APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia di Balik Cinta Kita

Rahasia di Balik Cinta Kita

Kebahagiaan rumah tangga Aruna dan Rayhan hancur seketika setelah sebuah pesan misterius mengungkap jati diri sang suami yang sebenarnya. Masa lalu Rayhan yang kelam dan berdarah mulai terkuak, menyeret sosok Alara yang berwajah serupa dengan Aruna. Terjebak di tengah konspirasi dan pengkhianatan, Aruna kini dihadapkan pada pilihan sulit. Haruskah ia pergi demi menyembuhkan luka, atau bertahan mendampingi pria yang ia cintai meski fondasi hubungan mereka dibangun di atas kebenaran yang mengerikan?
Bab
Bagikan

Bab 1

Langit sore merona jingga, membalut halaman rumah kecil bercat putih itu dengan cahaya hangat. Aroma ayam bakar yang baru matang menyelinap ke udara, berpadu dengan wangi bunga melati dari pot di teras. Dari luar, rumah itu tampak seperti potret sempurna sebuah keluarga bahagia-rapi, hangat, dan penuh tawa.

Di ruang makan, Aruna sedang menata piring di atas meja. Rambut hitamnya diikat sederhana, beberapa helai jatuh di sisi wajahnya. Ada kelembutan dalam setiap gerakannya-seperti seseorang yang terbiasa merawat, memberi, dan menjaga.

"Bunda! Ayamnya sudah boleh dimakan belum?" suara riang Aila, putri kecilnya yang baru berusia lima tahun, terdengar dari ruang tengah.

Aruna tersenyum. "Tunggu Ayah pulang dulu, sayang. Lagi di jalan kok."

Seolah menjawab, suara pagar berderit. Langkah tergesa terdengar di teras. Rayhan muncul dengan setelan kerja yang masih rapi, dasinya sedikit longgar, senyum hangatnya seperti cahaya kecil di penghujung hari.

"Ayah!" Aila berlari menghampiri dan memeluk kakinya.

Rayhan jongkok, mengangkat putrinya. "Aila cantik nungguin Ayah, ya?" tanyanya sambil mencium pipi kecil itu.

"Iya! Bunda nggak mau makan sebelum Ayah pulang!" ujar Aila, pipinya menggembung lucu.

Rayhan melirik istrinya. "Aturan Bunda memang keras, ya," candanya.

Aruna tersenyum samar, tapi matanya memperhatikan wajah Rayhan lebih lama dari biasanya. Ada gurat lelah di sudut matanya. "Kamu capek? Meeting lagi?" tanyanya lembut.

Rayhan menaruh Aila, lalu duduk di kursi makan. "Iya, lumayan. Tapi lihat kalian berdua, rasanya capek hilang semua." Ia mengecup kening Aruna.

Mereka makan malam bersama, berbincang ringan tentang rencana akhir pekan, tentang Aila yang ingin ke taman bermain, dan tetangga baru di ujung jalan. Suasana itu hangat-nyaman. Seperti potongan kecil kebahagiaan yang membuat Aruna sering berpikir: hidupnya sudah lengkap. Namun, kebahagiaan kadang terlalu indah... sehingga menakutkan.

Setelah makan, Rayhan mengajak Aila bermain di ruang tengah. Aruna membereskan piring, mendengar tawa mereka dari dapur. Sesekali ia melirik: Rayhan menggendong Aila, memutar-mutar hingga tawa anak kecil itu memenuhi ruangan.

Pemandangan itu menghangatkan hatinya-namun juga menorehkan rasa aneh. Bukan karena ia tak bahagia, tetapi karena belakangan ini, ia sering menangkap Rayhan menatap kosong ke luar jendela, atau memandangi ponselnya terlalu lama. Kadang, teleponnya berdering lama... dan Rayhan memilih menjawab di luar rumah.

Malamnya Aila sudah terlelap di kamarnya. Aruna keluar ke teras dengan secangkir teh hangat. Udara malam membawa aroma tanah basah setelah hujan sore tadi. Lampu jalan memantulkan cahaya kuning di aspal yang masih lembap.

Rayhan menyusul, duduk di kursi rotan sebelahnya. "Teh malam-malam? Tumben."

"Biar hangat." Aruna menyerahkan satu cangkir padanya. "Kamu kelihatan makin sibuk akhir-akhir ini. Ada proyek baru?"

Rayhan menyeruput pelan. "Iya, ada beberapa. Deadline-nya mepet." Jawabannya sederhana, tapi nadanya hati-hati. Seolah setiap kata harus disaring dulu sebelum keluar.

Aruna menatap cangkirnya. "Kalau ada yang bikin kamu capek... atau gelisah, kamu cerita ya. Jangan simpan sendiri."

Rayhan tersenyum tipis, matanya menerawang. "Aku nggak nyimpen apa-apa kok, Sayang. Semua baik-baik aja."

Ia menggenggam tangan Aruna. Hangatnya menenangkan, tapi entah kenapa, Aruna merasa ada sesuatu di balik genggaman itu-sesuatu yang tak diucapkan.

Malam semakin larut. Aruna berbaring di tempat tidur, memandangi langit-langit. Rayhan sudah terlelap di sebelahnya. Tapi matanya tak kunjung terpejam.

Tiba-tiba, ponsel Rayhan di meja samping bergetar pelan. Sekali. Dua kali. Layar menyala, menampilkan nama yang tak ia kenal "Maya."

Dada Aruna menegang. Tangannya terhenti di udara, ragu antara membiarkannya atau mengambilnya. Ia menoleh ke arah Rayhan-suaminya tetap tidur, napasnya teratur. Ponsel bergetar sekali lagi. Kali ini muncul pesan singkat:

"Kita harus bicara. Ini penting."

Aruna menarik napas panjang, memejamkan mata. Mungkin itu urusan kantor, mungkin. Ia memutuskan tak menyentuh ponsel itu. Tapi hatinya tahu-sejak malam itu, ada sesuatu yang berubah.

---

Keesokan paginya, matahari menembus tirai, menyapu lembut kamar. Aruna bangun lebih awal, menyiapkan sarapan. Rayhan sudah berpakaian rapi, dasinya terikat sempurna.

"Kamu ada meeting pagi-pagi banget?" tanya Aruna sambil menuang teh.

Rayhan mengangguk cepat, meraih roti panggang. "Iya, mendadak. Nanti aku pulang agak malam. Kamu sama Aila makan dulu aja."

"Meeting di kantor?" tanya Aruna, nada suaranya berusaha terdengar ringan.

Rayhan terhenti sejenak. "Iya, di kantor." Ia tersenyum-senyum manis yang kini terasa seperti tirai tipis menutupi sesuatu.

"Aku pergi dulu, ya." Ia mengecup pipi Aruna, lalu menunduk mencium kening Aila yang baru keluar dari kamar.

Saat Rayhan melangkah keluar rumah, Aruna berdiri di ambang pintu, melihat punggung suaminya menjauh. Aila menarik ujung bajunya.

"Bunda, kenapa liatin Ayah terus?" tanya gadis kecil itu polos.

Aruna tersenyum, mengusap rambut putrinya. "Nggak apa-apa, sayang. Bunda cuma senang lihat Ayah."

Namun dalam hati, ia bertanya-apakah benar itu alasannya? Atau ia sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa senyum Rayhan yang ia lihat setiap hari... masih jujur?

---

Hari itu berjalan seperti biasa. Aruna menyapu, menjemur pakaian, lalu menemani Aila menggambar di ruang tamu. Namun pikirannya terus melayang pada nama yang muncul semalam. Maya. Ia mencoba menepis, tapi rasa penasaran itu tumbuh liar seperti benih yang tak sengaja tertanam.

Menjelang sore, saat Aila tidur siang, Aruna duduk di teras, menatap jalan kosong di depan rumah. Ia mencoba mengingat setiap percakapan terakhir mereka-nada suara Rayhan, tatapan matanya, caranya tertawa. Ada hal kecil yang dulu terasa alami, kini terasa... dibuat-buat.

Ia meneguk teh dingin di tangannya. Dalam diam, Aruna tahu kadang, perubahan tak datang dengan ledakan besar, melainkan dengan hal-hal kecil-sebuah senyum yang tak lagi hangat, pelukan yang terasa ringan, atau pesan dari nama yang asing.

Matahari mulai turun, meninggalkan langit berwarna oranye keemasan. Di dapur, Aruna menyiapkan makan malam, sendirian. Suara jam dinding berdetak pelan, mengisi ruang kosong yang biasanya dipenuhi tawa.

Ketika malam turun dan jam menunjukkan pukul delapan, Rayhan belum juga pulang. Aruna menatap layar ponselnya, mempertimbangkan untuk menelepon, tapi mengurungkan niat. Ia tahu jawaban yang akan didengar "Masih di kantor, Sayang."

Dan malam itu, saat ia menatap meja makan yang sudah tertata rapi namun kosong di hadapannya, Aruna sadar satu hal-kadang, sesuatu yang tampak sempurna... hanya bertahan sampai seseorang berhenti jujur.

Ia menatap foto keluarga mereka di dinding-tiga wajah tersenyum di bawah langit biru. Lalu berbisik pelan, hampir tak terdengar:

"Kalau cinta ini menyimpan rahasia... aku siap mendengarnya. Tapi jangan buat aku menebak sendirian."

Di luar, angin malam berhembus pelan, menggoyangkan tirai. Seolah rumah kecil bercat putih itu ikut menyimpan sesuatu-rahasia yang baru saja mulai terungkap.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bos, Istri Anda Minta Cerai
9.1
Sella Wisara akhirnya diusir oleh Wildan Bramantio demi Aisha, setelah enam tahun bertahan dalam pernikahan yang menyiksa. Tanpa tangis, Sella langsung menyetujui perceraian tersebut. Namun, Wildan justru meradang saat mendapati mantan istrinya itu hidup bahagia bersama lelaki lain. Meski terus mendapat hinaan, Sella tetap tegas menolak kehadiran Wildan. Menyaksikan tatapan mesra Sella pada pria baru tersebut membuat Wildan kehilangan akal sehatnya karena terbakar cemburu.
Sampul Novel Ketika Rencana Jahatmu Kembali Kepadamu
8.7
Hidup Maura Laksmi berubah kelam setelah menjadi korban pelampiasan amarah Ravel Santoso yang dikhianati tunangannya. Mengalami trauma berat, pelayan polos berusia 21 tahun ini memilih kabur ke rumah sang kakek demi menenangkan diri. Namun, keadaan kian rumit ketika Maura mendapati dirinya sedang hamil. Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: menuntut pertanggungjawaban dari Ravel atau menanggung semua kepedihan ini seorang diri.
Sampul Novel Marriage Life 2
8.9
Vante Adinan diberi kesempatan kedua oleh Andara Jeo untuk menyelamatkan pernikahan mereka yang retak. Namun, kini ia harus menghadapi perubahan drastis pada sikap Andara, termasuk keinginan mengidamnya yang tidak biasa. Masalah makin pelik saat Jaren Adiyaksa menuduh Vante membawa perempuan hamil lain. Meski membantah tuduhan selingkuh tersebut, Vante harus berjuang melewati segala cobaan kesetiaan dan keanehan sikap pasangannya demi mempertahankan rumah tangga.
Sampul Novel Obsession In Love
9.5
Arinika, mahasiswi yang tengah bersusah payah merampungkan skripsinya, kerap berhadapan dengan masalah akibat dosen pembimbingnya. Samuel Xalvandor, sang dosen yang terkenal amat kejam, tiba-tiba memaksanya untuk menikah. Walau sempat berusaha menolak, Arin tidak berkutik menghadapi dominasi sang dosen hingga pernikahan mereka benar-benar terjadi. Simak kelanjutan kisah penuh lika-liku mereka dalam drama romansa modern ini.
Sampul Novel Suami Mokondoku Membawa Madu
9.7
Rumah tangga Mira hancur setelah Puri, suaminya yang selama ini hidup dari nafkahnya, nekat membawa selingkuhan ke rumah. Kepedihan Mira kian mendalam karena putra mereka menyaksikan sendiri kemesraan sang ayah dengan wanita lain di kamar. Menghadapi pengkhianatan besar ini, Mira berada di persimpangan jalan yang sulit. Ia harus memilih antara bertahan demi pernikahan, atau pergi demi menyelamatkan kesehatan mental serta harga dirinya.
Sampul Novel Suamiku adalah menantuku
8.0
Upaya tulus Hana meredakan konflik pernikahan putrinya justru berujung petaka. Ia malah terjebak skandal asmara terlarang dengan sang menantu, Romeo. Begitu hubungan rahasia ini terbongkar ke hadapan publik, Hana langsung menjadi sasaran kemarahan dan cemoohan masyarakat. Kini, di tengah hancurnya reputasi serta hidup yang porak-poranda, ia harus bertahan menghadapi berbagai konsekuensi menyakitkan demi cinta gelap tersebut.