
Rekan Kerjaku Selingkuhan Suamiku
Bab 2
Paula yang marah besar, tak lagi menangis dan berkata, “Jangan lupa Pak Philip, aku yang memegang semua kerja sama dan rencana dengan Properti Sinda. Tanpa aku, kalian nggak punya apa-apa lagi.”
Oh iya, aku hampir lupa soal itu. Aku bergegas menuju Pak Philip dan berkata, “Pak Philip, Pak Ali meminta aku dan Paula menyelesaikan rencana penataan di Properti Sinda. Kebetulan rencana yang kususun baru selesai, coba kamu lihat dulu … “
Paula melotot padaku dengan marah, sementara aku hanya menatapnya dengan tatapan polos dan bertanya, “Paula, aku mendengar kalian sedang membicarakan soal rencana kerja sama Properti Sinda, jadi aku langsung ke sini. Apa ada yang salah?”
“Kamu … kamu … “
“Cepat pergi, Paula. Kalau ada keluhan, silahkan ajukan ke pihak pusat,” ujar Pak Philip dengan tegas, mengusir Paula.
Di mataku, sosok Pak Philip seketika terlihat gagah dan berwibawa. Benar-benar tak salah, Pak Philip memang juara dalam menendang orang!
“Semuanya kembali ke kantor masing-masing,” teriaknya dengan nada marah.
Semuanya tetap berjalan seperti yang seharusnya, hanya saja ada sedikit perubahan kali ini. Paula tidak punya alasan untuk menyalahkanku kali ini.
Pagi itu, setelah Paula dipecat, suasana hatiku benar-benar luar biasa senang. Namun, sore harinya, Paula kembali lagi ke kantor.
Aku sedang bergosip dengan Kak Novita. Kak Novita lebih dulu berbicara, “Orang seperti itu memang hanya merugikan kantor saja. Kerja nggak benar, bertugas jaga shift malam saja malah kabur. Siapa lagi yang akan dipecat, kalau bukan dia?”
Kak Novita memang tidak pernah suka dengan gaya Paula yang selalu menggoda. Dia sering bilang padaku, pacar Paula pasti bukan orang yang baik-baik. Mungkin saja Paula menjadi selingkuhan orang.
Saat kami sedang asik bergosip, tiba-tiba pintu kantor terbuka dengan keras. Paula masuk bersama beberapa polisi.
Paula menunjuk ke arahku sambil berkata, “Pak polisi, dia yang mencuri uang seratus jutaku!”
Kenapa di kehidupan ini Paula masih saja mencari masalah denganku? Dia bersikeras mengatakan bahwa dia menyimpan uang tunai di laci kantor dan aku adalah satu-satunya yang punya kesempatan mencurinya di pagi hari.
“Pak Polisi, pagi tadi dia sudah membereskan barang-barangnya untuk pergi, sedangkan rekan-rekan lainnya nggak mau berurusan dengannya dan pergi ke ruangan lain. Hanya aku yang masih banyak kerjaannya, aku harus mengerjakan laporan di meja kerjaku. Jadi, aku nggak mungkin mencuri uangnya.”
Meskipun sudah menjelaskan, aku tetap dibawa ke kantor polisi. Di perjalanan, aku menelepon Yesinta, sahabat masa kecilku yang juga seorang pengacara.
Begitu tiba di kantor polisi dan sedang membuat catatan kronologi, Yesinta juga sudah tiba.
Yesinta segera memeriksa rekaman CCTV kantor. Sepanjang hari itu aku memang tidak meninggalkan ruangan kantor. Rekaman di lorong menunjukkan aku tidak membawa apapun. Jadi, aku tidak mungkin memindahkan uang itu.
Jika memang aku yang mencuri, seharusnya uangnya masih di dalam ruangan kantor.
Dua polisi kembali ke kantor untuk memeriksa lagi. Mereka membongkar semuanya, tetapi tetap tidak menemukan uang tunai seratus juta milik Paula.
Yesinta lalu berkata kepada kedua polisi yang baru kembali, “Polisi nggak bisa hanya mendengar satu pihak saja. Dia melaporkan kehilangan uang, tapi bagaimana kalau ini hanya laporan palsu?”
Benar juga, kenapa aku tidak memikirkan itu dari tadi? Aku memberi jempol pada Yesinta.
Polisi kemudian menanyai Paula lagi, mengapa dia menyimpan begitu banyak uang tunai di kantor. Paula hanya mengatakan bahwa dirinya menarik uang itu dari rekening banknya.
“Kalau begitu tinggal periksa saja kapan dia menarik uang itu dan apakah benar dia membawa uang tersebut ke kantor Luna,” ujar Yesinta langsung.
“Baiklah, kami akan memeriksanya. Nona Luna, silakan tanda tangan di sini dan kamu bisa pulang,” ujar polisi.
Aku menatap Yesinta dan dia langsung mengerti. Jika ada drama, tentu saja kita harus jadi saksi pertama.
“Pak polisi, Paula telah mencemarkan nama baik Nona Luna. Nona Luna berhak mengetahui kebenaran dari masalah ini.”
Polisi tidak mempedulikan kami dan pergi ke bank untuk memeriksa catatan penarikan Paula. Aku dan Yesinta memesan banyak makanan di lobi kantor polisi dan sambil menunggu, kami makan dengan santai.
Sementara itu, Paula entah bersembunyi di ruangan mana.
Polisi bekerja dengan sangat baik. Setelah kembali, dia memberitahu kami mengenai kasusnya.
Polisi mencurigai bahwa kemungkinan uang tunai seratus juta itu tidak pernah ada. Catatan bank tidak menunjukkan adanya penarikan seratus juta yang dikatakan Paula.
Polisi sudah menginterogasi Paula secara terpisah. Tampaknya, uang tunai seratus juta itu hanyalah cara Paula untuk mencari masalah denganku.
Setelah merasa tidak ada artinya lagi tinggal di kantor polisi, aku dan Yesinta pun memutuskan untuk pulang.
Namun, bagaimana Paula akan menjelaskan soal uang seratus juta itu kepada polisi?
Apakah Paula benar-benar berbohong atau memang ada uangnya? Nanti akan kusuruh Yesinta untuk mencari tahu.
Yesinta adalah sahabat masa kecilku. Hanya saja, sejak menikah dengan Ferdi, aku jarang berhubungan lagi dengannya.
Pagi berikutnya, sebelum aku bangun, telepon dari Yesinta sudah masuk, “Luna, Luna, ternyata uang seratus juta Paula itu memang bukan ditarik dari rekening bank. Kamu tahu dari mana uang itu berasal?”
Yesinta masih sama seperti dulu, selalu suka membuat penasaran.
Aku menguap dan berkata, “Langsung katakan saja, jangan bertele-tele. Jangan-jangan dia hanya mengarang cerita?”
“Eh bukan, uang seratus juta itu memang ada, tapi … “
“Tapi apa?”
“Itu uang hasil dari prostitusi. Itu dari pacarnya yang bermalam bersama dia. Kalau bukan uang prostitusi, apa lagi?”
“Oh, satu lagi, mantan rekan kerjamu itu ternyata sudah menikah. Kamu pasti belum tahu.”
“Lalu uang seratus juta itu?”
“Sudah pasti bukan dari suaminya. Aku mendengarnya dari teman polisiku.”
Paula berniat menjebakku, tapi aku malah mengetahui rahasia besar miliknya. Saat aku sedang memikirkan cara untuk membalasnya, tiba-tiba ada kejadian aneh di rumah.
Saat mencuci baju suamiku, aku menemukan sebuah bukti penarikan uang dari saku celananya. Jumlahnya tepat seratus juta dan waktunya juga persis pada tanggal 25 Juli sore.
Sebuah jawaban yang aneh dan tidak jelas mulai terbentuk di benakku.
Aku merasa ada sesuatu yang selalu kuabaikan. Kenapa Paula selalu memintaku menggantikan shift malamnya?
Kenapa dia menyalahkanku atas pemecatannya?
Tiba-tiba sebuah pikiran yang membuat tubuhku merinding muncul.
Apakah mungkin pacar Paula itu sebenarnya adalah suamiku sendiri?
Anda Mungkin Juga Suka





