APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Penculikan 11 Tahun Silam

Rahasia Penculikan 11 Tahun Silam

Demi sebuah janji suci kepada wanita idaman yang tak mungkin ia miliki, Almann rela mendekam di penjara. Ia dituduh melakukan penculikan sebelas tahun lalu, sebuah kasus yang sebenarnya tidak ia lakukan. Almann memilih bungkam dan menyimpan rahasia kelam nan menyakitkan itu rapat-rapat. Pengorbanan ini ia lakukan demi menjaga komitmen terakhirnya pada sang kekasih pujaan hati, meski ia harus mengorbankan kebebasannya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Jadi begitu ya? Ibu benar sudah yakin mau menempuh jalan damai?” suara Briptu Arif terdengar menyelidik.

“Iya. Tolong pertemukan saja saya dengan Bang Almann sekarang Pak. Saya nggak punya banyak waktu. Saya harus cepat pulang ke kota. Orang tua saya sedang sakit,” jawab Saliha dengan ekspresi muka datar.

Briptu Arif mengangguk. “Baik, tunggu sebentar.” Dia berdiri dan menghilang dari balik pintu keluar.

“Surat perjanjiannya nggak lupa dibawa kan?” suara Amir mengagetkan Saliha yang sempat termenung.

“Ada Bang, di dalam tas. Semoga Bang Almann mau tanda tangan. Urusan kita harus selesai hari ini juga. Aku takut kalau kelamaan bisa-bisa nanti Hinra berubah pikiran.”

“Yakin mau melepaskan dia dari jerat hukum? Dia udah menculik adik kamu selama sebelas tahun.”

“Dia nggak sejahat itu. Aku juga sebenarnya nggak mau melibatkan polisi. Kalau melihat kedekatan Hinra dengan Bang Almann, pasti Bang Almann sangat menyayangi Hinra dan memperlakukannya dengan baik selama ini. Tapi kalau tanpa campur tangan polisi, nggak akan semudah itu kita membawa Hinra dari sekolah.”

“Apa ada cerita yang nggak aku tahu? Kamu terlihat marah dan emosi saat tahu di mana Bang Almann, tapi sesekali kamu juga terlihat lemah. Ai juga berapa kali berpesan dengan kita untuk nggak menyakiti perasaan Bang Almann. Sebenarnya apa hubungan kalian semua di masa lalu?”

“Bang Amir nggak perlu merisaukan hal itu. Apa yang terjadi dulu, biarlah berlalu. Jangan paksa aku untuk mengingatnya lagi. Semua yang terjadi di masa lalu itu terlampau menyakitkan bagi kami.” Terdengar getar suara Saliha menahan tangis.

Amir kali ini diam tidak menjawab lagi. Tak lama dilihatnya Briptu Arif datang dengan membawa Almann. Amir menjawil lengan istrinya sambil memberi kode ke arah Almann. Saliha tersadar dan menoleh.

Dilihatnya Almann yang berjalan tanpa semangat. Wajahnya terlihat keruh, tak ada cahaya sama sekali. Kantung matanya terlihat jelas, menandakan ia kurang tidur. Bang Almann benar-benar terlihat jauh lebih tua dibandingkan saat dulu ia mengenalnya.

“Mari kita duduk di sebelah sana untuk negosiasi,” Briptu Arif menunjuk ke sudut ruangan yang dilengkapi sofa dan meja kecil. Cukup untuk mereka berempat.

Saliha dan Amir berdiri dari kursinya dan mengikuti Briptu Arif yang sudah berjalan lebih dulu di depan. Mereka mengambil posisi duduk masing-masing. Almann duduk berhadapan dengan Saliha. Tapi pandangan matanya selalu tertuju ke bawah.

“Mann, Ibu Liha mau menempuh jalan damai. Dan kamu bisa keluar dari sini secepatnya,” Briptu Arif tersenyum. Tapi Almann tidak banyak merespon. Dia hanya melayangkan pandangannya ke arah Saliha.

“Tapi Abang harus menandatangani surat perjanjian ini,” Saliha mengeluarkan sebuah map, menyerahkannya kepada Briptu Arif. Briptu Arif membuka map dan mendapati dua lembar surat perjanjian yang bermaterai.

“Kenapa harus ada surat perjanjian?” Almann menatap Saliha tanpa kedip.

“Mari akhiri hubungan kita sampai di sini. Kita buat perjanjian hitam di atas putih. Selepas ini Abang bisa hidup tenang sendiri.” Saliha pun balas menatap Almann, berusaha menunjukkan kalau ia sedang serius dan tidak mau diremehkan.

“Tolong bacakan apa isi surat perjanjiannya, Pak Arif.” Almann berkata tanpa menoleh. Matanya masih lekat menatap Saliha yang juga sedang memandangnya dengan tatapan dingin.

“Panjang ini... Tapi aku sebut poin-poinnya aja ya,” Briptu Arif mulai membaca surat perjanjian itu, sambil mencari poin penting yang akan disampaikannya kepada Almann.

“Poin satu, Saudara Almann dilarang untuk mendekati apalagi bertemu dengan Saudara Hinra, baik secara pribadi maupun lewat orang lain, selamanya, terhitung mulai saat ini. Poin dua, Saudara Almann dilarang untuk merespon apabila suatu saat nanti Saudara Hinra menghubungi dan mengajak bertemu Saudara Almann. Poin tiga, apabila Saudara Almann setuju untuk menandatangani isi surat perjanjian ini dengan kesadaran diri sendiri, maka Saudara Almann akan dibebaskan dari tuntutan hukum dan akan diberikan kompensasi sekedarnya berupa uang untuk menggantikan biaya merawat dan membesarkan Saudara Hinra. Sekian.” Briptu Arif menutup kesimpulannya.

“Hehehh... Kompensasi sekedarnya... Itu berarti kamu memang merasa tidak sanggup untuk mengganti apa yang telah kuberikan untuk Hinra selama ini,” Almann tersenyum perih, matanya mulai kembali berkaca-kaca.

“Kami bukan orang kaya, hanya berusaha menghargai tetes keringat orang,” Saliha menjawab sengit.

“Kamu nggak perlu memberikan kompensasi apa-apa. Cukup izinkan aku untuk bertemu Hinra sesekali.”

“Nggak. Bisa aja suatu saat nanti Abang bawa dia lari lagi....”

“Kalau gitu kasi kesempatan Abang untuk bertemu dia sekarang, untuk yang terakhir kalinya....” Air mata Almann mulai keluar tanpa bisa ditahan.

“Aku udah bilang sejak awal kalau itu juga nggak mungkin. Apalagi besok kami udah harus pergi dari sini. Kalau Hinra ketemu Abang, bisa-bisa dia nggak mau ikut kami.”

“Kenapa kamu bisa setega ini Liha...!!!!” Almann menggebrak meja dan langsung berdiri. Membuat beberapa orang personil polisi yang ada di ruangan itu terlihat bersiaga, termasuk Briptu Arif. Sementara Amir refleks melintangkan lengan ke depan badan istrinya, khawatir Almann melakukan kekerasan terhadap Saliha.

Almann terlihat menahan kemarahan. Suara nafasnya terdengar. Dan terlihat kedua bahu yang turun naik mengimbangi nafasnya yang memburu.

“Aku mengenalmu Liha. Aku juga tahu bagaimana sifatmu. Tapi aku nggak pernah menyangka kamu bisa sekejam ini!”

“Silakan Abang tandatangani, setelah itu Abang nggak akan bertemu lagi dengan orang yang kejam seperti aku....”

“Aku nggak akan tandatangani, aku akan hidup dalam harapan untuk bertemu Hinra sekalipun harapan itu sangat kecil.” Kali ini Almann kembali duduk, tapi matanya tetap tertuju pada Saliha dengan pandangan yang membuat Saliha merinding.

“Kalau gitu Abang akan tetap dipenjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatan Abang selama ini....”

“Apa yang buruk dari itu? Dipenjara lebih baik bagiku daripada pulang ke rumah tapi tidak bisa bertemu dengan anak yang kusayangi dengan segenap jiwa ragaku.” Air mata Almann kembali keluar tanpa dikomando. Hatinya benar-benar perih teriris. Tak ada kata yang bisa melukiskan betapa hancurnya ia saat ini.

“Terserah Abang. Kalaupun Abang tetap bersikeras untuk dipenjara dan tidak mau menandatangani surat perjanjian ini, akan kupastikan Hinra melupakan Abang dan tidak akan pernah lagi mengingat secuil pun kenangannya selama bersama Abang.”

“Aaaarrggghhhh......!!!!” Kali ini Almann bergerak maju ke depan hendak menerkam Saliha. Tapi semua yang ada di situ sudah bersiap, Amir melindungi istrinya, membawanya menjauh, dan Briptu Arif dengan cepat menangkap dan menekan tubuh Almann ke lantai.

“Kau benar-benar jahat Liha! Dulu kau jahat. Sekarang pun sama. Kau tidak memberikan aku kesempatan bertemu Hinra untuk menjelaskan apa yang terjadi, dan sekarang kau mau memberikan cerita yang buruk tentangku pada Hinra. Membuatnya membenci dan melupakanku.” Almann berteriak sambil memukul lantai dengan kedua tinjunya. Tangannya sakit. Tapi hatinya jauh lebih sakit.

“Tahan Mann....” Briptu Arif menepuk punggung Almann yang berada di bawahnya. Ia merasa kasihan. Tapi harus tetap menahan agar Almann tidak melakukan hal buruk yang bisa memberatkan hukumannya.

“Tolong suruh mereka pergi Pak.” Almann menangis dengan menelungkupkan wajahnya ke lantai. “Bilang kalau mereka sudah bisa pergi sekarang. Dan tolong bawa kembali surat perjanjian itu.”

Almann menangis seperti anak kecil yang tidak diberi izin untuk membeli mainan. Briptu Arif hanya bisa memberi kode dan disambut anggukan Amir. Dia merangkul Saliha keluar. Terlihat mata Saliha yang merah, seperti menahan tangis.

Tidak ada kata yang keluar dari mulut Saliha sejak mereka pergi dari kantor polisi hingga sampai ke penginapan tempat Hinra berada. Hanya terlihat ia menyeka air matanya yang sesekali jatuh diam-diam.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU PELAKOR
9.5
Kehidupan Arum porak-poranda setelah sang ayah menceraikan ibunya demi perempuan lain. Fitnah keji memaksa ibunya menikahi seorang pemabuk, membuat Arum depresi hingga nyaris mengakhiri hidup. Rentetan penderitaan itu kini menjelma menjadi dendam membara. Arum bertekad membalas rasa sakit hatinya kepada wanita perusak rumah tangga orang tuanya, sosok yang telah menghancurkan keluarganya dan membuat ayahnya lepas tanggung jawab.
Sampul Novel Gairah Sang Dosen
8.8
Kehidupan pernikahan Ryan, seorang dosen muda kaya, dan Tania mulai diguncang prahara. Kehadiran Maya, rekan kerja Ryan yang tidak bahagia bersama suaminya, Joko, serta intrik Rani, mahasiswi yang memanipulasi kebaikan Ryan, menjadi ujian berat. Masalah kian rumit saat Tania bertemu kembali dengan Robi, mantan kekasihnya yang kini memimpin bisnis pinjol ilegal. Di tengah pusaran pengkhianatan dan konspirasi ini, Ryan dan Tania harus berjuang keras demi menyelamatkan rumah tangga mereka.
Sampul Novel Jerat Hasrat Istri Kedua
8.9
Demi menyelamatkan ladang gandum sang ayah, Eleanor Caldwell terpaksa menjadi istri kedua bagi Jonathan Abbe Turner. Di bawah bayang-bayang dinasti wiski Montana, ia memikul beban berat untuk melahirkan pewaris. Meski sempat berniat kabur dari pernikahan yang menyiksa ini, Eleanor justru mulai jatuh cinta pada suaminya. Namun, Lizzy sang istri pertama tidak tinggal diam dan siap melakukan apa saja demi melenyapkan Eleanor selamanya.
Sampul Novel LELAKI YANG TERKHIANATI
9.6
Demi memberi kejutan manis untuk istrinya, Susanti, Tarno pulang setelah lima tahun merantau ke luar negeri dengan membawa sebuah kalung berinisial khusus. Namun, kepulangan tanpa kabar itu justru mengungkap kebenaran yang menyakitkan. Tarno memergoki Susanti di ranjang mereka bersama Joko, sahabat karib yang ia percayai untuk menjaga istrinya. Hancur karena dikhianati oleh dua orang terdekatnya, bagaimanakah cara Tarno melanjutkan hidup setelah rahasia kelam ini terku ini terungkap?
Sampul Novel MENIKAM MENTAL SUAMI DAN GUNDIKNYA
8.6
Sawitri, seorang guru TK honorer, menghadapi ujian berat ketika ibu mertuanya, Masita, menuntutnya menyetujui poligami Burhan dengan Nuri. Tergiur kekayaan Nuri, Masita lebih memilih mendukung wanita itu demi keuntungan materi. Di saat hati Sawitri hancur, Burhan justru tega berselingkuh terang-terangan tanpa memikirkan perasaan sang istri. Sanggupkah Sawitri bertahan melewati kejamnya pengkhianatan suami dan mertuanya dalam pernikahan yang kini penuh penderitaan ini?
Sampul Novel Mereka Menyesal Setelah Aku Menikah
8.2
Kirana mengira hari pernikahannya dengan Donny akan bahagia, namun ia justru dijebak dalam sandiwara kejam demi menghibur adik tirinya. Di hadapan para tamu, Donny membatalkan pernikahan dan mempermalukannya. Saat ditantang untuk menikahi salah satu tamu yang hadir, Kirana mengambil keputusan nekat. Ia benar-benar melangkah ke pelaminan bersama seorang pria di sana, membuat Donny dan orang-orang yang mempermainkannya seketika panik atas konsekuensi tindakan mereka.