APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Psychopath Love

Psychopath Love

Dapatkah seorang psikopat merasakan cinta yang tulus? Di balik kesempurnaan fisiknya, Johan menyimpan jiwa rapuh dan pikiran yang kacau. Kegelapan hidupnya hanya diterangi oleh kehadiran adik tirinya, sosok yang ia cintai secara diam-diam. Namun, pergolakan batin Johan mencapai titik kritis ketika sebuah kenyataan pahit terungkap. Bagaimana jadinya jika sang adik ternyata mencintai pria lain?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Lira, kenalkan, ini Om Aji."

Pada suatu siang, Si ibu memperkenalkan-nya pada seorang pria berpenampilan sangat necis dan berkacamata.

Lira yang saat itu masih berusia 6 tahun hanya melihat sebentar, lalu kembali merunduk.

"Selamat siang, om..." sapa-nya hampir tak terdengar.

"Siang, Lira." Pria berkacamata dan bercambang itu tersenyum ramah. "Lira cantik seperti Mama, ya.." ia memuji.

Lira menengadah. Ragu-ragu dia memperhatikan ibunya yang telah lama menjanda, saling lempar senyum dengan pandangan penuh arti kepada si Om.

Lira ketika itu hanya anak kecil polos, yang hanya bisa menyimpan semua tanya tanpa sanggup mengutarakan apa yang tengah berkecambuk dalam hati.

Yang pasti, ia tak tak akan menyangka bahwa makan siang mewahnya hari itu adalah pembuka gerbang akan nasib-nya yang dramatis.

.

.

Beberapa hari setelah makan siang, si ibu memberi tahu dirinya, bahwa ia akan menikah dengan pria bernama Aji tersebut.

Lira yang cuma mengikuti apa yang di kehendaki oleh si ibu.

Namun, yang membuat Lira terkejut. Ternyata Aji memiliki 3 orang anak dari istri- nya yang telah meninggal.

.

.

Karena Aji merupakan pengusaha sukses, otomatis pernikahan kedua Ibu-nya di langsungkan meriah.

Lira melongo ketika melihat deretan gaun-gaun pengantin di sebuah showroom, di mana dia dan ibunya tengah fitting gaun pengantin.

"Lir, cobalah." si ibu memperlihatkan dress anak berwarna pink dengan renda bunga-bunga. "Gaun ini sepertinya cocok untukmu."

Lira kecil yang hidup serba pas-pas an sejak meninggalnya sang Ayah, terpesona oleh gaun indah tersebut. Ia sampai begitu hati-hati memegang kain-nya yang terasa sangat halus di kulit tangannya.

"Pasti kau akan terlihat sangat cantik." Rona ibunya berseri-seri.

Sejak berkenalan dengan Aji dan mereka melanjutkan ke jenjang pernikahan, ibu-nya yang dulu terlihat muram, mendadak memang terlihat lebih muda dan cantik.

Lira tersenyum lebar, dia ikut bahagia melihat ibu yang selama ini banting tulang untuk hidupnya, sebentar lagi akan jadi nyonya besar.

Lira hendak mencoba dress pink itu, ketika calon Ayahnya datang bersama 3 orang anak yang mengekor di belakang-nya.

"Sudah kau pilih, Liana sayang?" Aji langsung mengecup sesaat kening ibu Lira.

Lira yang melihatnya memalingkan muka dengan kedua pipi memerah. Orang tuanya yang bersikap mesra di tempat umum. Namun, dia yang malu.

"Belum, " Liana menjawab. "Baju-baju di sini sangat bangus. Aku kebingungan." ia terkekeh sembari menatap calon suaminya yang duda tampan.

"Bagimanan denganmu, Lira?" gantian Aji bertanya pada Lira yang berdiri di tengah-tengah mereka sambil menenteng dress pink yang di berikan si ibu.

"Su, sudah...Om." jawab Lira serayak menunjukkan dress di tangan.

"Baguslah." Pria itu sumringah, lalu mengacak rambut panjang Lira yang di kuncir ekor kuda.

Lira yang masih menganggap Aji orang asing, tertunduk canggung.

"Oya, kenalkan, mereka akan menjadi saudaramu Lira." Aji memberi kode pada anak-anaknya agar maju ke depan.

Dengan patuh, atau lebih tepatnya terpaksa patuh, ketiganya berjalan ke arah Ayah dan calon ibu serta adik tiri mereka.

"Ini Lira, anak dari Tante Liana." Aji memperkenalkan.

"Ha, halo..." Sapa Lira canggung.

"Ini, James." Aji menunjuk ke arah anak lelaki paling tinggi. "Tahun ini dia berusia 15 tahun."

Lira mencoba tersenyum. Namun, James hanya menyalami tanpa minta.

"Dia Jasmine," Aji sedikit membungkuk, ketika memperkenalkan anak perempuan-nya. "dengan adanya Lira, akhirnya kau punya teman main rumah-rumahan." ia mengerlingkan satu mata.

Jasmine terlihat senang mendengar ucapan si Ayah.

"Salam kenal, Lira." penuh semangat ia menjabat tangan calon adik tirinya.

"Salam kenal, kak Jasmine." Lira sumringah melihat respon Jasmine yang ramah dan terlihat lebih bersahabat dari pada James.

"Waah...senang ya, Lir." Si ibu meletakkan kedua tangan ke pundak anaknya. "Lira yang hanya anak tunggal, sekarang jadi punya banyak saudara."

Meski kikuk. Tapi, di akui memang Lira senang, karena ada Jasmine yang langsung bisa mengakrabkan diri dengan sikap cerianya.

"Kau masih punya satu saudara lagi."

Ucapan Aji membuat pandangan Lira terarah pada anak lelaki yang bertubuh paling kurus di antara mereka bertiga.

Diantara keramian toko, dia hanya menatap lurus ke arah jendela besar yang mengarah ke jalan raya.

Sikapnya berkesan tak peduli. Tetapi, wajahnya yang pucat, menimbulkan rasa iba.

"Johan!" panggil Aji.

Suara pria itu membuat detak jantung Lira meningkat dratis.

Ia kaget, sebab setahu dirinya, Aji adalah orang yang ramah dan tak pernah mengeluarkan suara bak petir menyambar.

Perlahan Johan berjalan lebih maju. Tatapnnya bertemu dengan Lira yang sedari tadi sudah memperhatikannya.

Seketika Lira beku, karena tatapan Johan terasa begitu kelam, seolah tak ada setitikpun cahaya kehidupan di dalam sana.

"Hai..." Ia menyapa.

"Ha, hai..kak Johan." Lira gugup.

Dia berusaha bersikap sewajarnya, meski tetap ada perasaan tak nyaman saat Johan memandang.

.

.

Hidup Lira bak Cinderella, dari gadis biasa menjadi seorang Nona Muda bergelimang harta.

Aji yang Lira kira akan bersikap jahat layaknya ayah tiri di film-film, nyatanya begitu baik dan memperlakukannya sama seperti anak kandungnya yang lain.

Seperti kata si Ibu pula, Jasmine menjadi teman terbaik-nya dalam hal apa pun. Bahkan kamar mereka bersebelahan, karena begitu akrabnya.

Lira tak begitu dekat dengan James, karena usia James memang jauh berada di atasnya. Tetapi, Lira tak mempermasalahkannya, sebab James tak pernah mengusik atau bersikap buruk padanya.

.

.

Hari ini, tepat setahun si ibu menikah dengan Aji dan ia tinggal di rumah mewah keluarga Prawira.

Lira sedang berjalan menikmati indahnya taman belakang yang banyak tumbuhan anggrek bergelantungan.

Ia begitu kagum dengan warna-warni tanaman tersebut, yang konon merupakan bunga kesayangan mendiang istri pertama Aji dan sampai sekarang masih begitu di rawat.

"ANAK PEMBAWA SIAL !!"

Lira berjingkak kaget mendengar suara bentakan yang membuat jantungnya hendak melompat keluar.

Dia segera bersembunyi di balik pohon Akasia yang tumbuh di situ.

Mata Lira membelalak, ketika mengintip di balik celah dan melihat Aji memukul Johan berkali-kali menggunakan ranting pohon.

Ia ngeri, saat Johan yang belum genap 10 tahun hanya meringkuk sambil menutupi wajahnya di tengah hujan sabetan ranting Ayah kandungnya.

"GARA-GARA MELAHIRKAN MU ANITA MENINGGAL !!" Aji membuang ranting pohon, lalu menarik kerah baju si anak dan memukul wajahnya sampai darah mengalir dari hidung Johan.

Lira menutup mulutnya rapat-rapat dengan tubuh mengigil. Ia begitu ketakutan sampai menangis.

Siang itu rumah memang dalam keadaan sepi.

Tapi, ada banyak pelayan di rumah ini.

Tadi Lira lihat di ruang tengah juga ada James dan Jasmine yang sedang main game bersama.

"Kenapa tidak ada yang menolong?" tanya Liradalam hati.

Mendadak Lira tersadar, jika saat ini Ibu-nya lah satu-satu nya orang tak berada di rumah.

"PEMBAWA SIAL !!" Teriakan Aji di barengi suara pukulan kembali menyakiti telingan gadis kecil itu.

.

Lira merapatkan tubuh di balik pohon, ketika Aji telah selesai dengan aksi tak berperi kemanusiaan-nya.

Pria itu tak melihat Lira, dan hanya melewati tempat persembunyia-nya begitu saja.

Lira menunggu sampai Aji benar-benar telah pergi.

Setelah di rasa aman, dengan cepat Lira berlari ke arah Johan yang terduduk di tanah dengan baju kotor dan wajah bengkak.

"Kakak nggak apa-apa?"Lira bersimpuh di hadapan Johan dan menatap khawatir.

Johan yang awalnya merunduk, mengangkat wajah dan menatap Lira.

Sekali lagi ia di buat berdesir, tak kala menatap kedua netra kelam tersebut

Tak ada ekspresi kesakitan atau pun ketakutan di wajah Johan, padahal wajahnya lebam dan tubuhnya penuh luka sabetan.

Darah dari hidung-nya mengalir,membuat Johan ingin menyeka dengan punggung tangan. Namun, sebelum ia melakukannya, Lira telah lebih dahulu memegangi tangan Johan, Kemudian mengusadarah tersebut dengan ujung bajunya sendiri.

Mata hitam Johan menbulat. Rasanya itu ekspresi pertama yang di perlihatkan kakak tirinya selama setahun mereka tinggal bersama.

"Kenapa Papa tega menyakit Kakak sampai seperti ini?" mata Lira berkaca-kaca.

Lira memang memiliki simpati yang tinggi.

Ia ikut sedih, ketika membersihkan luka Johan dengan ujung roknya sendiri.

"Papa biasa melakukan hal seperti ini, saat sedang stres dengan pekerjaan." Johan menjawab santai tanpa beban.

"Apa?" Lira terkejut.

Johan cuma menatap.

"Kenapa Kakak tak minta tolong?" Lira makin sedih.

"Siapa yang mau menolong?" Johan balik bertanya.

Lira tertegun.

Jadi benar sebenarnya orang-orang di rumah ini tahu. Tapi tidak ada yang berani menolong?

Johan bangkit berdiri, kemudian mulai berjalan pergi.

Lira ikut bangkit dari duduk. Di pandanginya punggung kecil Johan yang terlihat sangat rapuh.

"Aku yang akan menolong Kakak!"

Langkah Johan terhenti, kemudian perlahan menoleh ke belakang dan menyringai ke arah Lira.

Sesaat Lira bergidik, sebab senyum Johan terasa ngeri.

Tetapi, sesaat kemudian senyum itu berubah menjadi senyum paling menawan yang membuat siapa pun terpesona.

"Terima kasih, Lir." ucap Johan lalu berbalik pegi.

Kedua pipi Lira langsung merona, karena kakak tirinya itu terlihat sangat tampan.

Sama sekali tak terbesit di pikiran Lira, jika ia akan sangat menyesali hari itu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ANAK KETIGA
9.7
Sebuah karya lukis legendaris menyimpan misteri kelam di balik keindahan goresan kuasnya. Kanvas ini bukan pajangan biasa, melainkan saksi sejarah yang sarat intrik mengerikan. Perlahan, asal-usul karya seni tersebut mulai terungkap, membangkitkan teror masa lalu yang siap menghantui setiap mata yang memandangnya. Kisah mencekam ini akan mengungkap rahasia dan jejak kelam yang selama ini tersembunyi rapat di balik estetika semu.
Sampul Novel CODE: FAUST
7.9
Sejak virus misterius mengubah makhluk hidup menjadi mutan pada 2028, Bumi hancur. Memasuki tahun 2036, faksi Government dan Black Beast saling bertikai memperebutkan kekuasaan di atas puing peradaban. Di tengah kekacauan ini, Dr. Plague, profesor bermasa lalu kelam, bertekad menebus dosa dengan mengembalikan kedamaian. Ia harus bertahan dari radiasi dan perang saudara sembari membongkar konspirasi besar di balik wabah mematikan tersebut.
Sampul Novel Dark in Antares City
9.3
Dunia kini dicekam teror Eaters, predator mirip manusia yang berubah jadi monster pemangsa daging saat malam tiba. Di tengah situasi mengerikan ini, Rio Rosswel harus menyaksikan ibunya tewas mengenaskan oleh makhluk bercakar tajam tersebut. Sambil bersembunyi di dalam lemari, ia terpaksa menahan tangis serta amarahnya. Kejadian traumatis itu memicu dendam mendalam, hingga Rio bersumpah akan membasmi seluruh Eaters dari muka bumi.
Sampul Novel Hati Seorang Perempuan
9.3
Senjahari Semesta Alam dengan ikhlas merelakan dirinya diceraikan oleh suaminya sendiri demi menikahi Mega Mentari--anak perempuan pemilik perusahaan yang mengaku dihamili oleh suaminya sendiri, Abimanyu Wicaksana. Sementara itu Halilintar Sabda Alam-- kakak sulung Mega Mentari. Pemilik beberapa perusahaan properti raksasa negeri ini, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Senja, yang diperkenalkan oleh mertuanya sebagai adik bungsu Abimanyu. Abimanyu yang merasa dijebak sebagai kambing hitam dalam masalah hamilnya Tari, terus berusaha mencari kebenaran yang sesungguhnya agar bisa meraih kembali hati Senja. Sementara Sabda yang awalnya jatuh cinta pada Senja, menjadi salah faham saat secara tidak sengaja memergoki Abimanyu memesrai Senja bukan seperti seorang kakak terhadap adiknya, melainkan seperti seorang laki-laki yang tengah mabuk asmara. Sabda yang gelap mata malah akhirnya menjebak Senja dan menanamkan benihnya dirahim Senja. "Saya mohon, jangan memperlakukan Saya seperti ini. Saya punya salah apa pada Bapak? Laki-laki sejati tidak akan menggunakan kekuatannya untuk memaksakan dirinya terhadap seorang perempuan. Saya mohon jangan mengotori saya. Demi Allah saya bersumpah, saya tidak seperti apa yang ada dalam pemikiran, Bapak." (Senjahari Semesta Alam) "Salah kamu adalah, karena kamu telah menjadi duri dalam daging dalam rumah tangga adik saya! Kamu fikir saya tidak tahu akan hubungan terlarang kamu dengan Abimanyu? Kalian berdua itu incest, dan itu amat sangat menjijikkan! Kita lihat saja, setelah ini kamu masih bisa memandang dunia dengan kepala tegak, atau kamu akan melata seperti ular di kaki Saya!" (Halilintar Sabda Alam)
Sampul Novel HILANGNYA JASAD KEMBARANKU
9.5
Kematian Micail menyisakan duka hebat bagi kembarannya, Mecca. Namun, situasi menjadi mengerikan saat jasad sang saudara mendadak hilang tanpa jejak. Kejadian ganjil ini mulai mengikis kewarasan Mecca. Di tengah cekaman teror yang kian pekat, ia terobsesi memecahkan misteri hilangnya jenazah tersebut. Mecca pun nekat menelusuri berbagai petunjuk samar demi menemukan jasad sang kembaran sekaligus memberikan ketenangan bagi arwahnya.
Sampul Novel KEMBANG KANTHIL KEMBANG MLATHI
7.8
Niat tulus seorang ibu yang mendambakan kebahagiaan bagi anaknya justru berbuah petaka mengerikan. Upaya penuh pengorbanan tersebut malah menyeret keluarga mereka ke dalam pusaran teror yang mencekam dan tak terduga. Di balik kasih sayang orang tua, tersimpan rahasia kelam yang perlahan mengubah mimpi indah menjadi mimpi buruk tanpa akhir. Kehidupan mereka kini dihantui misteri gelap yang mengancam keselamatan jiwa selamanya.