
Rahasia di Balik Ruang Gelap
Bab 2
Diam-diam aku melirik ke arah ayah tiriku. Dari balik celananya, terlihat jelas ada sesuatu yang berubah jadi tegang dan menonjol, terlihat sangat kuat dan ganas.
Tatapanku rupanya nggak luput darinya. Sekilas saja, dia seakan sudah paham apa yang sedang aku rasakan.
Dia duduk di sampingku, posisinya menyerupai pria dalam film yang sedang kami tonton.
“Lusi, kamu kelihatan sangat kacau sekarang. Sudah mulai kerasa, yah?”
Baru saat itu aku tersadar, tubuhku gemetar, wajahku memerah, dan tanpa aku sadari bajuku juga terangkat sedikit. Aku tampak sama kacaunya seperti tokoh wanita di layar TV.
Aku gigit bibirku, nggak mampu berkata apa-apa.
Suara Gilbert, ayah tiriku kemudian melembut.
“Nggak apa-apa, di sini cuma ada kita berdua. Kamu mau apa, aku akan turuti kamu … ini rahasia kita. Sekarang, gimana perasaanmu? Kamu … mau apa?”
Wajahku semakin panas, suaraku bergetar pelan.
“Aku … rasanya aneh … kayak mau .…”
“Mau apa?”
“Kayak mau … digitukan .…”
Dia tersenyum tipis.
“Anak baik .…”
Dengan perlahan, dia buka dua kancing bajuku yang terasa sesak. Saat itu juga dada putih seperti salju langsung menyembul keluar. Terlihat begitu saja di depan ayah tiriku, aku menunduk, nggak berani menatapnya. Rasa malu dan gugup campur jadi satu.
Aroma pria dewasa seketika selimuti napasku. Aku perhatikan tangannya perlahan sentuh aku, merasa gugup sekaligus bersemangat.
Hasrat tubuhku nggak kasih aku ruang untuk berpikir lagi, tubuhku terasa lemah, seolah kehilangan tenaga untuk menolak.
Aku biarkan ayah tiriku buka bra-ku, lidahnya telusuri pola di pusat dadaku yang lembut dan merah muda.
‘Oh, gatal banget.’
“Ah, ini… aneh sekali … ini perasaan apa .…”
“Tenang, aku ajarin kamu. Ini namanya “enak”, dan nanti, kamu akan merasa lebih “enak” lagi.”
Tapi nggak cuma itu saja. Dia ulurkan tangannya yang besar dan kuat, taruh itu di bawah rokku.
Dengan lembut dia gosok bolak-balik di sepanjang celah tubuhku yang dalam.
Dalam sekejap, sensasi asing itu penuhi seluruh tubuhku, rasanya aku hampir meledak.
Gimana bisa rasanya begitu nikmat! Aku belum pernah rasakan hal seperti ini sebelumnya, ringan, melayang, seolah ada di tempat yang jauh dari kenyataan.
Sekarang aku mulai ngerti, kenapa ibu sering keluarkan suara seperti itu di malam hari.
Napas panjang hampir lolos dari bibirku, tetapi aku tahan itu. Di hadapannya, aku merasa terlalu malu.
Aku tahan sensasi itu, berusaha tetap diam. Namun semakin aku tahan, sensasi itu justru semakin kuat.
Kedua kakiku bergerak tanpa sadar, coba rapatkan diri, tetapi malah cengkeram lengan ayah tiriku.
Semakin erat aku remas, semakin keras gerakannya.
“Ah … pelan … aku … nggak kuat .…”
Akhirnya, suaraku tetap lolos, lirih dan gemetar, buat aku sendiri terkejut.
Dengar itu, ekspresi ayah tiriku berubah, lebih bersemangat, dia gigit ujung dadaku.
Suara dari film di layar TV terus mengalun, berpadu dengan napasku yang semakin nggak teratur.
Aku rasa seluruh tubuhku terbuka, seolah nikmati setiap sentuhan yang datang.
Lidahnya lembut dan lembap, seperti suhu 37 derajat di mulutku.
Seluruh tubuhku terasa diselimuti kehangatan ini.
Apa seperti inilah rasanya jadi dewasa? Rasanya seperti berdiri di tepi jurang, goyah, berbahaya, namun juga memikat.
Aku mendekat, berbisik pelan di dekat telinganya, “Ayah … ini … apa ini artinya aku sudah dewasa?”
Gilbert tersenyum.
“Yah, kamu belajar dengan cepat. Kamu akan jadi wanita yang menarik … tapi ini saja nggak cukup.”
Sentuhannya kembali berlanjut, ke bagian yang belum pernah disentuh siapa pun, buat tubuhku bereaksi tanpa bisa aku kendalikan.
Tubuhku gemetar dan napasku kacau, hingga akhirnya hanya bisa terdiam, bagian pribadiku basah dan lengket, basahi tangannya.
"Sensitif sekali, ke depannya pasti banyak pria yang suka dengan kamu. Aku sangat khawatir."
Dia ciumi tubuhku, suaranya jadi serak.
"Jadi sekarang, aku sendiri yang akan ajarin kamu, gimana rasanya benar-benar jadi seorang wanita. Lusi, apa kamu sudah siap?"
Anda Mungkin Juga Suka





