
Rahasia di Bawah Selimut
Bab 4
Linda mengangguk. "Dari apa yang kamu katakan, bayi hantu itu baru berusia beberapa bulan, jadi tubuh jiwanya seharusnya lebih lemah daripada anakmu. Dia membutuhkan ibunya untuk menenangkannya atau dia akan merasa nggak nyaman. Ini akan berpengaruh pada kelemahan tubuh jiwanya."
"Pantas saja ...."
Aku langsung teringat dengan semua makanan ringan dan mainan di bawah selimut tadi malam. Ternyata itu adalah taktik Mbak Rini untuk menyogok Dikka agar dia bisa membuat Dikka dekat dengannya.
"Jadi maksudmu, semuanya akan baik-baik saja kalau mereka nggak saling berhubungan?"
Linda mengusap pelipisnya. "Kamu terlalu menganggap enteng masalah ini. Menjauhkan mereka hanyalah langkah pertama, yang terpenting adalah menemukan abu bayi hantu itu."
"Abu?"
"Ya. Meskipun Dikka sudah diubah olehnya dan menunjukkan reaksi tubuh seorang bayi, selama kita menemukan abu bayi hantu itu terlebih dahulu, setelah hantunya masuk kembali ke dalam roda reinkarnasi, Dikka akan kembali normal juga."
Kata-kata Linda benar-benar membuatku berpikir keras.
"Tapi, karena dia berani menggunakan cara seperti ini, abunya pasti disembunyikan di tempat yang sangat tersembunyi. Menurut waktu dia datang ke rumahmu, kita hanya punya waktu lima hari lagi.”
"Bagaimana kalau ... kalau abunya nggak bisa ditemukan dalam waktu lima hari?" tanyaku dengan tubuh gemetar karena ketakutan dengan pertanyaanku sendiri.
"Kalau abunya nggak ketemu, jiwa hantu itu nggak akan bisa masuk kembali ke dalam roda reinkarnasi dan akan tetap melekat pada putramu. Ini akan memunculkan situasi satu tubuh dengan dua jiwa tanpa adanya air susu ibu yang memberinya makan."
Harapan yang baru saja berkobar di dalam hatiku seketika sirna.
Lima hari, hanya lima hari ....
Melihat ekspresi khawatir di wajahku, Linda menepuk pundakku dan membujukku, "Jangan terlalu khawatir, aku akan memikirkan caranya."
"Lalu, apa yang bisa aku lakukan sekarang?” Aku meraih tangannya, sangat ingin berkontribusi untuk menyelesaikan masalah ini.
"Beri dia makan dulu. Fisiknya sudah berubah, apa yang Mbak Rini berikan bukanlah makanan yang dimakan oleh makhluk hidup. Kalau terus seperti ini, cepat atau lambat tubuhnya nggak akan sanggup menanggungnya. Simpan jimat ini. Ini bisa menstabilkan jiwa putramu untuk sementara waktu."
"Yang paling penting sekarang adalah menemukan abu bayi hantu itu. Aku harus minta mantra kepada guruku, Mbah Rama agar bisa mendeteksi keberadaan abu itu. Kamu jangan sampai membuatnya curiga dan waspada."
Aku menganggukkan kepala, menunjukkan bahwa aku akan mengingatnya. Setelah mengatakan itu, Linda pergi dengan tergesa-gesa.
Saat malam tiba, Mbak Rini masih datang untuk mengantarkan makanan, yang awalnya lezat, tetapi sekarang tampak agak mengerikan.
Dia selesai menata makanan dan hendak menyuapi Dikka. Tiba-tiba aku bangun dan mengulurkan tangan untuk menghentikannya.
"Mbak Rini, dokter baru memasang jarum infus Dikka. Katanya, dokter akan memantau keadaannya untuk satu jam dan dia nggak boleh makan dulu. Aku lupa bilang, maaf." Aku tersenyum padanya dengan sedikit meminta maaf.
"Nggak apa-apa. Makanan ini akan tetap hangat, jadi saya akan meninggalkannya di sini. Ibu bisa memberinya makan nanti. Dia sangat lemah, jadi jangan sampai nggak makan."
Meskipun sedang berbicara denganku, mata Mbak Rini tetap tertuju pada Dikka.
"Eh, sepertinya kamu juga belum makan, jadi kamu bawa pulang saja buat dimakan. Nanti, aku bisa beli yang baru."
"Nggak bisa!" Suara Mbak Rini sedikit meninggi. Setelah menyadari ada yang tidak beres, dia meredam nadanya dan berkata, "Makanan di luar nggak bersih, lebih baik buat sendiri saja."
Aku mengiakan berulang kali. Setelah bicara beberapa hal dengannya, dia akhirnya bersedia untuk pergi.
Tampaknya memang ada masalah dengan makanan ini.
Anda Mungkin Juga Suka





