APKDock Logo
Sampul Novel Remember When

Remember When

8.2 / 10.0
Dante sangat berharap bisa merajut kembali kisah cinta mereka yang kandas, tetapi Olivia tetap teguh pada pendiriannya untuk menolak. Walau terus didesak, Olivia memilih diam karena yakin penjelasan tak lagi berguna. Hal ini memicu Dante untuk menyelidiki sendiri penyebab utama perpisahan mereka yang menyakitkan. Di balik kehangatan kecupan yang membangkitkan memori manis tiga tahun silam, Olivia rupanya memendam rahasia besar yang menjadi alasan kuat mengapa ia pergi.

Remember When Bab 1

Olivia mematikan layar notebook miliknya. Semua berkas pekerjaannya hari ini buru-buru ia simpan ke dalam map holder besar, menatanya berdasarkan tanggal masuknya berkas, dan menaruhnya di sisi kanan meja atasannya. Tidak seperti biasanya Olivia akan meninggalkan kantor ketika hari masih terang benderang seperti ini. Biasanya bisa pulang tepat waktu saja sudah terbilang bagus.

Olivia menyambar kunci mobil di atas meja lalu terburu-buru menekan tombol lift menuju lantai basement di mana ia biasa memarkirkan mobilnya. Ada segudang janji yang harus Olivia lakukan khusus hari ini. Bahkan ponsel yang sedari tadi bergetar di dalam tasnya pun tidak serta merta langsung Olivia angkat—karena tahu siapa yang meneleponnya membabi buta seperti itu.

Palingan sebentar lagi juga telepon, batin Olivia.

Dugaan Olivia ternyata benar. Tidak sampai lima menit, ponsel Olivia kembali bergetar.

"Via, apa kamu sudah pulang?" sapa laki-laki di seberang.

"Sudah di parkiran basement sih, Pak. Ada yang Bapak perlukan?" Olivia balas bertanya.

"Tidak. Tidak ada. Kamu hati-hati di jalan.”

Dahi Olivia berkerut. Bukan kali ini saja atasannya itu bersikap seperti ini. Sejujurnya tidak semua orang seberuntung Olivia. Atasan Olivia adalah tipe atasan santai dan berwibawa yang memberikan kebebasan pada semua stafnya untuk berani mengemukakan pendapat—apapun. Selagi tidak memberi dampak buruk dan merugikan untuk perusahaan, segala saran dan ide pasti akan dipertimbangkan dengan matang oleh atasannya itu. Tapi ya sudahlah. Yang terpenting sekarang ia bisa pulang cepat dan bertemu keponakan-keponakannya.

"Tumben banget kamu sudah pulang jam segini?" sapa Elok heran ketika melihatnya menampakkan diri dari balik pintu belakang. Rumah Elok adalah rumah kedua bagi Olivia untuk ia kunjungi.

Setelah bercipika-cipiki dengan Elok, Olivia mencomot bakwan jagung yang baru matang di atas meja dan melahapnya sekaligus. "Tante Elok gimana kabarnya? Sehat-sehat saja, kan?" kata Olivia dengan mulut penuh bakwan jagung.

Elok adalah Mama dari teman semasa kecilnya Reihan yang telah Olivia anggap layaknya Mama kandungnya sendiri. Mama yang tidak pernah ada dalam setiap helaan napasnya. Bahkan wajahnya pun Olivia tidak tahu. Hanya sekedar nama yang Olivia tahu.

"Aduuh anak ini. Kelakuannya masih saja kayak anak kecil. Cuci tangan dulu sana," tegur Elok pelan masih dengan celemek berwarna biru yang melekat di tubuhnya yang sudah tidak muda lagi itu.

"Jawab dulu. Tante sehat, kan?"

"Iya Tante sehat, Sayang.”

Olivia meringis menahan malu lalu beralih mencuci tangan serta mengambil piring kosong dan mengisinya dengan nasi dan tertahan beberapa waktu di sana.

"Kamu ke mana saja enam bulan ini? Tante khawatir sekali. Kamu makan teratur juga, kan?" tanya Elok masih dengan kesibukannya menggoreng tanpa berniat meninggalkannya.

"Olivia sehat kok, Tante," timpal Olivia sambil menyuapkan nasi ke mulutnya. "Yah, lumayan agak sibuk sih akhir-akhir ini. Maklumin ya, Tante namanya juga sekretaris.”

"Kamu perlu ingat kalau tifus bisa kambuh kapan saja. Sibuk sih boleh, tapi tetap harus bisa jaga kesehatan. Tante nggak mau kamu harus masuk rumah sakit lagi karena kecapekan.”

Olivia mengangguk lalu kembali menyuapkan nasi ke mulutnya dalam diam sembari sesekali mengecek pesan Whatsapp dari ponsel miliknya.

From : Pak Bos

Sorry mengganggu waktunya.

Bisa tolong kirimkan draft dan materi untuk presentasi besok?

To : Pak Bos

Saya kirim sekarang, Pak.

From : Pak Bos

Ok. I'm waiting.

Olivia menyalakan notebooknya sejenak kemudian memindahkan semua file dalam bentuk winrar dan mengirimkan secepat kilat. Pesan Whatsapp pun kembali hadir di ponsel Olivia.

From : Pak Bos

Sudah kuterima.

Besok tolong dibantu seperti biasanya ya.

To : Pak Bos

Tentu saja, Pak.

Dengan senang hati akan saya bantu.

Kembali Olivia tersenyum puas dengan hasil kerjanya sambil menutup layar notebook tanpa mematikannya terlebih dulu. Ah ... sungguh beruntung dirinya mendapatkan atasan seperti atasannya sekarang. Selang beberapa menit kemudian pesan Whatsapp kembali datang.

From : Pak Bos

Untuk seterusnya aku tidak keberatan kita bicara menggunakan bahasa non-formal.

Olivia mematung sejenak, lalu kembali memainkan jari-jarinya.

To : Pak Bos

Saya tidak mengerti maksud Bapak.

From : Pak Bos

Mulai sekarang kamu bisa memanggil saya Yusa atau Mas Yusa seperti lainnya.

Memang benar kebanyakan staf-staf lain di kantor lebih memilih memanggil atasannya itu dengan sebutan Mas Yusa dan itu sah-sah saja menurut Olivia. Salah satu alasannya karena Yusa ingin lebih mengakrabkan diri satu sama lain dengan para staf. Tapi apakah salah kalau Olivia tidak ikut-ikutan melakukannya? Olivia hanya ingin melindungi dirinya dari gunjingan para fans fanatik Yusa—mengingat posisi Olivia saat ini adalah sebagai seorang sekretaris pribadi.

Tidak berhenti hanya disitu saja. Apalagi dengan status masih lajang yang melekat pada diri Yusa seakan-akan memberikan pertanda bahwa posisi sekretaris adalah posisi teratas yang paling diinginkan dan berpeluang besar dilirik oleh Yusa yang notabene memang terbilang masih sendiri. Bahkan tidak jarang pula ada yang membuat rumor jika posisi yang ditempati Olivia saat ini hanya karena dirinya yang berparaskan cantik dan berpostur tubuh semampai layaknya seorang model papan atas. See? Bisa dibayangkan betapa besar pengaruh posisi seorang sekretaris dimata para staf perempuan di kantor ini, kan? Dan sekarang Yusa malah memicu perlakuan seolah anggapan orang selama ini terhadap Olivia adalah benar.

Tanpa berniat menanggapi pesan atasannya lagi, Olivia langsung memasukkan ponselnya itu ke dalam tas dan menghabiskan sisa makanannya yang sempat tertunda. Namun sepertinya Olivia harus kembali menundanya karena ponselnya yang tiba-tiba saja berdering.

"Halo ....” Olivia menyapa sopan ketika tahu siapa yang menelpon. "Halo, Pak," ulang Olivia lagi.

"Aku menunggu balasanmu, Via," potong Yusa cepat.

"Bapak keberatan ya kalau saya panggil seperti biasanya? Jujur saja kalau saya lebih nyaman bicara seperti ini dengan Bapak.”

"Kenapa?" Yusa balas bertanya. "Pasti ada alasannya, kan?”

Olivia tidak menjawab. Sejujurnya ia takut salah bicara.

"Baiklah kita kesampingkan masalah itu dulu. Lusa apa kamu bisa memberikanku tumpangan ke kantor?”

"Tentu saja, Pak. Di mana saya harus menjemput, Bapak? Di apartemen seperti biasanya?”

"Apartemenku sedang direnovasi sementara waktu. Akan kuberitahu nanti aku menginap di mana.”

Panggilan telepon pun berakhir begitu saja dengan meninggalkan Olivia yang masih bingung akan maksud dari apa yang mereka berdua perdebatkan beberapa menit yang lalu. Sungguh aneh, kan? Apa sih yang diinginkan atasannya itu darinya?

Tepukan pelan dipundaknya membuat Olivia memalingkan wajah. Elok menatapnya dengan tatapan sedikit berbeda dari tatapannya tadi siang. Ibu dari teman kecilnya itu tiba-tiba saja mengusap pelan pucuk kepalanya lembut. Membuat Olivia terhanyut untuk sesaat.

"Malam ini menginap saja ya daripada di apartemen sendirian. Si Kembar pasti senang ada kamu. Sudah lama juga kamu nggak ketemu sama Si Kembar, kan?”

Sejak diterima bekerja di perusahaan tempat Yusa, Olivia memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen yang disewanya. Dan terakhir kali Olivia bertemu dengan putra kembar Lussi dan Reihan itu adalah tahun lalu saat ia dinas ke Malang. Selebihnya bahkan ketika mereka berempat berkunjung kemari pun Olivia tidak bisa ikut menemani karena bertepatan acara syukuran kantor.

"Nggak merepotkan, Tante?" tanya Olivia sebagai jawaban. "Via mau-mau saja sih sekalian temu kangen sama Reihan dan Lussi juga.”

"Nggak dong, Sayang. Sampai kapan pun kamu tetap anak Tante. Jadi kapan saja kamu mau tidur di sini, Tante selalu sedia satu kamar kosong untukmu.”

Olivia tertawa kemudian mengangguk. "Terima kasih, Tante.”

Lanjut Membaca

Daftar Isi Remember When

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel DILEMA CINTA
8.2
Dalam kisah romansa modern Dilema Cinta, kita menyaksikan pergulatan batin Alex yang mencintai Maya dengan tulus. Sayangnya, perjalanan asmara ini tidak berjalan mudah bagi Alex. Ia terjebak dalam konflik internal yang rumit karena belum mampu membebaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya. Novel ini menggambarkan perjuangan emosional seorang pria yang berupaya membuka lembaran baru dan melangkah maju, meski kenangan lama masih terus mengikat erat hatinya.
Sampul Novel Guru Untuk Nona Muda Nakal
8.2
Demi meloloskan diri dari kejaran sosok misterius, Dihan terpaksa bersembunyi. Di waktu yang sama, keluarga Rahadian tengah pusing mencari guru privat untuk mendidik dua putri mereka yang terkenal sangat nakal dan enggan belajar. Dihan akhirnya mengambil kesempatan itu walau harus menghadapi tantangan berat. Sanggupkah ia mengatasi kebandelan dua nona muda tersebut? Sementara itu, di balik kekacauan ini, misteri masa lalu Dihan perlahan mulai membayangi langkahnya kembali.
Sampul Novel HOT AND DANGEROUS BILLIONAIRE
8.0
Geby harus menjalani pernikahan paksa bersama Jeremy Loghan, seorang miliarder kejam yang dipenuhi rasa dendam. Walau hati Geby masih terpaut pada kakak Jeremy, sang suami justru melampiaskan kebenciannya lewat perlakuan kasar di ranjang. Di balik konspirasi licik para bangsawan Yorkshire, sebuah rahasia besar perlahan terkuak. Jeremy pun mulai bimbang saat benih cinta tumbuh untuk wanita yang ia benci. Akankah ia memilih balas dendam atau perasaannya?
Sampul Novel Jangan Main-Main Dengan Dia
8.9
Yolanda dibuang ke desa terpencil oleh orang tua angkatnya yang licik. Di sana, ia justru menemukan fakta bahwa dirinya adalah pewaris sah keluarga konglomerat terpandang. Meski kini hidup bergelimang kasih sayang, Yolanda harus menghadapi kedengkian dari adiknya. Berbekal kemampuan luar biasa, ia bangkit untuk menuntut balas. Di tengah perjuangannya, pesona Yolanda memikat seorang miliarder yang kini terus mengejarnya demi membongkar rahasia besar yang ia sembunyikan.
Sampul Novel Skandal Dengan Boss
8.6
Akibat terlambat wawancara, lamaran kerja Anjani ditolak oleh Alvaro. Kecewa dengan keputusan tersebut, Anjani nekat memfitnah Alvaro telah menghamilinya di hadapan sang tunangan. Kebohongan ini membuat Alvaro diusir dari rumah. Tak terima, Alvaro memburu Anjani dan memaksanya tinggal satu atap. Siapa sangka, kebencian itu justru memicu skandal asmara hingga Anjani benar-benar mengandung. Kini, Alvaro harus memperjuangkan cinta mereka di tengah penolakan keras orang tuanya.
Sampul Novel Tears
8.4
Isabelle, putri miliarder Raven Artharwa Al Rasyid, tidak merasakan kemewahan. Ia justru hidup sengsara bersama ibunya yang mantan narapidana dan terlilit utang rentenir. Penderitaannya bertambah saat Arkansas, dosennya, berniat menghancurkan hidup Ibell demi membalas dendam masa lalu. Arkan menuduh Ibell mewarisi sifat buruk sang ibu. Meski terus dihina sebagai anak pelakor, Ibell tetap tegar berjuang demi membela kehormatan ibunya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan