejernihan yang memuakkan, bahwa bahkan momen itu pun milik Ariana. Setiap pencapaian, setiap kesuksesan, hanyalah langkah lain di jalannya kembali ke cinta pertamanya.

Sudah waktunya untuk keluar dari jalan itu. Sudah waktunya untuk menemukan jalannya sendiri.

Dia berjalan keluar dari rumah sakit ke bawah sinar matahari yang cerah dan tak kenal ampun. Dia mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor yang sudah bertahun-tahun tidak dihubunginya.

Bintang. Sahabatnya dari sekolah arsitektur. Orang yang selalu mengatakan padanya bahwa dia ditakdirkan untuk lebih dari sekadar menjadi Nyonya Baskara Santoso.

Bintang mengangkat telepon pada dering kedua. "Karina? Ini kamu?"

"Ini aku," kata Karina, suaranya terdengar sangat mantap. "Kamu tahu firma arsitektur yang selalu kita impikan untuk dibuka?"

Ada jeda, lalu suara Bintang, penuh kegembiraan. "Kamu serius?"

"Aku serius," kata Karina, senyum tipis menyentuh bibirnya untuk pertama kalinya dalam waktu yang terasa seperti seumur hidup. "Aku akan meninggalkan Baskara. Aku siap untuk memulai."

"Oh, syukurlah!" pekik Bintang. "Aku akan mulai mencari ruang kantor! Sesuatu di Jakarta, dekat rumahmu, jadi nyaman untukmu?"

Karina menatap cakrawala, ke gedung-gedung menjulang yang pernah diimpikannya untuk dirancang.

"Tidak," katanya, suaranya jernih dan tegas. "Bukan Jakarta. Di tempat baru. Jauh dari sini."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Baby Daddy
8.2
CEO kuliner berusia 30 tahun, Bastian Cokro, kerap diterpa rumor mandul karena masih saja melajang. Di sisi lain, ada Eva Sania, penyiar berita sukses yang sangat menikmati kebebasan hidup bersama pasangan FWB-nya. Namun, takdirnya berubah drastis setelah sang ibu memberikan titah tak biasa. Bukannya menyuruh menikah, ibunya justru menuntut Eva untuk segera hamil tanpa harus bersuami. Misi mencari pria sehat yang bisa membuahinya pun kini resmi dimulai.
Sampul Novel Ceo suamiku (season 2)
9.7
Kehidupan damai Tasya seketika sirna sejak Revan hadir menjadi bagian dari hari-harinya. Revan, sang CEO baru yang kini memimpin perusahaan setelah menggantikan ayahnya, terus-menerus bertingkah menyebalkan dan mengusik ketenangan Tasya. Dinamika kerja antara bos dan karyawan ini pun dipenuhi berbagai momen menjengkelkan. Tasya dibuat kewalahan dan sulit bernapas lega karena sang atasan tiada hentinya mengejar serta mengganggu dirinya.
Sampul Novel Musuh Bebuyutanku yang Berdarah Dingin Tiba-tiba Terobsesi Denganku
9.4
Tujuh tahun kebersamaan Daniela sirna seketika saat ia memergoki perselingkuhan Yosua menjelang pernikahan mereka. Di hari sakral tersebut, Daniela mantap membatalkan pernikahan dan membuang cincinnya. Saat keluarga Clark menghina tindakannya, tiga kakak laki-laki Daniela dari keluarga Stewart hadir membela. Mereka bertekad meruntuhkan dinasti Clark demi adik mereka. Di tengah kekacauan itu, Daniela justru menemukan dekapan hangat dari pria tak terduga yang mengajaknya pulang.
Sampul Novel Kasus 21+
9.3
Khusus pembaca 21 tahun ke atas. Sebagai ketua tim khusus kepolisian elit, Eva Avalon mengemban misi besar untuk memberantas kejahatan dan eksploitasi seksual yang merajalela. Di era modern dengan teknologi yang memicu berbagai modus operandi baru yang licin, ia harus memimpin penyelidikan kasus-kasus rumit. Ikuti perjuangan hebat Eva dalam mengungkap setiap misteri dan menegakkan keadilan di tengah tantangan yang berbahaya.
Sampul Novel Mengambil Alih Identitas Kakakku
9.7
Kematian tragis saudara kembar di hari ulang tahunnya yang ke-18 menyisakan luka mendalam. Setelah dinodai di hotel dan wafat akibat gagal napas, reputasinya dihancurkan oleh Ginny, sahabat yang menyebarkan foto-foto kejadian tersebut. Didorong amarah, sang adik membalas dendam dengan merusak wajah Ginny yang terobsesi menggantikan kakaknya. Di tengah kucuran darah, ia bersumpah bahwa siapa pun yang terlibat dalam penderitaan kakaknya tidak akan pernah dibiarkan lolos hidup-hidup.
Sampul Novel Mengasuh CEO amnesia
9.7
Kehidupan Aurora berubah total setelah menolong seorang pria misterius tanpa ingatan saat malam Valentine, yang ternyata adalah CEO kaya bernama Roberto. Sempat terpisah paksa selama lima tahun, mereka kembali dipertemukan di Gemini Group. Sialnya, Roberto kini menjadi sosok yang sangat dingin dan sama sekali tidak mengenali Aurora. Aurora pun harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta pertamanya telah melupakan janji mereka, bahkan kini ia telah memiliki seorang tunangan.