APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Promise

Promise

Demi menghindari pertikaian keluarganya, Elphia memilih mengasingkan diri ke desa sunyi. Di sana, ia menyendiri dan melukis untuk memulihkan batinnya. Takdir lalu mempertemukannya dengan pemuda misterius yang perlahan mengusir rasa sepinya. Namun, kedamaian itu runtuh ketika pria tersebut mendadak pergi tanpa penjelasan. Kini, hanya sebuah janji tersirat yang tersisa. Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Bab
Bagikan

Bab 2

Hari-hari yang aku jalani tidak banyak yang berubah. Semua terlihat sama saja. Melukis, menyusuri pantai sambil berharap bahwa seseorang akan datang. Namun semua bagai angin lalu, yang ditunggu tak kunjung datang meski sudah satu tahun lebih.

Aku memikirkan banyak hal, apakah dia akan tetap bertahan di sini, atau pergi ke tempat lain yang mungkin akan lebih baik lagi untukku.

Bukan, bukan karena Aisar tidak datang maka aku ingin pergi. Pada dasarnya aku memang tidak berencana untuk terlalu lama berada di tempat ini. Aku memiliki jiwa yang bebas, yang ingin selalu berada di tempat-tempat yang berbeda. Yang selalu menyertai aku selama ini hanyalah peralatan lukisku, saranaku untuk melepaskan keluh kesah.

☆☆☆

Aku merapihkan barang-barangku yang memang tidak banyak. Memasukkannya ke dalam koper dan kardus kecil. Sudah aku putuskan untuk pergi. Entah akan kembali atau tidak, yang jelas, aku hanya ingin pergi.

Rumah kecil yang sudah kusam termakan usia inilah yang menjadi saksi bisu selama dua tahun ini, melihat keseharianku,yang selain melukis, terasa sangat membosankan.

Aku mulai mengeluarkan barang-barangku dari dalam rumah. Sekali lagi aku memandang arah pantai, lalu pergi ke terminal bus untuk menuju tempat baruku.

Perjalanan terasa penjang dengan pikiran menerawang jauh.

"Mau, Mbak?" tawar seorang wanita. Dia memberikan satu buah jeruk. Aku menerimanya sambil tersenyum.

"Ke kota mau mencari pekerjaan, Mbak? Atau mau apa?"

"Mau ke bandara."

Aku menikmati jeruk yang rasanya asam manis itu. Wanita yang bernama Lila itu terus mengoceh tanpa henti, membuatku sesekali tertawa.

"Aku ke kota ingin mencari pekerjaan, Mbak. Dari pada aku terus berada di kampung dan dipaksa menikah dengan seorang pria yang sudah memiliki tiga orang istri."

Berarti dia akan jadi istri ke empat?

"Laki-laki itu bahkan sudah memiliki tiga orang cucu!" ucapnya geram.

Baiklah, aku tidak boleh tertawa. Pantas saja dia memilih untuk kabur. Kalau dipikir-pikir, aku dan dia sama-sama seorang pelarian.

Aku melihat wajahnya dengan seksama. Dia cukup cantik, usianya mungkin sama denganku, cara bicaranya juga cukup sopan walau ceplas-ceplos. Apakah kami dapat berteman baik?

"Kamu bisa bahasa Inggris?" tanyaku ragu-ragu.

"Ya little-little i can lah, Mbak." Aku langsung tertawa.

Oke, aku sudah memutuskan kalau dia akan bersamaku.

"Kamu ikut aku saja!"

"Mbak percaya sama aku? Mbak bisa dipercaya, kan?"

Aku semakin menyukainya. Sikapnya memang waspada terhadap orang lain, walaupun untuk beberapa hal dia sebenarnya ceroboh.

Bukankah tadi dia duluan yang mengenalkan dirinya dan menceritakan alasan dia pergi? Aku memiliki insting ysng baik untuk menilai seseorang. Oleh sebab itu aku ingin mengajaknya. Daripada dia harus terlunta-lunta di kota besar tanpa sanak saudara.

Sepanjang perjalan dia terus mengoceh. Mungkin kami adalah perpaduan yang pas. Dia cerewet dan aku adalah pendengar yang baik, seperti yang pernah dikatakan oleh Aisar.

Bicara tentang Aisar, apa kabarnya dia di tempat yang tidak aku ketahui? Kami tidak pernah bertukar nomor ponsel. Mungkin dia menganggap aku adalah gafis sederhana yang jauh dari kata modern. Tidak masalah, aku memang tidak ingin nomor ponselku diketahui oleh orang banyak.

Aku akan menganggapnya seorang tamu yang pernah tersesat di rumahku. Tidak akan aku biarkan ada seseorang yang mengganggu hati dan pikiranku. Cukup keluargaku saja yang melakukan itu.

☆☆☆

Kami tiba di stasiun dan langsung menuju tempat makan yang tidak jauh dari situ. Aku segera memesan tiket pesawat secara online. Untung saja masih ada tiket meskipun tempat duduk kami berjauhan.

Sekali lagi aku melihat wajah Lila. Siapa sangka, hanya karena jeruk, akhirnya kami berteman, bahkan bisa langsung akrab. Nenek, Aisar, Lila ... mereka bisa langsung akrab denganku meskipun baru saling mengenal. Sedangkan keluargaku, mereka bahkan malas melihat wajahku.

"Kamu tahu tidak, Phi? Kamu itu punya kekuatan yang membuat orang yang melihatmu langsung terpesona. Contohnya saja aku."

Ah, masa iya? Kenapa keluargaku tidak seperti itu? Mengingat kata keluarga membuat hatiku kosong. Kata keluarga adalah hal sensitif yang membuatku ingin selalu menghindarinya.

Setelah kenyang dan cukup istirahat, kami langsung menuju bandara. Aku menarik koperku dan kardus bermotif polkadot yang isinya peralatan lukisku yang tidak aku kirimkan melalui paket, sedangkan lukisan-lukisanku sudah ada di tempat yang akan aku tuju. Lila hanya menggunakan ransel hitam.

☆☆☆

Berkali-kali aku menenangkan Lila di bandara. Terlihat sekali kalau dia sangat gugup.

Pesawat mulai lepas landas. Aku membayangkan wajah Lila yang pastinya pucat dan tangan kakinya yang gemetaran. Untuk mengusir rasa bosan selama perjalanan, aku mengambil buku sketsaku dan mulai melukis.

Aku merasa pria yang duduk di sebelahku sesekali melirik ke arahku, namun aku pura-pura tidak tahu.

"Khmmm ... Nona, itu lukisannya dijual?"

Aku langsung menatap pria itu. Matanya berwarna biru, dan dia sangat tampan. Wajahnya sekilss mengingatkan aku akan seseorang.

"Kalau Nona menjualnya, saya ingin membelinya."

Aku melihat penampilannya. Jelas sekali kalau dia adalah orang kaya.

"Bagaimana?" tanyanya menuntut.

"20 juta!"

"Deal!"

Hah? Serius? Tahu dia akan langsung menyetujuinya, aku pasti akan memasang harga yang lebih mahal lagi. Biasanya aku menjual lukisan yang seukuran buku sketsa hanya lima belas juta, tapi jika lukisannya rumit, maka aku akan menjual sekitar dua puluh lima juta. Tapi ini lukisan paling sederhana yang aku buat dengsn pensil.

"Setelah tiba di bandara langsung kirim ke rekening saya."

Aku tidak sembarangan menjual lukisan-lukisanku. Paling murah yang pernah aku jual seharga sepuluh juta, tidak perlu ditanya berapa harga yang paling mahal.

Itulah sebabnya, hidupku tidak berantakan saat jauh dari keluarga. Apakah mereka tahu tentang semua ini? Tentu saja tidak. Entah sudah berapa banyak pundi rupiah yang masuk ke rekeningku karena menjual lukisan. Kemampuan melukis yang selalu mereka anggap sebagai kemampuan receh, nyatanya telah membuatku bertahan hingga saat ini.

Kami tiba di bandara. Aku melihat wajah Lila yang tersenyum. Sudah tidak takut lagi dia? Pria yang membeli lukisanku itu langsung menstransfer uang ke rekeningku. Aku memberikan lukisannya dan dia memberikannya pada seorang pria.

"Hati-hati menyimpan lukisan ini." Bahkan lukisanku itu belum dibingkai namun sudah terjual.

"Phi, ternyata naik pesawat itu enak ya, awalnya saja deg-degan. Apalagi tadi aku duduk dengan pria tampan."

Bukan kamu saja yang duduk dengan pria tampan, tapi aku juga. Dia bahkan langsung membeli lukisan tang sedang aku buat seharga dua puluh juta.

"Sekarang kita kemana, Phi?"

"Apartemenku."

Kami berjalan beriringan dengan Lila yang masih saja menceritakan pengalaman pertamanya naik pesawat. Mungkin akan terbawa mimpi.

"Kapan-kapan kita naik pesawat lagi ya, Phi? Mudah-mudahan juga aku dapat jodoh seganteng pria yang duduk di sebelahku itu."

Aku menggeleng-gelenglan kepala. Tapi yang namanya manusia tidak boleh berhenti berharap, kan?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Melawan Syarat
9.4
Demi membiayai pengobatan ayahnya, Helena rela menggantikan saudara tirinya untuk menikah dengan pewaris kota yang tuli. Sejak malam pertama, ia langsung diperingatkan bahwa pernikahan mereka murni urusan bisnis. Di tengah sikap dingin suaminya yang tak terduga, Helena terus bertahan. Saat banyak orang memprediksi nasib buruknya, sang suami justru selalu melindunginya. Namun, ketika kontrak berakhir dan Helena ingin pergi, pria itu menangis memohon agar ia bertahan.
Sampul Novel COMPLICATED LOVE
9.2
Kesenjangan sosial akibat perbedaan kasta dan harta membuat hidup terasa tidak adil bagi kaum miskin yang harus berjuang keras. Di tengah takdir yang kejam ini, Sean yang angkuh memaksa Mira bersujud demi mendapatkan maaf. Namun, interaksi tersebut justru menumbuhkan ketergantungan yang rumit di antara mereka. Bagai angin yang memutar kincir, keberadaan Mira kini menjadi sangat krusial dalam menentukan arah masa depan hidup Sean.
Sampul Novel Ditinggalkan Karena Tak Punya Gelar
7.8
Dicampakkan oleh pacarnya yang ambisius demi lelaki bergelar spesialis, Rayhan yang hanya dokter umum mencoba mengobati patah hatinya lewat hubungan virtual dengan El, perempuan misterius. Siapa sangka, sosok yang selama ini menjadi tempatnya berkeluh kesah adalah Dr. Elvira Maheswari, Direktur Utama berdarah dingin di tempat kerjanya sendiri. Kenyataan ini pun menyeret Rayhan ke dalam pusaran asmara dan profesionalisme yang sangat membingungkan.
Sampul Novel Gadis Cantik Milik Mafia
8.8
Setelah diusir oleh bibinya akibat fitnah kejam, Sephi berjuang keras demi memperbaiki hidupnya. Takdir menuntunnya mengikuti wawancara kerja, di mana ia bertemu Aldo, seorang CEO dingin yang juga pemimpin mafia disegani di Eropa. Aldo yang dikenal kaku dan hanya peduli pada keponakannya, mulai merasakan cinta untuk pertama kali setelah melihat ketulusan Sephi. Akankah kehangatan gadis itu mampu meluluhkan hati sang bos kriminal yang tak tersentuh?
Sampul Novel Istri kedua tuan Salman
8.5
Demi melunasi utang orang tuanya, Aisyah Sholehatun Nisa, gadis berparas jelita, terpaksa menikahi Salman Alfarizki. Pernikahan ini menempatkannya sebagai istri kedua dari putra selir keluarga konglomerat tersebut. Di tengah badai rumah tangga poligami yang penuh tekanan, mampukah cinta tulus tumbuh di hati mereka? Simak perjuangan emosional Aisyah dalam menghadapi takdir rumit dan konflik perasaan yang menguji keteguhan jiwanya.
Sampul Novel Melahirkan Keturunan Untuk CEO
9.5
Demi biaya operasi ibunya yang sekarat, Kinara Ariana terpaksa meminta bantuan kepada bos di kantornya. Keputusan nekat wanita berusia tiga puluh tahun ini justru menyeretnya masuk ke dalam kehidupan sang CEO. Di tengah situasi pelik tersebut, sang ibu mendesaknya untuk segera menikah. Tak disangka, pria asing itu bersedia menjadi suaminya. Seiring waktu, rahasia masa lalu sang CEO perlahan terkuak dan mengubah arah takdir hidup Kinara untuk selamanya.