APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Profesor Yang Mengklaim Hidupku

Profesor Yang Mengklaim Hidupku

Demi menjaga nama baik kekasihnya dari skandal kampus, Ivy rela menyerahkan diri kepada Ezra. Walau sangat membenci profesornya yang berhati dingin itu, ia sepakat menjadi teman tidurnya demi kesepakatan satu malam. Ivy mengira semua akan selesai saat pagi menjelang, namun Ezra justru menjadi sangat terobsesi padanya. Pria itu kini bertekad mengikat Ivy dalam pelukannya selamanya, memastikan hubungan rahasia mereka tidak akan pernah usai.
Bab
Bagikan

Bab 3

Ivy merasa dunia di sekitarnya semakin sempit, seperti perangkap yang menutup perlahan, mempersempit ruang geraknya hingga tidak ada tempat untuk melarikan diri. Setiap langkahnya terasa berat, beban yang tidak bisa dia lepaskan. Ezra, dengan segala ketenangan dan kekuatannya, mengawasi setiap gerakannya, setiap keputusan yang dia buat. Dan entah mengapa, Ivy merasa semakin terperangkap, semakin tak berdaya.

Hari-hari di kampus yang biasanya dipenuhi dengan rutinitas biasa kini terasa seperti pertarungan diam-diam. Ivy tahu, Ezra selalu mengamatinya, tak peduli seberapa jauh ia berusaha menghindar. Mereka berdua terikat dalam sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan profesional, dan dia bisa merasakannya-sesuatu yang lebih dalam dan lebih berbahaya.

Suatu sore, ketika Ivy duduk sendiri di perpustakaan, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau, suara langkah kaki yang dikenal membuatnya terjaga. Tanpa melihat, Ivy sudah bisa merasakannya. Ezra. Pria itu datang dengan ketenangan yang selalu bisa menghancurkan ketenangannya sendiri.

Dia berdiri di samping meja Ivy, memandangi buku yang terbuka di depannya tanpa minat. "Kau pikir bisa menghindar dariku selamanya?" suara Ezra mengalir pelan, hampir seperti bisikan, namun cukup keras untuk membuat Ivy merasakan setiap kata yang terucap.

Ivy meneguk ludah, berusaha fokus pada buku yang ada di hadapannya, mencoba mengabaikan Ezra yang begitu dekat. "Aku tidak menghindar. Aku hanya butuh waktu untuk berpikir."

Ezra tersenyum tipis, senyum yang lebih menyerupai tantangan daripada rasa simpatik. "Berpikir? Apa yang ada untuk dipikirkan, Ivy?" Dia bergerak lebih dekat, mengambil kursi di sebelahnya tanpa izin. "Kau sudah membuat pilihan, dan kau tahu itu. Sekarang, kamu hanya perlu menerima kenyataan."

Ivy menarik napas panjang, menutup bukunya dengan gerakan terburu-buru. Dia ingin menghindari konfrontasi ini, namun Ezra sudah mengunci setiap kemungkinan untuk melarikan diri. "Aku tidak tahu apa yang kau inginkan dariku, Ezra. Ini sudah cukup rumit," jawab Ivy, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang meskipun ada kepanikan yang menyelubungi hatinya.

Ezra menatapnya dengan tatapan tajam, namun ada sesuatu dalam matanya yang berbeda, yang lebih gelap. "Aku ingin tahu sampai kapan kau bisa bertahan, Ivy. Sampai kapan kau bisa terus bersembunyi dari kenyataan ini." Tangannya tiba-tiba terulur, menyentuh lembut tangan Ivy yang ada di atas meja, dan sentuhan itu membuat tubuh Ivy membeku, merasakan kehangatan yang membuatnya bingung dan takut.

"Kenyataan apa yang kau maksud?" Ivy bertanya, namun suaranya terdengar lebih rapuh daripada yang ia inginkan.

Ezra mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, wajahnya kini hanya beberapa inci dari wajah Ivy. Ivy bisa merasakan napasnya yang hangat, menggetarkan setiap helai rambut di tengkuknya. "Kenyataan bahwa kita sudah terjebak dalam ini bersama," jawab Ezra dengan suara seraknya, seperti sebuah ancaman yang tidak bisa dihindari. "Kenyataan bahwa aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja."

Ivy terdiam, napasnya terasa sesak. Entah kenapa, ada bagian dari dirinya yang mulai ragu. Bukan karena dia ingin terperangkap, bukan karena dia menginginkan ini-tapi karena ada kekuatan dalam diri Ezra yang membuatnya merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti ada daya tarik yang tak terelakkan, yang semakin membingungkan hatinya.

Namun, di dalam dirinya, Ivy masih berjuang. Masih ada bagian dari dirinya yang ingin melawan, yang ingin keluar dari jaring ini, meskipun dia tahu betul bahwa pertarungan itu mungkin sudah terlambat.

"Ezra," suara Ivy terdengar lebih tegas, meskipun penuh dengan ketidakpastian. "Aku tidak akan menjadi bagian dari permainan ini."

Ezra tertawa pelan, suaranya hampir terdengar seperti ejekan. "Permainan ini, Ivy, sudah lebih lama dimulai daripada yang kau kira. Kau mungkin tidak sadar, tapi kau sudah terjebak sejak awal." Dia menarik kursi lebih dekat, mengatur posisi tubuhnya sehingga hanya ada sedikit ruang di antara mereka. "Kau hanya belum siap untuk menghadapinya."

Ivy ingin berkata lebih banyak, ingin mengatakan bahwa dia bisa keluar dari situasi ini, tapi saat itu, dia tahu, kata-kata itu kosong. Tidak ada yang bisa dia katakan yang akan merubah kenyataan bahwa dia sudah berada dalam kendali Ezra.

Keheningan itu meluas antara mereka, namun setiap detik yang berlalu hanya semakin memperjelas bahwa pertempuran ini bukan hanya tentang fisik-tetapi juga tentang perasaan yang tak bisa dia kontrol.

"Terkadang, Ivy," suara Ezra terdengar lebih dalam, "kau tidak bisa memilih untuk melawan perasaan yang muncul. Mereka datang dengan cara yang tak terduga, dan seringkali lebih kuat daripada apa yang bisa kita kontrol."

Ivy memejamkan mata, merasa terjepit oleh kata-kata itu. Semua yang dia ingin lakukan adalah melawan, namun semakin dia mencoba, semakin dia merasa seperti tenggelam dalam kedalaman yang tak terlihat. Ezra bukan hanya profesor yang dingin dan tak tersentuh. Ada sesuatu yang lebih gelap di dalam dirinya yang membuat Ivy merasa seolah dia tak punya kendali atas apapun.

Dan ketika Ivy akhirnya membuka matanya, Ezra sudah berdiri, memberi ruang di antara mereka, namun masih dengan tatapan yang penuh makna. "Ini belum selesai, Ivy. Jauh dari selesai."

Ivy merasa tubuhnya lemas, terperangkap dalam jaring yang semakin mengikat dirinya lebih erat. Dan meskipun dia berusaha keras untuk menolak, dia tahu satu hal yang pasti: Perang ini, pertempuran dengan dirinya sendiri, baru saja dimulai.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Akupun Menandatangani Namanya
9.1
Setelah dikhianati oleh suaminya, Marvin Kurniawan, dan diracuni hingga tewas oleh putra kandungnya sendiri demi kekuasaan Irma Fasnitan, seorang wanita mendapatkan kesempatan kedua. Terbangun tepat di hari pernikahannya di masa lalu, ia bertekad mengubah nasib tragisnya. Alih-alih menandatangani dokumen pernikahan, ia menuliskan nama Irma, lalu melarikan diri bersama seluruh harta warisan peninggalan orang tuanya demi menyelamatkan diri dan membalas dendam secara elegan.
Sampul Novel Cinta Pengantin Buta
9.4
Pernikahan resmi terjalin antara Pramudya dan Mentari setelah saksi menyatakan sah. Di tengah kegelapan akibat kebutaan yang dideritanya, Mentari mencoba meraih tangan sang suami. Pramudya dengan sigap menuntun jemari istrinya. Mentari lalu mencium punggung tangan Pramudya secara takzim, yang dibalas dengan kecupan hangat di dahi serta doa tulus dari suaminya. Mampukah pernikahan yang berawal sebagai pengantin pengganti ini menuntun mereka pada kebahagiaan sejati?
Sampul Novel GAIRAH LIAR IBU TIRIKU
9.7
Di usia kepala tiga, mantan model dewasa Meghan Crafson hidup mewah setelah dinikahi miliarder New York. Namun, ia merasa hampa karena suaminya yang tua tak bisa memberi kepuasan. Kehadiran Hardin, putra tirinya yang tampan dan atletis, mengubah segalanya. Terpikat oleh sosok pemuda itu, Meghan mulai melancarkan godaan terlarang. Kini, Hardin terjebak dalam dilema besar antara menjaga moralitas atau menyerah pada gairah liar ibu tirinya.
Sampul Novel Godaan si Petani Tampan
8.4
Mengikuti program pemuda terpelajar ke pedesaan pada era 1970-an membawa babak baru dalam hidupku. Di sana, perhatianku teralihkan oleh sosok Adri, seorang pria desa yang maskulin dan berotot. Didorong rasa penasaran, aku nekat menyelinap ke kamarnya di keheningan malam. Keputusan itu memulai hubungan intim yang penuh gairah di antara kami. Di sela-sela kesibukan menggarap ladang, kami mengukir romansa rahasia di berbagai sudut desa yang sepi dan pegunungan sunyi, meninggalkan jejak cinta yang mendalam.
Sampul Novel Hubungan Terlarang Berkedok Belajar Berkemudi
8.1
Sesi belajar menyetir yang seharusnya biasa saja berubah menjadi situasi intim yang berbahaya. Saat berada di balik kemudi bersama ayah sahabatnya, sang protagonis diminta duduk di pangkuan pria tersebut. Guncangan jalanan bergelombang dan sentuhan fisik yang berdalih melatih konsentrasi segera memicu ketegangan sensual yang tak tertahankan. Ketika batas-batas mulai dilanggar, dia menyadari bahwa hubungan rahasia ini telah meluncur jauh di luar kendali mereka berdua.
Sampul Novel Moonlight and Mr. CEO
8.2
CEO mebel ternama di Hong Kong, Nicholas Liu, kerap diterpa gosip miring soal asmaranya karena masih melajang. Ketenangan hidup Nic terusik ketika ia dititipkan kucing putih oleh sahabatnya, Hanna. Akibat enggan mengurusnya, ia menaruh hewan itu di teras. Namun, saat bulan purnama bersinar terang, kucing tersebut mendadak hilang. Secara ajaib, sosok wanita menawan tanpa busana muncul menggantikannya, membawa perubahan besar dalam takdir hidup Nic.