APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.
Bab
Bagikan

Bab 2

POV LEO

Aku masuk ke kamar dan menemukannya sudah berbaring, membelakangiku. Daster tipisnya melipat di pinggang, seolah menunggu disentuh. Lampu kamar hanya menyisakan cahaya temaram dari sudut meja. Hening, dan semua terasa akrab. Bukan akrab yang hangat, tapi akrab karena rutinitas.

Langkahku mendekat. Tak ada suara dari Ayu, tak juga gerakan. Seolah dia tahu aku datang hanya untuk itu, dan dia sudah siap.

Aku duduk di tepi ranjang, tanganku menyentuh pinggangnya, lalu menarik pelan daster itu ke atas. Ia diam saja. Saat kain itu naik ke punggungnya, kuangkat tubuhnya sedikit, membalikkan arahnya hingga kini dia menatapku atau setidaknya mencoba menatapku. Ada kosong di matanya, tapi aku pura-pura tidak melihatnya.

Kuposisikan tubuhku di atasnya. Jemariku menyentuh wajahnya sebentar, lalu turun ke pundaknya, menyusuri dadanya, dan akhirnya menarik daster itu sepenuhnya lepas. Sekarang dia telanjang di hadapanku. Aku menatapnya sesaat, seperti lelaki yang menemukan miliknya, meski tahu, aku tak pernah benar-benar memilikinya sepenuhnya.

Lalu aku menindih tubuhnya.

Tubuh Ayu terasa hangat, lembut, dan seperti biasa, tetap menggoda. Kulitnya halus di bawah tanganku, dada besarnya naik turun teratur saat aku menindihnya. Sudah tiga tahun kami menikah, dan entah kenapa tubuhnya tidak pernah berhenti membuatku menginginkannya.

Aku menunduk, mencium bibirnya sebentar, hanya pembuka. Tanganku langsung meraba ke arah dadanya, meremas pelan, lalu semakin keras. Ukurannya pas di genggamanku, dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memainkan putingnya dengan jari.

Dia mendesah kecil.

"Ahh... iya... Leo... pelan sedikit..."

Aku tahu suara itu palsu. Tapi kupaksakan diri untuk percaya. Toh tubuhku sudah terlalu siap untuk berhenti hanya karena kejujuran.

Aku menggerakkan pinggulku, masuk lebih dalam. Rasanya tetap sempit. Hangat. Basah.

"Hhh... Ayu..." desahku pelan. Nafasku mulai berat, napasku menyentuh lehernya, tubuhku menekan tubuhnya makin dalam.

"Enak..." ucapku tanpa sadar, suaraku serak. Aku mencengkeram pahanya, lalu memeluk pinggangnya lebih erat.

Di balik semua ini, aku masih menikmati dia. Ayu itu cantik, tubuhnya indah. Payudaranya besar, pinggulnya penuh, kulitnya putih. Dia istri yang sempurna, secara fisik. Tapi setiap kali aku ada di dalam dirinya, selalu ada suara lain di kepala yang berbisik, kenapa kamu masih kosong. Kenapa rahim ini tidak juga memberi keturunan.

Aku mencoba melupakan, tapi tidak bisa. Setiap gerakanku malam ini bukan cuma karena gairah, tapi juga karena marah. Aku menghentak lebih cepat, lebih dalam.

"Uhh... sial..." aku mengerang, tubuhku membentur tubuhnya berkali-kali.

Dia mendesah kembali. Suara yang terdengar manis, tapi tak lagi menyentuh hatiku. Aku tidak mencintainya seperti dulu. Tapi tubuhnya, tubuh ini... masih membuatku kehilangan kendali.

Aku merunduk, mencium lehernya. Kugigit pelan. Kukulum putingnya yang sudah menegang karena permainanku tadi. Lidahku memutar di sana, sementara tanganku terus meremas bagian bawah tubuhnya.

"Ahh... Ayu..." aku menggeram, kini tubuhku menegang. Aku hampir sampai. Dan beberapa hentakan lagi, aku mendorong dalam dan keras, lalu meledak di dalam.

"Hhh... fuuuck..." aku mendesah panjang, leherku menegang, mataku terpejam. Tubuhku bergetar.

Aku diam sejenak di atasnya, masih di dalam, masih merasakan sisa nikmat yang mengalir. Tapi hanya tubuhku yang puas. Sisanya tetap kosong. Aku tidak menemukan kedamaian apa-apa.

Perlahan aku menarik tubuhku, duduk di tepi ranjang. Tak ada pelukan. Tak ada kata manis. Hanya sunyi.

"Leo... kamu mau ke mana?"

Suara itu pelan. Masih lembut seperti dulu. Tapi justru karena itulah aku makin kesal. Dia masih berharap aku bersikap hangat, seolah tidak ada yang berubah.

Aku berdiri, meraih celana dari kursi.

"Wanita mandul tidak perlu tahu."

Aku tidak menoleh. Tidak berani. Karena jika aku menatapnya lagi, aku takut akan jatuh pada luka yang sama, lagi dan lagi.

Aku menuruni tangga dengan langkah pelan, masih setengah telanjang, hanya mengenakan celana yang belum sepenuhnya kukancingkan. Udara di lantai bawah terasa lebih sejuk, tapi pikiranku tetap panas, padat, penuh desakan yang tidak tersalurkan.

Kupikir aku akan sendiri. Ingin menyalakan rokok, duduk di teras, dan menatap langit yang kosong sama seperti isi kepala ini. Tapi saat langkahku mendekati dapur, langkah itu terhenti.

Seseorang berdiri di sana.

Tubuhnya tinggi dan kokoh, hanya mengenakan celana panjang. Punggungnya lebar, garis ototnya masih terlihat jelas meski usianya sudah tidak lagi muda. Ia baru saja selesai minum, menutup botol dan meletakkannya kembali ke atas meja.

Dia menoleh perlahan, lalu mata kami bertemu.

Aku mendesah kecil, lebih ke heran daripada terkejut. "Ayah?"

Pria itu menatapku dengan ekspresi datar, seolah kemunculannya tengah malam bukan sesuatu yang perlu dijelaskan.

"Bukannya Ayah di luar negeri?" tanyaku, masih berdiri di ambang ruang dapur.

"Kenapa?" katanya tenang. "Ini rumahku."

Aku diam sejenak, lalu mengangguk pelan. Tapi ia belum selesai.

"Aku akan tinggal di sini beberapa bulan ke depan," lanjutnya, suaranya tetap dingin. "Ada yang perlu aku urus. Termasuk perusahaanku yang ada di sini."

Mataku menatapnya beberapa detik. Aku tidak membalas, tidak juga menanggapi. Karena memang tidak tahu harus berkata apa.

Aku dan Abraham tidak dekat. Kami tidak pernah benar-benar bicara, apalagi soal perasaan. Hubungan kami hanya sebatas formalitas. Tidak ada luka, tapi juga tidak ada kehangatan.

"Mau ke mana?" tanyanya ketika aku melintasinya.

"Keluar."

"Tanpa baju?"

"Bajuku di mobil."

Aku berjalan melewatinya, menepuk bahunya pelan. "Langsung ke kamar aja. Kamarmu nggak pernah aku sentuh."

Lalu aku keluar. Tanpa menoleh. Tanpa niat bicara lebih jauh. Karena buat kami, satu atap tidak pernah berarti dekat.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta dan Gairah 21+
8.1
Antologi romansa dewasa ini menyajikan kumpulan kisah penuh gairah dengan latar belakang tokoh yang beragam. Pembaca akan diajak menyelami dinamika emosional yang mendalam dari berbagai profesi, mulai dari kehidupan ibu rumah tangga, mahasiswa, kuli bangunan, hingga pesona para suami, manajer, dan CEO. Setiap cerita dirancang secara unik untuk memenuhi fantasi Anda melalui narasi yang memikat. Nikmati jalinan alur yang intens dan penuh warna di dalam buku ini.
Sampul Novel Cinta Itu Luka
8.9
Kehidupan Nur Alia runtuh setelah kehilangan lima calon bayinya. Bukannya dikuatkan, ia malah ditekan dan dituduh mandul oleh sang suami. Kehadiran orang baru yang diharapkan membawa kesembuhan justru menggoreskan kepedihan yang lebih dalam. Di tengah rasa putus asa dan hilangnya kepercayaan pada cinta, sebuah keajaiban besar hadir. Tuhan mempercayakan dua malaikat kecil untuk tumbuh di rahimnya yang selama ini dianggap telah rapuh.
Sampul Novel Dinikahkan Karena Hutang
9.8
Iren terpaksa menikahi pria asing demi melunasi hutang keluarganya yang menumpuk. Pernikahan tanpa cinta ini terjadi akibat persekongkolan ibu dan saudara tirinya yang mendesak sang ayah untuk mengorbankan Iren. Di tengah situasi pelik ini, Iren harus menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya memiliki trauma mendalam terhadap laki-laki. Akankah ia mampu bertahan menjalani lembaran hidup barunya bersama sang suami di bawah bayang-bayang ketakutan masa lalu?
Sampul Novel Foto Suamiku Diruang Keluarganya
8.7
Dua tahun menikah, Ane tak pernah menyangka akan menghadapi kenyataan pahit. Kebenaran bahwa dirinya hanyalah istri kedua Farel terungkap tanpa sengaja saat ia bertamu ke rumah salah satu wali muridnya. Di sana, sang ibu murid menjatuhkan sebuah foto keluarga rahasia. Ane sangat syok melihat sosok suaminya di foto itu. Kini, ia didera dilema batin yang hebat, harus memilih antara memperjuangkan cintanya atau pergi meninggalkan Farel.
Sampul Novel Kaca yang Pecah
9.6
Setelah delapan tahun perjuangan dan ribuan alat tes kehamilan, penantian itu akhirnya membuahkan hasil. Suwanto, sang suami yang selalu mencintainya tanpa syarat, sangat bahagia hingga berjanji memberikan segalanya. Ibu mertuanya pun kini berbalik memperlakukannya bagai permata demi kelangsungan bisnis Keluarga Hadi. Namun, di tengah kegembiraan keluarga besar ini, sebuah keputusan mengejutkan telah diambil. Sang istri sama sekali tidak berniat untuk melahirkan anak di dalam kandungannya.
Sampul Novel My Sweetheart is Nerd?
9.6
Shenia Ereshva, anak konglomerat yang aktif di geng motor penentang shadow economy, jatuh cinta pada Rafka, pemuda genius korban perundungan. Di balik kepolosannya, Rafka ternyata juga anggota geng motor. Mereka dipertemukan dalam misi besar meruntuhkan organisasi kuat bernama R Black. Di tengah tumpukan rahasia yang perlahan terungkap, mampukah cinta mereka bertahan tanpa mengacaukan misi berbahaya ini?