APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Purwoko Family: Selipan Utara

Purwoko Family: Selipan Utara

Pak Purwoko membawa keluarganya pulang kampung setelah bisnisnya bangkrut demi mencari kedamaian. Namun, mereka justru mendapati musuh di balik kejatuhannya ada di sana. Kini, mereka terjebak konflik perebutan usaha giling padi masa lalu antara orang tua Purwoko dan sang rival. Teror menyeramkan pun mulai mengancam keselamatan seisi rumah. Mampukah Pak Purwoko mengatasi bayang masa lalu dan menyelamatkan keluarganya dari pusaran bahaya ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Yah. Mbah Topo itu kerja sama bapak juga, ya?" Tanya bu Ifa. Pak Purwoko dan mbah Har menoleh sambil tersenyum.

"Bukan, Fa" mbah Har yang menjawab.

"Dia dulu kerja sama juragan bebek Sido Dadi. Tapi semenjak jadi besan, mbah Topo disuruh istirahat"

"Oh. Kirain. Soalnya dulu Ifa pernah liat, mbah Topo kaya laporan gitu sama bapak"

"He he. Bapak emang suka minta tolong sama dia, kalau berkaitan sama yang nggak keliatan. Dia ngerti sih, soal begituan"

"Kalau cucunya tadi, tahu soal gaib juga, pak?"

"Kenapa emang?" Mbah Har balik bertanya sembari tergelak.

"Ya kan tadi pas salim sama Ifa, dianya sampe bengong gitu. Memangnya ada yang salah sama Ifa, pak?" Jawab bu Ifa.

"Kamu abis pegang-pegang Purwoko, ya?" Goda bude Wati. Bu Ifa menoleh dengan ekspresi bingung setengah cemburu.

"Nggak bau, kok" kata bu Ifa sembari mencium jemari kanannya.

"Mas Pur kan keringetnya nggak bau" lanjutnya.

"Purwoko sih, iya. Juniornya?"

"Ha?"

Bu Ifa terkesiap mendengar ucapan bude Wati. Dia menoleh ke arah pak Purwoko.

"Ha ha ha. Hayo loh. Ketahuan bapak, kan? Ha ha ha"

"Wati!"

Mbah Har menegur anak sulungnya. Bu Ifapun mencubit pak Purwoko sebagai ekspresi malu.

"Ha ha ha ha"

Bude Wati masih tertawa meliat ekspresi malu-malu bu Ifa. Baginya, adik iparnya itu layaknya anak remaja yang ketahuan pacaran.

"Mandi gih! Entar kita jamaah" pinta bude Wati kepada bu Ifa.

"I, iya mbak" jawab bu Ifa.

Bude Wati tertawa lagi saat keempatnya beranjak kembali menuju rumah.

Anak-anak tadi sudah kelelahan berlari dan bercanda. Mereka lantas berjalan santai. Mereka berbincang tentang sekolah Yudi dan Amira sebelumnya di kota.

"Loh. Kita lewat kebun jagung?" Tanya Yudi.

"Iya, Yud. Kalau lewat jalan gede, kejauhan. Harus pakai motor" jawab Rendi.

"Iya. Tiga kiloan" tambah Santi.

"Oke" kata Yudi mengalah.

Langit sudah hampir gelap disaat mereka menyusuri jalan di tengah-tengah kebun jagung. Kalau di kotanya, saat surup masih ada sisa sinar mentari, di sini lebih gelap lagi. Karena sinar mentarinya tertutup gunung yang menjulang tinggi.

Pohon jagung yang sudah berbuah itu praktis tingginya lebih tinggi dari badan anak-anak itu. Memberikan kesan berbeda.

"Buruan Yud! Lelet amat sih?" Seru Rista.

"Ampun dah mbak Rista. Jalan kecil begini gimana bisa lari, coba?" Sahut Yudi.

"Segini lebarnya dibilang sempit. alesan aja. Ya udah, kamu belakang aja! Nggak tahu sih, surup-surup gini banyak demit. Tahu-tahu ciluk baa gitu gimana?" Sungut Rista.

Dia mendahului Yudi. Amira yang ditarik Rista ikut menyalip Yudi. Begitupun Santi. Tapi tidak dengan Rendi dan Rafi. Mereka mempersilakan Yudi untuk berjalan duluan.

Buat Yudi, jalannya memang lebar, tapi pencahayaan yang sangat minim dari langit itu membuatnya takut salah menapak.

"Eh eh. Kita nyeberang kali, ini?" Tanya Yudi.

"Iya. Makanya kita jalan kaki, nggak pake sepeda" jawab Rafi.

"Lah. Kalau airnya tinggi?"

"Ya nggak ngaji"

Yudi hanya geleng-geleng kepala saja. Di depan, Rista menyalakan senter kecil yang dia ambil dari saku celananya. Walau kecil namun cukup terang. Mereka menaikkan celana sampai ke lutut. Mereka menuruni tangga dari batu.

"Slaman slumun slamet, kulonuwun, assalamualaikum" ucap Yudi, saat menapaki aliran sungai.

"Lah. Tahu slaman slumun slamet, si Yudi" komentar Rafi.

"Di sana juga banyak orang jawa kali. Ngomongnya masih campur-campur" jawab Yudi.

"Bisa misuh-misuh, nggak?" Goda Rendi.

"Enggak, lah. Anak baik kok" kilah Yudi.

"Jiah. Cah lanang kok nggak bisa misuh. Gimana sih, Yud, Yud?"

"Ya baguslah, sepupuku nggak bisa misuh-musuh" suara Rista membahana dari arah depan.

"Awas kalau diajari misuh!" Ancam Rista sambil mengangkat tangannya seperti ingin menabok.

"Ha ha ha"

Ketiga cowok itu nalah tertawa melihat Rista keluar galaknya. Merekapun naik menapaki tangga batu di seberang sungai.

"Masih jauh, ini?" Tanya Yudi.

"Enggak. Tinggal ngelewatin rumpun bambu aja" jawab Rafi.

"Waduh. Perasaanku kok nggak enak, ya?" Komentar Yudi.

"Makanya ayo cepet! Cowok-cowok kok jalannya lelet" seru Rista.

Merekapun mempercepat langkah jalan mereka. Angin bertiup menyapu daun-daun bambu. Menciptakan suara gemerisik yang khas.

Namun di suasana menjelang maghrib begini, rumpun bambu yang berjajar seakan tak berujung itu malah menciptakan perasaan takut. Ditambah tak adanya lampu penerangan jalan, yang membuat suasana bertambah mencekam.

Krieeeet

Kratak kratak kratak

Krieeeet

Kratak kratak kratak

Terdengar suara bambu bergerak di atas kepala bocah-bocah itu. Serentak para cewek berhenti dan balik kanan mendekati para cowok.

Krieeeet

Kratak kratak kratak

"Apa itu, Fi?" Tanya Yudi.

"Nggak keliatan, Yud" jawab Rafi.

"Senterin coba, Ta!" Perintah Rendi.

"Kamu aja, ah!" Tolak Rista. Dia berikan senternya pada Rendi. Sedangkan dia sendiri bersembunyi di balik punggung Rafi.

Krieeeet

Kratak kratak kratak

"Mas, itu apa?"

Amira ikut ketakutan. Dia bersembunyi di balik punggung Yudi. Rendi mengarahan senter Rista ke atas. Dan terlihat ada sebatang bambu yang berayun-ayun seolah mendapat beban berat.

"Kun, kun, "

Rafi tergagap menyebut sesuatu tapi tak lengkap. Matanya nanar menatap sesuatu berwarna putih di ujung pohon bambu berayun itu.

"Hi hi hi hi hi"

"Kuntilanaaaaak"

"AAAAAAAA"

Rafi berteriak lalu berlari seketika. Sontak Rista yang bersembunyi dipunggungnya terkejut dan terbawa. Rista sempat menangkap tangan Amira. Jadilah mereka bertiga berlari bersamaan. Bahkan Rendi juga ikut-ikutan berlari.

"Hi hi hi hi"

Tapi tidak dengan Yudi. Dia malah terpaku melihat kuntilanak di ujung pohon bambu itu. Rasa rakutnya membuat kakinya lemas dan tak bisa beranjak.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DIKIRA MISKIN
8.0
Yudi dan Antika selalu direndahkan oleh kakak ipar mereka yang mengira kehidupan mereka serbaterbatas. Padahal, selama tinggal di kota, pasutri ini telah sukses besar dan mapan. Saat kebenaran tentang kemakmuran mereka akhirnya terbongkar, sikap keluarga yang semula meremehkan langsung berbalik manis demi mencari keuntungan. Akankah Yudi dan Antika sudi menerima kembali keluarga yang mendadak mendekat setelah sekian lama menghina mereka?
Sampul Novel Pesona Sebuah Ciuman
8.2
Karin menghadapi gejolak batin usai menyambut ciuman Wilson. Walau mestinya ia membenci lelaki tampan itu, kehangatan tersebut terus membayangi benaknya. Keadaan kian pelik lantaran Karin masih terikat pernikahan sah dengan Steven. Sanggupkah Karin dan Wilson menekan daya tarik terlarang yang kian membara? Simak pergulatan emosi Karin yang mempertaruhkan keutuhan rumah tangganya dalam kisah romansa dewasa yang penuh dilema ini.
Sampul Novel Salah Mencintai
9.3
Salah Mencintai mengisahkan keputusasaan seorang istri yang terjebak di dalam gua gelap di bawah ancaman kawanan serigala. Ketika api unggun meredup, ia mencoba menghubungi Haris, suaminya yang menjabat sebagai ketua tim penyelamat. Alih-alih menolong, Haris justru mengabaikannya demi mengantar cinta pertamanya ke rumah sakit. Di tengah penolakan dingin sang suami dan serangan fatal kawanan serigala yang kelaparan, wanita hamil ini harus menghadapi akhir tragis bersama janin di kandungannya.
Sampul Novel Terima Kasih Telah Merebut Suamiku
8.3
Kehidupan rumah tangga seorang istri hancur seketika setelah mengetahui suaminya telah berselingkuh dengan wanita lain. Pengkhianatan kejam ini memaksanya melihat kenyataan pahit di balik pernikahan yang selama ini ia perjuangkan. Di tengah gejolak emosi yang hebat, ia kini harus mengambil keputusan besar setelah pasangannya direbut. Kisah penuh luka ini menyoroti rasa kehilangan mendalam serta perjuangan menghadapi pengkhianatan.
Sampul Novel Unspoken Pain (Luka yang Tak Terucap)
8.5
Demi melindungi sahabat yang dicintainya, Alle rela menikahi Earl Sanders guna menutupi hubungan terlarang pria itu dengan wanita lain. Meski terus terluka, Alle tetap bertahan demi memenangkan hati Earl. Namun, kemarahan Earl meledak saat mengetahui perasaan tulus Alle, hingga tega mengusirnya dalam kondisi hamil. Kini, Alle harus berjuang bertahan hidup sendirian, sementara Earl mulai menghadapi dampak buruk dari kekejamannya. Akankah penyesalan datang terlambat?
Sampul Novel Wanita Kedua Tuan Marcello
9.3
Kehilangan kesucian dalam sebuah tragedi memaksa Raya menjadi wanita kedua bagi Tuan Marcello. Keadaan kian pelik saat ia hamil dan diusir keluarganya. Demi masa depan, Raya menemui Marcello yang kemudian menikahinya secara rahasia di hari pernikahannya dengan Celina. Di tengah statusnya yang tersembunyi, perasaan cinta perlahan tumbuh di hati Raya. Mampukah ia merebut posisi istri sah dan menjadi satu-satunya wanita yang dicintai Marcello?