APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel RAHASIA SEBUAH DOSA

RAHASIA SEBUAH DOSA

Demi perjodohan, Pras tega membuang Rika yang sedang mengandung dan meminta putranya dianggap mati. Rika pun membesarkan anak mereka, John, sendirian. Di sisi lain, Pras memiliki putri bernama Rani. Takdir mempertemukan John dan Rani dalam jalinan asmara hingga Rani hamil. Usai John pergi, Rani merawat anaknya, Juli, dengan dendam. Saat John kembali sebagai konsultan dan bersaing dengan Vico, kecelakaan tragis Juli mengungkap rahasia kelam serta hubungan darah mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

Kata anak hrm! Sebuah kata yang tak pantas untuk didengar, namun itulah yang terjadi pada Sosok Juli yang sering dibuli atau bahkan dijauhi oleh temannya. Lantaran kata anak haram itu melekat dicap dalam dirinya. Juli semakin merasa sedih. Apa lagi, sosok seorang ayah, yang tidak pernah, ia ketahui. Hal itulah yang membuat Juli, harus berjuang untuk menuntaskan keinginannya, agar tak ada lagi kata anak hrm dalam dirinya. 

Tapi semua  itu tidaklah semudah apa yang di bayangkan Juli. Ia harus menerima segala ledekkan dan cemoohan dari  teman sekelasnya. Tentu saja Rani merasa bersedih, sebagai ibu dari Juli. Kejadian itu semakin menambah kebencian Rani pada seseorang yang paling ia benci di dunia ini. Bagaimana mereka menjalani hari-hari dengan luka yang amat pedih itu?

Dentuman suara lagu sangat menggema keras. Di dalam ruang yang sumpek dan sesak Rani berada.

 "Mira, ini tempat apa sih, ko sumpek dan berisik seperti ini?"  Sambil keheranan Rani di tempat yang asing baginya.

 "Sudahlah kau nikmati saja sih Rani, inikan enak kita," balasnya  sambil berjingkrak-jingkrak dengan lepas Mira, mengajak Rani untuk mengikuti jingkrak-Nya.

 "Mira, sebaiknya kita pulang saja yuk," ajak Rani sambil menarik-narik Mira .

"E ..., kau ini kenapa sih Rani?" Sambil melepaskan genggaman tangan Rani, di pergelangan tangan Mira.

 "Bukannya kita mau ke Mall? Ko malah ke sini sih Mira?"  Dengan raut muka keheranan Rani memandang Mira.

 "Kau ini kenapa sih? Di ajak happy, malah ngga mau," ujar  Mira dengan raut muka yang kecewa.

 "Sudah, sebaiknya kita pulang Mira." Rani pun menyeret-nyeret tangan Mira, sampai keluar dari ruangan itu.

 Setelah berada di luar, Mira seperti sangat marah, karena kesenangannya kini harus berakhir oleh Rani.

 "Susah emangnya, kalau sama anak kuper kaya kamu mah Rani," ujar Mira dengan wajah masamnya.

 "Sudahlah, ayo kita pulang, nanti sajalah Mira." Akhirnya Mira pun mengikuti kemauan Rani.

 "Kau ini kenapa, masih saja cara pandangmu terlalu kolot Rani?"

Rani hanya mendengarkan clotehan Mira, yang merasa kecewa dengan tingkahnya. Tanpa sepatah kata, Rani menjawab.

 "Hidup itu harus dinikmati, jangan kaku seperti itu," tegas Mira, yang masih tidak terima dengan perlakuan Rani.

 Di sebuah mobil  dengan santainya Rani menyetir mendengarkan ocehan Mira. Ia seolah-olah tidak peduli, apa yang dikatakan Mira padanya. 10 menit Rani diam, namun Mira tak henti-hentinya berbicara, seakan ia sangat kecewa dengan sikap Rani.

 "Kau ini kenapa sih Mira? Dari tadi ngedumel terus, kau marah aku ajak pulang?"

 "Lagian, orang lagi asyik kau ajak pulang," balas Mira dengan mengerutkan muka masamnya Mira berkata, seolah masih dongkol.

 "Kita-kan ada janji di Mall, terus kenapa kita harus ke tempat itu coba?" tanya Rani keheranan.

 "Iya, tapi-kan itu masih bisa  kita kenselkan Rani?"

 "Ngga bisa gitu dong Mira, masa harus begitu, nanti  orang itu kecewa gimana coba?"

 "Emang ya kamu tuh terlalu serius dengan kerjaan, ngga bisa dibawa santai Rani," balas Mira sedikit kecewa.

 "Kau ini masih seperti anak kecil saja Mira."

 "Ye ..., sembarangan kamu, orang aku udah gede ko," balas Mira sedikit protes.

 "Ya, kamu gede, tapi cuma badannya doang Mira, hehehe."

 "Ih ..., asem kamu Rani." Dengan mengerutkan wajahnya sambil menatap Rani.

 "Buktinya, kita mau ada janji, kamu malah ngajak ke situ Mira?" tegas Rani dengan serius.

 "Apa hubungannya sih dengan itu Rani?"

 "Ya jelas ada dong, orang dewasa itu kan bertanggung jawab, bukan kaya gitu Mira."

 Mira merasa tersindir, dengan perkataan itu, mukanya masam tak karuan. Ia merasa dongkol, dengan apa yang barusan diucapkan Rani padanya.

 "Sudah tak usah masam kaya gitu, ngga enak aku liat mukamu Mira."

 "Bodo ah, bete aku dengar ceramah kamu Rani," balas Mira dengan cemberut.

 Rani hanya tersenyum, mendengar ungkapan kekecewaan dari Mira, yang masih belum terima dengan itu semua. Beberapa menit kemudian tibalah mereka di sebuah Mall yang telah disepakati. Nampak seorang laki-laki yang duduk di sebuah meja. Perawakan yang tinggi dan putih itu lah John. Laki-laki yang mempunyai janji dengan Rani.

Dari jarak 70 meter, Rani melihat sosok laki-laki yang sedang duduk di meja itu. 

 "Berhenti Mira, berhenti," ujar Rani tiba-tiba.

Spontan Mira merasa kaget dengan perkataan Rani.

"Astaga, kau ini kenapa sih Rani?" tanya Mira keheranan.

 "Coba kau lihat, laki-laki yang duduk di sana. Bukanya itu orang yang kita tuju." Sambil menunjukkan jari ke arah laki-laki itu, Rani terkaget dengan sosok laki-laki itu.

 "Kau yakin itu orangnya Rani?"

Dengan mengerutkan wajahnya, Rani seolah-olah ragu dengan pertanyaan Mira.

 "Kenapa dengan dirimu? Ko malah kelihatan tidak meyakinkan gitu sih Rani?" tanya Mira, kembali merasa aneh.

 "Itu bukan ya orangnya? Ko aku seperti ragu ya Mira?" balas Rani, ragu-ragu.

 "Astaga, kau ini gimana sih Rani? Makanya kau ini harus banyak piknik, agar tidak gampang lupa."

 "Heem ..., masam kali kau berkata Mira."

 "Ya, itu buktinya, kau nampak tidak yakin dengan orang yang membuat janji itu," balas Mira sekenanya.

 "Apa sebaiknya kita pulang aja ya Mira?" ujar Rani, dengan bingung.

 "E ..., kau ini gila apa? Tadi kau tarik-tarik aku ngajak ke sini, terus sekarang kau ngajak pulang, gila ya kamu Rani." Dengan mata yang melotot, seolah Mira mau melahap Rani.

Rani seolah-olah ragu, tampak mukanya seperti salah tingkah dengan keadaan itu.

Sementara John sudah berulang-ulang kali melihat jam tangannya dan merasa resah menunggu ke datangan seseorang.

"Kenapa kau tidak yakin?" ucap Mira.

 "Em ... emm," sambil mengaruk-garuk kepala, Rani merasa bingung.

 Tanpa basa-basi lagi, ditariklah pergelangan tangan Rani oleh Mira. Setengah menahan Rani, dari tarikan Mira.

 "Ayo, kau tunggu apa lagi sih Rani?" ujar Mira, sedikit memaksa.

 "Apa sebaiknya kita tanyakan dulu ya pada Mamah, Mira?" tanya Rani dengan ragu.

 "Kau ini gila apa? Orang sudah di depan mata kau mau telepon rumah gila ku rasa ya." Dengan sedikit jengkel Mira membentak Rani.

 "Yasudah ayo kita ke sana." Dengan muka menunduk sambil berjalan Rani, mengikuti saran Mira.

 Laki-laki yang sedang duduk merasa kaget dengan kedatangan Mira dan Rani. Tepat di hadapan John, Rani seperti kikuk.

 "Maaf, apakah ini Rani?" tanya laki-laki itu.

Dengan menyikut-nyikut lengan Rani, Mira mendesak Rani bicara.

 "Ada apa dengan kalian, kau seperti grogi gitu? Apa lagi wanita satu ini, ko malah menunduk begitu?" 

Akhirnya mau tidak mau Mira angkat bicara.

 "Ya perkenalkan nama saya Mira dan ini Rani."

Alangkah terkejutnya John saat melihat Rani mengangkatkan kepalanya.

 "Loh bukannya ini Rani ya?" balas John dengan kaget.

 "Iya ini aku John," ucap Rani dengan sedikit keki.

 "Astaga kamu ini Rani." Raut muka John langsung tersenyum.

 "Silahkan duduk-duduk," ajak John sambil merapikan kursi dan mejanya.

 "Apa kabar Rani? Lama kita tidak jumpa," tanya John, berbasa-basi.

 "Baik John," balas  Rani dengan muka yang masih agak sedikit keki.

Mira menatap wajah Rani, seolah ia bertanya-tanya ada apa dengan Rani?

 "Ini teman aku John, Mira," ujar Rani malu-malu.

 "Ohh, ya, ya salam kenal ya Mira." Saling menjabat tangan itu terjadi Mira dan John. wajah Mira merasa ada yang aneh.

 "Ko bisa-bisanya itu kamu John?"

 "Aku pun tak menyangka kalau itu kamu Rani!"

"Jadi ceritanya kalian sudah saling kenal gitu?" tanya Mira keheranan.

 "Oh ..., ya bukan kenal lagi, Rani-kan mantan aku Mira," balasnya dengan senyum dan santainya John berkata.

Rani seolah malu dengan perkataan John.

 "O ..., ya, iya, jadi ceritanya ini CLBK ya?"  ucap Mira sembari sedikit melongo.

Spontan wajah  Rani memerah padam, ia pun menyikut tangan Mira dengan sikutnya.

 "Apaan sih kamu Mira?" ujar Rani sedikit jengkel.

Mira masih terlihat kikuk dan gerogi menghadapi situasi ini.

 "Pantasan saja kau tidak mau singgah dari tadi, ternyata ini masalahnya?" Mira  membuka rahasia Rani.

 "O ..., dari tadi aku nunggu ternyata, Rani udah ngga mau lagi ketemu aku gitu?" tanya John sedikit heran.

Rani yang mendengar kata itu dari John, langsung menjawab, "Bu ..., bukan seperti itu John."  Dengan nada tersengal-sengal Rani menjawab seolah malu.

 "Terus kenapa tidak langsung duduk ke sini?" tanya John sedikit memojokkan.

 "Sudahlah John, sebaiknya kita pesan makanannya, kasihan Mira lapar." Rani pun mencoba mengalihkan perhatian John.

 "Ye ..., siapa juga yang lapar?" tukas Mira menepis.

 "Sudah kau diam," ujarnya  membisikan kata itu di tepi telinga Mira.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Baby Han - (Gx G)
9.5
Mikaela memulai hidup baru di Seoul dengan bekerja di J.H Fashion dalam kondisi hamil pasca-program bayi tabung. Di tengah luka akibat dikhianati David hingga bercerai, bakat janda muda asal Thailand ini memikat Minwo Han. Namun, takdir berkata lain saat Judith Han, sang pemilik perusahaan yang merupakan seorang lesbian, mengambil alih urusannya. Ketertarikan alami Judith pada Mikaela perlahan tumbuh menjadi obsesi mendalam yang terus membayangi pikirannya.
Sampul Novel Ibu cantik, Ayah licik
8.7
Rencana pernikahan yang matang hancur seketika akibat konspirasi jahat ibu tiri dan saudara tirinya, memaksanya batal menikah demi alasan yang tidak masuk akal. Setelah bertahun-tahun pergi, ia akhirnya pulang ke kota asal. Berbekal keyakinan kokoh, ia siap melewati rintangan berat untuk merebut kembali segala hak dan harta miliknya yang telah dirampas secara tidak adil. Kini, saatnya ia menghadapi masa lalu demi menuntut keadilan.
Sampul Novel Istri Kedua Tuan Abraham
8.5
Demi mewujudkan pesan terakhir Mikhaela yang sedang sekarat, Abraham Wijaya terpaksa menikahi asisten rumah tangganya, Jihan. Walau awalnya enggan, Jihan menerima pernikahan kedua ini sebagai bentuk balas budi. Konflik memuncak ketika Jihan mengandung, memicu perubahan sikap Abraham dan rasa cemburu buta Mikhaela yang berujung pada pengusiran Jihan. Kini, Jihan bimbang antara melarikan diri bersama bayinya atau bertahan demi cinta yang kian bersemi.
Sampul Novel Kala Senja Berakhir
9.1
Sebuah surat perpisahan yang urung dikirimkan tersimpan di saku kemeja Rendy. Lembaran kertas kumal tersebut menyimpan ungkapan perasaan terdalamnya untuk Reika Abigaillis, perempuan yang selalu mewarnai kehidupannya. Meski menyadari waktu kebersamaannya telah habis, Rendy tetap berharap agar Reika kelak meraih kebahagiaan sejati bersama sosok-sosok yang tulus mengasihinya. Akankah takdir membawa akhir yang indah bagi jalinan asmara penuh haru ini? Simak kisah cinta mereka yang begitu menguras emosi.
Sampul Novel Miliki Mu
8.9
Demi menyelamatkan bisnis sang ayah yang kolaps dan membiayai pengobatan ibunya, Cherly terpaksa menyetujui rencana Hartono. Tugasnya adalah mendekati Edward, cucu Hartono yang berhati dingin, untuk memberikan seorang penerus. Di usia 33 tahun, Edward masih dilingkupi kesedihan mendalam akibat kepergian Yuni, tunangannya yang wafat lima tahun lalu. Ia pun sangat membenci Cherly yang dianggap licik dan murahan. Akankah kehangatan Cherly mampu mencairkan dinginnya hati Edward?
Sampul Novel Tersadar dari Mimpi, Aku Memutuskan untuk Meninggalkannya
8.6
Pernikahan Sienna hancur seketika saat Levin memilih meninggalkan altar demi membawa adik kesayangannya, Lestari, yang mendadak pingsan ke rumah sakit. Kejadian memilukan itu memicu serangan jantung fatal pada ibu Sienna hingga merenggut nyawanya tanpa ada tamu yang peduli. Di tengah duka kehilangan ibunya, Sienna justru menerima telepon dari Levin yang meminta donor sumsum tulang belakang untuk Lestari. Sadar akan kenyataan pahit ini, Sienna memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka selamanya.