APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel PULANG KAMPUNG

PULANG KAMPUNG

Demi merawat sang ibu yang lanjut usia, Ningrum dan Huda memilih kembali ke desa. Sayangnya, niat mulia ini disambut cibiran warga setempat yang meremehkan mereka karena hanya menaiki motor tua. Padahal, pasangan ini merupakan pemilik showroom mobil sukses di Jakarta. Di tengah terjangan fitnah dan sikap skeptis orang-orang, sanggupkah mereka bertahan dengan kesabaran sekaligus membuktikan kenyataan yang sebenarnya?
Bab
Bagikan

Bab 1

DIHINA KARENA MOTOR JADUL PADAHAL PUNYA SHOWROOM MOBIL

"Mas, sudah dua hari ibu dirawat di rumah sakit. Mbak Sinta memintaku pulang. Dia minta aku gantian menjaga ibu karena cuma aku yang belum pernah merawat ibu. Bukan karena capek, tapi mereka memang sibuk bekerja, Mas. Aku juga sudah berulang kali bilang sama ibu supaya ikut kita aja di sini, tapi ibu selalu menolak. Ibu nggak mau pindah kota. Hidup dan mati ingin tetap berada di kampung halamannya."

Dua kali sudah kuutarakan niat untuk merawat ibu di kampung, apalagi ibu sudah tua. Usianya lebih dari 65 tahun. Selama itu pula aku belum pernah merawatnya, hanya tiap bulan mengirimi uang untuknya saja.

Kutitipkan pada Mbak Sinta atau Mila, karena memang mereka yang gantian merawat ibu selama ini. Sementara Mas Angga-- kakak keduaku pun sama sepertiku.

Hanya mengirimkan uang saja. Istrinya dan ibu kurang akur, makanya Mas Angga tak ada niat untuk mengajak ibu tinggal bersamanya. Daripada makin sakit dan hipertensi, katanya.

"Cuma ibu orang tua kita satu-satunya, Mas. Selama ini aku juga sudah merawat mama dan papa hingga mereka tutup usia, kan? Sekarang waktunya aku merawat ibu kandungku sendiri," ucapku lagi.

Air mata kembali menetes ke pipi, mengingat semua pengorbanan ibu dahulu. Dia yang single parent itu harus mengurus empat anaknya sendirian. Hanya Mas Angga yang kuliah, itu pun dari beasiswa, sementara tiga anak ibu lainnya tamat SMA.

Kulihat Mas Huda masih berpikir. Selama dua hari ini pun aku yakin dia masih memikirkan permintaanku itu.

"Bagaimana dengan sekolah anak-anak?" tanyanya kemudian.

"Kalau mas setuju, aku bisa mengurus pindahannya, Mas. Kasihan juga Mbak Sinta sama Mila kalau terus izin nggak masuk kerja, takutnya mereka dipecat atasan. Sementara aku di sini memang nggak ada kerjaan, kan?"

Mas Huda menoleh, menatapku lekat lalu menganggukkan kepala. Bola mataku berbinar seketika.

"Jadi mas setuju aku pulang kampung bersama anak-anak untuk merawat ibu?" tanyaku memastikan. Lagi-lagi ibu menghela napas lalu mengangguk pelan.

"Iya. Besok kamu pulang duluan naik pesawat atau kereta, soal sekolah Gala sama Gina nanti mas yang urus. Pokoknya kamu fokus rawat ibu saja. Kesuksesan kita saat ini juga tak lepas dari doa orang tua," ucap Mas Huda lagi.

Spontan kupeluk dia erat. Air mataku tak jua berhenti menetes. Setelah dua harian dirundung kepedihan dan kegelisahan, akhirnya Mas Huda mengabulkan permintaanku.

"Mas juga sudah menyusun rencana cukup cantik setelah urusan sekolah anak-anak selesai. Kita akan sama-sama merawat ibu, ya? Dulu kamu juga begitu ikhlas merawat papa dan mama saat mereka sakit. Sekarang gantian, Mas juga ingin merawat ibu," ucapnya meyakinkan. Lagi-lagi aku tak berhenti bersyukur karena memiliki suami sepertinya.

Dia yang setia, penyayang keluarga dan tak pernah patah semangat dalam mencari rezeki halalNya. Pantas almarhum papa dan mama begitu membanggakannya. Bahkan dulu sempat tak merestui hubunganku dengannya karena perbedaan strata.

Meski Mas Huda terlahir dari keluarga berada, tapi dia selalu berpenampilan sederhana. Tak pernah neko-neko. Dia memang seorang introvert, lebih menyukai keheningan dibandingkan keramaian sama sepertiku. Mungkin karena itu pula, dia tak banyak memiliki teman pun tak banyak teman yang tahu kalau dia orang berada.

Pergi ke mana-mana sering pakai vespa. Kecuali jika bersamaku dan anak-anak. Dia akan memakai mobilnya. Dia selalu mengutamakan kebutuhan istri dan anak-anaknya dibandingkan kebutuhannya sendiri.

Dia pun tak tega jika melihat keluarga kecilnya kesusahan, karena itulah selalu melakukan berbagai cara untuk membuat kami bahagia.

Berulang kali gagal usaha tak pernah membuatnya menyerah, hingga akhirnya kini benar-benar memiliki showroom mobil sendiri. Sedangkan warisan dari orang tuanya tinggal kontrakan dan rumah berlantai dua yang kami tinggali.

Esoknya. Aku pun pamit sama Gala dan Gina untuk berangkat lebih dulu. Mereka sudah tahu rencana kedua orang tuanya untuk pulang kampung.

Awalnya mereka menolak tapi akhirnya setuju saja, setelah aku jelaskan bagaimana perjuangan seorang ibu melahirkan anak-anaknya. Bagaimana pula perintah Allah dan RasulNya pada seorang ibu.

Gala yang kini duduk di bangku kelas lima sementara Gina duduk di bangku kelas tiga itu pun mengangguk pelan saat aku berpamitan. Mereka mencium punggung tanganku lalu memberikan sesuatu. Entah apa isinya, tapi mereka bilang kado untuk nenek.

MasyaAllah, aku bahagia sekali memiliki anak yang berjiwa besar dan patuh pada orang tua seperti mereka.

Aku dijemput Mbak Sinta di bandara Ahmad Yani. Tak butuh waktu lama, akhirnya aku sampai di rumah ibu. Rumah peninggalan bapak yang tak berpenghuni itu. Tiap minggu, Mbak Sinta meminta asistennya untuk membersihkan rumah.

Jadi meski tak terpakai, tetap terawat dan bersih. Karena ibu memang tinggal bersama Mbak Sinta atau Mila di rumah mereka. Gantian tiap bulan.

Baru menginjakkan kaki di lantai teras, dua tetanggaku sudah muncul di halaman. Kupikir sekadar menanyakan kabar atau apa. Ternyata hanya datang untuk menghina.

"Gitu dong, Rum. Gantian kamu yang merawat ibumu. Kasihan kakak sama adikmu kerepotan sendiri, lagipula merantau di ibukota puluhan tahun kok nggak punya apa-apa. Mending di kampung halaman seperti Sinta itu, kerja di pabrik juga sekarang sudah punya rumah di perumahan sama mobil."

Aku hanya melirik Mbak Sinta yang baru saja membuka pintu rumah ibu.

"Bener deh, Rum. Buat apa jauh-jauh merantau, kalau pulang nggak bawa apa-apa. Waktu itu Si Mesya juga lihat kamu lagi bersih-bersih kontrakan. Jadi bener ya gosip yang beredar kalau selama ini kamu agak kekurangan uang, makanya jarang pulang."

Aku hanya mengelus dada. Mereka tak tahu kalau kontrakan yang kubersihkan itu memang kontrakan yang baru saja kosong. Ada yang tanya-tanya makanya aku bersihkan sendiri. Kontrakan lima belas pintu warisan dari mertua.

Lagipula aku jarang pulang karena memang sibuk, anak-anak nggak pernah mau ditinggal. Namun setidaknya empat bulan sekali aku juga pulang demi menjenguk ibu. Kalaupun nggak bisa pulang, aku selalu mengirim uang tiap bulan untuk memenuhi semua kebutuhan ibu dan sedikit uang saku untuk keponakan.

💕💕💕

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Pekerjaan Rahasiaku Dan Cintanya
8.8
Sulitnya mencari kerja memaksa Meri menjadi pembunuh bayaran demi uang. Rahasia gelap ini hanya diketahui oleh Mike, sahabat yang diam-diam ia cintai. Meri memilih memendam perasaannya demi menjaga persahabatan mereka, terlebih Mike sudah memacari seorang model menawan. Namun, keyakinan hati Meri mulai goyah saat ia tidak sengaja bertemu seorang dokter tampan di rumah sakit. Siapakah sosok yang sebenarnya ditakdirkan menjadi belahan jiwa bagi Meri?
Sampul Novel Merebut Jodoh
9.0
Demi ambisi egois orang tuanya, Vanya terpaksa menikahi Purnomo, pria yang jauh lebih tua. Pernikahan tanpa cinta ini pun langsung berada di ambang kehancuran. Di tengah keputusasaan, hadirlah Anthony, pria yang sejak lama memendam perasaan mendalam padanya. Berbekal tekad kuat, Anthony berjuang gigih untuk merebut kembali wanita pujaannya tersebut, sekaligus menyelamatkan Vanya dari belenggu takdir pernikahan yang kelam.
Sampul Novel MISTERI KAMAR ADIK PEREMPUANKU
9.1
Kehilangan suami secara tiba-tiba meninggalkan teka-teki besar bagiku. Kecurigaanku memuncak ketika suara derit ranjang yang mencurigakan kerap terdengar dari kamar adikku, Ema, tepat sejak hilangnya pria itu. Aku mulai mencurigai adanya hubungan rahasia yang terjalin di antara mereka berdua. Apakah misteri di balik pintu kamar Ema tersebut merupakan kunci utama untuk mengungkap keberadaan suamiku yang lenyap tanpa jejak?
Sampul Novel Rahasia Hati Sang Pewaris
8.0
Siti, seorang gadis desa yang ulet, dipertemukan takdir dengan Reza. Di balik sosoknya, Reza ternyata merupakan ahli waris kerajaan bisnis hotel yang sengaja menyembunyikan identitas aslinya. Perbedaan status sosial yang mencolok memicu konflik besar di antara mereka. Namun, situasi kian rumit saat keduanya terjebak dalam pusaran misteri gelap yang mengancam jiwa. Di tengah ancaman dan kebohongan, mampukah cinta tulus mereka bertahan menghadapi rahasia besar di balik harta?
Sampul Novel Tiga Puluh Hari Sebelum Bercerai
9.2
Arga ingin menikahi lagi mantan tunangannya yang dahulu pergi tanpa kabar. Naima, istrinya saat ini, mengizinkan hal tersebut dengan syarat mereka harus menjalani masa tiga puluh hari sebelum sah bercerai. Namun, di tengah proses itu, Arga justru menemukan berbagai fakta tidak terduga yang selama ini tersembunyi. Rahasia demi rahasia Naima yang mulai terbongkar membuatnya bimbang. Akankah Arga tetap memilih bercerai dan menikah lagi setelah mengetahui kebenaran itu?
Sampul Novel Yang Terbuang, Yang Tak Terbendung
7.8
Dekade berlalu di panti asuhan, kepulanganku justru berujung eksploitasi demi Kirana, kembaran yang dipuja. Puncaknya, orang tua kandungku bersekongkol agar Bima, kekasihku, melamar Kirana di hadapanku. Tak cukup di situ, aku difitnah mencelakai Kirana hingga dihajar ayah, didepak ke jalanan, dan dilaporkan ke polisi. Mereka mengira aku telah hancur total, namun kebencian membara ini justru menyalakan genderang perang yang mustahil bisa mereka hentikan.