APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Pengantin Tersembunyi Tuan Muda

Rahasia Pengantin Tersembunyi Tuan Muda

Demi menggantikan sang kakak, Helia, yang mendadak hilang, Adelia terpaksa menikah dengan Darren Aditya. Darren merupakan pewaris takhta konglomerat yang terkenal misterius, berwajah cacat, dan berwatak dingin. Walau publik mengenalnya sebagai sosok kejam yang temperamental, Adelia perlahan melihat sisi lain dari suaminya tersebut. Di balik topeng misteri dan sikapnya yang kaku, Darren sebenarnya memendam kepedihan mendalam serta kehampaan jiwa yang tak pernah ia tunjukkan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Matahari sore menembus celah-celah awan, menciptakan jalur cahaya keemasan yang terpantul di lantai marmer yang dingin. Adelia berdiri di depan cermin besar di kamar pengantin, melihat refleksi dirinya yang tak lebih dari bayangan seorang wanita yang terperangkap dalam takdir yang tak ia pilih. Gaun putih panjang yang dihiasi renda perak menempel erat di tubuhnya, seakan memperingatkan betapa mustahilnya dia untuk melarikan diri. Ada ratusan bunga yang teratur di sekitar ruangan, aroma melati dan mawar mengisi udara, tetapi bagi Adelia, semua itu hanya membebani napasnya yang sudah terengah-engah.

Ia menutup mata, mencoba menenangkan pikirannya. "Ini hanya sementara. Setelah ini, aku bisa kembali ke kehidupan normal," katanya dalam hati, meski suaranya terdengar rapuh, seperti bisikan yang tak cukup kuat untuk menenangkan kegelisahan yang menguasai tubuhnya.

"Aku berharap semua ini hanya mimpi," Adelia bergumam, merasakan embusan angin dari luar yang menyapu rambutnya. Tetapi kenyataan tak pernah bisa digantikan dengan angan-angan. Ini adalah hidupnya sekarang, hidup yang harus ia jalani tanpa ada jalan lain. Suara langkah kaki yang berat membuatnya terkejut, jantungnya berpacu lebih cepat, seakan ingin melompat keluar dari dada.

Pintu kamar terbuka perlahan, dan seorang pria berdiri di sana, tubuhnya tegap dengan aura yang sulit untuk dijelaskan. Darren Aditya. Wajahnya yang tertutup kain hitam hanya menampilkan mata tajam yang penuh misteri, seolah menyimpan kebijaksanaan dan kepedihan yang tak bisa ditangkap oleh mata biasa. Di tangannya, tongkat hitam yang terbuat dari kayu keras menggantung, seakan menjadi simbol dari kekuatan dan penderitaan yang ia miliki.

Adelia menelan ludah. Suasana menjadi sunyi, hanya suara desahannya yang memenuhi ruangan, mencampur dengan detak jantung yang seakan membanjiri telinga. Darren tidak segera berbicara. Ia hanya memandang Adelia dengan ekspresi yang sulit diartikan-seseorang yang seolah sudah lelah dengan semua yang terjadi, tapi masih berusaha untuk bertahan.

"Adelia," suara Darren memecah keheningan, berat dan dalam, seakan berasal dari dasar lautan. "Sudah waktunya."

Adelia mengangguk, mencoba meraih keberanian yang sudah lama hilang. Matanya yang besar menatap pria itu, mencoba menemukan sesuatu di balik topeng yang selalu menutupi wajahnya. Mungkin ini saatnya ia menemukan jawabannya, mungkin ini saatnya kebenaran tentang pria ini terungkap.

"Apakah... kau tahu apa yang aku rasakan?" Adelia bertanya, suaranya gemetar, seakan takut akan jawaban yang mungkin muncul.

Darren menghela napas, dan sebuah kerutan muncul di dahi yang tertutup kain itu. "Kau tidak perlu memahaminya sekarang, Adelia. Tapi aku ingin kau tahu, aku tidak memilih ini. Aku tidak memilih untuk hidup seperti ini. Dan aku juga tidak memilih untuk membuatmu terjebak dalam permainan ini."

Adelia memandangnya, matanya mulai basah. Ada kejujuran dalam suara Darren yang membuat hatinya terasa terhimpit. Di balik segala keangkuhan dan misteri, ada kepedihan yang begitu nyata. Dan itu membuatnya bertanya-tanya, apakah mungkin pria ini hanya sekadar korban dari sebuah takdir yang kejam, seperti dirinya?

"Kenapa?" Adelia bertanya, suaranya penuh harapan yang dipenuhi rasa takut. "Kenapa aku harus menjadi bagian dari semua ini?"

Darren mengalihkan pandangannya ke arah jendela besar yang menghadap ke taman. Taman itu, dengan bunga-bunga berwarna cerah dan air mancur yang gemericik, tampak sangat kontras dengan suasana hatinya. Seolah, di luar sana, dunia berjalan seperti biasa, tetapi di dalam ruangan ini, segala sesuatu sedang berguncang.

"Karena ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar kita berdua," Darren berkata, nadanya mulai melembut. "Ada sesuatu yang mengikat kita, Adelia. Dan aku takut, kau akan mengerti betapa besar pengorbanan yang harus kita lakukan. Bukan hanya untuk aku, tapi untuk semua orang di sekitar kita."

Adelia mendekat, merasakan jarak antara mereka yang semakin dekat. "Aku ingin tahu, Darren. Aku ingin tahu kebenaran, meski itu menyakitkan."

Darren menatapnya, seolah mencari sesuatu di dalam mata Adelia, sesuatu yang bisa membantunya membuat keputusan. Beberapa saat hening mengisi ruang di antara mereka, sebelum akhirnya ia mengangguk. "Baiklah, Adelia. Jika itu yang kau inginkan, aku akan memberitahumu segala sesuatu. Tapi kau harus siap. Kebenaran ini mungkin akan menghancurkanmu."

Adelia menatap pria itu, matanya berbinar dengan tekad yang baru lahir. "Aku siap, Darren. Aku harus siap."

Darren menghela napas, seolah baru saja melepaskan beban besar. Ia melangkah maju, mendekatkan wajahnya pada Adelia hingga jarak di antara mereka hanya beberapa inci. Ia mengangkat tangannya, merasakan getaran di dalam dirinya yang selama ini terkunci rapat. "Jika kau benar-benar siap, Adelia, maka aku akan memulai dengan satu hal: Aku bukan hanya seorang pria yang lemah, cacat, dan terkutuk. Aku adalah orang yang dihukum oleh kesalahan yang bukan milikku."

Adelia membeku, merasakan kata-kata itu menggema di seluruh tubuhnya. Kebenaran ini lebih berat dari yang dia kira, lebih gelap dari kegelapan malam. Namun di dalam hati kecilnya, ia tahu bahwa saat-saat ini adalah awal dari perjalanan yang akan mengubah hidupnya selamanya.**Bab 1: Takdir yang Tak Terelakkan**

Matahari sore menembus celah-celah awan, menciptakan jalur cahaya keemasan yang terpantul di lantai marmer yang dingin. Adelia berdiri di depan cermin besar di kamar pengantin, melihat refleksi dirinya yang tak lebih dari bayangan seorang wanita yang terperangkap dalam takdir yang tak ia pilih. Gaun putih panjang yang dihiasi renda perak menempel erat di tubuhnya, seakan memperingatkan betapa mustahilnya dia untuk melarikan diri. Ada ratusan bunga yang teratur di sekitar ruangan, aroma melati dan mawar mengisi udara, tetapi bagi Adelia, semua itu hanya membebani napasnya yang sudah terengah-engah.

Ia menutup mata, mencoba menenangkan pikirannya. "Ini hanya sementara. Setelah ini, aku bisa kembali ke kehidupan normal," katanya dalam hati, meski suaranya terdengar rapuh, seperti bisikan yang tak cukup kuat untuk menenangkan kegelisahan yang menguasai tubuhnya.

"Aku berharap semua ini hanya mimpi," Adelia bergumam, merasakan embusan angin dari luar yang menyapu rambutnya. Tetapi kenyataan tak pernah bisa digantikan dengan angan-angan. Ini adalah hidupnya sekarang, hidup yang harus ia jalani tanpa ada jalan lain. Suara langkah kaki yang berat membuatnya terkejut, jantungnya berpacu lebih cepat, seakan ingin melompat keluar dari dada.

Pintu kamar terbuka perlahan, dan seorang pria berdiri di sana, tubuhnya tegap dengan aura yang sulit untuk dijelaskan. Darren Aditya. Wajahnya yang tertutup kain hitam hanya menampilkan mata tajam yang penuh misteri, seolah menyimpan kebijaksanaan dan kepedihan yang tak bisa ditangkap oleh mata biasa. Di tangannya, tongkat hitam yang terbuat dari kayu keras menggantung, seakan menjadi simbol dari kekuatan dan penderitaan yang ia miliki.

Adelia menelan ludah. Suasana menjadi sunyi, hanya suara desahannya yang memenuhi ruangan, mencampur dengan detak jantung yang seakan membanjiri telinga. Darren tidak segera berbicara. Ia hanya memandang Adelia dengan ekspresi yang sulit diartikan-seseorang yang seolah sudah lelah dengan semua yang terjadi, tapi masih berusaha untuk bertahan.

"Adelia," suara Darren memecah keheningan, berat dan dalam, seakan berasal dari dasar lautan. "Sudah waktunya."

Adelia mengangguk, mencoba meraih keberanian yang sudah lama hilang. Matanya yang besar menatap pria itu, mencoba menemukan sesuatu di balik topeng yang selalu menutupi wajahnya. Mungkin ini saatnya ia menemukan jawabannya, mungkin ini saatnya kebenaran tentang pria ini terungkap.

"Apakah... kau tahu apa yang aku rasakan?" Adelia bertanya, suaranya gemetar, seakan takut akan jawaban yang mungkin muncul.

Darren menghela napas, dan sebuah kerutan muncul di dahi yang tertutup kain itu. "Kau tidak perlu memahaminya sekarang, Adelia. Tapi aku ingin kau tahu, aku tidak memilih ini. Aku tidak memilih untuk hidup seperti ini. Dan aku juga tidak memilih untuk membuatmu terjebak dalam permainan ini."

Adelia memandangnya, matanya mulai basah. Ada kejujuran dalam suara Darren yang membuat hatinya terasa terhimpit. Di balik segala keangkuhan dan misteri, ada kepedihan yang begitu nyata. Dan itu membuatnya bertanya-tanya, apakah mungkin pria ini hanya sekadar korban dari sebuah takdir yang kejam, seperti dirinya?

"Kenapa?" Adelia bertanya, suaranya penuh harapan yang dipenuhi rasa takut. "Kenapa aku harus menjadi bagian dari semua ini?"

Darren mengalihkan pandangannya ke arah jendela besar yang menghadap ke taman. Taman itu, dengan bunga-bunga berwarna cerah dan air mancur yang gemericik, tampak sangat kontras dengan suasana hatinya. Seolah, di luar sana, dunia berjalan seperti biasa, tetapi di dalam ruangan ini, segala sesuatu sedang berguncang.

"Karena ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar kita berdua," Darren berkata, nadanya mulai melembut. "Ada sesuatu yang mengikat kita, Adelia. Dan aku takut, kau akan mengerti betapa besar pengorbanan yang harus kita lakukan. Bukan hanya untuk aku, tapi untuk semua orang di sekitar kita."

Adelia mendekat, merasakan jarak antara mereka yang semakin dekat. "Aku ingin tahu, Darren. Aku ingin tahu kebenaran, meski itu menyakitkan."

Darren menatapnya, seolah mencari sesuatu di dalam mata Adelia, sesuatu yang bisa membantunya membuat keputusan. Beberapa saat hening mengisi ruang di antara mereka, sebelum akhirnya ia mengangguk. "Baiklah, Adelia. Jika itu yang kau inginkan, aku akan memberitahumu segala sesuatu. Tapi kau harus siap. Kebenaran ini mungkin akan menghancurkanmu."

Adelia menatap pria itu, matanya berbinar dengan tekad yang baru lahir. "Aku siap, Darren. Aku harus siap."

Darren menghela napas, seolah baru saja melepaskan beban besar. Ia melangkah maju, mendekatkan wajahnya pada Adelia hingga jarak di antara mereka hanya beberapa inci. Ia mengangkat tangannya, merasakan getaran di dalam dirinya yang selama ini terkunci rapat. "Jika kau benar-benar siap, Adelia, maka aku akan memulai dengan satu hal: Aku bukan hanya seorang pria yang lemah, cacat, dan terkutuk. Aku adalah orang yang dihukum oleh kesalahan yang bukan milikku."

Adelia membeku, merasakan kata-kata itu menggema di seluruh tubuhnya. Kebenaran ini lebih berat dari yang dia kira, lebih gelap dari kegelapan malam. Namun di dalam hati kecilnya, ia tahu bahwa saat-saat ini adalah awal dari perjalanan yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BLIND HEART
9.7
Demi membiayai wisuda dan meringankan beban sang ayah, Silvana mengambil pekerjaan tak biasa. Mahasiswi akhir ini harus mengasuh Max Elgort, miliarder tunanetra yang terkenal sangat pemarah. Meski kerap menghadapi sikap kasar Max, Silvana justru mulai jatuh hati. Sayangnya, Max masih terjebak kenangan mendiang kekasihnya yang tewas dalam kecelakaan penyebab kebutaannya. Sanggupkah Silvana bertahan di tengah kesetiaan Max pada janji masa lalu?
Sampul Novel Good morning Pak Dosen (Series 3)
9.4
Axel Leo Dinata dan Elvio Nadira membuktikan bahwa ketulusan cinta sejati mampu melampaui jurang perbedaan intelektual yang mencolok di antara mereka. Sayangnya, perjalanan asmara pasangan ini tidaklah mudah. Berbagai rintangan berat terus berdatangan untuk menguji kesetiaan satu sama lain. Kini, Axel dan Elvio harus berjuang keras menghadapi tembok penghalang besar yang mengancam keutuhan masa depan hubungan mereka.
Sampul Novel Kursi Panas di Kantor
8.9
Giselle Putri Natapradja, konsultan senior ambisius di The Converge, harus merelakan posisi partner impiannya direbut oleh Akira Hangga Aryanto, pria kompeten dari firma ternama. Keadaan kian pelik karena Akira adalah sosok dari masa lalu yang pernah terlibat cinta satu malam dengannya. Kini, di tengah rivalitas kerja yang sengit untuk membuktikan kapasitas diri, mereka juga harus berjuang keras menahan kembali gejolak asmara lama yang perlahan mulai membara.
Sampul Novel Om Duda I Love You
8.5
Kharisma Baby Arganda, seorang siswi sekolah, pantang menyerah mengejar cinta Rega Pradipta. Gadis polos ini yakin debaran jantungnya adalah bukti cinta sejati, meski Rega yang berusia jauh lebih tua terus menolaknya. Sebagai sahabat dari kakak Baby, Rega merasa kewalahan menghadapi kepolosan adik temannya tersebut. Logika kedewasaan Rega menentang hubungan ini, tetapi kegigihan Baby terus mengujinya. Mampukah keteguhan hati gadis muda ini meluluhkan sosok pria yang ia juluki Om Singa?
Sampul Novel Pijatan Pria Perkasa
8.1
Sesi terapi biasa berubah menjadi momen penuh ketegangan bagi seorang wanita yang berbaring dengan mata tertutup. Di bawah pijatan terapis pria, ia berusaha menahan gejolak yang muncul. Bisikan sensual tentang alat pijat khusus berukuran tiga puluh sentimeter memicu rasa penasaran yang tak terbendung. Meski sempat kehilangan kendali akibat sentuhan tak sengaja pada paha pria itu, ia tetap bersikap keras kepala dan menantang untuk membuktikan kebenaran klaim tersebut.
Sampul Novel SHEILA, GAIRAH LIAR BERSELIMUT DENDAM
8.6
Demi menyelamatkan sang ibu yang sakit, Sheila Damaris terpaksa memilih antara jeruji besi atau menyerahkan kesuciannya kepada Revian, atasannya yang sangat arogan. Meski berhasil menuntut pernikahan kontrak, nasib Sheila justru kian menderita. Kekejaman Revian memuncak saat masa lalu Sheila terungkap, mengubah statusnya hanya sebagai pemuas hasrat. Di tengah siksaan sang direktur, mampukah Sheila bertahan dan menuntaskan dendamnya?