APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel PUSTAKA CERITA DEWASA 21+

PUSTAKA CERITA DEWASA 21+

Buku ini merangkum deretan kisah cinta penuh gairah dari berbagai karakter unik, khusus untuk pembaca dewasa. Setiap bab menyajikan fantasi romantis yang berani dan menggoda, dirancang khusus menjadi teman membaca yang intens di malam hari. Rasakan dinamika hubungan yang mendalam lewat narasi yang memicu imajinasi di setiap lembarnya. Segera temukan dan nikmati kepuasan cerita yang menghibur ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Ponsel Pak Radit bergetar di tengah rapat dewan guru. Pesan dari Kania muncul di layar:

"Ruang UKS. Jam istirahat. Aku pakai rok seragam tanpa celana dalam."

Dia segera mematikan layar, tapi sudah terlambat. Bu Rina di sebelahnya mengangkat alis.

"Masalah penting?" tanyanya.

Radit menggeleng, tenggorokannya kering. "Hanya pengingat les atletik."

Di seberang meja, Kepala Sekolah melanjutkan pembahasan tentang persiapan ujian nasional. Tapi pikiran Radit sudah melayang ke bayangan Kania-rok sekolah yang tersingkap, paha yang terbuka, dan senyum nakal yang selalu membuat darahnya mendidih.

***

Ruang UKS sepi ketika Radit masuk. Tirai tertutup, hanya ada satu tempat tidur yang terlihat "sedang dipakai"-selimut menutupi sosok di baliknya.

"Kania?" panggilnya pelan.

Selimut itu tersingkap perlahan. Kania berbaring telentang, rok seragamnya tergulung hingga pinggang, benar-benar tidak mengenakan apa pun di bawahnya.

"Kubilang aku akan-"

Pintu tiba-tiba terbuka.

Dini, teman sekelas Kania, berdiri terpaku di ambang pintu. Matanya membelalak dari Radit yang berdiri kaku, lalu ke Kania yang buru-buru menarik roknya turun.

"Kalian...!"

Radit mencoba menjelaskan. "Kania sedang pusing, aku hanya-"

Tapi Dini sudah lari, teriakan gadis itu menggema di koridor. "Aku akan laporkan kalian!"

***

Malam itu, Radit pulang dengan kepala penuh kekacauan. Dia bahkan tidak menyadari istrinya sedang mengosongkan tas kerjanya.

"Apa ini?"

Suara Laras dingin seperti pisau. Di tangannya, sebuah lipstik berwarna merah muda, bukan merek yang pernah dipakai istrinya.

Radit berkeringat. "Mungkin... milik Bu Rina? Kami berbagi meja rapat."

Laras memutar lipstik itu, memperlihatkan inisial "K.A." yang terukir di dasarnya.

"Kau yakin?"

Telepon Radit bergetar lagi. Pesan baru dari Kania:

"Aku tidak takut dilaporkan. Besok, gudang olahraga. Aku ingin Bapak bikin aku benar-benar tidak bisa berjalan."

***

Keesokan harinya, Radit menemukan Kania sedang menunggu di gudang olahraga-persis seperti pesannya. Gadis itu duduk di atas matras bekas, mengenakan kaus klub atletik tanpa bra.

"Kau harus berhenti mengirimiku pesan seperti itu," geram Radit, tapi matanya sudah menjelajahi tubuh Kania. "Dini bisa melaporkan kita."

Kania tersenyum. "Biarkan saja. Aku sudah rekam semua yang kita lakukan di hotel."

Dia mengeluarkan ponsel, memperlihatkan video mereka di kamar 203-gambar jelas tanpa sensor.

"Jika Bapak berhenti sekarang," Kania mengecup dagu Radit, "video ini akan sampai ke seluruh grup kelas XII."

Radit meremas pinggang Kania. "Kau little devil."

"Dan Bapak suka itu," balas Kania sambil membuka kancing celana Radit.

***

Ketika Radit pulang larut malam, rumahnya gelap-kecuali lampu kamar tidur. Laras duduk di tepi tempat tidur, wajahnya basah oleh air mata.

Di tangannya, sebuah ponsel-bukan miliknya.

"Baru saja ada nomor tak dikenal mengirimiku ini," bisiknya, memutar video yang membuat Radit ingin muntah.

Rekaman dari sudut yang berbeda-mereka di gudang olahraga hari ini, tapi dari angle yang menunjukkan wajah Radit dengan jelas.

"Kania..." gumam Radit, menyadari dia baru saja terjebak dalam permainan yang jauh lebih besar dari yang dia kira.

Laras melemparkan ponsel itu ke arahnya. "Keluarlah dari rumahku. Sekarang."

Di luar, hujan mulai turun-dingin dan kejam seperti nasib yang menantinya.

***

Ruang penyimpanan peralatan olahraga selalu menjadi tempat favorit mereka-gelap, pengap, dan jauh dari keramaian. Hari itu, Kania dengan sengaja memakai seragam olahraga yang terlalu ketat, rok pendek yang nyaris tidak menutupi apa pun ketika dia membungkuk.

"Kau sengaja, ya?" geram Radit, menekan gadis itu ke tumpukan matras bekas.

Kania hanya tersenyum, tangannya sudah meraba ke dalam celana Radit. "Aku ingin Bapak ingat, sebelum semuanya berubah."

Radit tidak sempat bertanya apa maksudnya.

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

Cahaya senter menyilaukan langsung ke arah mereka.

"HEI! APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI?!"

Suara Pak Darto, satpam sekolah yang sudah berusia 50 tahun, menggema di ruangan sempit.

Radit bereaksi cepat, dia menjepit Kania di antara tubuhnya dan rak sepatu, dengan cepat melepas jas olahraganya dan menyelimuti tubuh gadis itu yang nyaris telanjang.

"Tidak seperti yang Pak Darto lihat-"

Tapi satpam itu sudah mengangkat ponselnya. Lampu flash menyala-snap-suara jepretan kamera yang memastikan bukti tak terbantahkan.

"Sudah kuduga," gerutu Pak Darto sambil terus merekam. "Aku selalu lihat kalian berdua keluar-masuk tempat sunyi."

Kania, bukannya bersembunyi, malah memeluk erat Radit dari balik jas.

"Sudah, Pak Darto," katanya dengan suara manis, tapi mata yang dingin. "Kami mengerti."

Setelah satpam pergi, dengan ancaman akan melaporkan ke kepala sekolah, Radit menatap Kania dengan wajah pucat.

"Kau... kau tidak terkejut?"

Kania mengangkat bahu, perlahan mengenakan kembali roknya yang tersingkap. "Aku yang minta Pak Darto patroli ke sini jam segini."

Radit merasa seperti ditampar. "APA?!"

"Bapak terlalu lama ragu-ragu," Kania mendekat, jarinya menelusuri garis dagu Radit. "Sekarang dengan bukti itu, Bapak tidak punya pilihan lagi."

Dia menempelkan bibirnya ke telinga Radit:

"Sekarang Bapak benar-benar milikku."

***

Radit pulang ke apartemen kecilnya, Laras sudah mengusirnya tiga hari lalu-dengan kepala berdenyut.

Ponselnya berdering. Nomor tak dikenal.

Ketika diangkat, suara Kania yang menggoda menyapa:

"Jangan sedih, Pak. Aku sudah urus semuanya."

Bzzzt-sebuah pesan masuk. Foto Pak Darto sedang menerima amplop tebal dari seseorang.

Pesan berikutnya:

"Satpam kita sudah 'diatur'. Tapi ada satu syarat... Aku ingin pertemuan terakhir kita di rumah Bapak. Aku ingin menandai tempat tidur dimana istrimu tidur."

Radit menjatuhkan ponselnya.

Dia baru menyadari, Kania bukan hanya gadis nakal.

Dia adalah badai yang akan menghancurkan hidupnya sepenuhnya.

***

Matahari pagi menyinari surat resmi di atas meja-kop sekolah yang dulu dibanggakan, sekarang menjadi bukti kehancuran karir Radit.

"Dengan ini memberhentikan Bapak Raditya Adhiwira dari posisi Guru Olahraga, efektif segera..."

Suara Laras masih terngiang di telinganya. "Aku hamil, Radit. Tapi bukan anakmu."

Telepon orang tuanya sudah berhari-hari tidak diangkat. Bahkan tetangga-tetangga di kompleks perumahan guru mengubah rute jalan mereka hanya untuk menghindari berpapasan dengannya.

Radit meminum tegukan terakhir bir hangatnya, meremas kaleng aluminium itu hingga penyok.

Di sekolah, papan pengumuman dipenuhi foto-foto kelulusan. Kania tersenyum lebar di antara rangking 10 besar, nilai olahraganya sempurna-100.

Bu Rina berdiri di sebelahnya, berbicara dengan guru lain.

"Anak ajaib itu dapat beasiswa atletik, lho. Katanya berkat pelatih khusus dari Pak Radit dulu."

Tawa kecil mereka seperti pisau yang memutar-mutar di dalam luka Radit.

Apartemen sempit Radit sudah setengah kosong-Laras mengambil sebagian besar perabot. Hanya TV layar datar tua dan foto pernikahan mereka yang tersisa, meski sudah sobek di bagian wajah Laras.

Bzzzt.

Ponsel bekasnya yang murah bergetar. Sebuah foto dari nomor tak dikenal:

Kania di asrama kampus, mengenakan kaos olahraga terlalu besar-kaos Radit yang hilang minggu lalu. Posisinya sengaja memperlihatkan bekas gigitan di lehernya.

Caption: "Aku kangen pelajaran ekstra dari Bapak. Kapan main ke kampus?"

Radit menatap foto itu lama, lalu memandang ke balkon kecil apartemennya.

***

Udara pagi terasa segar ketika Radit berdiri di pagar balkon lantai tujuh. Di kejauhan, gedung kampus tempat Kania belajar berdiri megah.

Ponselnya berdering lagi-kali ini telepon dari Kania.

Radit mengangkatnya tanpa bicara.

"Pak..." suara Kania seperti madu beracun. "Aku ada tugas presentasi nih. Bisa bantu latihan di kamarku malam ini?"

Radit melihat foto pernikahannya yang sobek, lalu ke bawah, ke trotoar yang keras tujuh lantai di bawahnya.

"Maaf, Kania," bisiknya. "Bapak tidak bisa datang."

Dia meletakkan ponsel di pagar, membiarkan Kania terus berbicara saat dia melangkah naik ke pegangan balkon.

Angin menerpa wajahnya ketika tubuhnya condong ke depan.

Dering telepon masih terus berbunyi di belakangnya...

Selesai.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Thousand Tears of Sword
8.8
Di benua terkutuk yang penuh penindasan dan perdagangan manusia, dewa mengutus Dewi Kematian untuk menegakkan keadilan. Sialnya, sebuah insiden saat turun ke bumi melenyapkan seluruh kekuatannya. Ia justru bereinkarnasi sebagai gadis kecil bernama Hua Hua. Tanpa kekuatan dewa yang tersisa, mampukah ia menuntaskan misi sucinya untuk menyelamatkan mereka yang tertindas di tengah neraka dunia ini?
Sampul Novel Catatan Harian Jo
9.6
Sebagai makhluk tak kasatmata, Jo menyimpan impian besar untuk merasakan ketulusan cinta sejati. Sayangnya, mewujudkan harapan tersebut bukanlah perkara mudah bagi sosok sepertinya. Pencarian Jo akan belahan jiwa yang tulus menerima eksistensinya kerap berujung pada rintangan berat dan kegagalan yang menguras emosi. Inilah perjalanan emosional Jo, sebuah perjuangan gigih demi menemukan kasih sayang sejati di tengah takdir yang penuh ketidakpastian.
Sampul Novel Cewek lugu perlahan jadi liar
9.7
Kisah asmara Laura dan Ardhy diwarnai dinamika yang tidak biasa. Di balik hubungan mereka, ada fantasi seksual menyimpang yang kuat. Ardhy terus menekan Laura, memaksanya berhubungan intim dengan orang lain demi memuaskan hasrat ekstremnya sendiri. Laura yang semula lugu kini terjebak dalam kenyataan pahit, di mana ia harus tunduk pada ambisi liar sang kekasih.
Sampul Novel Kitab sihir kristal biru
8.9
Fatima adalah penjaga rahasia Perpustakaan Empat Kunci di Murra Kish. Kehidupannya berubah saat Alfonso, pria misterius yang memburu grimoire kuno, hadir dan memicu asmara sekaligus kecurigaan. Ternyata, Alfonso menyimpan rahasia besar kerajaan, sementara Fatima adalah pewaris permata legendaris yang diincar banyak pihak. Di tengah intrik pengkhianatan dan ambisi gelap, ia kini harus memilih antara cinta atau bertahan hidup dari kebohongan yang mengancam dirinya.
Sampul Novel Mari Selingkuh
8.3
Julia, mahasiswi Hukum Tata Negara, tewas tragis akibat jatuh dari gedung tinggi. Namun, ia justru terbangun di dunia webtoon sebagai Ranesha, tokoh figuran yang bernasib buruk. Demi menghindari akhir hidup yang menyedihkan, ia mengambil langkah ekstrem dengan mendekati atasannya, Hail Delmara. Ranesha pun nekat mengajak suami dari karakter utama tersebut untuk berselingkuh. Berhasilkah rencana berani Ranesha memikat hati Hail?
Sampul Novel Misteri Masalembo (Crash Landing)
8.8
Badai dahsyat menyeret pesawat Airbus A320 masuk ke portal masa lalu di sebuah benua asing. Di tengah kabin yang dipenuhi arwah berdosa dan gas beracun selama dua jam penuh teror, sang pilot Adam bekerja sama dengan ahli astrofisika Austria, Ingrid Rose. Mereka berjuang memecahkan teka-teki rumit demi kembali pulang. Upaya itu berhasil, namun badai membuat bahan bakar habis. Pendaratan darurat di perairan luas pun tak terhindarkan agar semua bisa selamat.