APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Aku masih menatap tubuh tegapnya, otot dadanya bergerak seirama napas berat. Kulitnya mengilat memanggil jemariku, membuat tubuhku bergetar hanya dengan memandang. Saat dia mendekat, aura panas menyapu seluruh tubuh. Tangannya menyentuh pahaku, membuka kakiku pelan. Aku menahan napas—tubuhku sudah siap sebelum dia benar-benar menyentuhku. Bibirnya mendarat di perutku, menggoda, lalu naik perlahan. Dadaku menunggu. Ciumannya hangat dan basah, lidahnya melingkar di putingku dengan gerakan lambat. Aku mencengkeram sprei, desahku memenuhi ruangan. Dia berbisik, menyedot kuat hingga aku mengerang. Setiap jilatan terasa seperti aliran listrik. Aku tak sanggup menahannya lagi. 'Jangan berhenti,' bisikku, sementara dia tertawa pelan dan semakin dalam, membuatku lupa segalanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

POV LEO

Aku masuk ke kamar dan menemukannya sudah berbaring, membelakangiku. Daster tipisnya melipat di pinggang, seolah menunggu disentuh. Lampu kamar hanya menyisakan cahaya temaram dari sudut meja. Hening, dan semua terasa akrab. Bukan akrab yang hangat, tapi akrab karena rutinitas.

Langkahku mendekat. Tak ada suara dari Ayu, tak juga gerakan. Seolah dia tahu aku datang hanya untuk itu, dan dia sudah siap.

Aku duduk di tepi ranjang, tanganku menyentuh pinggangnya, lalu menarik pelan daster itu ke atas. Ia diam saja. Saat kain itu naik ke punggungnya, kuangkat tubuhnya sedikit, membalikkan arahnya hingga kini dia menatapku atau setidaknya mencoba menatapku. Ada kosong di matanya, tapi aku pura-pura tidak melihatnya.

Kuposisikan tubuhku di atasnya. Jemariku menyentuh wajahnya sebentar, lalu turun ke pundaknya, menyusuri dadanya, dan akhirnya menarik daster itu sepenuhnya lepas. Sekarang dia telanjang di hadapanku. Aku menatapnya sesaat, seperti lelaki yang menemukan miliknya, meski tahu, aku tak pernah benar-benar memilikinya sepenuhnya.

Lalu aku menindih tubuhnya.

Tubuh Ayu terasa hangat, lembut, dan seperti biasa, tetap menggoda. Kulitnya halus di bawah tanganku, dada besarnya naik turun teratur saat aku menindihnya. Sudah tiga tahun kami menikah, dan entah kenapa tubuhnya tidak pernah berhenti membuatku menginginkannya.

Aku menunduk, mencium bibirnya sebentar, hanya pembuka. Tanganku langsung meraba ke arah dadanya, meremas pelan, lalu semakin keras. Ukurannya pas di genggamanku, dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memainkan putingnya dengan jari.

Dia mendesah kecil.

"Ahh... iya... Leo... pelan sedikit..."

Aku tahu suara itu palsu. Tapi kupaksakan diri untuk percaya. Toh tubuhku sudah terlalu siap untuk berhenti hanya karena kejujuran.

Aku menggerakkan pinggulku, masuk lebih dalam. Rasanya tetap sempit. Hangat. Basah.

"Hhh... Ayu..." desahku pelan. Nafasku mulai berat, napasku menyentuh lehernya, tubuhku menekan tubuhnya makin dalam.

"Enak..." ucapku tanpa sadar, suaraku serak. Aku mencengkeram pahanya, lalu memeluk pinggangnya lebih erat.

Di balik semua ini, aku masih menikmati dia. Ayu itu cantik, tubuhnya indah. Payudaranya besar, pinggulnya penuh, kulitnya putih. Dia istri yang sempurna, secara fisik. Tapi setiap kali aku ada di dalam dirinya, selalu ada suara lain di kepala yang berbisik, kenapa kamu masih kosong. Kenapa rahim ini tidak juga memberi keturunan.

Aku mencoba melupakan, tapi tidak bisa. Setiap gerakanku malam ini bukan cuma karena gairah, tapi juga karena marah. Aku menghentak lebih cepat, lebih dalam.

"Uhh... sial..." aku mengerang, tubuhku membentur tubuhnya berkali-kali.

Dia mendesah kembali. Suara yang terdengar manis, tapi tak lagi menyentuh hatiku. Aku tidak mencintainya seperti dulu. Tapi tubuhnya, tubuh ini... masih membuatku kehilangan kendali.

Aku merunduk, mencium lehernya. Kugigit pelan. Kukulum putingnya yang sudah menegang karena permainanku tadi. Lidahku memutar di sana, sementara tanganku terus meremas bagian bawah tubuhnya.

"Ahh... Ayu..." aku menggeram, kini tubuhku menegang. Aku hampir sampai. Dan beberapa hentakan lagi, aku mendorong dalam dan keras, lalu meledak di dalam.

"Hhh... fuuuck..." aku mendesah panjang, leherku menegang, mataku terpejam. Tubuhku bergetar.

Aku diam sejenak di atasnya, masih di dalam, masih merasakan sisa nikmat yang mengalir. Tapi hanya tubuhku yang puas. Sisanya tetap kosong. Aku tidak menemukan kedamaian apa-apa.

Perlahan aku menarik tubuhku, duduk di tepi ranjang. Tak ada pelukan. Tak ada kata manis. Hanya sunyi.

"Leo... kamu mau ke mana?"

Suara itu pelan. Masih lembut seperti dulu. Tapi justru karena itulah aku makin kesal. Dia masih berharap aku bersikap hangat, seolah tidak ada yang berubah.

Aku berdiri, meraih celana dari kursi.

"Wanita mandul tidak perlu tahu."

Aku tidak menoleh. Tidak berani. Karena jika aku menatapnya lagi, aku takut akan jatuh pada luka yang sama, lagi dan lagi.

Aku menuruni tangga dengan langkah pelan, masih setengah telanjang, hanya mengenakan celana yang belum sepenuhnya kukancingkan. Udara di lantai bawah terasa lebih sejuk, tapi pikiranku tetap panas, padat, penuh desakan yang tidak tersalurkan.

Kupikir aku akan sendiri. Ingin menyalakan rokok, duduk di teras, dan menatap langit yang kosong sama seperti isi kepala ini. Tapi saat langkahku mendekati dapur, langkah itu terhenti.

Seseorang berdiri di sana.

Tubuhnya tinggi dan kokoh, hanya mengenakan celana panjang. Punggungnya lebar, garis ototnya masih terlihat jelas meski usianya sudah tidak lagi muda. Ia baru saja selesai minum, menutup botol dan meletakkannya kembali ke atas meja.

Dia menoleh perlahan, lalu mata kami bertemu.

Aku mendesah kecil, lebih ke heran daripada terkejut. "Ayah?"

Pria itu menatapku dengan ekspresi datar, seolah kemunculannya tengah malam bukan sesuatu yang perlu dijelaskan.

"Bukannya Ayah di luar negeri?" tanyaku, masih berdiri di ambang ruang dapur.

"Kenapa?" katanya tenang. "Ini rumahku."

Aku diam sejenak, lalu mengangguk pelan. Tapi ia belum selesai.

"Aku akan tinggal di sini beberapa bulan ke depan," lanjutnya, suaranya tetap dingin. "Ada yang perlu aku urus. Termasuk perusahaanku yang ada di sini."

Mataku menatapnya beberapa detik. Aku tidak membalas, tidak juga menanggapi. Karena memang tidak tahu harus berkata apa.

Aku dan Abraham tidak dekat. Kami tidak pernah benar-benar bicara, apalagi soal perasaan. Hubungan kami hanya sebatas formalitas. Tidak ada luka, tapi juga tidak ada kehangatan.

"Mau ke mana?" tanyanya ketika aku melintasinya.

"Keluar."

"Tanpa baju?"

"Bajuku di mobil."

Aku berjalan melewatinya, menepuk bahunya pelan. "Langsung ke kamar aja. Kamarmu nggak pernah aku sentuh."

Lalu aku keluar. Tanpa menoleh. Tanpa niat bicara lebih jauh. Karena buat kami, satu atap tidak pernah berarti dekat.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Menantu Idaman Mama
8.6
Demi mempertahankan cintanya pada Alya, seorang pemuda berani menentang dominasi sang ibu. Mirna, sang ibu, menuntut pernikahan bisnis guna menjaga kestabilan perusahaan mereka. Ia menolak keras Alya yang merupakan seorang yatim piatu miskin. Bagi Mirna, pernikahan hanyalah alat demi keuntungan finansial. Namun, putranya menolak tunduk pada kendali keluarga dan memilih berjuang demi wanita pilihannya.
Sampul Novel Gairah Liar Istri Kecilku
8.5
Nasib buruk menimpa Maia Vandini saat kencan butanya berubah menjadi jebakan berbahaya. Lulusan SMA ini diberi obat bius oleh teman kencannya, namun ia berhasil kabur demi menyelamatkan diri. Di tengah kondisi kritis dan kesadaran yang kian menipis, Maia bertemu seorang CEO asing. Demi bertahan, ia memohon pertolongan hingga memicu malam yang penuh gairah. Sang pria pun menegaskan bahwa Maia yang harus bertanggung jawab atas awal pertemuan tak terduga ini.
Sampul Novel On CEO's Bed
8.6
Alyssa nekat mendatangi kediaman Assa Zachary demi menghindari kejaran penagih utang sang ayah. Ia membawa surat wasiat, berharap sang miliarder mau membereskan masalah keuangan keluarganya. Namun, harapannya hancur saat ia justru dikurung di dalam rumah megah tersebut. Kini, Alyssa harus bertahan di tengah ketidakpastian janji Assa. Mampukah ia lolos, atau justru akan terseret semakin dalam ke dalam kehidupan penuh rahasia gelap milik pria itu?
Sampul Novel Terjerat Deduksi Detektif Kejam
8.8
Pernikahan paksa menghancurkan karier gemilang Linda dalam sekejap. Ia kini terperangkap dalam kendali Erik Bayroad, detektif terbaik Inggris yang bertindak kejam dengan melenyapkan mantan kekasih Linda serta mengasingkannya dari keluarga dan dunia luar. Tanpa kekuatan untuk meloloskan diri, Linda akhirnya pasrah menerima nasibnya. Bersama Erik, ia kini harus mengarungi lembaran hidup baru yang sarat akan ancaman bahaya serta rintangan yang tak pernah terduga sebelumnya.
Sampul Novel Terpaksa Menikah Dengan Pria Buta
9.0
Dipandang sebelah mata karena kebutaan permanennya, Cho Bae-Hyun yang kaya raya dianggap beban oleh keluarganya sendiri. Ia pun dipaksa menikahi gadis muda dari keluarga Eun. Sempat cemas akan menyusahkan sang istri, Bae-Hyun justru menemukan sosok pelindung dan cahaya hidup dalam dirinya. Mampukah pernikahan ini bertahan menghadapi badai siksaan serta cacian yang terus-menerus menghantam hubungan mereka?
Sampul Novel VIRGIN
9.3
Demi membebaskan keluarganya dari jerat kemiskinan, Rayana mengambil keputusan nekat dengan menjual daya tarik fisiknya kepada pria hidung belang. Namun, gadis polos ini tetap bersikeras mengajukan satu syarat mutlak: ia harus tetap suci. Kini, ia berada di persimpangan jalan, terjepit antara kerasnya realitas hidup dan prinsip diri. Sanggupkah Rayana mempertahankan mahkotanya, atau ia justru akan hancur dalam kesepakatan berbahaya ini?