APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ragu yang Berujung Temu

Ragu yang Berujung Temu

Mikha menghadapi dilema besar saat Khalil, cinta lamanya selama sepuluh tahun, dan Malik melamarnya secara bersamaan. Demi mencegah luka yang lebih parah, ia harus menentukan pilihan. Sayangnya, pernikahan yang ia pilih justru terasa dingin dan hampa sejak malam pertama. Saat badai rumah tangga dan bayang-bayang perceraian mengintai, hadirlah wanita lain yang berniat merebut sang suami. Kini, Mikha harus berjuang menjaga komitmen pernikahannya sembari berharap mukjizat akan datang.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sebelum kokok ayam terdengar ramai, Mikha sudah lebih dulu bangun.

Jarum jam berukuran panjang masih sejajar dengan jarum yang lebih pendek, keduanya berhenti pada angka tiga. Mikha mengusap kedua matanya yang masih sedikit buram, lalu dia melangkah menuju kamar mandi. Mikha mengambil wudu dan berniat menunaikan salat tahajud. Perempuan yang masih mengenakan gamis berwarna merah muda itu lantas menuju pesolatan, tapi langkahnya terhenti ketika tatapannya berserobok dengan mata suaminya.

“Kamu tidak membuatkan aku sarapankah, Mikha?” Aku yakin kamu tahu kewajiban seorang istri,” ucapnya ketus.

Mikha segera menoleh ke arah jendela kamar yang masih tertutup gorden. Sinar yang sudah berwarna oranye tampak menelusup ke celah-celah rumah dan Mikha baru menyadari kesalahannya. “Maafkan aku, Mas. Jam di kamar ternyata mati,” sergahnya sambil menunduk. Ternyata dia tidak mendengar kokok ayam pagi ini karena merasa terlalu lelah setelah menangis selama berjam-jam.

Rasa bersalah menyelimuti perasaan perempuan yang kini tak berjilbab itu. Ini kali pertama bagi Mikha berpenampilan tidak rapi di hadapan suaminya. Niatnya memang mau menjalankan salat tengah malam, tapi malah kesiangan.

Setelah tidak mendapatkan waktu tahajud, Mikha pun bergegas menunaikan salat Subuh walaupun terlambat. Itu tidak mengapa dibandingkan tidak menjalankannya dengan sengaja. Pagi ini Mikha tidak berzikir, dia buru-buru untuk membuatkan sarapan suaminya yang akan berangkat kerja.

“Nggak usah bikin sarapan, aku harus buka Coffee Shopnya lebih pagi.” Entah datang dari mana, sekarang lelaki itu sudah berdiri di hadapan Mikha sembari merapikan kerah kemeja yang dia pakai.

“Biasanya kunci ada di Febri, kan, Mas?”

Setahu Mikha, kunci Coffee Shop milik suaminya memang selalu dipegang Febri—asistennya. Entah mengapa hati Mikha jadi gelisah, ada ketakutan yang bersarang di sana. Tentu dia khawatir jika suaminya itu telah berbohong.

“Kemarin kuncinya lupa kutitipkan,” jawabnya sambil mengerutkan kening. “Jangan berpikiran macam-macam karena yang patut dicurigai itu adalah kamu!” tandasnya, lalu bergegas pergi.

Mikha hanya mengangguk saat suaminya menuju ambang pintu. Namun, dia enggan membiarkan suaminya pergi begitu saja. Mikha harus lebih gigih dan lebih agresif demi mendapatkan perhatian suaminya. “Mas …,” panggilnya lirih. Mikha mengikuti lelaki berkemeja biru tua yang berjalan di depannya dengan langkah cepat. “Izinkan aku mengecup punggung tanganmu, sekali ini saja,” mohonnya penuh penekanan.

Mendengar permintaan istrinya, langkah lelaki berkumis tipis itu terhenti. Hati Mikha jadi cemas, dia takut dibentak. Menunduk jadi satu-satunya hal yang bisa dia lakukan untuk menghindari tatapan suaminya. Mata Mikha mulai berkaca-kaca karena merasa akan mendapatkan penolakan lagi. Namun, pikirannya salah. Sebelum air matanya menetes, kecupan hangat mendarat di puncak kepalanya diiringi dengan elusan halus di kedua pipi.

Mikha langsung mendongak, menilai raut wajah lelaki yang kini berada tepat di hadapannya. “Aku tidak sedang bermimpi, kan?” Hati Mikha terasa jumpalitan setelah menerima perlakuan tak terduga itu. Dia menepuk pipi berulang kali untuk memastikan jika yang dirasakannya benar-benar bukan mimpi.

“Tidak, ini memang nyata. Barusan aku memang mencium kamu. Tapi kamu juga harus tau kalau yang baru saja kulakukan itu cuma contoh,” lanjutnya terus terang.

Cuma contoh? Seketika rasa bahagia dalam hati Mikha terkikis. Perempuan bergamis itu kembali menunduk sambil mengerucutkan bibir. Dia kecewa.

“Jangan sedih, kamu pasti bakal mendapatkan yang lebih indah dari apa yang sudah kamu bayangkan, dengan syarat—”

“Membersihkan hatiku dari lelaki lain?”

Lelaki itu hanya mengangguk, lalu mengusap puncak kepala Mikha dengan pelan. “Aku pamit, hati-hati kalau ke sekolah, Sayang.” Kemudian, dia berlalu meninggalkan Mikha yang masih membeku di tempat.

“Tapi aku hanya menyimpan satu nama saja dalam hati ini,” lirihnya, jelas suaminya tidak akan mendengarkan pembelaannya karena dia sudah berada di halaman rumah.

Mikha masih saja tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Dia masih euforia dengan usapan lembut di kepalanya yang barusan, juga dengan perkataan yang baru saja dia dengar.

Ternyata tidak masalah bagi Mikha jika semua itu hanya contoh. Baginya yang terpenting adalah kehangatan yang terbentuk, kehangatan yang tidak pernah dia dapatkan setelah berstatus sebagai seorang istri. Setidaknya, usahanya sudah mulai membuahkan hasil walaupun masih tidak seberapa.

“Aku dicium suamiku?” Wajah Mikha semakin bersemu merah saat mengucapkan kalimat itu. Dia merasa malu pada dirinya sendiri.

Hari ini Mikha ingin memberikan kejutan pada Kholifah, sahabatnya itu pasti akan mencubit lengannya dengan gemas setelah mendengarkan ceritanya. Dengan membayangkan keterkejutan Kholifah membuat Mikha menjadi semakin bersemangat. Dia pun mempercepat rutinitasnya sebelum berangkat ke sekolah. Jam pada ponsel menunjukkan pukul 06.45 WIB, masih ada lima belas menit lagi sebelum anak-anak datang ke sekolah dan dia harus sampai lebih dulu sebelum murid-muridnya tiba.

Mikha mengajar di Taman Kanak-kanak Syifatun Najjah sejak tiga tahun lalu bersama Kholifah. Meskipun keduanya adalah lulusan Manajemen Pendidikan Islam, tapi Mikha dan Kholifah memilih untuk mengabdikan jiwa raganya di taman kanak-kanak sembari kembali mengenyam pendidikan PGTK secara online. Bukan tanpa sebab mereka menjatuhkan pilihan untuk mengajar TK. Baik Mikha maupun Kholifah mengaku bila hati mereka terasa lebih tenang saat bersama dengan anak-anak. Keceriaan yang terlukis pada wajah-wajah polos itu mampu mengaliri energi positif pada keduanya. Ini hanya asumsi, tapi hal itu pula yang membuat mereka lebih senang mengajar di TK.

“Bismillahi tawakaltu ‘ala Allah, laa haula wa laa quwwata illaa billaah.”

Perempuan yang sudah berpakaian rapi dengan setelan seragam berwarna cokelat muda itu tidak lupa memanjatkan doa setelah keluar rumah. Lokasi sekolah memang tidak terlalu jauh dari tempatnya tinggal, mungkin hanya sekitar dua belas menit jika ditempuh dengan jalan kaki. Suaminya sengaja memilih perumahan yang dekat dengan tempatnya mengajar agar Mikha tidak perlu repot-repot membuang waktu hanya untuk menunggu angkot.

“Bu Mikha!” teriak seseorang dari belakangnya.

Mikha menghentikan langkah, lalu berbalik untuk memastikan siapa pemilik suara itu. “Assalamualaikum, Salwa tidak diantar Ibu?” Mikha langsung menyambut Salwa—muridnya, yang sudah berlari-lari kecil ke arahnya sambil mengulurkan tangan.

“Ibu lagi sakit, terus Ayah lagi lembur dan belum pulang,” jawab Salwa cepat sembari mengecup punggung tangan Mikha. Perempuan kecil itu tampak terengah-engah.

“Kalau begitu Salwa berangkat bareng Ibu aja.”

Keduanya melangkah beriringan dengan Salwa yang terus menyanyikan lagu ¬Balonku, sedangkan Mikha masih terkurung pada pikirannya sendiri. Dia merasa simpati kepada Salwa. Betapa polosnya perempuan cantik yang ada di sisinya itu. Salwa jelas tidak tahu bagaimana perasaan ibunya yang harus menghidupi dan mengurus putri secantik dia seorang diri. Yang Mikha ketahui, ayah Salwa sudah dua tahun ini tidak pulang ke rumah. Bukan karena lembur, tapi karena ada perempuan lain yang lebih diperjuangkan dibandingkan istri yang telah memberikan Salwa sebagai hadiah pernikahan mereka.

“Salwa nggak sedih jarang bertemu Ayah?” selidik Mikha.

Salwa menggeleng. “Salwa cuma kangen sama Ayah. Tapi kata Ibu, Salwa nggak boleh sedih dan harus lebih sabar lagi karena Allah sangat menyayangi Salwa. Iya, kan, Bu Mikha?” Salwa menarik telapak tangan Mikha dan menangkupkannya pada wajahnya sendiri seakan-akan dia ingin mendapatkan perhatian lebih dari gurunya itu. Atau, mungkin dia memang sedang merindukan ayahnya. Entahlah, Mikha sendiri tidak berani bertanya lebih jauh lagi karena usia Salwa masih sangat dini untuk diajak berbicara hal semacam itu.

“Salwa pasti akan menjadi anak yang salihah,” pujinya, lalu mereka bergegas melanjutkan perjalanan.

Di depan sana telah terlihat bangunan bercat hijau muda yang dindingnya dihiasi gambar bunga dan berbagai jenis hewan dengan ukuran besar. Dengan penuh semangat, Salwa melangkah sambil melanjutkan nyanyiannya yang sempat terputus. Sebentar lagi mereka sampai di sekolah.

Mikha merasa kalah ketika mendengar apa yang muridnya tadi ucapkan. Salwa memang benar, Allah memberikan ujian karena Dia menyayangi hamba-Nya. Seharusnya Mikha lebih menyadari hal itu.

“Maafkan aku yang telah lalai, Ya Allah,” ucapnya lirih. Kemudian, dia mencoba untuk tersenyum lebih lebar dan tulus.

Mikha berusaha mengikis kegelisahan yang sudah tiga minggu terakhir ini mengubrak-abrik perasaannya. Wajar jika dia khawatir ditalak dengan keadaan rumah tangga yang runyam seperti saat itu. Akan tetapi perbincangan singkatnya bersama Salwa telah membukakan jalan baru dalam pikirannya, dia tidak akan menyalahkan takdir. Mikha yakin hidupnya tidak akan seburuk apa yang telah dia bayangkan sebelumnya. Bagaimana pun Allah selalu memberikan ujian sesuai dengan kemampuan hamba-Nya, yang artinya Mikha pasti akan berhasil menyelesaikan permasalahan rumah tangganya bila dia terus berjuang dan berserah diri kepada-Nya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ambisi Ibu Tiri
7.9
Sebuah pertemuan di kampus berubah menjadi tragedi bagi seorang mahasiswi ketika ibu tiri barunya mempermalukan dan menyiksanya secara brutal di depan umum atas tuduhan palsu. Meski identitas aslinya terungkap setelah korban dirawat di rumah sakit, sang ibu tiri tetap bersikap arogan dan merasa berhak menindasnya. Namun, wanita itu tidak menyadari bahwa dia hanyalah pengasuh yang dinikahi sang ayah demi anaknya, karena cinta sejati ayahnya tetap milik mendiang ibu kandungnya.
Sampul Novel Beetwen love and hate
9.2
Hati Hendra hancur setelah dicampakkan Luna yang memilih mengejar karier model dan lelaki lain. Di masa terpuruknya, sebuah kecelakaan mempertemukan Hendra dengan Nita, sosok tulus yang menyelamatkannya. Perlahan, kebaikan Nita berhasil menyembuhkan luka di hati Hendra yang sempat menutup diri. Namun, saat hubungan mereka mulai erat, Luna kembali hadir dan meminta Hendra kembali. Kini, Hendra bimbang memilih masa lalu kelamnya atau masa depan hangat bersama Nita.
Sampul Novel Dunia Rinduku Adalah Dirimu
8.5
Di tengah situasi mencekam, Ammad mendadak mendekap tubuhku dari belakang dan membekap mulutku erat. Wangi cendana yang familier dari pakaiannya langsung menyeruak begitu dia memintaku untuk diam. Walau aku mencoba memanggil namanya, dekapan Ammad justru kian erat hingga tak ada lagi celah di antara kami. Kejadian tiba-tiba ini membuatku bimbang dan terus bertanya-tanya, apakah dia sengaja melakukannya atau hanya karena panik.
Sampul Novel Istri Muda
8.7
Elang dihadapkan pada pilihan sulit saat terpaksa menikahi Huri demi melunasi utang sang ibu kepada orang tua gadis tersebut. Padahal, ia telah memiliki istri sah bernama Kiya. Kehidupan Elang pun berubah total demi membagi keadilan bagi kedua istrinya. Mampukah ia menjaga keutuhan rumah tangga barunya dan menjadi suami yang bertanggung jawab bagi Kiya dan Huri sekaligus tanpa memicu kehancuran dalam pernikahan mereka?
Sampul Novel Ratu Tak Terbelenggu: Jangan Pernah Katakan Tidak
8.5
Empat tahun mengabdi sia-sia, Hannah dicampakkan suaminya demi perempuan lain. Sadar cintanya tak berbalas, ia bangkit dari kehancuran dan menjelma menjadi sosok mandiri yang memesona. Saat sang mantan suami mengira Hannah masih mengemis cinta, ia justru kembali dengan megah. Kini, seorang CEO dominan berdiri di sampingnya, dengan bangga mengakui Hannah sebagai istri di hadapan pria sombong yang dulu membuangnya tanpa belas kasihan.
Sampul Novel Saat Cerai Bukan Lagi Sekadar Kata
8.9
Ketika cinta lama suaminya bercerai, rumah tangga yang dipertahankan sekian lama runtuh seketika. Yohan menyodorkan surat cerai ke-99 demi menjaga Chika, sementara putra kandungnya sendiri malah mengusirnya demi menyambut wanita baru. Berbeda dari dugaan mereka, sang istri pergi tanpa air mata setelah menandatangani surat itu. Sepuluh tahun berlalu, sang anak yang kini berprestasi hanya bisa menangis di hadapan publik, memohon kepulangan ibunya yang telah lama hilang.