APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rembulan Untuk Mantan Pramuria

Rembulan Untuk Mantan Pramuria

Demi bertahan hidup dari impitan ekonomi, Dewi Maryam terpaksa menempuh jalan sebagai pramuria. Di tengah keterpurukan, ia bertemu Dimas, sosok tulus yang membawa kehangatan cinta baru. Walau bayang-bayang masa lalu belum sepenuhnya sirna, Dewi bertekad membuka hati untuk pria itu. Namun, perjuangan tidak mudah karena Dimas harus meyakinkan sang ibu agar merestui hubungan mereka. Dimas sangat percaya bahwa Dewi adalah calon ibu terbaik bagi anak-anaknya kelak.
Bab
Bagikan

Bab 1

Disuatu malam yang dingin, Dimas menghentikan laju mobilnya di kedai kopi yang terletak tidak jauh dari tempat lokalisasi, berniat turun dan memesan secangkir kopi untuk menghangatkan tubuh di kedai itu, tiba-tiba dengan lancang seorang perempuan datang menggedor pintu mobilnya, diiringi riuhnya suara sirene mobil polisi. Rupanya malam itu tengah diadakan razia Satpol PP ditempat lokalisasi.

"Mas-mas, tolong buka pintu mobilnya!" Perempuan itu menunjukan mimik wajah panik.

"Mungkin dia salah satu PSK disini, apakah aku perlu membukakan pintu? Atau membiarkan dia terciduk Polisi? Tapi kasihan sih, ah nggak ada salahnya aku nolongin, kali ini saja", gumam Dimas dalam hati yang diikuti gerak tangannya membukakan pintu mobil untuk perempuan malam itu.

Begitu pintu mobil terbuka, dengan sigap perempuan itu masuk, maringkuk dibawah carseat. Badanya bergetar hebat dengan kepala yang masih meringkuk kebawah. Apakah sedemikian takutnya perempuan ini dengan salah satu resiko yang harus dia tanggung sebagai perempuan malam?

Ingin Dimas menepuk bahu perempuan itu untuk sekedar menyadarkannya dari rasa panik yang menerjang, tetapi situasi ini cukup canggung bagi Dimas. Dia sama sekali tidak mengenal perempuan itu.

"Mbak, tenang ya? Dari luar kaca mobil ini tidak terlihat, Mbak nggak perlu meringkuk seperti itu...", ucap Dimas memecah suasana hening.

Perempuan itu mengangkat kepala dengan nafas yang masih tersenggal. Kedua tanganya memeluk tubuh gemulai yang masih bergetar itu. Perempuan itu menoleh ke arah luar mobil untuk memastikan situasi di luar aman.

"Mas, sementara saya di sini dulu ya sampai situasi di luar aman?",pinta perempuan itu dengan tatapan berkaca-kaca.

Dimas terpukau dengan kecantikan yang dimiliki perempuan itu. Rambut hitam panjang sepinggang dengan poni depan yang cukup tebal, membuat perempuan itu terlihat semakin manis. Dari wajah, kini tatapan mata Dimas turun tertuju pada tubuh perempuan yang kini duduk di sebelahnya. Leher yang begitu indah. Tubuh perempuan itu nampak sekal dibalut gaun merah terang yang sangat ketat di bangian dada, membuat buah dada yang subur itu nampak jelas.

"Mas?", ucap perempuan itu dengan kedua telapak tangan melambai di depan wajah Dimas.

"Mas dengar saya bicara?", sambung si perempuan membuat Dimas mulai tersadar dari lamunanya.

"Oh iya, Mbak, saya dengar kok. Sementara Mbak disini dulu saja sampai situasi di luar aman." jawab Dimas dengan senyum ramah.

Seketika suasana menjadi hening. Satu sama lain memiliki perasaan yang sama, sama-sama malu untuk memulai perbincangan di dalam ruang kecil yang saat itu hanya ada mereka berdua. Dimas masih terus memperhatikan perempuan itu yang sampai sekarang pandanganya terus tertuju di luar, berharap keselamatan memihak kepadanya.

"Mbak mau di sini aja atau kita pergi ke tempat lain?", ucap Dimas ngasal yang berhasil memecah keheningan.

"Eh, bukan gitu, maksud saya, mungkin kalau Mbak lapar kita bisa pergi ke tempat makan dulu sambil nunggu situasi aman."

"Boleh, Mas." jawab perempuan itu singkat.

Dimas memilih untuk memutar kendaraanya, memilih jalan lain untuk menghindari tempat lokalisasi itu.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sengaja Dimas melakukan itu untuk membuat perempuan yang duduk di sebelahnya merasa nyaman. Laju kendaraan mereka terhenti di suatu kedai makan yang cantik dengan aksen vintage di dalamnya.

Ketika tangan perempuan itu hendak membuka pintu mobil, Dimas dengan sigap menghentikannya.

"Tunggu!", seru Dimas seraya melepas kemeja bermotif kotak yang dia kenakan.

"Ini Mbak, dipakai aja," Dimas menyerahkan kemejanya pada perempuan itu.

"Loh, Mas, kenapa sampai melakukan itu? Saya sudah terbiasa berpakaian seperti ini," jawab si perempuan.

"Jangan Mbak! Saya mohon, pakai kemeja ini. Tubuh Anda begitu beharga!" ucap Dimas meyakinkan.

Perempuan itu tersenyum, membalas ucapan Dimas dengan tangan menengadah, yang berati dia mengiyakan untuk memakai kemeja pemberian Dimas.

'Ternyata masih ada laki-laki yang menganggapku beharga di dunia ini.' gumam si perempuan dalam hati. Ucapan Dimas cukup membesarkan hatinya yang rapuh oleh banyaknya sayatan luka dari banyak pria yang pernah dia temani. Bagaimana tidak? Disaat semua laki-laki yang datang kepadanya hanya membutuhkan kenikmatan atas raganya, disaat setiap pria yang melaluinya tak segan berpandangan liar dan menggodanya, bahkan tak jarang dia menerima ucapan dan sikap kasar dari para tamu laki-laki yang datang.

"Kita duduk di bangku pojok ya,"

"Oh, iya Mas."

Mereka duduk saling berhadapan di bangku yang mereka tuju. Tangan Dimas memegang selembar kertas yang bertuliskan menu yang dijual di kedai itu.

"Mbak mau pesan apa?" tanya Dimas dengan tatapan mata masih tertuju pada selembar kertas yang dilaminating, bertuliskan menu di tanganya.

"Samaan aja Mas," jawab perempuan itu sambil menatap sekeliling.

"Oke," tangan Dimas menggenggam pena menulis pesanan untuk mereka.

"Dari tadi kita bicara panjang lebar tapi belum sempat kenalan ya? Namaku Dimas," ucap dimas sambil mengulurkan tangan.

Uluran tangan Dimas disambut saat itu juga,"Nama saya Dewi."

"Mulai sekarang panggil nama aja ya? Biar makin akrab," Dimas tersenyum ramah kepada perempuan yang beberapa detik lalu diajaknya berkenalan.

"Iya Mas, em, maksud saya Dimas." Dewi menjawab sembari melengkungkan bibir mungilnya. "Kok mulai sekarang? Apa mungkin kedepanya kita akan bertemu lagi?" perempuan itu menaikan kedua alisnya.

"Mungkin di lain waktu kita akan bertemu kembali, Wi. Aku boleh kan jadi teman kamu?", pinta Dimas dengan tatapan mata berbinar.

"Boleh Dim, tapi apa kamu nggak malu berteman dengan perempuan kotor seperti aku?", Dewi menunduk seolah merasa malu atas ucapanya sendiri.

"Tolong, Wi, jangan berkata seperti itu saat kita bertemu. Aku nggak suka." jawab Dimas dengan wajah kecewa.

"Iya, Dim. Maaf, aku nggak akan mengulanginya lagi."

Berselang 20 menit seorang waiters datang, seorang remaja laki-laki dengan kisaran umur 17-18 tahun, menyajikan makanan yang sudah mereka pesan.

" Beruntung ya, Om, punya istri cantik banget, hehe!", tak segan remaja laki-laki itu memuji kecantikan Dewi yang menurut Dimas sendiri memang Dewi adalah sosok yang sangat cantik.

"Uhuk!", seketika Dimas terbatuk saat menyesap minuman karena kaget dengan ucapan remaja itu.

"Iya deh, Om. Saya pergi kalo Om nya grogi," ucap remaja waiters sembari tersenyum lebar. Kedua tanganya memeluk baki, tampak gigi-gigi yang berjajar rapih dari senyum lebarnya.

"Kamu nggak apa-apa, Dim?", tanya Dewi dengan wajah khawatir akan kondisi kesehatan pria itu.

"Nggak kok, nggak apa. Ayo dimakan, keburu dingin," Dimas menjawab sambil mengangguk, mempersilahkan Dewi untuk menyantap makanan di depanya.

Dewi hanya tersenyum. Sesekali Dimas memperhatikan Dewi saat makan. Yang dengan anggun menyuapkan sepotong demi sepotong steak ke bibir mungilnya.

"Dimas, untuk kali ini, biar aku yang traktir ya? Anggap aja sebagai ungkapan terimakasih, karena kamu udah nolongin aku tadi," ucap Dewi yang kini mulai berbicara santai.

"Enggak, Dew. Dimana-mana yang harus bayarin ya laki-laki dong!"

"Dimas, kamu udah nolongin aku, aku jadi ngrepotin dong kalo kamu masih bayarin makananku?" tegas Dewi dengan wajah kesal.

"Sama sekali nggak ngrepotin, udah habiskan makananmu!", jawab Dimas tanpa menoleh ke arah Dewi.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cahaya Bulan yang Merindukan Masa Indah
8.7
Tujuh tahun menikah, kehamilan Riana Handoko seharusnya menjadi berkah. Namun, pemeriksaan medis justru mengungkap kenyataan pahit: kolom ayah bayinya kosong, sementara nama suaminya, Bimo Ganendra, tercatat sebagai ayah dari anak Silvia Handoko. Silvia adalah putri kandung dari keluarga angkat yang dahulu mengusir Riana demi merebut kembali kehidupan yang dianggap telah dicuri. Di tengah rumor bahwa Bimo telah melakukan vasektomi demi dirinya, Riana kini harus menghadapi pengkhianatan besar ini.
Sampul Novel Cinta Yang Penuh Rahasia
8.0
Risa menaruh hati pada dosen mudanya, Bima, walau sadar hubungan mereka terlarang. Impian Risa seolah menjadi nyata saat perjodohan menyatukan mereka. Namun, di balik kehangatannya, Bima menyembunyikan rahasia kelam. Ketika kebenaran menyakitkan itu terbongkar, Risa yang terluka parah berubah menjadi pribadi yang tertutup dan memilih lenyap tanpa jejak. Kepergian sang gadis meninggalkan penyesalan mendalam bagi Bima yang kini didera rasa bersalah selama bertahun-tahun.
Sampul Novel Dalam Dekapan Dosen Tama
8.1
Suasana tegang menyelimuti Tama saat ia mendekap erat Runa, memohon agar istrinya itu tidak lagi menjauh. Sambil menghirup aroma tubuh Runa dengan penuh damba, emosi Tama membuncah. Di tengah konflik batin yang melanda, ia berbisik lirih untuk menegaskan bahwa kebersamaan mereka adalah hal yang sah secara hukum dan agama. Sebagai pasutri, Tama merasa tidak ada alasan lagi bagi Runa untuk terus menghindari kewajibannya.
Sampul Novel Dipaksa Menikah dengan Hartawan Misterius
8.4
Hidup Chelsea Kurniawan hancur sejak ibunya tiada, ia terus ditindas oleh ayah dan ibu tirinya. Puncaknya, ia dipaksa menikahi Tristan Sudrajat untuk menggantikan Cheline. Chelsea sempat melarikan diri hingga terlibat cinta satu malam dengan pria asing, tetapi ia tetap tertangkap lalu dinikahkan. Di luar dugaan, Tristan sangat menyayangi dan memperlakukannya dengan baik. Namun, Tristan menyimpan rahasia besar tentang identitas aslinya sebagai miliarder misterius.
Sampul Novel Kasih Sayang Yang Dikhianati
8.6
Tiga tahun pernikahan Althea hancur setelah mengetahui kebohongan Lucas. Sang suami rupanya memanfaatkan dirinya sebagai pelindung bagi mantan sahabatnya, sosok yang bertanggung jawab atas kematian ibu Althea. Luka Althea kian dalam saat menyadari wanita itu mendapat nafkah lebih banyak, bahkan hadiah mewahnya hanyalah barang bekas sang selingkuhan. Meski sangat terluka, Althea memilih diam dan merancang pembalasan dendam yang setimpal atas segala dusta Lucas.
Sampul Novel Love and Hurt
8.0
Bagi Tiffany Ananda Putri, bertemu lagi dengan Jimmy Stevano Cavarro adalah petaka yang merusak hidupnya secara beruntun. Kehadiran pria itu dianggap sebagai kesalahan takdir yang fatal. Di sisi lain, Jimmy tidak goyah. Ia berjanji akan selalu mencintai Tiffany tanpa peduli waktu, mulai dari masa lalu hingga masa depan nanti. Jimmy tetap teguh memegang perasaannya, meski kini hubungan mereka telah dipenuhi oleh luka serta kebencian yang teramat dalam.