APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ratu di Istana yang Retak

Ratu di Istana yang Retak

Umi Tatu murka akibat gaya hidup bebas Attar di Jerman bersama kekasihnya, meski ia lulusan pesantren. Agar tabiat putranya membaik, Attar dipaksa pulang untuk dinikahkan dengan Nadhera, hafidzah yang sederhana. Tanpa menyadari rencana terselubung sang mertua, Nadhera terperangkap dalam pernikahan dingin dan kerap menerima perlakuan kasar dari suaminya. Sanggupkah ketulusan serta ketabahan Nadhera menyembuhkan luka dalam rumah tangga mereka yang hampir hancur?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Ibu sudah menerima perjodohan dari Umi Tatu. Secepatnya kamu akan bertemu dengan Attar putranya."

Nadhera yang sedang murojaah surat Al-Mu'minun tersentak kaget mendengar berita dari ibunya. Diletakkan mushaf Al-Qur'annya di atas ranjang. Lalu menghampiri ibunya yang berdiri di dekat pintu.

"Umi Tatu pemilik pondok pesantren Al Khalifi tempat Nadheera dulu belajar, Bu?"

"Iyaa. Kamu akan menikah dengan putranya yang kuliah di Jerman."

"Mengapa harus mendadak seperti ini, Bu? Nadhera kan baru saja lulus dari pondok pesantren. Masih ingin bekerja dan membahagiakan Ayah dan Ibu."

Dengan wajah lesu, gadis berparas cantik dengan khimar panjang itu memeluk ibunya erat. Matanya berkaca-kaca.

"Nadhera masih Ingin bersama Ibu, Ayah dan dik Maryam. Tujuh tahun belajar di pesantren, jauh dari keluarga masak langsung menikah. Kangenku saja belum terobati, Bu.''

Melihat putrinya merajuk, Nuha menghela napas panjang. Dia sebenarnya berat mengatakan ini.

"Harus bagaimana ibu menolak lamaran dari Umi Tatu. Beliau orang baik. Sampai suaminya Haji Sahlan datang ke kantor Ayahmu membicarakan masalah perjodohan ini. Kami berdua diundang ke istana megahnya. Mereka memohon-mohon untuk diterima."

"Mengapa harus Nadheera, Bu? Banyak perempuan lainnya yang pantas menikah dengan putranya. Apalagi Haji Sahlan orang kaya raya, bisnisnya banyak pasti mudah mencari menantu yang sederajat bukan kita yang keluarga sederhana."

"Ayahmu sudah mengatakan hal sama seperti yang kamu pikirkan. Tapi Haji Sahlan dan Umi Tatu tetap memilihmu menjadi menantunya. Mereka mencari menantu yang alim, Hafidzah dan cantik."

Nuha melirik putrinya dengan tatapan sendu.

"Banyak santri Al Khalifi yang alim, Hafidzah dan cantik, Bu. Aku sendiri tidak mengenal putranya. Kenapa harus secepat ini? Apa tidak ada pilihan lain?"

Nadhera protes keras meskipun nada yang disampaikan sangat lembut. Dia masih belum mengerti alasan Umi Tatu memilihnya. Usianya masih muda. Baru menginjak delapan belas tahun. Masih banyak mimpi-mimpi yang harus dicapainya termasuk membuat bangga orangtuanya. Dia juga belum siap menikah.

"Karena Umi Tatu menyukaimu, Nak. Pertama kali melihatmu di album foto santri berprestasi beliau langsung suka dan menghubungi Ibu."

Nadhera tak bisa berkata apa-apa. Dia tertunduk lama berusaha memahami apa yang terjadi.

"Ibu dan Ayah sangat menyayangimu. Berat melepasmu menjadi istri orang lain. Tapi karena mereka dari keluarga baik-baik. Ibu percaya kamu akan bahagia. Putranya Attar juga besar di lingkungan pesantren. Insya Allah bisa menjadi imam yang baik."

"Ibu ...."

Nadhera menangis di pelukan ibunya. Meski berat mendengar berita perjodohan ini. Dia tak kuasa menolak. Dia tak mau membuat orangtuanya sedih. Hatinya tak tega berkata tidak. Dia hanya ingin patuh dan berbakti pada orangtua.

Nuha mengusap lembut punggung putrinya. Lalu keluar dari kamar. Dia tak mau terlihat lemah karena sebentar lagi akan kehilangan putri kesayangannya.

"Bagaimana, Bu? Apa Nadhera setuju?"

Basyar dengan wajah cemas yang sedari tadi menunggu di depan pintu menanti jawaban dari istrinya. Hanya sekali anggukan dari Nuha lalu perempuan dengan bergo panjang itu masuk ke kamarnya. Di sana dia menangis tersedu-sedu. Melihat istrinya bersedih. Buru-buru Basyar mengikutinya.

"Ada apa, Bu? Bukannya kita sudah sepakat menerima perjodohan Haji Sahlan. Kenapa kamu malah menangis?"

Lelaki berperawakan sedang itu meraih tangan istrinya dengan lembut, menatap matanya dengan penuh kasih. Dia mengusap punggungnya perlahan, mencoba meredakan kegelisahan yang terlihat di wajah istrinya.

"Aku tak sanggup melihat wajah Nadhera, Pak. Dia masih berat menerima perjodohan ini. Masih ingin membahagiakan kita. Usianya juga masih muda. Apa sebaiknya kita batalkan saja perjodohan ini?"

"Jangan, Bu. Kita sudah sepakat dengan mereka. Tak bisa membatalkan begitu saja. Keluarga Haji Sahlan orang baik. Mereka bukan orang biasa. Nadhera pasti bahagia menikah bersama Attar. Masa depan putri kita sudah terjamin, Bu. Nggak akan pernah kekurangan."

"Tapi, Pak ...."

"Percaya padaku. Nadhera pasti bahagia. Haji Sahlan, Umi Tatu akan memperlakukan Nadhera dengan baik, menganggap seperti anak sendiri dan Attar akan mencintai anak kita."

"Sudah jangan menangis lagi. Harusnya kita bahagia karena keluarga Haji Sahlan yang kaya raya itu memilih putri kita. Mereka tidak mungkin asal memilihkan jodoh untuk putra tunggalnya. Pasti sudah menyelidiki keluarga kita dan mencari tahu tentang Nadhera."

"Semoga keputusan yang sudah kita buat baik untuk Nadhera. Aku tak mau menyesal, Pak. Tak boleh ada yang menyakiti putriku."

Basyar menggelengkan kepala. Dia heran mendengar ucapan istrinya.

"Mana mungkin mereka menyakiti Nadhera. Haji Sahlan bukan orang jahat, Bu. Beliau dikenal banyak orang sebagai dermawan, berakhlaq baik. Apalagi Umi Tatu beliau banyak bantu orang miskin. Insya Allah putri kita mereka jaga. Tak mungkin akan menyakiti apalagi kasar dengan Nadhera."

"Sekarang tidurlah! Buang jauh-jauh pikiran burukmu."

Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari suaminya, Nuha akhirnya merasa tenang. Dia menarik napas dalam-dalam merasakan beban di dadanya perlahan menghilang. Dengan senyum tipis di wajahnya, dia memejamkan mata dan tertidur lelap di samping Basyar.

Berbeda dengan Nadhera yang terlihat murung. Ditatapnya foto lelaki yang akan menjadi suaminya. Selama ini dia tak pernah membantah. Apa yang menjadi keinginan orangtuanya selalu dituruti termasuk masuk pesantren tahfidz dan belajar selama enam tahun di Al-Khalifi. Ditambah satu tahun pengabdian mengajar di pesantren.

Nadhera tak tega menolak perjodohan yang sudah disepakati orangtuanya. Lagi-lagi dia harus mengalah dan menerima semuanya.

Ya Robb jika ini baik untukku permudah urusanku. Berikanlah aku kekuatan dan petunjuk agar dapat menjalani semuanya dengan hati yang tenang dan penuh keyakinan.

"Kalau secakep ini aku juga mau, Kak?"

Maryam merebut foto berukuran 2R dari tangan kakaknya. Dia sangat puas menggoda Nadhera.

"Ini mah Pangeran tampan. Beruntung sekali kak Nadhera. Maryam jadi iri. Hidup kakak selalu mudah. Yang diinginkan banyak perempuan bisa didapatkan. Nggak perlu kerja keras."

Maryam berkata seperti itu karena merasa hidupnya tidak seberuntung kakaknya. Dari segi wajah sudah tidak bisa bersaing. Kecantikan Nadhera di atas rata-rata. Padahal mereka sedarah.

Tiap kali Maryam berjalan dengan kakaknya yang menjadi pusat perhatian selalu Nadhera. Yang sering dibicarakan di keluarga besar karena banyak prestasi juga Nadhera. Maryam tak pernah ditanya. Bahkan orangtuanya selalu bangga dengan kakaknya. Sementara Maryam sering dilupakan.

"Maryam harus bersyukur. Kakak sering iri dengan kehidupan Maryam."

"Iri sama Maryam? Yang bener aja, Kak?"

"Iyaaa. Karena Maryam bisa bebas menentukan pilihan tidak seperti kakak. Bisa menjadi diri sendiri tanpa harus berkorban untuk kebahagian orang lain."

Maryam memeluk erat Nadhera, merasakan tubuh kakaknya yang gemetar. Dia tahu betapa berat beban yang dipikul kakaknya. Meski senyum selalu menghiasi wajahnya, Maryam tahu bahwa Nadhera tak pernah benar-benar memiliki pilihan dalam hidupnya, termasuk urusan jodoh.

Kediaman Haji Sahlan

"Kamu harus pulang Attar. Pertemuan dengan Nadhera sudah kuatur termasuk lamaran dan pernikahan kalian."

"Tapi Umi, aku sudah nyaman tinggal di sini. Aku sudah punya kekasih. Tak mungkin menikahi Nadhera."

Mendengar jawaban putranya. Umi Tatu makin meradang. Dia tak mau putranya mengikuti pergaulan barat. Susah payah dia besarkan Attar di lingkungan pesantren. Ternyata di sana berpacaran dengan perempuan yang mengumbar aurat dan berani tinggal serumah dengan kekasihnya.

Umi Tatu merasa menyesal sudah menyetujui Attar mengambil kuliah di Jerman. Tak ada jalan lain untuk menyelamatkan putranya. Selain menikahkan dengan Nadhera.

"Umi tak peduli dengan jawabanmu. Kalau kamu tidak pulang hak warismu akan kucabut termasuk pembiayaan hidup di Jerman akan kuhentikan."

Tangan Umi Tatu gemetar saat menutup telepon. Namun, senyum puas perlahan muncul di wajahnya. Matanya berbinar penuh harapan membayangkan putra kesayangannya segera kembali ke rumah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Delayed Love
9.1
Lima tahun berlalu, Reina Valeria masih berupaya melupakan luka masa lalu. Namun, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Rian Nataharja, yang kini menjadi manajer barunya di kantor. Pertemuan tak terduga ini membangkitkan kembali memori masa sekolah mereka. Rahasia apa yang sebenarnya tersimpan di antara si siswa teladan dan siswi bodoh ini? Kini, Reina terpaksa menghadapi kembali perasaan lama yang sempat tertunda.
Sampul Novel Gadis buta Milik CEO
8.8
Kehidupan ceria Laras sirna sejak sebuah tragedi merenggut penglihatannya. Kini, mantan mahasiswi ini harus bertahan di tengah siksaan perundungan dari para penggemar fanatik Damar, CEO yang pernah mengisi hatinya. Dulu, Damar memilih pergi demi melindunginya, namun langkah itu justru menghancurkan hidup Laras. Dihantui rasa bersalah yang besar, sang CEO kini kembali. Ia bertekad menebus semua dosa masa lalunya dan berharap Laras bisa merasakan ketulusan cintanya.
Sampul Novel Kutukar Hidupku untuk Kalian
9.5
Menderita gagal ginjal stadium akhir, harapan hidupku pupus saat suami memberikan ginjal yang cocok kepada adikku. Alih-alih bertahan di rumah sakit, aku memilih pulang dan menyerahkan seluruh harta demi mendapatkan senyuman orang tua yang selama ini kurindukan. Aku bahkan membiarkan suamiku merawat adikku dan mengizinkan anakku memanggilnya "ibu". Namun, setelah semua keinginan mereka kupenuhi dan aku merelakan segalanya, mengapa mereka kini justru didera penyesalan mendalam?
Sampul Novel Perceraian: Jangan Berharap Kembali
8.3
Tari memutuskan bercerai demi fokus mengurus toko kuenya setelah menangkap basah perselingkuhan Deo. Walau Deo memohon rujuk hingga rela menanggung malu, Tari tetap bergeming. Di sela gangguan sang mantan suami, hadir Noah, tetangga baru yang langsung terpikat padanya. Tari pun memanfaatkan Noah agar terhindar dari kejaran Deo. Namun, sebuah kejadian tak terduga di ranjang mengubah segalanya, hingga kini giliran Noah yang menuntut pertanggungjawaban darinya.
Sampul Novel Pernikahan yang Tak Pernah Tuntas
8.1
Menjelang hari bahagia mereka, musibah menimpa Nando Soman yang menjadi korban pemukulan hingga kehilangan ingatannya. Rani yang panik segera mendedikasikan seluruh waktunya untuk membantu sang tunangan pulih dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah mereka. Namun, perjuangan tulus Rani hancur seketika saat ia tidak sengaja mendengar obrolan rahasia Nando dengan temannya di rumah sakit. Berbekal hasil pemeriksaan medis yang menyatakan kondisi Nando sebenarnya normal, Rani akhirnya menyadari bahwa amnesia tersebut hanyalah sandiwara licik untuk menunda pernikahan demi kebebasan Nando.
Sampul Novel Selamat Tinggal Selamanya, Suamiku
8.8
Delapan tahun menikah dengan seorang pengacara, sang istri harus menerima kenyataan bahwa statusnya disembunyikan dan putrinya dilarang memanggil sang ayah. Sang suami justru mengutamakan teman masa kecilnya, bahkan memaafkan tindakan yang menyakiti putri kandungnya sendiri. Kecewa mendalam, ia memutuskan bercerai dan pergi membawa anaknya. Kini, meski sang suami menolak berpisah dan mencarinya ke seluruh dunia, ibu dan anak ini telah bertekad untuk tidak akan pernah kembali.