APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Pengantin Tersembunyi Tuan Muda

Rahasia Pengantin Tersembunyi Tuan Muda

Demi menggantikan sang kakak, Helia, yang mendadak hilang, Adelia terpaksa menikah dengan Darren Aditya. Darren merupakan pewaris takhta konglomerat yang terkenal misterius, berwajah cacat, dan berwatak dingin. Walau publik mengenalnya sebagai sosok kejam yang temperamental, Adelia perlahan melihat sisi lain dari suaminya tersebut. Di balik topeng misteri dan sikapnya yang kaku, Darren sebenarnya memendam kepedihan mendalam serta kehampaan jiwa yang tak pernah ia tunjukkan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi itu, kabut masih menggantung rendah di atas tanah, menutupi rumah besar itu dengan selimut keheningan. Adelia duduk di meja makan yang luas, hanya ditemani suara gemerisik angin yang menembus jendela. Hatinya terasa berat, seolah ada bebatuan yang mengikatnya. Surat dari Arsen Aditya masih terlipat rapat di tangannya, dan ia menatapnya dengan rasa cemas yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Darren duduk di hadapannya, wajahnya tampak lebih serius dari sebelumnya. Dengan penutup wajah yang masih terpasang, pria itu menatap Adelia dengan mata yang penuh perasaan. Mereka berdua diam, terperangkap dalam keheningan yang penuh makna. Adelia ingin bertanya lebih banyak, ingin tahu bagaimana cara mencari Helia, tapi setiap kata yang akan diucapkan terasa seperti pisau yang mengiris hatinya.

"Adelia," Darren memulai, suaranya lembut namun tegas. "Jika kau ingin melangkah lebih jauh, kau harus tahu bahwa jalan ini tidak akan mudah. Ada banyak orang yang akan mencoba menghentikanmu. Dan aku tidak bisa menjamin apa pun."

Adelia menggenggam surat itu lebih erat, seakan mencoba menarik kekuatan dari kata-kata yang tertulis di atasnya. "Aku tidak peduli, Darren. Aku harus mencari Helia. Aku harus tahu apakah dia masih hidup, dan mengapa semua ini terjadi."

Darren terdiam, ekspresinya sulit dibaca. Ia tahu betapa berbahayanya misi ini, bagaimana setiap langkah yang diambil bisa membahayakan hidup mereka. Tapi ada satu hal yang membuatnya tidak bisa menolak: rasa sakit yang terlihat di mata Adelia. Itu adalah rasa sakit yang sama yang ia rasakan setiap malam, ketika sepi menyelimuti dirinya dan pertanyaan-pertanyaan tentang siapa dirinya yang sebenarnya menari-nari di pikiran.

"Baiklah," Darren akhirnya berkata, suaranya seperti angin yang berbisik di malam yang sunyi. "Kita mulai dari sini. Tapi kau harus tahu, ada satu orang yang bisa memberimu jawaban, dan dia bukanlah orang yang bisa dipercayai begitu saja."

Adelia mengerutkan kening, merasa ada sesuatu yang lebih besar dari yang bisa ia pahami. "Siapa dia? Kenapa dia penting?"

"Namanya Kael Voss," Darren menjawab, menyebutkan nama itu seolah kata-kata itu sendiri bisa menghancurkan segalanya. "Dia adalah seorang pengusaha besar, salah satu pesaing terberat ayahku. Tapi lebih dari itu, dia tahu banyak tentang rahasia keluarga kita. Tentang Helia. Dia yang mungkin bisa memberi petunjuk tentang keberadaannya."

Adelia merasa tubuhnya menegang. Kael Voss. Nama itu terdengar seperti ancaman. Tidak hanya karena pengaruhnya yang luar biasa, tetapi juga karena bagaimana ayahnya, Arsen Aditya, selalu berbicara tentang Kael dengan nada yang penuh kebencian. Jika Kael Voss terlibat, maka ini bukan hanya tentang mencari Helia-ini tentang menghadapi sejarah yang gelap, tentang mengungkap kebohongan yang telah lama dipendam.

"Kau yakin kita harus melakukannya?" Adelia bertanya, suaranya bergetar. "Apa yang akan terjadi jika Kael Voss menolak memberi kita informasi?"

Darren menarik napas panjang, menatap Adelia dengan pandangan yang penuh beban. "Jika dia menolak, kita harus siap dengan risiko. Dan jika dia setuju, kita harus tahu bahwa tidak ada yang gratis dalam hidup ini. Setiap informasi yang dia berikan, mungkin harus dibayar dengan harga yang sangat tinggi."

Adelia memandang Darren, merasakan ketegangan yang menekan jantungnya. Ada satu hal yang ia tahu: ia sudah melangkah jauh dari tempat yang aman, dari hidup yang biasa. Sekarang, jalan di depan mereka dipenuhi dengan bayang-bayang berbahaya dan teka-teki yang tak terpecahkan. Tapi ia tidak bisa mundur. Ia tidak bisa membiarkan rasa takut menguasainya lagi.

"Jika kau ingin aku melakukannya, aku siap," Adelia berkata, suaranya penuh tekad. "Aku tidak takut, Darren. Tidak sekarang."

Darren menatapnya lama, seolah mencari sesuatu di dalam diri Adelia, sesuatu yang membuatnya merasa ada harapan, bahkan di tengah kegelapan. Ia mengangguk, dan untuk pertama kalinya, senyum kecil terlihat di bibirnya. "Kau lebih berani daripada yang kukira, Adelia. Itu akan membantu kita lebih dari yang kau tahu."

Hari itu, langit biru terlihat seperti tirai yang menutupi dunia, dan kota di bawahnya terlihat seperti jaringan tak berujung dari kehidupan yang sibuk. Mereka berdua, Adelia dan Darren, duduk di dalam mobil hitam yang disiapkan oleh pengawal keluarga. Adelia menatap jalanan, matanya mencari petunjuk di antara deretan gedung tinggi yang menyembunyikan kegelapan di balik cahayanya. Sesekali, ia mencuri pandang ke arah Darren, yang duduk di kursi samping dengan pandangan serius.

"Kenapa kau membantu aku?" Adelia tiba-tiba bertanya, suaranya penuh keingintahuan. "Kenapa kau tidak hanya melawan takdirmu sendiri, tanpa harus mengikutiku?"

Darren tersenyum kecil, tapi itu adalah senyuman yang penuh dengan kesedihan. "Karena aku tahu apa rasanya merasa sendirian, Adelia. Dan aku tahu apa yang kau rasakan, karena aku pernah merasakannya. Ada sesuatu yang menghubungkan kita, sesuatu yang lebih dari sekadar rahasia. Mungkin itu alasan aku di sini."

Adelia menatap Darren dengan mata yang basah, air mata yang hampir jatuh, tapi ia menahannya. "Terima kasih, Darren. Untuk semua ini. Aku tahu ini tidak mudah bagimu."

Darren menoleh, pandangan mereka bertemu. Di dalam mata itu, Adelia melihat sesuatu yang berbeda-sebuah harapan yang mungkin sudah lama hilang. "Jangan terima kasih dulu. Ini baru awal, Adelia. Dan jalan di depan kita akan jauh lebih sulit."

Mobil melaju, melewati jalanan yang sibuk menuju pusat kota, tempat di mana Kael Voss tinggal di sebuah gedung pencakar langit yang megah. Tidak ada yang tahu apa yang ada di dalamnya, tetapi semua orang tahu siapa Kael Voss. Ia dikenal sebagai pria yang tidak pernah tersenyum, yang hidupnya dikelilingi oleh bisnis dan ambisi. Adelia tahu bahwa bertemu dengannya akan menjadi ujian terberat yang pernah ia hadapi.

Tetapi dalam hatinya, Adelia memutuskan satu hal: tidak peduli seberapa gelap jalan di depan, ia akan terus berjalan. Karena ia tahu, untuk menemukan Helia, ia harus melawan semua rasa takut yang pernah menguasainya.**Bab 3: Jalan yang Berliku**

Pagi itu, kabut masih menggantung rendah di atas tanah, menutupi rumah besar itu dengan selimut keheningan. Adelia duduk di meja makan yang luas, hanya ditemani suara gemerisik angin yang menembus jendela. Hatinya terasa berat, seolah ada bebatuan yang mengikatnya. Surat dari Arsen Aditya masih terlipat rapat di tangannya, dan ia menatapnya dengan rasa cemas yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Darren duduk di hadapannya, wajahnya tampak lebih serius dari sebelumnya. Dengan penutup wajah yang masih terpasang, pria itu menatap Adelia dengan mata yang penuh perasaan. Mereka berdua diam, terperangkap dalam keheningan yang penuh makna. Adelia ingin bertanya lebih banyak, ingin tahu bagaimana cara mencari Helia, tapi setiap kata yang akan diucapkan terasa seperti pisau yang mengiris hatinya.

"Adelia," Darren memulai, suaranya lembut namun tegas. "Jika kau ingin melangkah lebih jauh, kau harus tahu bahwa jalan ini tidak akan mudah. Ada banyak orang yang akan mencoba menghentikanmu. Dan aku tidak bisa menjamin apa pun."

Adelia menggenggam surat itu lebih erat, seakan mencoba menarik kekuatan dari kata-kata yang tertulis di atasnya. "Aku tidak peduli, Darren. Aku harus mencari Helia. Aku harus tahu apakah dia masih hidup, dan mengapa semua ini terjadi."

Darren terdiam, ekspresinya sulit dibaca. Ia tahu betapa berbahayanya misi ini, bagaimana setiap langkah yang diambil bisa membahayakan hidup mereka. Tapi ada satu hal yang membuatnya tidak bisa menolak: rasa sakit yang terlihat di mata Adelia. Itu adalah rasa sakit yang sama yang ia rasakan setiap malam, ketika sepi menyelimuti dirinya dan pertanyaan-pertanyaan tentang siapa dirinya yang sebenarnya menari-nari di pikiran.

"Baiklah," Darren akhirnya berkata, suaranya seperti angin yang berbisik di malam yang sunyi. "Kita mulai dari sini. Tapi kau harus tahu, ada satu orang yang bisa memberimu jawaban, dan dia bukanlah orang yang bisa dipercayai begitu saja."

Adelia mengerutkan kening, merasa ada sesuatu yang lebih besar dari yang bisa ia pahami. "Siapa dia? Kenapa dia penting?"

"Namanya Kael Voss," Darren menjawab, menyebutkan nama itu seolah kata-kata itu sendiri bisa menghancurkan segalanya. "Dia adalah seorang pengusaha besar, salah satu pesaing terberat ayahku. Tapi lebih dari itu, dia tahu banyak tentang rahasia keluarga kita. Tentang Helia. Dia yang mungkin bisa memberi petunjuk tentang keberadaannya."

Adelia merasa tubuhnya menegang. Kael Voss. Nama itu terdengar seperti ancaman. Tidak hanya karena pengaruhnya yang luar biasa, tetapi juga karena bagaimana ayahnya, Arsen Aditya, selalu berbicara tentang Kael dengan nada yang penuh kebencian. Jika Kael Voss terlibat, maka ini bukan hanya tentang mencari Helia-ini tentang menghadapi sejarah yang gelap, tentang mengungkap kebohongan yang telah lama dipendam.

"Kau yakin kita harus melakukannya?" Adelia bertanya, suaranya bergetar. "Apa yang akan terjadi jika Kael Voss menolak memberi kita informasi?"

Darren menarik napas panjang, menatap Adelia dengan pandangan yang penuh beban. "Jika dia menolak, kita harus siap dengan risiko. Dan jika dia setuju, kita harus tahu bahwa tidak ada yang gratis dalam hidup ini. Setiap informasi yang dia berikan, mungkin harus dibayar dengan harga yang sangat tinggi."

Adelia memandang Darren, merasakan ketegangan yang menekan jantungnya. Ada satu hal yang ia tahu: ia sudah melangkah jauh dari tempat yang aman, dari hidup yang biasa. Sekarang, jalan di depan mereka dipenuhi dengan bayang-bayang berbahaya dan teka-teki yang tak terpecahkan. Tapi ia tidak bisa mundur. Ia tidak bisa membiarkan rasa takut menguasainya lagi.

"Jika kau ingin aku melakukannya, aku siap," Adelia berkata, suaranya penuh tekad. "Aku tidak takut, Darren. Tidak sekarang."

Darren menatapnya lama, seolah mencari sesuatu di dalam diri Adelia, sesuatu yang membuatnya merasa ada harapan, bahkan di tengah kegelapan. Ia mengangguk, dan untuk pertama kalinya, senyum kecil terlihat di bibirnya. "Kau lebih berani daripada yang kukira, Adelia. Itu akan membantu kita lebih dari yang kau tahu."

***

Hari itu, langit biru terlihat seperti tirai yang menutupi dunia, dan kota di bawahnya terlihat seperti jaringan tak berujung dari kehidupan yang sibuk. Mereka berdua, Adelia dan Darren, duduk di dalam mobil hitam yang disiapkan oleh pengawal keluarga. Adelia menatap jalanan, matanya mencari petunjuk di antara deretan gedung tinggi yang menyembunyikan kegelapan di balik cahayanya. Sesekali, ia mencuri pandang ke arah Darren, yang duduk di kursi samping dengan pandangan serius.

"Kenapa kau membantu aku?" Adelia tiba-tiba bertanya, suaranya penuh keingintahuan. "Kenapa kau tidak hanya melawan takdirmu sendiri, tanpa harus mengikutiku?"

Darren tersenyum kecil, tapi itu adalah senyuman yang penuh dengan kesedihan. "Karena aku tahu apa rasanya merasa sendirian, Adelia. Dan aku tahu apa yang kau rasakan, karena aku pernah merasakannya. Ada sesuatu yang menghubungkan kita, sesuatu yang lebih dari sekadar rahasia. Mungkin itu alasan aku di sini."

Adelia menatap Darren dengan mata yang basah, air mata yang hampir jatuh, tapi ia menahannya. "Terima kasih, Darren. Untuk semua ini. Aku tahu ini tidak mudah bagimu."

Darren menoleh, pandangan mereka bertemu. Di dalam mata itu, Adelia melihat sesuatu yang berbeda-sebuah harapan yang mungkin sudah lama hilang. "Jangan terima kasih dulu. Ini baru awal, Adelia. Dan jalan di depan kita akan jauh lebih sulit."

Mobil melaju, melewati jalanan yang sibuk menuju pusat kota, tempat di mana Kael Voss tinggal di sebuah gedung pencakar langit yang megah. Tidak ada yang tahu apa yang ada di dalamnya, tetapi semua orang tahu siapa Kael Voss. Ia dikenal sebagai pria yang tidak pernah tersenyum, yang hidupnya dikelilingi oleh bisnis dan ambisi. Adelia tahu bahwa bertemu dengannya akan menjadi ujian terberat yang pernah ia hadapi.

Tetapi dalam hatinya, Adelia memutuskan satu hal: tidak peduli seberapa gelap jalan di depan, ia akan terus berjalan. Karena ia tahu, untuk menemukan Helia, ia harus melawan semua rasa takut yang pernah menguasainya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BLIND HEART
9.7
Demi membiayai wisuda dan meringankan beban sang ayah, Silvana mengambil pekerjaan tak biasa. Mahasiswi akhir ini harus mengasuh Max Elgort, miliarder tunanetra yang terkenal sangat pemarah. Meski kerap menghadapi sikap kasar Max, Silvana justru mulai jatuh hati. Sayangnya, Max masih terjebak kenangan mendiang kekasihnya yang tewas dalam kecelakaan penyebab kebutaannya. Sanggupkah Silvana bertahan di tengah kesetiaan Max pada janji masa lalu?
Sampul Novel Good morning Pak Dosen (Series 3)
9.4
Axel Leo Dinata dan Elvio Nadira membuktikan bahwa ketulusan cinta sejati mampu melampaui jurang perbedaan intelektual yang mencolok di antara mereka. Sayangnya, perjalanan asmara pasangan ini tidaklah mudah. Berbagai rintangan berat terus berdatangan untuk menguji kesetiaan satu sama lain. Kini, Axel dan Elvio harus berjuang keras menghadapi tembok penghalang besar yang mengancam keutuhan masa depan hubungan mereka.
Sampul Novel Kursi Panas di Kantor
8.9
Giselle Putri Natapradja, konsultan senior ambisius di The Converge, harus merelakan posisi partner impiannya direbut oleh Akira Hangga Aryanto, pria kompeten dari firma ternama. Keadaan kian pelik karena Akira adalah sosok dari masa lalu yang pernah terlibat cinta satu malam dengannya. Kini, di tengah rivalitas kerja yang sengit untuk membuktikan kapasitas diri, mereka juga harus berjuang keras menahan kembali gejolak asmara lama yang perlahan mulai membara.
Sampul Novel Om Duda I Love You
8.5
Kharisma Baby Arganda, seorang siswi sekolah, pantang menyerah mengejar cinta Rega Pradipta. Gadis polos ini yakin debaran jantungnya adalah bukti cinta sejati, meski Rega yang berusia jauh lebih tua terus menolaknya. Sebagai sahabat dari kakak Baby, Rega merasa kewalahan menghadapi kepolosan adik temannya tersebut. Logika kedewasaan Rega menentang hubungan ini, tetapi kegigihan Baby terus mengujinya. Mampukah keteguhan hati gadis muda ini meluluhkan sosok pria yang ia juluki Om Singa?
Sampul Novel Pijatan Pria Perkasa
8.1
Sesi terapi biasa berubah menjadi momen penuh ketegangan bagi seorang wanita yang berbaring dengan mata tertutup. Di bawah pijatan terapis pria, ia berusaha menahan gejolak yang muncul. Bisikan sensual tentang alat pijat khusus berukuran tiga puluh sentimeter memicu rasa penasaran yang tak terbendung. Meski sempat kehilangan kendali akibat sentuhan tak sengaja pada paha pria itu, ia tetap bersikap keras kepala dan menantang untuk membuktikan kebenaran klaim tersebut.
Sampul Novel SHEILA, GAIRAH LIAR BERSELIMUT DENDAM
8.6
Demi menyelamatkan sang ibu yang sakit, Sheila Damaris terpaksa memilih antara jeruji besi atau menyerahkan kesuciannya kepada Revian, atasannya yang sangat arogan. Meski berhasil menuntut pernikahan kontrak, nasib Sheila justru kian menderita. Kekejaman Revian memuncak saat masa lalu Sheila terungkap, mengubah statusnya hanya sebagai pemuas hasrat. Di tengah siksaan sang direktur, mampukah Sheila bertahan dan menuntaskan dendamnya?