
Rahasia Suami Adik
Bab 3
Mungkin karena sedikit mabuk, atau mungkin juga karena kesepian, tiba-tiba aku bangun dari tempat tidur dan pergi ke dapur, lalu mengambil sebuah timun.
Melihat ukuran timun yang pas, aku mencucinya dan berjalan ke kamar mandi.
Awalnya aku pikir kamar mandi kosong, tapi saat aku mau membuka pintu, Thomas tiba-tiba membukanya dari dalam dan keluar.
Kami saling bertatapan dan tersenyum kaku, bersamaan terdiam di tempat.
Wajahku langsung memerah, benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Untungnya, Thomas cepat tanggap: “Kak, kamu mau pakai timun ini buat masker wajah, ya? Perlu aku bantu potongin nggak?”
“Ngg… nggak usah, aku bukan mau maskeran, aku cuma lapar, jadi mau makan aja… aku… aku suka makan ini…”
Dengan wajah yang malu, aku menjelaskan sambil mengangkat timun itu ke depan wajahnya.
Thomas hanya tersenyum kaku mendengar alasanku, lalu kembali ke kamarnya. Sebelum masuk, dia mengingatkanku kalau di kulkas banyak buah-buahan.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, aku langsung menarik napas berat, jantung berdetak kencang, tadi benar-benar terlalu canggung.
Aku masih tidak menyangka bahwa Thomas benar-benar percaya kalau aku suka makan timun.
Kalau dia tahu aku adalah wanita seperti ini, bagaimana pandangannya terhadapku?
Hanya memikirkan itu saja sudah membuat wajahku semakin panas.
Dengan perasaan yang campur aduk, aku ke toilet dalam keadaan canggung, cepat-cepat membasuh wajah dengan air dingin, lalu buru-buru kembali ke kamar.
Malam ini sudah pasti akan menjadi malam yang sangat menyiksakan.
Keesokan paginya, saat bangun, Evelyn melihat wajahku terlihat lesu, lalu bertanya dengan nada penuh perhatian, apakah semalam suara mereka terlalu berisik.
Pertanyaan itu langsung membuatku merasa sangat malu.
“Kak, maaf ya, mungkin tadi malam suara kami agak keras. Aku…aku bakal coba lebih tenang…”
Evelyn tersenyum nakal, menepuk pelan bahuku, lalu mendekat dan berbisik pelan di telingaku:
"Suamiku terlalu hebat, tidak puas-puas, kalau bisa, kamu bisa juga bantu aku..."
Setelah mengatakan itu, Evelyn tertawa terbahak-bahak. Meski terdengar seperti bercanda, ucapannya justru membuatku bergoyah.
“Kamu nggak cemburu?”
“Tentu nggak! Aku dan suamiku malah nggak keberatan, hahaha…”
Percakapan di antara kami, Evelyn seperti bercanda, tapi aku justru menganggapnya serius.
Malam harinya, aku ada acara makan malam kantor, jadi ketika Evelyn mengajakku pulang makan, aku menolaknya.
Acara makan malam itu berlangsung hingga jam 10, dan aku juga sempat minum beberapa gelas. Saat kembali ke rumah, sudah hampir jam 12.
Namun, hal yang tidakku duga adalah, begitu aku membuka pintu dan masuk ke dalam rumah, aku langsung mendengar suara minta ampun Evelyn dari kamarnya.
"Sayang, aku...aku tidak bisa lagi...sudah mau mati..."
Mengingat tubuh Evelyn yang kurus dan kecil, memikir tubuh Thomas yang begitu kuat dan kekar, aku benaran khawatir Evelyn tidak sanggup lagi.
Setelah berdiri di luar dan mendengarnya sejenak, aku merasa Evelyn sepertinya bisa saja mati di tangan Thomas.
Mendengar teriakan dia yang menyakitkan, aku tidak tahu Evelyn merasakan bahagia atau menderita.
Beberapa saat kemudian, terdengar lagi suara minta ampun dari Evelyn, dan juga bisa dengan jelas merasakan bahwa tenaga Thomas sepertinya tidak ada habisnya.
Aku yang minum banyak bir, mengingat percakapanku dan Evelyn pagi tadi, membuatku semakin memberanikan diri.
Aku dengan wajah merah, mengumpulkan keberanian dan datang ke depan pintu kamar mereka.
Tidak kusangka, pintunya tidak ditutup rapat.
Aku dengan pelan mendorongnya, pintunya sudah terbuka. Saat ini, Thomas membelakangiku, aku dengan wajah merah bilang ke Evelyn.
"Adik, kalau kamu tidak bisa, ganti aku saja."
Sehabis berkata, aku membuka bajuku, dan datang ke belakangnya Thomas...
Anda Mungkin Juga Suka





