APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Mamiku

Rahasia Mamiku

Jamy sangat protektif pada putrinya yang manja dan masih harus disusui saat tidur. Sikap manja sang anak memicu rasa iri di antara teman-temannya. Namun, pesona Jamy yang menawan justru memikat hati salah satu teman putrinya tersebut. Di balik hubungan yang terlihat harmonis ini, Jamy ternyata menyembunyikan sebuah rahasia besar mengenai identitas sang anak. Misteri apakah yang sebenarnya ia simpan rapat-rapat?
Bab
Bagikan

Bab 2

Jihan langsung masuk kelas dan duduk di bangku tengah, tidak lama kemudian Rara datang dengan wajah kesal.

"Eh Rara, kok, mukanya begitu kenapa?" tanya Jihan bingung.

"Kamu pake nanya lagi sama gue, gak sadar kesalahan lo apa!" kesal Rara.

Jihan langsung ingat jika kemaren dirinya berjanji akan pergi sekolah bersama.

"Maaf Ra, Ihan udah ingkar janji tapi ... Ihan gak di ijinin sama Mami." Jihan menjelaskan.

"Aishh dasar anak mami, tapi setidaknya lo ngomong dulu sama gue. Kalau lagi bareng Mami, jadi gak perlu ketuk-ketuk pintu orang udah kayak orang gila tau gak!"  Rara makin kesal.

"Maaf."  Jihan menunduk.

Rara tidak tega juga melihat muka Jihan yang sedih, jadi Rara memutuskan untuk memaafkan.

"Ya sudah gue maafin tapi lain kali jangan kayak gitu lagi yahh, lagian lo anak mami banget sihh," ledek Rara.

"Enggak kok, Ihan bukan anak mami. Siapa bilang Ihan anak mami."  Jihan menyangkal tuduhan sebagai anak mami.

"Ahaha ... udah deh lu gak usah ngelak, gue dah tau kok, oh ya lo udah kerjain tugas matematika belum?" 

"Ya pasti udah dong, iya kali belum bisa digantung Ihan sama Mami."

Rara hanya tersenyum mendengar jawaban Jihan, lalu dia duduk disamping Jihan dan tak lama kemudian guru masuk.

"Selamat pagi anak-anak, gimana udah mengerjakan tugas?"

"Sudah Pak!" sahut murid serentak dikelas.

"Bagus, sekarang kumpulkan tugas lalu kita lanjut ke halaman berikutnya."

Semua murid mengumpulkan buku latihannya dan kembali duduk untuk mengikuti pelajaran berikutnya.

"Jadi A² bla bla bla..." ucap guru menjelaskan pelajaran matematika sampai selesai.

Kring! Kring!

"Yey udah jam istirahat." Sorak murid lalu guru keluar dari kelas.

Jihan memasukkan kembali bukunya dan Rara mengajak Jihan untuk makan di kantin.

"Han, kita makan di kantin yuk," ajak Rara.

"Boleh, tapi Ihan bawa bekal yah. Ihan  temenin Rara aja makan di kantin  gak papa kan?" 

"Ya gak papa, yang penting lu temenin gue makan."  Rara kemudian menarik tangan Jihan untuk ke kantin.

Saat duduk di kantin, Jihan membuka bekalnya dan melihat masakan maminya yang begitu menggoda dan itu membuat Rara jadi ingin mencicipinya.

"Makanan lu enak banget, Han, gue boleh icip gak?" tanya Rara.

"Boleh dong, Rara kan sahabat Iham." 

"Yey makasih yahh, gue makan yang ini." Rara mengambil ayam goreng paha.

"Oh ya, Rara tadi pesan apa?" Tanya Jihan.

"Gue tadi pesan bakso," sahut Rara.

Mendengar kata bakso Jihan jadi penasaran karena selama ini dirinya tidak pernah makan bakso.

"Ee ... Ra, Iham boleh nanyak gak?" 

"Boleh, tanya apa emangnya." Rara sambil menggigit ayam goreng, "hemmm ... ini enak banget empuk lagi. Wah ... mami lu jago banget masaknya," puji Rara lagi.

"He .. makasih, emm rasa bakso enak gak?" tanya Jihan sambil menggigit bibir bawahnya.

Rara mengerutkan keningnya dengan pertanyaan Jihan yang menurutnya aneh, lalu ia berkata, "Lu gak pernah makan bakso, Han."

Jihan menggelengkan kepalanya,  "Ihan gak pernah soalnya selalu dilarang sama Mami, makanya nanya sama Rara gimana rasanya bakso." 

Rara menepuk jidatnya sendiri. "Aduh Han, gila yahh lu benar-benar disetir sama nyokap. Ya sudah gini aja nanti lu cobain bakso gue," tawar Rara.

"Beneran boleh, Ra." Jihan memastikannya sekali lagi.

"Ets tapi ... emang lu gak papa makan bakso gitu, kan tadi katanya dilarang." Rara mengingatkan Jihan.

Muka Jihan seketika berubah lalu ingat dengan ucapan maminya.

"Jangan makan makanan di kantin, kalau kamu ngelanggar bakalan Mami hukum." Inilah ucapan yang selalu Jamy katakan kepada Jihan.

"Ee gak jadi deh, Ihan takut di hukum." Jihan sambil menunduk.

"Hahaha ... Lu lucu banget, Han. Ya udah, jadi fiks nih lu gak jadi makan baksonya?"

"Iya." 

Kemudian bibi kantin datang mengantar pesanan baksonya Rara.

"Ini Neng dah jadi baksonya," ucap Bibi kantin.

"Makasih," sahut Rara.

Mereka berdua langsung melahap makanan masing-masing.

"Uhh hahhh ... enak nih pake sambel." Rara mengambil sambal di meja.

"Ikh ... itu banyak banget sambalnya emang Rara tahan?" tanya Jihan.

"Sambal begini doang kagak ada pedasnya, Jihan sayang." 

Brak!

Ada yang menggebrak meja makan yang di duduki Rara dan Jihan.

"Eh, anak manja coba lihat makanan sampah lo." Lisa salah satu ratu bully.

"Enggak boleh, ini punya Ihan." Jihan sambil memeluk kotak makanannya.

"Eouu bacot loh yah, sini makanannya gue mau lihat?" Lisa memaksa mengambil kotak makanan milik Jihan.

Bugh!

Rara langsung memukul tangan Lisa, dan mengambil kotak makanan itu. Lalu menarik Jihan dan menyuruh duduk disampingnya.

"Lo!" teriak Lisa sambil menunjuk muka Rara.

"Apa Lo! Mau ngelawan?" sahut Rara menantang balik dengan tatapan tajam sampai membuat Lisa kikuk.

"Udah Lis, kita pergi aja gak mungkin juga kita lawan Rara." teman Lisa berbisik.

"Awas lo yah, kali ini Eloo selamat." Lisa dengan lantang sambil menunjuk Jihan.

"Gak usah tunjuk-tunjuk, sialan!" marah Rara ketika Lisa menunjuk muka Jihan.

Lisa dan temannya langsung pergi karena mendapat tatapan tajam dari Rara.

***

Tangan mulus dan putih sedang mengambil minyak kayu putih dan menciumkannya pada hidung wanita yang cantik tak lain adalah Jamy.

"Ugh .." Suara lenguhan Jamy kemudian matanya perlahan terbuka.

"Kamu sudah bangun?" Tanya wanita cantik tadi dengan perasaan khawatir.

Jamy memegang kepalanya yang terasa pening lalu mengingat kejadian sebelumnya.

"Astaga, sial!" gumam Jamy lalu ingin berdiri tapi ditahan oleh wanita cantik tadi.

"Kamu masih lemah istirahat dulu disini," tawar wanita itu dengan cemas.

"Lepas! Terima kasih sudah menolong, ini bayarannya. Saya pergi dulu!" pamit Jamy meninggalkan wanita itu dengan uang dua ratus ribu.

"Bahkan kamu membayar aku Jamy, kamu tau gak sih aku tuh tulus nolongin kamu," ucap wanita itu sedih.

Wanita itu menatap nanar Jamy yang sudah pergi jauh dari pandangannya.

"Apa kita masih bisa sama-sama lagi? Apa kamu sangat membenci aku Mi, sampai kamu tidak mau menerima bantuan aku? Aku tau kok, kesalahan aku di masa lalu terlalu besar!" ucap wanita itu sambil menitikkan air matanya.

Sedangkan Jamy langsung kembali ke kantornya dan pikirannya benar-benar kusut.

"Kenapa harus Citra sih, yang nolong aku, sial! sial! sial! Aku benci sama kamu Citra, gara-gara kamu hidup aku hancur, hiks! Dan sekarang kamu muncul dihadapan aku dengan alasan menolong aku cuihh! Aku gak bakalan jatuh seperti yang dulu lagi untuk kedua kalinya!" Jamy kemudian duduk disofa ruang kerjanya dan membuka ponselnya.

Jamy menelpon anak buahnya yang sedang mengawasi Jihan.

[ "Gimana apa ada yang menjahati anak saya?" tanya Jamy dengan dingin. ]

[ "Ada satu orang, Miss. Tapi sepertinya Nona Muda sudah ada yang melindunginya, namanya Rara," sahut anak buah Jamy. ]

[ "Cari orang yang sudah menjahati anak saya tadi!" titah Jamy. ]

[ "Baik Miss." ]

Kemudian Jamy mematikan ponselnya dan bergumam pada dirinya sendiri.

"Siapapun yang menyakiti anakku, harus mati¡"  Jamy berucap dengan tatapan datar dan dingin.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Pekerjaan Rahasiaku Dan Cintanya
8.8
Sulitnya mencari kerja memaksa Meri menjadi pembunuh bayaran demi uang. Rahasia gelap ini hanya diketahui oleh Mike, sahabat yang diam-diam ia cintai. Meri memilih memendam perasaannya demi menjaga persahabatan mereka, terlebih Mike sudah memacari seorang model menawan. Namun, keyakinan hati Meri mulai goyah saat ia tidak sengaja bertemu seorang dokter tampan di rumah sakit. Siapakah sosok yang sebenarnya ditakdirkan menjadi belahan jiwa bagi Meri?
Sampul Novel BTB (Berpisah Tanpa Bercerai)
9.2
Pernikahan Airra, seorang yatim piatu, dengan miliarder bernama Arief hancur akibat fitnah kejam dari Garna dan Binar. Tanpa status yang jelas, ia diusir hingga terpaksa bekerja sebagai pembersih hotel demi menghidupi anak kembarnya. Tiga tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali saat kondisi fisik Airra sangat lemah. Pertemuan ini membangkitkan dendam membara di hati Airra akibat luka masa lalu. Akankah hubungan mereka bertahan di tengah badai yang belum usai?
Sampul Novel Cinta Gadis Tanpa Nasab
9.8
Cinta Anna Lee, gadis blasteran di Korea, terhalang restu keluarga Emran akibat asal-usulnya. Di tengah badai itu, Shaka yang merupakan adik tiri Emran datang mendekatinya. Kebenaran terungkap saat orang tua Emran menyadari Anna adalah anak dari donatur terbesar pesantren mereka. Mereka pun berbalik arah dan mencoba menyatukan Anna dengan Emran lagi. Namun, setelah semua kepedihan dan perubahan hati yang terjadi, bersediakah Anna menerima cinta itu kembali?
Sampul Novel Gairah Liar Atasanku
9.1
Demi membiayai pengobatan sang suami, Renata terpaksa menyerahkan kesuciannya kepada Dion, bosnya sendiri. Transaksi satu miliar ini awalnya disepakati hanya untuk satu malam, namun Dion terus menuntut lebih. Hubungan intim yang terus berlanjut itu perlahan menumbuhkan cinta terlarang di antara mereka. Di sisi lain, Vera dan Andika harus menelan pil pahit saat menyadari bahwa pasangan mereka telah mengkhianati pernikahan demi memuaskan gairah tersebut.
Sampul Novel Janjinya, Kehancurannya
8.6
Malam kejayaan karier arsitekturku hancur seketika saat Baskara, tunanganku, menyerahkan karyaku pada cinta pertamanya. Aku dipaksa membimbing wanita itu, mengalami kekerasan fisik, hingga akhirnya dipecat. Kekejaman Baskara memuncak saat ia mencelakaiku di rumah sakit hingga bersimbah darah, padahal aku sedang mengandung anaknya. Enggan bertahan dalam pengkhianatan keji ini, aku memutuskan pergi jauh, mengubah identitasku, dan menghilang bersama bayiku selama lima tahun.
Sampul Novel Ketika Cinta Mati, Dendam Dimulai
9.8
Kehidupan jurnalis investigasi Eva Anindita hancur setelah putranya tewas tragis. Bukannya membela, sang suami, Jaksa David Adiwijaya, malah menjebloskan Eva ke penjara demi melindungi pelaku tabrak lari bernama Karin. Tiga tahun berlalu, Eva bebas dengan duka mendalam karena kehilangan anak keduanya di sel. Saat mengetahui David kini bahagia bersama Karin, amarah Eva tak terbendung. Ia siap membalas dendam atas segala pengkhianatan keji mereka.